Rumpun Bahasa Lamaholot di Lembata, Empat dari Tujuh Menurun

A A

Gunung Ile Ape di Lembata dipotret dari punggung bukit saat matahari terbit. [Foto: Yohanes Ama Kayowuan/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Empat dari tujuh bahasa yang disurvei menunjukkan tren penurunan, dua bertahan, dan hanya satu yang naik.
  • Di Atalojo dan Bour, ketahanan bahasa turun ke skala 7 karena anak-anak tidak lagi memakainya.
  • Ile Ape naik dari 6b ke 6a karena semua anak di Tokojaeng masih fasih berbahasa Ile Ape.
  • Kedua penulis menunjuk migrasi dan pendidikan sebagai pendorong utama pergeseran bahasa di Lembata.
Daftar Isi
  1. Yang Tercatat Sebelum Nugroho dan Silaen Datang
  2. Cara Nugroho dan Silaen Mengukur Rumpun Bahasa Lamaholot
  3. Sejak Bencana 1980-an, Lamatuka Tak Lagi Terisolasi
  4. Ingatan Sekolah Generasi Orang Tua di Atalojo
  5. Ile Ape Naik, Diperkuat Penduduk dan Pengungsi 2020
  6. Silaen dan Nugroho Berbeda Pendapat dengan Bromham
  7. Dari Masa Belanda sampai Urusan Dana Desa

Cekricek.id — Sampai 1999, Pulau Lembata masih menjadi bagian dari Kabupaten Flores Timur sebelum berdiri sebagai kabupaten sendiri dengan ibu kota Lewoleba. Sesudahnya, jalan lintas dari Lamalera ke Lewoleba mulai diaspal, anak-anak muda mengadu nasib ke Kupang dan Jawa, dan kisah pelayanan para pastor serta suster asal kampung dipajang pada baliho besar. Di tengah arus itu, dua peneliti bertanya apakah tujuh bahasa dalam rumpun bahasa Lamaholot di pulau ini ikut bergerak bersama kemajuan tersebut.

Pertanyaan itu dijawab Zefanya Christiady Nugroho dan Heppy Christinawati Silaen dari Yayasan Suluh Insan Lestari dalam artikel Dinamika Ketahanan Bahasa-Bahasa Rumpun Lamaholot di Lembata. Tulisan tersebut dimuat jurnal Linguistik Indonesia Volume ke-42 Nomor 1, Februari 2024, halaman 221–245. Hasilnya, empat dari tujuh bahasa yang disurvei menunjukkan tren penurunan tingkat ketahanan, dua bertahan pada tingkat yang sama, dan hanya satu yang justru naik.

Ketujuh anggota rumpun bahasa Lamaholot yang disurvei itu adalah Ile Ape, Lewoeleng, Lewuka, Lamatuka, Lamalera, Lembata Selatan, dan Lembata Barat. Kedua penulis menegaskan survei ini dirancang dalam perspektif pengembangan masyarakat dan bahasa, bukan riset murni mengenai ketahanan bahasa, karena dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga setempat. Penutur asli dilibatkan langsung sebagai partisipan lokakarya, dan diskusi pada setiap alat ukur berlangsung dua arah antara fasilitator dan komunitas.

Yang Tercatat Sebelum Nugroho dan Silaen Datang

Sebagai pembanding, kedua peneliti memakai tingkat ketahanan yang tercatat di katalog Ethnologue edisi 2023. Di sana Lewoeleng, Lewuka, Lembata Selatan, Lamalera, dan Lamatuka berada pada tingkat 6a atau kuat, sedangkan Ile Ape pada 6b atau terancam. Untuk Lembata Barat, tabel ringkasan paper mencantumkan 6b dengan rujukan lain, padahal uraian di halaman 237 menyebut katalog itu menilainya 6a.

Soal penggolongan pun tidak seragam. Para partisipan dari bahasa-bahasa yang disurvei menyatakan semua bahasa di Lembata termasuk Lamaholot, kecuali Kedang, dan penutur Kedang membenarkan bahwa mereka berbeda dari rumpun bahasa Lamaholot. Menurut kedua penulis, pernyataan warga ini berlainan dengan katalog yang menempatkan “Lamaholot” sebagai bahasa di Flores bagian timur, yang dipakai sebagai bahasa kedua oleh penutur di Lembata, Adonara, hingga Alor.

Baca juga 75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh

Komposisi etnis desa sampel juga dicatat dari data BPS Kabupaten Lembata. Desa Lamalera B dan Bour tercatat 100 persen Lamaholot, Lamatuka 96 persen, dan Tokojaeng 92,2 persen, sementara Atalojo 100 persen Labala, Belobao 97,9 persen Lomblem, dan Lewoeleng 96,7 persen Lomblem. Lomblem adalah nama kuno Pulau Lembata, dan Labala nama kerajaan kuno sekaligus nama suku. Saat survei berlangsung, warga semua desa itu mengenali diri sebagai Lamaholot, hanya berbeda subsuku dan bahasa.

Cara Nugroho dan Silaen Mengukur Rumpun Bahasa Lamaholot

Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode partisipatoris. Untuk tiap bahasa dipilih satu desa secara purposif: Lamalera B untuk bahasa Lamalera, Lamatuka untuk Lamatuka, Atalojo untuk Lembata Selatan, Bour untuk Lembata Barat, Belobao untuk Lewuka, Lewoeleng untuk Lewoeleng, dan Tokojaeng untuk Ile Ape. Partisipan disiapkan mewakili generasi dan gender, yakni orang tua, kakek-nenek, dan anak-anak dengan remaja diprioritaskan, sementara anak usia 6–12 tahun didekati secara terpisah dengan izin orang tua.

Alat pertama adalah Roda Ketahanan Bahasa. Gambar Ayah diletakkan di tengah sebagai poros, dikelilingi gambar Ibu, Anak, Remaja, Kakek, dan Nenek. Warga lalu menempelkan kertas berwarna pada panah yang menghubungkan tiap peran, kuning untuk bahasa Indonesia dan merah untuk bahasa daerah, ditambah satu kertas lagi bagi bahasa yang lebih dominan. Putaran berikutnya menempatkan Anak sebagai poros. Pada satu lokakarya, Ibu dijadikan poros karena partisipan Ayah sangat sedikit.

Alat kedua, Metafora Gunung, adalah ilustrasi skala EGIDS yang dicetak pada baliho besar tanpa angka. Penyajiannya 80 persen ceramah dan 20 persen pertanyaan, misalnya pada posisi mana bahasa daerah warga saat ini berada. Pada skala itu, 6a berarti dituturkan semua generasi dan semua anak, 6b hanya sebagian anak, dan 7 berarti tidak lagi diwariskan ke anak. Keduanya dilengkapi wawancara informal dan pengamatan di rumah warga.

Kedua penulis mengakui batas model yang mereka pakai. Menurut mereka, analisis motivasi penutur sebaiknya didukung data kuantitatif melalui kuesioner, tetapi keterangan yang terkumpul selama sesi roda dan gunung dianalisis secara naratif. Metode partisipatoris ini unggul karena berbasis komunitas, namun kedalaman datanya, tulis mereka, tetap harus diupayakan peneliti dengan cara pengumpulan data lain.

Sejak Bencana 1980-an, Lamatuka Tak Lagi Terisolasi

Di Lamatuka, generasi ayah menjadi generasi terakhir yang murni diajari bahasa daerah oleh orang tuanya. Sesudah itu terjadi perpindahan penduduk dari desa di perbukitan ke wilayah dekat pesisir akibat bencana alam pada 1980-an. Perpindahan tersebut membuat warga tidak lagi terisolasi dan mulai bersentuhan dengan bahasa lain. Kini generasi orang tua berusia 40–50 tahun masih aktif dan dominan memakai bahasa daerah, tetapi remaja dan anak tidak lagi sepenuhnya demikian.

Ketika poros roda diganti menjadi anak, komunikasi anak ke semua generasi menunjukkan ancaman yang merata. Karena bahasa daerah masih dipakai, hasil roda tetap berada di 6a, sama dengan catatan katalog. Namun lewat Metafora Gunung komunitas menyepakati angka 6b, sebab tidak semua anak di Lamatuka memakai bahasa daerah dan beberapa lebih akrab dengan bahasa Indonesia. Partisipan di sana dengan tegas meminta program berkelanjutan agar bahasanya tetap terjaga.

Lamalera, anggota lain rumpun bahasa Lamaholot, mengalami penurunan serupa. Saat ayah menjadi poros, bahasa daerah hanya dipakai kepada generasi tua, sedangkan kepada generasi muda ia mencampur bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Ayah juga memakai dua bahasa kepada ibu, pola yang berlaku di sejumlah rumah tangga kawin campur di Lamalera B. Anak-anak masih memakai bahasa Lamalera secara masif bersamaan dengan bahasa Indonesia, yang wajib di sekolah dengan beberapa guru dari luar. Roda dan gunung sama-sama menghasilkan 6b.

Di desa yang sama, alat ukur itu sendiri digugat warga. “Di Lamalera, partisipan mengkritisi metode Metafora Gunung karena terkesan menggurui masyarakat dan menggiring opini,” tulis Nugroho dan Silaen. Fasilitator yang bertugas saat itu lalu menjelaskan kembali bahwa alat partisipatoris semacam ini dimaksudkan agar warga merefleksikan posisi ketahanan bahasa mereka sendiri. Kedua penulis juga mencatat bahwa di Lamalera institusi agama masih amat kuat, tetapi penetrasi wisata dan pendidikan membuat anak-anak tidak banyak memakai bahasa daerah sehari-hari.

Sesaji dalam wadah anyaman pada upacara Pesta Kacang orang Ile Ape di Lembata
Sesaji dalam wadah anyaman pada upacara Pesta Kacang orang Ile Ape di Lembata. [Foto: Andrekriting87/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Ingatan Sekolah Generasi Orang Tua di Atalojo

Penurunan paling tajam dalam rumpun bahasa Lamaholot ditemukan di dua desa. Di Atalojo, desa sampel untuk Lembata Selatan, hanya beberapa anak yang mengerti bahasa daerah. Saat ayah menjadi poros, bahasa daerah dipakai kepada semua generasi kecuali anak-anak. Saat anak menjadi poros, mereka tidak memakai bahasa daerah sama sekali kepada siapa pun, termasuk kepada sesama anak. Generasi ayah, ibu, kakek, dan nenek masih menyelipkan sedikit bahasa daerah, meski yang mendominasi tetap bahasa Indonesia.

Menurut kedua penulis, generasi orang tua di Atalojo memilih mengajarkan bahasa Indonesia secara lebih masif karena dianggap lebih dibutuhkan untuk masa depan anak. Pilihan itu berakar pada pengalaman mereka sendiri di sekolah, sebab mereka tidak ingin anaknya dihukum karena tidak fasih berbahasa Indonesia. “Tentu amat disayangkan bahwa cara-cara yang dipakai adalah kekerasan bahkan hingga menyebabkan trauma seperti temuan di Atalojo,” tulis Nugroho dan Silaen. Kini, setelah anak-anak fasih berbahasa Indonesia, kekerasan itu tidak dipakai lagi.

Diskusi di Atalojo menetapkan skala 7, sementara katalog masih mencatat 6a untuk Lembata Selatan. Kedua peneliti tidak menutupi kelemahan survei mereka di titik ini. “Perbedaan ini karena survei lokakarya ini hanya dilakukan di satu desa yaitu Nuba Atalojo,” tulis keduanya, sehingga menurut mereka perlu survei lanjutan di desa lain. Warga sendiri merasa resah dan menilai satu survei bahasa belum cukup, karena bahasanya melemah dari dituturkan semua anak menjadi hanya beberapa anak.

Baca juga Tata Bahasa Higaonon Akhirnya Dicatat dari Opol

Lembata Barat, yang disurvei di Desa Bour, mencatat pergeseran paling jauh di antara anggota rumpun bahasa Lamaholot lain dan juga berada di skala 7. Anak-anak Sekolah Dasar di Bour tidak memakai dialek Lewokuma karena tidak memahaminya, sehingga penuturnya didominasi orang tua dan lansia. Kedua penulis menyebut media sosial dan digitalisasi, keragaman penduduk, serta letak desa yang dekat dengan Lewoleba sebagai hal yang membuat penutur Lewokuma banyak bersinggungan dengan penutur bahasa lain.

Ile Ape Naik, Diperkuat Penduduk dan Pengungsi 2020

Satu-satunya kenaikan terjadi pada Ile Ape. Katalog mencatatnya di 6b, tetapi roda dan gunung di Tokojaeng sama-sama menyepakati 6a karena semua anak di desa itu masih fasih berbahasa Ile Ape. Anak memakai bahasa daerah kepada semua generasi, tanpa campuran bahasa lain kepada generasi tua. “Anomali ini bersifat positif karena meskipun temuan ini berbeda, namun tidak merujuk pada penurunan melainkan justru penguatan (kenaikan skala ketahanan bahasa),” tulis kedua peneliti.

Kedua penulis mengaitkan kenaikan itu dengan beberapa hal. Dialek Ile Ape dimengerti dengan baik oleh mayoritas dialek lain dalam rumpun bahasa Lamaholot di Lembata. Institusi nonformal seperti kelompok tenun dan Sekolah Minggu juga tetap memakai bahasa daerah. Menurut data BPS Kabupaten Lembata 2021 yang dikutip paper, penduduk Ile Ape terbanyak kedua setelah Kedang, atau terbesar di antara penutur rumpun bahasa Lamaholot di pulau itu.

Faktor sejarah ikut berperan. Warga desa di sekitar Tokojaeng, yakni Lamawara, Atawatung, Mawa, Bunga Muda, Amakaka, dan Tanjungbatu, pernah mengungsi karena banjir pada 2020, dan para pengungsi itu lambat laun terpengaruh bahasa Ile Ape. Di Tokojaeng, peneliti juga menangkap pemakaian bahasa daerah saat mengamati warga menenun dan mengambil ikan di laut, meski ayah tercatat hanya memakai bahasa Indonesia kepada remaja dan anak.

Dua anggota rumpun bahasa Lamaholot lain bertahan di 6a. Di Lewoeleng, anak Sekolah Dasar masih memakai bahasa daerah saat bermain, dan pemakaian di kalangan remaja amat tinggi bahkan meningkat ketika mereka bergaul dengan adik-adiknya. Partisipan pun bersenandung dalam bahasa daerah saat istirahat lokakarya di gereja. Di Lewuka, anak menjawab semua generasi dengan bahasa Indonesia, tetapi orang tua tetap mengajarkan bahasa daerah dari rumah, dan Metafora Gunung menegaskan semua anak di Belobao memakainya.

Silaen dan Nugroho Berbeda Pendapat dengan Bromham

Untuk Lewuka dan Lewoeleng, kedua penulis menemukan dua faktor penahan. Pertama, institusi adat dan agama yang kuat dan mengakar. Kedua, akses infrastruktur dan pendidikan yang masih kurang memadai, sehingga anak-anak tetap berada di tengah komunitas yang bertutur dalam bahasa daerah. Sekolah yang terbatas dan jauh membuat bahasa Indonesia baru mendominasi ketika anak memasuki usia remaja. Guru lokal yang berasal dari desa masing-masing juga kerap mengantarkan pelajaran dengan bahasa daerah, selain bahasa Indonesia.

Di titik inilah kedua peneliti berbeda pendapat dengan riset terdahulu tentang kepadatan jalan atau keterisolasian. “Meskipun riset Bromham menunjukkan bahwa pertumbuhan dan road density bukanlah faktor yang menyebabkan pergeseran ketahanan, namun temuan kami berkata lain,” tulis Nugroho dan Silaen. Menurut mereka, kepadatan jalan memang bukan faktor utama, tetapi menunjang ikatan sosial yang sudah kuat di Lewuka dan Lewoeleng, juga di Ile Ape dan Lamalera. Bedanya, Ile Ape menguat karena jumlah penduduk, sedangkan Lamalera menurun karena motivasi penutur pada bahasa Indonesia.

Peran gereja pun ditelaah. Di Lewoeleng dan Lewuka, bahasa bertahan karena anggota Dewan Stasi dan tokoh adat memakainya dalam percakapan sehari-hari, bukan lewat kegiatan keagamaan formal. Liturgi tidak lagi utuh berbahasa daerah karena gereja melayani pendatang dan sebagian pastor berasal dari luar. Di wilayah yang jauh dari jalan trans dan Lewoleba, pastor paroki yang bisa hadir sebulan sekali di stasi sudah dianggap luar biasa, sehingga bahasa daerah belum menjadi prioritas.

Dari Masa Belanda sampai Urusan Dana Desa

Dari tujuh bahasa itu, kedua penulis menarik tiga temuan tentang penurunan ketahanan rumpun bahasa Lamaholot di Lembata. Pertama, efek penurunan baru terlihat jelas setelah satu generasi. Generasi orang tua seluruhnya menerima bahasa daerah dari kakek-nenek, tetapi saat giliran mereka mewariskan, bahasa Indonesia yang menjadi pilihan pertama di rumah. Pada keluarga kawin campur akibat migrasi, dua bahasa daerah dari ayah dan ibu jarang sekali diajarkan kepada anak.

Kedua, bencana dan relokasi. Lembata memiliki banyak gunung api dan pernah dilanda tsunami serta badai, sehingga penutur Lamatuka dan Ile Ape pernah dipindahkan ke desa baru. Lewuka punya kisah lain: pada masa penjajahan Belanda warganya tinggal di bukit dan berbarter dengan orang pantai seperti Lamalera, lalu setelah kemerdekaan tua-tua adat sepakat turun ke kaki bukit dan membangun desa seperti Belobao. Ketiga, bahasa Indonesia yang diajarkan lewat pendidikan perlahan menggeser bahasa daerah dari lingkup keluarga.

Baca juga Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah dari Laut ke Kain Tenun

Di balik ketiganya, motivasi utama orang tua adalah ekonomi dan sosial. Partisipan di Lewoeleng, Lamatuka, Lewuka, dan Lamalera mengaku sangat bangga bila anaknya menjadi pastor atau suster, selain menjadi kepala desa, anggota DPRD, pekerja kantoran, atau TKI, dan berbahasa daerah bukan syarat untuk semua itu. Pembangunan pun berjalan dari atas: dua kepala desa sulit ditemui karena harus bolak-balik ke Lewoleba untuk urusan laporan pertanggungjawaban dan pencairan dana desa.

Kesimpulan kedua penulis menunjuk migrasi dan pendidikan sebagai pendorong utama pergeseran rumpun bahasa Lamaholot di Lembata, dua hal yang disebut sebagai impian kemakmuran yang ditawarkan kepada masyarakat. “Sayangnya, kemajuan dan kemakmuran ini tidak melibatkan identitas lokal dan bahasa daerah di dalamnya,” tulis mereka. Menurut paper, keberagaman baru dihargai manakala ada keuntungan ekonomi di dalamnya, seperti pada kasus Lamalera.

Nugroho dan Silaen tidak memperlakukan temuan ini sebagai kata akhir. Data mentah roda dan gunung dijadwalkan terbit dalam monograf kerja sama Yayasan Suluh Insan Lestari dan Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, sementara peran guru lokal di Lewoeleng dan Lewuka mereka sebut layak digali untuk bahasa lain di Lembata. Di Lamalera, ketua BPD telah meminta peraturan desa tentang hari khusus berbahasa Lamalera, dan kedua penulis menutup dengan seruan riset aksi lanjutan.

Bagikan

Baca Juga

Bahasa Moi di Sorong Lebih Banyak Didapat di Luar Rumah
Indeks Kebahagiaan Suku Boti 72,87 dari Skala 0 sampai 100
Kredit Konsumsi NTT Jadi Penentu Terkuat PDRB Jangka Panjang
Kekerabatan Bahasa Sahu dengan Waioli Terdekat, 71 Persen
Perburuan Paus Lamalera Lolos dari Zona Konservasi Laut Sawu
Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun