Suku Hubula Menanam Kayu Semalam sebelum Membangun Honai

A A

Rumah bulat beratap jerami, kebun, dan pagar kayu di permukiman tradisional Yuarima, Lembah Baliem, Papua Pegunungan. [Foto: Lasthib/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Suku Hubula menanam kayu Oh Oak semalam di calon lokasi sebelum membangun Pilamo, honai laki-laki.
  • Salipu mewawancarai 16 informan kunci yang tinggal di Desa Pabuma, Desa Suroba, dan Desa Pisugi.
  • Pintu holakola dibuat tegak lurus dengan Pilamo agar orang yang masuk pertama kali melihat laki-laki.
  • Pagar dua lapis di Kumugima menahan angin kencang sehingga hawa dingin di dalam Silimo berkurang.
  • Pilamo berdiameter berkisar 3,6 sampai 4,0 meter, sementara Ebe-ai sekitar 3,5 meter.
Daftar Isi
  1. Salipu Menemui 16 Informan Kunci di Distrik Pisugi
  2. Kayu Oh Oak Menentukan Lokasi Silimo Suku Hubula
  3. Pintu Holakola Dibuat Tegak Lurus dengan Honai Laki-laki
  4. Pagar Dua Lapis di Kumugima Menahan Angin Dingin
  5. Tungku Sore Menghangatkan Pilamo dan Ebe-ai Sepanjang Malam
  6. Ruang Sakral dan Profan Memisahkan Pilamo dari Ebe-ai

Cekricek.id — Seorang informan berinisial AW menjelaskan kepada M. Amir Salipu bahwa suku Hubula menanam kayu Oh Oak semalam di calon lokasi sebelum membangun Pilamo, honai laki-laki. Bila pagi harinya kayu itu masih tegak, leluhur dianggap memberi izin. Jawaban AW diterjemahkan oleh KW, informan lain, lalu dicatat Salipu sebagai salah satu temuan di Kumugima, Lembah Baliem, Papua.

Salipu adalah dosen Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Penelitiannya terbit dengan judul Simbol Kenyamanan dalam Permukiman Suku Hubula di Lembah Baliem, Papua dalam Prosiding Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 9 tahun 2021, pada halaman G 051 sampai G 060. Salipu menulis naskah itu seorang diri.

Pertanyaan yang diajukan Salipu berangkat dari budaya perang suku dalam kehidupan suku Hubula dan kondisi alam di sekitar permukiman yang disebut Silimo. Ia ingin tahu bagaimana keduanya memengaruhi makna lokasi, bentuk bangunan, dan organisasi ruang sebagai simbol kenyamanan. Salipu memakai konsep kenyamanan Amos Rapoport (1969), yang ia pecah ke dalam lima aspek: pemilihan lokasi, bahan bangunan, bentuk dan struktur, organisasi ruang keluarga luas, serta privasi ruang.

Jawaban besarnya sudah ditulis Salipu sejak abstrak. Menurut dia, “konsep permukiman Silimo merupakan wujud simbol kenyamanan suku Hubula di Lembah Baliem Papua.” Perang suku yang dulu menjadi ciri masyarakat Hubula, tulis Salipu, kini tidak dibenarkan oleh pemerintah, sehingga peran kepala suku dan para pria Hubula ikut berubah, terutama tugas yang berkaitan dengan simbol menjaga keamanan keluarga dan klen.

Baca juga Honai Disebut Rumah Sehat meski Tanpa Satu Pun Jendela

Salipu Menemui 16 Informan Kunci di Distrik Pisugi

Penelitian Salipu dilaksanakan di Distrik Pisugi, di wilayah tengah Kabupaten Jayawijaya. Ia memakai metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang menggali dua hal sekaligus: apa yang dialami para informan dan bagaimana mereka memaknai pengalaman itu dalam kaitannya dengan kenyamanan di Silimo. Salipu memilih informan kunci dari orang yang memiliki pengetahuan tentang kebudayaan maupun tentang orang Hubula.

Tabel yang disusun Salipu memuat 16 informan kunci, seluruhnya ditulis dengan inisial: 13 laki-laki dan 3 perempuan, berusia 31 hingga 75 tahun. Di antara mereka ada tiga orang yang tercatat berada di garis depan dalam perang suku, dua kepala suku, empat tokoh adat, seorang tokoh pemuda Kumugima, dan tiga tokoh perempuan. Informan lainnya adalah perangkat desa dan distrik. Menurut Salipu, tempat tinggal mereka tersebar di Desa Pabuma, Desa Suroba, dan Desa Pisugi.

Wawancara mendalam yang dilakukan Salipu direkam, lalu seluruh rekamannya ditranskripsikan menjadi tulisan. Dari transkrip itu ia menginventarisasi pernyataan penting yang relevan dengan topik sambil menunda penilaiannya sendiri, kemudian mengelompokkan pernyataan ke dalam tema atau unit makna dan menyisihkan yang tumpang tindih. Hasil wawancara dan observasi dipilah Salipu ke aspek fisik dan nonfisik, dianalisis untuk menemukan pola, lalu ditafsirkan untuk menemukan makna simbol kenyamanan.

Kayu Oh Oak Menentukan Lokasi Silimo Suku Hubula

Di Kumugima, AW memberi tahu Salipu bahwa lokasi Silimo dipilih karena dekat dengan kebun dan aliran air, di samping harus mendapat izin leluhur. Jawabannya dimulai dari tahap perencanaan: rumput di calon lokasi dibabat, kayu Oh Oak, yakni kayu papan untuk dinding, ditanam, lalu dibiarkan semalam. “Kalau pagi kita lihat kayu Oh Oak itu masih tegak berdiri, berarti leluhur memberi ijin untuk membangun sehingga kita bisa bangun Pilamo disini,” kata AW seperti dicatat Salipu.

Tanda sebaliknya juga dijelaskan AW lewat terjemahan KW. “Tapi kalau setelah satu malam, kita lihat kayu Oh Oak sudah terbongkar atau kayunya tumbang, tidak bisa bangun disitu, kalau seperti itu artinya alam marah, jadi harus pindah lokasi lain,” ujarnya. Dalam kesimpulannya, Salipu menyebut cara meminta izin menempati lokasi Silimo ini sebagai bentuk relasi alam dan relasi leluhur suku Hubula.

Salipu juga menelusuri riwayat Silimo Kumugima. Permukiman itu semula berada di Kampung Pulugoba, di lereng gunung, karena alasan keamanan. Setelah perang suku dilarang pemerintah, Silimo dipindahkan ke Kampung Telegoba di bagian bawah lokasi pertama, lalu pindah lagi ke arah selatan. Menurut Salipu, Silimo Kumugima sudah dua kali berpindah lokasi karena suku Hubula perlu menempatkan kebun berdekatan dengan Silimo, agar kontrol terhadap kaum perempuan yang bekerja di kebun mudah dilakukan.

Pertimbangan ekonomi juga dicatat Salipu. Bahan bangunan Silimo berupa kayu wip, kayu saghe, kayu pawi, dan kayu hi diambil dari hutan sekitar sehingga mudah didapat, dan hal itu ikut menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi. Ketersediaan kayu dari hutan di sekitar tempat tinggal, tulis Salipu, menjadi dasar hubungan antara relasi sosial dan relasi alam. Dengan menjaga hutan tetap lestari, penyediaan bahan bangunan yang murah dapat terus berlangsung.

Pintu Holakola Dibuat Tegak Lurus dengan Honai Laki-laki

AW juga menerangkan kepada Salipu cara menata bangunan dalam Silimo, yang mengikuti aturan adat yang sudah digariskan leluhur. Satu kompleks terdiri atas beberapa Silimo yang saling membelakangi, dengan pintu gerbang di bagian luar. Dapur dan Ebe-ai, honai perempuan, ditempatkan di depan dekat pintu gerbang, lalu disusun memanjang ke arah belakang dengan letak pintu yang saling berhadapan.

Informan lain, PH, menjelaskan aturan membuat Silimo yang baik. Silimo dikelilingi pagar dengan satu pintu masuk bernama holakola, dan bila ditarik garis, holakola harus tegak lurus dengan Pilamo. Menurut PH, posisi itu diatur secara adat sejak zaman dahulu agar setiap orang yang masuk ke kompleks Silimo pertama kali melihat laki-laki, sehingga dapat diketahui apakah yang datang masih kerabat atau orang yang akan mengancam keamanan mereka.

Salipu mencatat, penataan Silimo Kumugima menggambarkan eratnya hubungan kekeluargaan dan kekerabatan klen Wilil dan Himan dalam suku Hubula. Areal permukimannya berdekatan dengan dataran yang dipakai sebagai tempat membuka kebun bagi klen Wililhiman-Walalua. Pagar, menurut Salipu, adalah penanda teritori orang Hubula, sebab pencurian hasil kebun dan babi serta gangguan pada perempuan adalah masalah besar yang dapat menjadi pemicu perang suku.

Pagar Dua Lapis di Kumugima Menahan Angin Dingin

Di Kumugima, Salipu menemukan pagar yang mengelilingi Silimo adat dan dua Silimo lainnya dibuat dua lapis. Menurut Salipu, pagar berlapis itu membuktikan bahwa faktor keamanan di permukiman Silimo sangat dijaga, baik lewat pagar sebagai benda konkret maupun aturan adat yang bersifat simbolis. Selain berfungsi sebagai batas teritori, tulisnya, pagar juga menjadi tanggapan terhadap lingkungan yang berhawa dingin dan sering dilanda angin kencang di Lembah Baliem.

Honai beratap jerami di balik tiang pagar kayu dekat Wamena, Lembah Baliem
Honai beratap jerami di balik tiang pagar kayu di dekat Wamena, Lembah Baliem, Papua. [Foto: Spasimir Pilev/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cara kerja pagar itu diuraikan Salipu dengan ringkas. “Dengan lapisan pagar dua lapis maka hembusan angin akan tertahan di pagar pertama, sehingga hawa dingin akibat angin kencang akan berkurang di dalam permukiman Silimo,” tulisnya. Kayu dari hutan sekitar, menurut Salipu, dipakai untuk membuat leget atau pagar, dan juga untuk Pilamo, Ebe-ai, hunila atau dapur, wam dabu atau kandang babi, serta holakola.

Tungku Sore Menghangatkan Pilamo dan Ebe-ai Sepanjang Malam

Salipu mencatat dua macam bentuk bangunan dalam Silimo. Pilamo dan Ebe-ai berbentuk bulat, sedangkan dapur berbentuk persegi panjang. Pilamo berdiameter berkisar 3,6 sampai 4,0 meter, sementara Ebe-ai sekitar 3,5 meter. Ukuran keduanya diukur dari panjang orang yang tidur dengan kaki berada di tengah bangunan. Menurut Salipu, denah Pilamo lebih besar karena ukuran tubuh laki-laki lebih besar daripada ukuran tubuh perempuan.

Bentuk bulat dengan pintu kecil, menurut Salipu, membuat suhu ruangan tetap hangat setelah tungku dinyalakan pada sore hari. Panas naik ke bagian atas dan tertahan di bawah atap yang membatasi ruang lantai atas, sedangkan udara dingin turun ke lantai dasar karena massanya lebih berat. “Udara hangat dalam Pilamo dan Ebe-ai akan bertahan lama, sehingga mereka dapat tidur dengan nyaman sepanjang malam,” tulis Salipu.

Pengetahuan membangun struktur dan konstruksi Silimo, kata Salipu, diperoleh melalui proses belajar dan ikut serta membuat bangunan di lokasi permukiman secara turun-temurun. Dari proses itu, sebagian orang memiliki keterampilan khusus sebagai tukang bangunan Pilamo dan Ebe-ai yang dinamai haluogoluk. Lantai bawah Pilamo digunakan untuk berkumpul, bercerita, dan menerima tamu, sementara dalam kesimpulannya Salipu menyebut lantai atas Pilamo dan Ebe-ai sebagai tempat tidur.

Baca juga Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya

Ruang Sakral dan Profan Memisahkan Pilamo dari Ebe-ai

Dalam Silimo, menurut Salipu, laki-laki sebagai suami, perempuan sebagai istri, dan anak-anak mereka tinggal dalam ruang maupun bangunan yang berbeda. Salipu mengaitkannya dengan pengorganisasian ruang berdasarkan keluarga luas, yakni ruang yang diperuntukkan sesuai fungsi dan tugas penghuninya. Pemisahan Pilamo dan Ebe-ai, tulisnya, dimaksudkan agar kenyamanan perempuan tercipta karena adanya privasi ruang yang mereka tempati.

Salipu juga mencatat pemisahan tempat istri pertama, kedua, dan seterusnya, agar masing-masing istri merasa nyaman di Ebe-ai mereka, baik bersama anak-anak maupun bersama suami, sesuai konsep patriarkat yang dianut orang Hubula. Pilamo ia golongkan sebagai ruang privat sakral karena di dalamnya terdapat benda-benda suci kaneke yang perlu dijaga kesuciannya dan ditempatkan dalam lemari kecil di Pilamo adat.

Ebe-ai disebut Salipu sebagai ruang privat profan yang berkaitan dengan reproduksi serta darah perempuan yang sedang haid dan baru melahirkan, sehingga kedua ruang itu tidak bisa ditempati bersama. Hunila atau dapur menjadi ruang publik profan yang mewadahi kegiatan bersama antara laki-laki dan perempuan. Menurut Salipu, pemisahan ketiga ruang itu merupakan bentuk relasi sosial dan leluhur dalam mewujudkan simbol kenyamanan dalam permukiman Silimo.

Naskah Salipu tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian. Keenam belas informannya tinggal di tiga desa dan hanya disebut dengan inisial, sebagian sama persis, misalnya AW yang muncul empat kali di tabel informan. Salipu juga tidak mencantumkan kapan wawancara dilakukan; keterangan sumber gambarnya hanya mencantumkan tahun 2019, 2020, dan 2021.

Beberapa selip juga terbaca dalam naskah Salipu. Ebe-ai disebut ruang privat profan di bagian pembahasan, tetapi di kesimpulan disebut ruang publik yang bersifat profan. Satu kalimat tentang Kumugima tercetak sebagai penataan permukiman Silimo di Lampung Kumugima, penomoran gambar melompat dari Gambar 3 ke Gambar 5, dan nama benda suci ditulis keneke di satu bagian serta kaneke di bagian lain.

Baca juga Ular Suku Arfak di Manokwari, Pangan dan Obat dari Hutan

Kayu Oh Oak yang diceritakan AW kepada Salipu di Kumugima muncul lagi di akhir naskah, kali ini dengan ejaan o-oak. Dalam kesimpulan pertamanya, Salipu menulis bahwa pemilihan lokasi Silimo bagi suku Hubula menyangkut akses ekonomi, keamanan istri yang bekerja di kebun, dan izin kepada leluhur dan alam. Bila kayu itu tetap berdiri setelah semalam, leluhur memberi izin membangun di lokasi tersebut; bila roboh, izin itu tidak diberikan.

Bagikan

Baca Juga

Tato Tradisional Dawan Terputus, Stigma PKI Jadi Faktor Terkuat
Ritual Kahik Malar Menjemput Jiwa yang Hilang karena Kecelakaan
Hukum Adat Tetun Jadi Jalan Warga Belu Menyelesaikan KDRT
Ritual Tiwah Dayak Tomun di Desa Parit, Penghormatan Terakhir Tradisi Kaharingan
Perkawinan Usia Dini Perempuan Korowai, Paksaan dan Pilihan
Hutan Adat Tenganan, Delapan Larangan dan Lima Tingkat Sanksi