Barter Du-Hope Lamalera, Ikan Ditukar Jagung dan Pisang

A A

Ilustrasi lapak ikan di pasar tradisional. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Pukul tiga dini hari, langit di atas Lamalera masih gelap. Perempuan-perempuan desa itu sudah berkumpul, membawa obor minyak dan keranjang anyaman daun lontar.

Keranjang itu bernama kara, berwarna kekuningan dan tidak pernah dicat. Isinya ikan, disusun secukupnya untuk menghidupi satu keluarga selama sepekan.

Mereka berjalan dua sampai tiga jam menuju kampung petani di lereng gunung. Sesampainya di sana, penduduk setempat biasanya belum berangkat ke ladang.

Yang mereka datangi bukan pasar. Yang mereka datangi adalah rumah orang yang sudah mereka kenal, dan hubungan itu punya namanya sendiri.

Sebuah kajian etnografi merekam kebiasaan tersebut dari dalam. Penelitinya Blajan Konradus dari Departemen Sosiologi Universitas Nusa Cendana, bersama Agustinus Gergorius Raja Dasion.

Laporannya berjudul Prefo and Social Trust in The Du-Hope Barter System of Lamalera Community. Naskahnya diterima pada 7 Juli 2020 dan disetujui 5 Februari 2021.

Artikel itu dimuat Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture Volume 13 Nomor 1 tahun 2021, halaman 78 sampai 89.

Penerbitnya Universitas Negeri Semarang. Kajiannya dilakukan di empat desa, yaitu Lamalera, Wulandoni, Puor, dan Labalimut di Pulau Lembata.

Daftar Isi
  1. Lamalera dan Wulandoni
  2. Kara di Atas Kepala
  3. Satu Monga Berarti Enam
  4. Prefo, Kerabat yang Bukan Kerabat
  5. Batas Kajian dan Pasar yang Menekan

Lamalera dan Wulandoni

Transaksi barter du-hope di Lamalera disebut peneliti sudah berlangsung sejak abad ke-19. Uang sudah lama masuk, tetapi tukar-menukar barang tidak ikut hilang.

Kebiasaan itu bahkan disebut lebih tua dari desanya. Menurut cerita yang dikutip peneliti, leluhur Lamalera sudah berbarter sejak melakukan perpindahan dari tanah Luwu di Sulawesi Selatan.

Dalam perjalanan panjang itu mereka selalu mencari satu hal yang sama. Tempat menetap dipilih karena di sana bisa dijalankan du-hope untuk mendapat beras, ubi, jagung, dan pisang.

Ada tiga bentuk yang dijalankan. Yang pertama berupa pasar tetap dua kali sepekan, pada Kamis dan Sabtu, di tempat yang disebut fule.

Setiap Kamis, transaksi berlangsung di Desa Lamalera sendiri. Warga menyiapkan ikan untuk ditukar dengan beras, jagung, pisang, dan ubi jalar dari pegunungan.

Yang membawa hasil ladang datang dari beberapa kampung. Peneliti menyebut Imulolong, Puor, Belabaja, Lewuka, dan Uruor sebagai asal para petaninya.

Setiap Sabtu, giliran Desa Wulandoni yang menjadi tempatnya. Jaraknya dari Lamalera hanya sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit berjalan kaki.

Pasar Wulandoni selalu lebih ramai. Letaknya berada di tengah beberapa komunitas yang sama-sama menukar barang dengan orang Lamalera.

Warga Lamalera berjalan berombongan ke sana. Kara berisi daging ikan paus dan ikan lain dijunjung di atas kepala sepanjang jalan.

Sesampainya di fule, tidak boleh ada yang langsung menukar. Semua menunggu sampai seorang petugas meniup peluit sebagai tanda du-hope dimulai.

Baca juga Perahu Paledang Lamalera, Simbol yang Berpindah ke Kain Tenun

Kara di Atas Kepala

Bentuk kedua dijalankan jauh dari kampung sendiri. Nelayan Lamalera berperahu ke Lewotobi di Pulau Flores dan Dulir di Pulau Alor.

Di sana mereka menetap beberapa bulan sambil menangkap ikan. Menurut cerita yang dikutip peneliti, kedua wilayah itu pernah diberikan kepada orang Lamalera.

Sebabnya sebuah utang budi lama. Raja Lamalera dahulu mengirim pasukannya membantu orang Lewotobi dalam perang Paji dan Demong.

Bentuk ketiga adalah mendatangi kampung petani satu per satu. Inilah rombongan perempuan yang berangkat pukul tiga dini hari itu.

Kampung yang dituju biasanya Puor, Belabaja, dan Labalimut. Penjualnya disebut pnete alep, dan bantalan penyangga keranjang di kepala disebut knalo.

Sejak 2010, cara berangkatnya berubah. Salah seorang pnete alep menuturkan bahwa perempuan Lamalera kini lebih sering memakai bus penumpang.

Sesampai di kampung tujuan, rombongan itu berpencar. Masing-masing sudah punya kenalan tetap yang akan didatangi untuk menukar barang.

Mereka berkeliling kampung sampai tengah hari. Sebelum pulang, mereka mampir ke rumah kenalan itu untuk makan siang dan minum.

Satu Monga Berarti Enam

Nilai tukar dalam du-hope punya satuan sendiri. Satuan itu disebut monga, dan satu monga setara dengan angka enam.

Satu ekor ikan berukuran sedang bernilai satu monga. Ia bisa ditukar dengan enam buah pisang, enam tongkol jagung, atau yang setara.

Sepotong daging paus kering bernilai dua monga. Nilainya berarti dua belas jagung, dua belas ubi jalar, dan seterusnya menurut kelipatan itu.

Monga hanya menjadi dasar rujukan, bukan harga mati. Nilainya bisa naik atau turun mengikuti ketersediaan barang dan proses tawar-menawar.

Tawar-menawar dianggap hal yang lumrah. Ia berlangsung antara penjual ikan yang disebut pnete alep dan pembeli dari pegunungan yang disebut kara fate.

Uang tetap punya tempat, tetapi bukan yang utama. Ia dipakai hanya bila salah satu pihak sudah tidak punya barang untuk ditukar.

Peneliti membandingkan mekanismenya dengan lima bentuk pertukaran yang dikenal dalam literatur. Bentuk itu meliputi tawar-menawar, sistem hitungan tertentu, pertukaran tanpa hitungan, pertukaran tertunda, dan pemakaian uang sebagai patokan.

Kelimanya disebut terlihat jelas di pasar du-hope. Yang membedakannya, uang berada di urutan paling akhir dan hanya dipakai ketika jalan lain sudah tertutup.

Baca juga Pasar Tradisional Minangkabau Jadi Inkubator Kapitalisme Lokal

Prefo, Kerabat yang Bukan Kerabat

Dari transaksi berulang itu lahir hubungan yang oleh warga disebut prefo. Peneliti menerjemahkannya sebagai kekerabatan di luar hubungan darah.

Prefo tidak pernah direncanakan dan tidak pernah ditulis. Ia muncul sendiri di tengah proses tukar-menukar yang berlangsung bertahun-tahun.

Bentuk pertamanya muncul ketika nilai barang tidak seimbang. Ikan sudah tersedia, tetapi jagung atau beras di seberangnya belum cukup untuk menutupinya.

Kesepakatannya sederhana. Transaksi tetap berjalan, dan sisanya diserahkan pada pertemuan berikutnya tanpa perjanjian tertulis apa pun.

Bentuk kedua muncul ketika salah satu pihak meminjam. Ikan atau hasil ladang diberikan lebih dulu, tanpa ada barang yang ditukarkan saat itu.

Keadaan seperti itu memang berulang. Angin kencang dan badai membuat nelayan pulang tanpa ikan, sementara gagal panen menimpa kampung di pegunungan.

Yang menarik, barang yang diberikan tidak pernah dihitung sebagai utang. Seorang pnete alep menyebutnya sebagai bantuan yang suatu saat akan berbalas sendiri.

Seorang janda dari Labalimut menuturkan hal yang sebaliknya. Ketika Lamalera kekurangan, orang gunung segera menukarkan hasil ladang meski nilainya melebihi yang mereka terima.

Prefo juga melahirkan kebiasaan baru. Penjual ikan singgah lebih dulu di rumah prefo, memberikan potongan ikan terbaik, lalu berkeliling ke rumah lain.

Sepulang berkeliling, mereka kembali ke rumah yang sama. Di sana tersedia makan siang, jagung titi, dan air untuk bekal perjalanan pulang.

Waktu makan siang itulah yang dianggap peneliti paling menentukan. Di sanalah kedua pihak bertukar cerita tentang suka dan duka keseharian mereka.

Peneliti membacanya dalam kerangka modal sosial. Jaringan, norma, dan kepercayaan bersama disebut mendorong kerja sama untuk kepentingan yang sama-sama dibutuhkan kedua komunitas.

Batas Kajian dan Pasar yang Menekan

Peneliti menegaskan bahwa du-hope bukan sekadar transaksi dagang. Sistem itu disebut sebagai sistem pertahanan ekonomi dan ketahanan pangan dua komunitas sekaligus.

Alasannya bersifat geografis. Tanah Lamalera dipenuhi batu dan tidak bisa dijadikan lahan bertani, sedangkan kampung di sekitar Gunung Labalekan jauh dari laut.

Karena itu tujuannya bukan keuntungan besar. Menurut peneliti, pertukaran dalam ekonomi subsisten tidak diarahkan untuk menumpuk modal.

“Kami menukar ikan untuk hidup kami setidaknya selama dua pekan,” kata seorang penjual ikan kepada peneliti. Sesudah itu mereka menunggu suami kembali melaut.

Cara kerjanya pun tidak menuntut kesetaraan nilai. Peneliti menyebutnya lebih dekat pada memberi dan menerima daripada pada menukar dua barang senilai.

Bahan kajiannya sendiri terbatas. Wawancara dilakukan terhadap enam pnete alep, satu tetua adat Lamalera, dan satu juru tikam ikan paus yang disebut lamafa.

Nama para narasumber itu hanya ditulis dengan inisial. Peneliti juga menegaskan bahwa temuannya berlaku untuk empat desa yang diamati, bukan untuk seluruh Lembata.

Blajan Konradus dan Agustinus Gergorius Raja Dasion menutup laporannya dengan sebuah peringatan. Sistem du-hope disebut sedang terancam oleh ekonomi kapitalis dan pasar global.

Keduanya mengajukan dua saran. Yang pertama menjadikan nilai du-hope sebagai rujukan akademik, yang kedua memberi ruang perlindungan bagi pasar barter itu.

Baca juga Gua Karst Benau, Situs yang Masih Ditinggali Orang Punan Batu

Pukul tiga dini hari itu kini punya arti lain. Yang dibawa perempuan Lamalera di dalam kara bukan hanya ikan untuk ditukar.

Di dalamnya ada perjanjian tak tertulis yang sudah berumur lebih dari seabad. Perjanjian itu bertahan tanpa kertas, tanpa bunga, dan tanpa penagih.

Bagikan

Baca Juga

Mesin espreso, penggiling kopi, dan cangkir di meja sebuah kedai kopi
Peta Risiko 20 Kedai Kopi Padang, Lama dan Baru Berbeda
Nasi ayam penyet dengan timun tersaji dalam kotak makanan bawa pulang
Pesan Makanan Daring di Padang, Kemudahan Bukan Lagi Alasan
Buah mengkudu menggantung di dahan di antara daun hijau
Hidrogel PVA dan Daun Mengkudu untuk Penutup Luka Antibakteri
Langit malam bertabur bintang dengan pita Bima Sakti membentang
Badai Geomagnet 2023 dan Sintilasi yang Justru Tertekan
Pertunjukan wayang tradisional yang dimainkan seorang dalang
Lakon Wayang Padang Wisran Hadi Diubah Jadi Skenario Film
Buah cabai merah matang menggantung di antara daun hijau
Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan