Cekricek.id — Sebuah rumah bundar tanpa satu pun jendela, dengan satu pintu yang sekaligus jadi jalan masuk dan keluar, disebut penghuninya sebagai rumah sehat.
Di dalamnya menyala tungku api hampir sepanjang malam. Asapnya tidak punya lubang keluar selain pintu yang sama.
Sebutan itu terdengar janggal. Namun ia bukan salah ucap, melainkan istilah yang dipakai turun-temurun oleh pemiliknya sendiri.
Yang dimaksud adalah honai, rumah adat suku Nayak dan Lani di Pegunungan Tengah Papua. Sebuah kajian menelusuri bagaimana sebutan itu bisa bertahan.
Penelitinya Sebelom Kogoya, mahasiswa Departemen Pendidikan Seni Musik dan Teologi, Bahasa Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia sendiri berasal dari suku Nayak dan Lani.
Laporannya berjudul Honai Philosophy Traditional House of the Nayak and Lani Tribes in Papua Province, Central Mountains, Indonesia. Artikel itu dimuat The International Journal of Humanities and Social Studies.
Terbitannya Volume 12 Nomor 1 edisi Januari 2024, pada halaman 138 sampai 146. Wilayah yang ditelitinya berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.
Alasan Sebelom Kogoya menulisnya cukup terus terang. Ia menilai buku, artikel jurnal, dan sumber daring yang ada kurang akurat dalam membahas honai.
Metodenya deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Tahapannya dimulai dari menentukan informan kunci yang dianggap mampu membuka pintu ke objek penelitian.
Daftar Isi
Dari Sebuah Tempat Bernama Yalugari Ngekokme
Asal-usul nenek moyang kedua suku itu diceritakan turun-temurun. Mereka disebut keluar dari sebuah tempat atau gua yang dinamai Yalugari Ngekokme.
Rombongannya kecil saja, yakni dua laki-laki dan dua perempuan. Dari tempat itu ditemukan pula peralatan kerja berupa kapak, bibit ubi jalar, dan labu kuning.
Keturunan merekalah yang kemudian menyebar. Wilayahnya meliputi Lanny Jaya, Puncak Jaya, Puncak, Tolikara, Nduga, dan Mamberamo Tengah.
Nama-nama tempatnya masih dipakai sampai sekarang. Di antaranya Piramit, Makki, Tiom, Kelila, Bokondini, Karubaga, Mamit, Kanggime, Ilu, Mulia, Kuyawagi, Sinak, dan Ilaga.
Kata Lani sendiri dijelaskan lewat kutipan Socratez Yoman. Bila ditambah struktur Ap menjadi Ap Lani, artinya pribadi yang otonom, mandiri, dan berdaulat penuh.
Honai hanya ditemukan di sebagian Papua, bukan di seluruh pulau. Kajian tersebut menyebutnya hanya ada di lembah dan pegunungan tengah.
Bagaimana Bentuk Bundar Itu Ditemukan
Nenek moyang Nayak dan Lani mulanya tidak tinggal di dalam rumah. Mereka hidup di bawah pohon-pohon besar, dan pada malam hari udaranya sangat dingin.
Persoalannya bertambah ketika hujan turun. Daun-daun pohon tidak sanggup menahan hujan deras, sehingga tempat berteduh itu basah, dingin, dan makin tidak layak ditinggali.
Perubahan datang dari pengamatan, bukan dari ajaran siapa pun. Mereka melihat burung yang hendak bertelur membangun sarang dengan cara yang selalu sama.
Burung jantan dan betina terbang ke sana kemari mengumpulkan ranting serta rumput kering. Bahan itu kemudian mereka susun menjadi sarang berbentuk bundar.
Yang menarik perhatian adalah akibatnya. Anak burung yang baru menetas hidup di dalam sarang yang hangat, terlindung dari dingin dan hujan.
Karena itu bentuk bundarlah yang ditiru. Menurut kajian tersebut, honai dibangun persis seperti sarang burung, dengan atap setengah lingkaran di atasnya.
Baca juga Dari Baju Ondoafi ke Suvenir, Lukisan Kulit Kayu Asei
Bahan yang Dikumpulkan Berbulan-bulan
Honai mula-mula dibangun tanpa memakai paku sama sekali. Baik untuk mendirikan rangka maupun untuk mengunci papan dindingnya, sambungannya mengandalkan bahan dari alam.
Papan dindingnya dibuat dari kayu keras agar tahan lama. Sebatang balok kayu disiapkan khusus sebagai tiang utama penyangga atap honai.
Atapnya sendiri disusun dari kayu buah sebagai rangka. Di atas rangka itu dipasang ilalang yang sudah diikat menyerupai sapu agar tidak terlepas.
Ada pula bahan bernama lokop atau pinde. Bentuknya menyerupai rotan karena lentur, tetapi bagian dalamnya berongga seperti bambu.
Pengikatnya berupa tali rotan dari akar pohon atau sulur tanaman. Seluruh bahan itu diambil langsung dari alam sekitar tanpa satu pun bahan pabrik.
Persoalannya ada pada waktu. Pada masa itu belum ada gergaji maupun kapak besi, sehingga alat pembelah kayunya masih terbuat dari batu.
Karena itu pengumpulan bahan bisa berlangsung berbulan-bulan. Ilalang untuk atap baru dikumpulkan ibu dan anak ketika rangka bangunannya sudah berdiri.
Mengapa Tiangnya Berdiri di Atas Batu
Pekerjaan mendirikan honai selalu dilakukan bersama-sama. Keluarga yang hendak membangun mengundang kerabat dan kawan, lalu mereka makan bersama lewat cara yang disebut bakar batu.
Langkah pertama adalah menggali tanah untuk tiang utama. Di dasar lubang itu diletakkan sebuah batu besar dan rata sebagai alasnya.
Alasannya teknis. Batu tersebut menahan tiang utama agar tidak cepat lapuk oleh rembesan air dari dalam tanah.
Tiang utama itu berdiri tepat di titik tengah honai. Tanah di sekelilingnya kemudian digali membentuk lingkaran mengikuti ukuran rumah yang direncanakan.
Papan berujung runcing ditancapkan mengikuti lingkaran galian tersebut. Setiap kaki papan diikat dengan rotan supaya dinding rapat dan berdiri kukuh.
Yang membuatnya rumit adalah lingkarannya. Tidak ada yang mengajarkan cara membuatnya, dan tidak ada jangka maupun alat khusus yang dipakai.
Kajian tersebut mencatat satu jawaban yang pernah diberikan warga. Kemampuan membuat lingkaran itu disebut datang dari hati.
Baca juga Gua Umang Karo, Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Tiga Honai dan Pembagian Penghuninya
Di satu lokasi permukiman biasanya berdiri lebih dari satu honai. Yang berukuran lebih besar disebut honai laki-laki.
Bangunan itu menjadi tempat tidur pria dewasa dan anak lelaki yang beranjak besar. Simbol-simbol adat pun disimpan di dalamnya.
Fungsinya tidak berhenti sebagai kamar tidur. Di sanalah pemuda diajari cara bertahan hidup serta bertanggung jawab terhadap keluarga dan kelompoknya.
Honai laki-laki juga dipakai sebagai tempat pertemuan kelompok dan menerima tamu. Karena itu ukurannya dibuat lebih besar dibanding yang lain.
Honai perempuan menjadi tempat tidur para ibu dan anak kecil. Anak perempuan yang sudah besar diajari mengurus rumah tangga dan membuat kerajinan.
Selain keduanya, ada bangunan dapur yang bentuknya persegi panjang. Kegiatannya berupa memasak air serta merebus atau membakar ubi jalar.
Dapur itu selalu hangat karena kayu bakar menyala di tungkunya. Karena itu ruangan tersebut kadang dipakai sebagai tempat tidur ternak seperti babi.
Api yang Dimatikan Sebelum Tidur
Cara memakai honai punya urutannya sendiri. Sebelum tidur, penghuni menyalakan api sambil bercerita, lalu berdoa bersama di dalam rumah.
Api itu tidak dibiarkan menyala semalaman. Setelah ruangan cukup hangat, apinya dimatikan dan hawanya tetap tertahan di dalam honai.
Panas yang tersimpan itulah yang diandalkan. Menurut kajian tersebut, hangatnya diperkirakan cukup menjaga tubuh sampai pagi datang.
Lantainya pun disiapkan sebelum honai bisa dihuni. Alas lokop atau pinde dianyam menjadi tikar, lalu ditaburi rumput kering agar lebih hangat.
Rumput kering itu dalam bahasa daerah disebut yanega. Fungsinya menggantikan kasur bagi penghuni yang tidur di atasnya.
Sebagian orang pernah mencoba memakai lilin sebagai penerangan. Cara itu tidak berkembang karena risiko kebakarannya dinilai terlalu besar.
Umur pakainya juga terbatas. Sebuah honai disebut dapat dihuni sekitar empat sampai lima tahun sebelum harus diperbarui.
Di Mana Sebutan Rumah Sehat Itu Berhenti
Di titik inilah kajian tersebut menyebut hal yang tidak nyaman. Honai tidak punya jendela dan hanya punya satu jalan masuk sekaligus keluar.
Akibatnya disebutkan terus terang. Banyak warga di wilayah pegunungan yang masih tinggal di honai mengalami gangguan pernapasan.
Keterangan itu berasal dari wawancara informan kunci pada 2023. Namun kajian tersebut menambahkan bahwa lama-kelamaan penghuninya terbiasa, dan karena itulah honai tetap disebut rumah sehat.
Penjelasannya berhenti di situ. Tidak ada pengukuran kualitas udara, tidak ada data kesehatan penghuni, dan tidak ada perbandingan dengan rumah jenis lain.
Makna bundarnya sendiri dijelaskan lebih jauh. Bentuk itu disebut melambangkan persatuan serta keteguhan menjaga budaya suku dan martabat leluhur.
Kekerabatan yang diwakilinya juga luas. Ia tidak berhenti pada ayah, ibu, dan anak, tetapi mencakup kerabat yang disebut om atau paman.
Peran paman itu bukan sekadar sebutan. Mereka ikut dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, sehingga anak-anak sangat menghormatinya.
Karena itu honai tetap dibangun meski rumah biasa sudah berdiri. Ketika malam tiba, keluarga berkumpul di dalamnya, menyalakan api, dan bercerita sampai tertidur.
Sebutan rumah sehat pada akhirnya tidak menunjuk kualitas udaranya. Yang ia tunjuk adalah kehangatan, kebersamaan, dan perlindungan yang dulu tidak didapat di bawah pohon.
Baca juga Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024














