Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban

A A

Ilustrasi seorang lelaki berkaus jingga menatap layar telepon pintar di ruangan bercahaya kebiruan yang temaram. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sebuah pesan penagihan utang memberi tenggat pukul 21.00 WIB, menyebutkan nama dan alamat penerimanya, lalu ditutup dengan pemberitahuan bahwa pengirimnya akan sampai ke alamat tersebut. Pesan itu dikirim oleh orang yang ingin uangnya kembali, dan dikirim bukan kepada orang asing, melainkan kepada seseorang yang datanya sudah ia pegang. Yang ganjil, cara yang dipilihnya justru membuat penerima berhenti membuka aplikasi, sulit berkonsentrasi, dan menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Penagih memerlukan orang yang masih sanggup bekerja dan membayar. Yang ia hasilkan kerap kebalikannya.

Lima periset dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran — Novan Suryalaga, Tresna Nur Azizah, George Fritz David Lengkong, Revalina Annisa Hendaya, dan Nani Darmayanti — mencoba menjelaskan mekanisme itu dalam Penggunaan Disfemisme dalam Kasus Pinjaman Online dan Dampaknya terhadap Psikologis Korban: Kajian Sosiopragmatik, yang terbit di Metahumaniora Volume 15 Nomor 3, Desember 2025. Sosiopragmatik adalah cabang kajian bahasa yang membaca ujaran bersama konteks sosial pemakainya, bukan kata demi kata secara terpisah, dan itu penting karena kalimat yang sama bisa berarti lain tergantung siapa yang mengucapkannya kepada siapa.

Disfemisme sendiri adalah kebalikan eufemisme. Kalau eufemisme memperhalus, disfemisme mengasarkan dengan sengaja. Samsudin dan Ahmad merumuskannya sebagai perkataan kasar dan menyakitkan tentang sesuatu atau tentang seseorang, sementara Keith Allan dan Kate Burridge, yang menulis buku rujukan tentang eufemisme dan disfemisme pada 1991, menyebutnya ungkapan berkonotasi yang mengganggu lawan bicara maupun orang yang sedang dibicarakan. Skala persoalannya tidak kecil. Data Otoritas Jasa Keuangan yang dikutip paper itu mencatat sekitar 153,1 juta akun penerima pinjaman pada April 2025, dan sebagian orang memilih pinjaman daring justru karena prosesnya tidak menuntut pertemuan tatap muka.

Kajian tentang kata kasar sudah menumpuk, tetapi hampir selalu terpisah dari akibatnya. Muslimah menemukan tiga nilai rasa dalam pemakaian disfemisme, yaitu menyindir, mencaci, dan mengkritik. Handayani mendaftar fungsinya, dari cemoohan sampai penanda kejengkelan. Sebuah tesis di Universitas Padjadjaran menelusuri strategi ketidaksantunan pada teror aplikasi pinjaman online lewat pesan WhatsApp. Di sisi lain, Putri dan Savira mencatat efek psikologis korban perundungan siber berupa marah, jengkel, kecemasan berlebih, pesimisme, dan hilangnya kepercayaan diri. Keduanya berjalan sebagai riset yang terpisah, satu di ranah bahasa dan satu di ranah psikologi, dan belum ada yang menyambungkannya pada satu kasus yang sama.

Daftar Isi
  1. Cara Kata Kasar Dipasang dalam Penagihan
  2. Ancaman yang Bekerja lewat Data Pribadi
  3. Bagaimana Ujaran Berpindah ke Tubuh
  4. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Cara Kata Kasar Dipasang dalam Penagihan

Ilustrasi dua pekerja mengenakan headset duduk berdampingan di depan komputer di sebuah kantor layanan telepon.
Ilustrasi dua pekerja mengenakan headset duduk berdampingan di depan komputer di sebuah kantor layanan telepon. [Foto: Pexels]

Datanya dikumpulkan dari tiga arah. Kuesioner disebar lewat sebuah akun kampanye di Instagram dan lembar cetak di lingkungan kampus Jatinangor, terkumpul 31 responden antara 17 Agustus dan 16 September 2025, seluruhnya pengguna pinjaman online yang pernah menerima kekerasan verbal; pertanyaannya tertutup dengan pilihan yang sudah ditentukan, ditambah satu opsi yang boleh dijawab bebas. Lima di antara mereka diwawancarai secara mendalam, ditambah wawancara dengan seorang ahli bahasa dan seorang ahli psikologi. Arah ketiga adalah kolom komentar: unggahan sepanjang 2025 di Instagram, TikTok, Facebook, dan X diekspor lalu disaring.

Baca juga Rp600 Ribu Dua Bulan Sekali bagi Buruh Rokok Kudus

Bentuk-bentuk yang muncul dikelompokkan tanpa banyak kejutan. Ada kata yang menyamakan penerima pesan dengan nama binatang, ditemukan dua belas data atau 24,5 persen dari keseluruhan. Ada kata yang merujuk alat kelamin dan aktivitas seksual, sebelas data atau 22,5 persen. Ada kata yang merendahkan keadaan seseorang, mulai dari kemiskinannya sampai kecerdasannya. Ada kata yang menyeret nama ibu dan kerabat, tiga data. Ada pula kata yang menyamakan penerima pesan dengan profesi tertentu, umumnya profesi yang berkaitan dengan pencurian dan pelacuran. Persentase itu dihitung dari keseluruhan data yang terkumpul, bukan dari jumlah respondennya.

Pengelompokan itu berpijak pada peta makian bahasa Indonesia yang disusun I Dewa Putu Wijana pada 2004, yang membagi makian menurut bentuknya — kata, frasa, dan klausa — serta menurut acuannya: keadaan, binatang, makhluk halus, benda, bagian tubuh, kekerabatan, aktivitas, dan profesi. Wijana menyusun peta itu untuk makian dalam percakapan sehari-hari, jauh sebelum penagihan utang berpindah ke aplikasi di layar ponsel. Sebagian besar temuan riset ini masuk rapi ke kotak-kotak lama tersebut. Satu kelompok tidak muat di mana pun, dan justru kelompok itulah yang paling besar jumlahnya.

Ancaman yang Bekerja lewat Data Pribadi

Kelompok yang tidak muat itu berupa ancaman. Dua puluh empat data, atau 49 persen dari seluruh temuan, berbentuk kalimat yang menjanjikan akibat: keluarga akan dilibatkan, nama dan alamat disebut satu per satu, data pribadi diancam akan disebarkan, dan sebuah tenggat jam malam dipasang sebelum penagih menyatakan akan datang. Ancaman semacam itu menyeret pula orang yang tidak berutang apa pun, yaitu keluarga dan kenalan yang nomornya kebetulan tersimpan. Hampir separuh kekasaran yang direkam riset ini ternyata bukan makian sama sekali. Bentuk tersebut, tulis tim itu, merupakan “temuan unik” pada disfemisme yang dipakai penagih pinjaman online.

Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman

Di situlah mekanismenya terlihat. Kata kasar bekerja dengan meminjam sesuatu dari luar dirinya, dan yang dipinjam pada kasus ini adalah data. Pesan ancaman dikirim bersama keterangan pribadi korban yang sudah berada di tangan penagih dan dipakai untuk meneror, sehingga kalimatnya tidak perlu meyakinkan siapa pun karena sudah dibuktikan oleh lampirannya sendiri. Yang menakutkan bukan pilihan katanya, melainkan kecocokan antara kalimat dan lampiran itu. Makian menyerang harga diri, dan harga diri masih bisa dipulihkan dengan menutup layar. Ancaman menyerang hal yang tidak dapat ditarik kembali: tempat tinggal, pekerjaan, dan orang-orang terdekat.

Dua teori dipakai untuk merapikan pengamatan itu. Dari John Langshaw Austin, yang pada 1962 membedakan tindak tutur menjadi lokusi, ilokusi, dan perlokusi, riset ini memisahkan tiga hal yang biasanya dicampur: wujud harfiah kalimat penagih, maksud di baliknya seperti menghina, mengejek, dan mengancam, serta efek yang benar-benar muncul pada penerimanya. Dari Jonathan Culpeper, disfemisme ditempatkan sebagai ketidaksantunan negatif, yakni serangan langsung yang merusak kebutuhan dasar seseorang untuk tidak diganggu dan tidak dipaksa.

Bagaimana Ujaran Berpindah ke Tubuh

Efek pada tahap perlokusi itu bisa dihitung. Dari data yang terkumpul, tujuh belas korban menyatakan takut ketika menerima disfemisme, sepuluh menyatakan tidak peduli, tiga menyatakan sedih, dan masing-masing satu menyatakan marah, malu, atau biasa saja. Angka kedua perlu dibaca hati-hati. Tidak peduli bisa berarti benar-benar kebal, bisa juga berarti sudah terlalu sering menerimanya sampai berhenti bereaksi, dan riset ini tidak memisahkan kedua kemungkinan tersebut.

Yang berjangka panjang justru lebih merata. Tujuh belas data menunjukkan korban merasa cemas atau khawatir, dan sama banyaknya menunjukkan kesulitan berkonsentrasi. Tiga belas menjadi mudah marah. Dua belas memilih menarik diri dari interaksi sosial, dua belas lainnya kehilangan kepercayaan diri, dan masing-masing sepuluh melaporkan stres serta kelelahan fisik. Gangguan itu, tulis tim periset, menandakan berkurangnya fungsi sosial dalam kehidupan korban. Pada ringkasannya mereka menyebut pula gangguan fisik berupa sesak dada, sakit kepala, dan kenaikan asam lambung, serta pada kasus paling berat munculnya keinginan mengakhiri hidup.

Baca juga Tungku Tigo Sajarangan dalam Film Onde Mande

Apa yang dilakukan korban sesudahnya membentuk pola tersendiri. Tujuh belas memilih berdiskusi dengan teman, lima belas mencari dukungan keluarga, sepuluh beribadah, dan hanya lima menempuh konseling profesional. Tim periset menghubungkan pilihan pertama dengan komposisi respondennya yang didominasi mahasiswa, dan menyimpulkan mahasiswa lebih berani membicarakan persoalan mereka kepada teman daripada kepada keluarga. Bantuan yang paling terlatih justru yang paling jarang didatangi, meski keluhan yang dilaporkan sudah menyangkut konsentrasi, kepercayaan diri, dan kondisi fisik.

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Riset ini menyebut sendiri batasnya. Yang dicari adalah korelasi antara penggunaan disfemisme dan kondisi psikologis korban, bukan pembuktian bahwa kalimat penagih merupakan penyebab tunggal kecemasan orang yang sedang menanggung utang. Jumlah respondennya 31 orang, dihimpun dari satu lingkungan kampus dan satu akun media sosial, dan menurut tim periset sendiri didominasi mahasiswa. Persentase di dalamnya menggambarkan tumpukan data yang berhasil mereka kumpulkan, bukan populasi peminjam pinjaman online di Indonesia yang tercatat mencapai puluhan juta rekening aktif.

Ada pula yang memang belum dijelaskan. Riset ini memotret kalimat penagih dan perasaan korban, tetapi tidak menyentuh sisi pengirim pesannya: siapa yang menyusun naskah penagihan itu, apakah kalimatnya dikarang sendiri atau mengikuti pola yang diajarkan, dan mengapa bentuk ancaman jauh lebih sering dipakai daripada makian yang sudah lama dikenal. Ia juga tidak memisahkan penagih dari penyelenggara berizin dan penagih dari layanan tanpa izin, padahal keduanya berdiri di posisi hukum yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan itu berada di luar data yang mereka kumpulkan, dan tim periset tidak berpura-pura menjawabnya.

Yang tersisa adalah pesan bertenggat pukul 21.00 tadi. Ia hampir tidak menagih uang; sebagian besar kalimatnya habis untuk menyebutkan apa yang bisa terjadi pada nama, alamat, dan keluarga penerimanya. Dari 31 orang yang ditanya lima periset Universitas Padjadjaran, yang paling banyak sampai bukan pelunasan, melainkan rasa takut: tujuh belas orang menyebutnya, lebih banyak daripada seluruh perasaan lain yang mereka laporkan digabungkan.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi seorang lelaki duduk di bangku batu di bawah rindang pepohonan Kebun Raya Bogor.
Tujuh Bahasa pada Papan Nama Kebun Raya Bogor
Bukit batu Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul ditumbuhi rumput dan sebatang pohon dengan kabut di kejauhan.
Kampung Pitu dan Pantangan Tujuh Kartu Keluarga
Ilustrasi seorang perempuan berdiri memegang buku di ruang kuliah bertingkat sementara sejumlah mahasiswa duduk di kursi di belakangnya.
Tiga Mahasiswa Prancis dan Bunyi Indonesia yang Sulit
Ilustrasi seorang perempuan muda duduk di meja dekat jendela berdaun biru sambil menatap layar telepon pintarnya.
Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Ilustrasi sepasang tangan mengetik pada layar telepon pintar yang menyala terang di ruangan bercahaya merah.
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Halaman naskah Jawa beriluminasi dengan bingkai hias bermotif kotak-kotak dan gambar pepohonan yang dilukis di bagian atas.
Dewi Kilisuci Hamil dalam Naskah Panji Jayakusuma