Bahasa Moi di Sorong Lebih Banyak Didapat di Luar Rumah

A A

Anak-anak Papua bernyanyi bersama di kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya. [Foto: Yohana Afrita/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Pemerolehan bahasa Moi paling banyak terjadi di lingkungan masyarakat, bukan di keluarga.
  • Ranah sekolah tercatat nol persen pada seluruh kelompok responden di Kota Sorong.
  • Ibu rumah tangga memegang angka keluarga tertinggi, 77,8 persen, dan angka masyarakat terendah.
  • Jumlah sampel ditulis 168 orang di abstrak dan 165 penutur di bagian metode.
Daftar Isi
  1. Laki-Laki dan Perempuan, Beda Tipis di Kampung
  2. Rumah dan Kampung, Dua Ranah yang Berlawanan Arah
  3. Tanpa Sekolah dan Bergelar, Sama-Sama Bertumpu Kampung
  4. Pedagang dan Ibu Rumah Tangga, Dua Ujung Berkebalikan
  5. Angka di Teks dan Angka di Diagram Tidak Sama
  6. Simpulan Naskah dan Simpulan Milik Naskah Lain

Ruang kelas di Kota Sorong dan layar televisi di rumah warga sama-sama masuk ke dalam satu kuesioner, dan keduanya pulang dengan angka yang berlawanan. Sekolah tidak menyumbang apa pun pada pemerolehan bahasa Moi, nol persen pada seluruh kelompok responden. Media, yang sama-sama berbahasa Indonesia sebagian besar waktunya, justru menyumbang sampai 26 persen pada satu kelompok.

Kedua angka itu berasal dari penelitian Ibrahim Ibrahim, Lukman, Gusnawaty Gusnawaty, dan Ery Iswary dari Universitas Hasanuddin, dalam artikel Pemerolehan Bahasa Moi di Kota Sorong Papua Barat Daya: Studi Kasus pada Suku Moi di Papua Barat Daya di Cakrawala Indonesia, Volume 8 Nomor 2 edisi November 2023, halaman 123–129. Penelitiannya berlangsung April sampai September 2022 di Kota Sorong, lokasi yang dipilih karena di sana terdapat banyak penutur bahasa Moi yang memenuhi kriteria responden.

Laki-Laki dan Perempuan, Beda Tipis di Kampung

Pada responden laki-laki, pemerolehan bahasa Moi dari lingkungan masyarakat tercatat 79,7 persen, dari keluarga 6,3 persen, dan dari media 6,3 persen. Pada perempuan, angka masyarakat justru lebih tinggi, 83,9 persen, sementara keluarga turun ke 4,8 persen dan media anjlok ke 1,6 persen. Selisih di ranah masyarakat tipis, 4,2 poin; selisih di media hampir empat kali lipat.

Bahasa Moi lebih banyak didapat di luar rumahMasyarakat: Laki-laki +79,7%, Perempuan +83,9%; Keluarga: Laki-laki +6,3%, Perempuan +4,8%; Media: Laki-laki +6,3%, Perempuan +1,6%.Bahasa Moi lebih banyak didapat di luar rumahPersentase ranah pemerolehan menurut jenis kelamin respondenLaki-lakiPerempuan25%50%75%100%0Masyarakat79,7%83,9%Keluarga6,3%4,8%Media6,3%1,6%Ranah sekolah nol pada kedua kelompok; kedua kolom tidak berjumlah100 persen.
Sumber: Ibrahim dkk., Pemerolehan Bahasa Moi di Kota Sorong Papua Barat Daya, Cakrawala Indonesia, 8(2), 2023, hlm. 123–129. Grafik: Cekricek.id

Di sisi lain, kedua kelompok sepakat pada satu hal: ranah sekolah nol. Tim Ibrahim menjelaskannya lewat kebijakan, yaitu sekolah sebagai ranah resmi yang mewajibkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Latar budaya dan bahasa siswa yang berbeda-beda di satu kelas disebut menjadi faktor utama yang lain, sehingga bahasa Indonesia menjadi pilihan yang paling mudah dipakai guru maupun murid.

Alasan mengapa kampung menang atas rumah dijelaskan tim itu dengan menunjuk kegiatan. Bahasa Moi banyak dipakai dalam aktivitas sosial dan budaya seperti ritual adat, tari-tarian, dan pidato adat, sehingga anak-anak Suku Moi memperoleh pengalaman berbahasa yang lebih luas di luar rumah daripada di dalamnya. Media elektronik dan media sosial, tulis tim itu, ikut menyumbang lewat siaran dan konten berbahasa Moi.

Baca juga Kekerabatan Bahasa Sahu dengan Waioli Terdekat, 71 Persen

Rumah dan Kampung, Dua Ranah yang Berlawanan Arah

“Bahasa Moi masih menjadi bahasa sehari-hari yang banyak digunakan dalam interaksi di kelompok masyarakat Suku Moi,” tulis tim Ibrahim tentang sisi yang pertama. Angka masyarakat memang tidak pernah turun di bawah 60 persen pada kelompok responden mana pun, dan pada satu kelompok bahkan mencapai 100 persen. Data itu dikumpulkan lewat kuesioner, wawancara semi-terstruktur dengan orang tua dan tokoh masyarakat, serta observasi langsung di lapangan.

Untuk sisi yang kedua, kalimatnya berbeda arah. “Di lingkungan keluarga, penggunaan bahasa telah dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, sehingga penggunaan bahasa Moi di keluarga suku Moi lebih terbatas,” tulis tim yang sama. Pengaruh itu, menurut mereka, tidak hanya mempersempit pemakaian tetapi juga membuat tingkat kefasihan bervariasi di antara para penuturnya. Tim itu menyandarkan pembacaannya pada Joshua Fishman, yang menyatakan pemakaian bahasa seseorang sangat bergantung pada lawan bicaranya.

Dua kalimat itu berdiri berdampingan di naskah yang sama dan menghasilkan dua pembacaan sekaligus. Yang pertama dibaca tim Ibrahim sebagai upaya pemertahanan bahasa Moi oleh masyarakatnya. Yang kedua dibaca sebagai gejala pergeseran bahasa, terutama di ranah keluarga, tempat anak-anak biasanya belajar bahasa ibu lebih dulu. Keduanya ditarik dari kumpulan data yang sama, oleh tim yang sama, pada rentang waktu yang sama pula.

Tanpa Sekolah dan Bergelar, Sama-Sama Bertumpu Kampung

Pada responden yang tidak pernah bersekolah, pemerolehan bahasa Moi terjadi 94,1 persen di masyarakat dan 5,9 persen di keluarga, tanpa sumbangan sekolah maupun media. Pada responden lulusan sekolah dasar atau tidak tamat, angkanya lebih ekstrem lagi: seluruhnya, 100 persen, berasal dari masyarakat. Tim Ibrahim mengaitkan angka kelompok pertama dengan ketiadaan pengalaman pendidikan formal yang membuat akses ke media sangat terbatas.

Pada ujung yang berlawanan, responden bergelar sarjana sampai doktor tetap bertumpu pada kampung dengan 79,5 persen, dengan keluarga 6,8 persen dan media 2,3 persen. Tim Ibrahim membaca angka itu sebagai tanda bahwa pemakaian bahasa Moi di kalangan berpendidikan tinggi masih cukup berarti, meski keluarga mereka memakai bahasa yang bercampur sesuai lawan bicara. Selisih antara kelompok tanpa sekolah dan kelompok bergelar di ranah masyarakat hanya 14,6 poin, jauh lebih kecil daripada yang mungkin diduga orang.

Kelompok lulusan sekolah menengah atas berdiri sendiri di tengah. Di sana masyarakat turun ke 60 persen, keluarga naik ke 14 persen, dan media melonjak ke 26 persen. Hanya pada kelompok inilah peran media melampaui peran keluarga, dan tim Ibrahim mengaitkannya dengan akses komunikasi yang lebih luas sekaligus interaksi keluarga yang menyempit.

Baca juga Tradisi Melengkan Gayo Kini Jarang karena Syairnya Tak Dihafal

Pedagang dan Ibu Rumah Tangga, Dua Ujung Berkebalikan

Menurut jenis pekerjaan, pemerolehan bahasa Moi di ranah masyarakat tertinggi ada pada pedagang, 87,5 persen. Tim Ibrahim menjelaskan bahwa bahasa Moi dipakai sebagai bahasa perantara antara penjual dan pembeli, juga antarsesama penjual dari Suku Moi. Petani dan pegawai negeri sama-sama tercatat 81,8 persen, pelajar 72 persen, dan kelompok yang tidak bekerja 66,7 persen. Urutan itu tidak mengikuti tingkat pendidikan maupun penghasilan, melainkan mengikuti seberapa sering seseorang berbicara dengan sesama orang Moi.

Di ujung yang berlawanan ada ibu rumah tangga, yang justru mencatat angka masyarakat terendah, 22,2 persen. Namun kelompok yang sama memegang angka keluarga tertinggi, 77,8 persen, jauh di atas kelompok mana pun. Alasannya, tulis tim itu, ibu rumah tangga lebih banyak berinteraksi dengan anggota keluarga dan teman sebaya yang sama-sama berasal dari Suku Moi.

Pada ranah media, urutannya berubah lagi. Pelajar memimpin dengan 20 persen, disusul kelompok yang tidak bekerja 6 persen dan pegawai negeri 5,7 persen. Petani dan ibu rumah tangga tidak memperoleh bahasa Moi dari media sama sekali, sementara ranah sekolah tetap nol pada seluruh kelompok pekerjaan tanpa kecuali.

Angka di Teks dan Angka di Diagram Tidak Sama

Naskah tim Ibrahim memuat beberapa selisih yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Untuk kelompok lulusan sekolah menengah pertama, badan teks menulis masyarakat 83,3 persen, keluarga 8,6 persen, dan media 8 persen, sementara keterangan diagramnya menulis 84, 9, dan 7. Untuk kelompok bergelar, kata keluarga muncul dua kali dalam satu kalimat dengan dua angka yang berbeda, 6,8 persen dan 0 persen, tanpa keterangan mana yang dimaksud.

Jumlah sampelnya pun ditulis dua kali dengan dua angka. Abstrak menyebut 168 orang yang dipilih secara acak, bagian metode menyebut 165 penutur, dan kalimat metode itu menuliskan pemilihan acak sekaligus teknik purposive sampling dalam satu tarikan napas. Dua teknik itu berbeda dasar, satu acak dan satu bertujuan, dan naskahnya tidak menjelaskan mana yang benar-benar dipakai di lapangan. Persentase pada tabel jenis kelamin juga tidak berjumlah 100 pada kedua kolomnya.

Pada bagian umur, naskah mengumumkan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji independent sample t-test dengan SPSS versi 28, tetapi hasil ketiga uji itu tidak pernah muncul di halaman mana pun. Abstraknya juga menyatakan persentase pemakaian bahasa Moi di keluarga lebih rendah daripada bahasa Indonesia, sementara angka pemakaian bahasa Indonesia itu sendiri tidak pernah dilaporkan di tabel atau diagram mana pun sepanjang naskah tersebut.

Simpulan Naskah dan Simpulan Milik Naskah Lain

Bagian penutup naskah itu dibuka dengan paragraf yang tidak berhubungan dengan bahasa Moi sama sekali. Kalimatnya menyimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran scrapbook berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi di kelas IV SDN 488 Patoko, lengkap dengan perbandingan nilai sebelum perlakuan. Baru paragraf berikutnya kembali ke Suku Moi dan kepada kesimpulan yang memang dibangun dari data penelitian ini sendiri.

Di luar paragraf yang tertukar itu, simpulan yang benar-benar milik naskah ini berbunyi dua arah. Pemerolehan bahasa Moi didominasi lingkungan masyarakat, dan itu dibaca sebagai relevansi bahasa Moi yang masih kuat dalam interaksi sehari-hari. Namun ranah keluarga, yang biasanya menjadi tempat bahasa ibu diwariskan paling awal, justru yang paling tipis.

Keterbatasannya perlu dicatat pembaca. Penelitian ini hanya menyentuh penutur bahasa Moi di Kota Sorong, bukan seluruh Suku Moi, dan hanya menggambarkan satu rentang waktu enam bulan pada 2022. Tim Ibrahim sendiri tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri, sehingga cakupan itu harus dibaca sendiri oleh pembaca dari bagian metode, bukan dari kalimat penulisnya.

Baca juga Suku Hubula Menanam Kayu Semalam sebelum Membangun Honai

Dua sisi itu tidak bisa dimenangkan salah satunya dari data yang ada. Kampung memang menahan bahasa Moi tetap hidup, dan angkanya besar di hampir semua kelompok. Rumah memang menipis, dan angkanya kecil di hampir semua kelompok. Yang belum bisa dijawab naskah ini adalah berapa lama satu ranah sanggup menanggung beban yang ditinggalkan ranah lainnya.

Bagikan

Baca Juga

Indeks Kebahagiaan Suku Boti 72,87 dari Skala 0 sampai 100
Hak Ulayat Suku Sakai Terkikis meski Perda Riau Sudah Ada
Mantra Nutuk Beham Hanya Dibaca Pemamang di Kedang Ipil
Suku Bajo Torosiaje Hadapi Gempa dengan Rumah Panggung Kayu
Makam Adat Toraja Menyimpan Peringkat Sosial yang Tak Terucap
Tumbuhan Obat Dayak Kenyah, 46 Jenis Dicatat di Malinau