Cekricek.id — Brigitta Sita Oentari datang ke Kebun Raya Bogor bukan untuk melihat tanaman. Ia membawa kamera dan satu pertanyaan: bahasa apa yang sedang berbicara kepada pengunjung di kebun seluas 87 hektare itu. Antara Februari 2023 dan Februari 2025, dosen Universitas Negeri Yogyakarta itu menyusuri taman-taman bertema, Rumah Anggrek, dan jalur setapak di antara koleksi tanaman, lalu memotret papan demi papan.
Dari sekian banyak penanda yang bertebaran di sana, Brigitta menyisakan delapan belas. Kedelapan belas papan itu menjadi bahan Language, regulation, and practice in the informational linguistic landscape of Bogor Botanical Garden, artikel yang ia terbitkan di jurnal LITERA Volume 25 Nomor 1 tahun 2026. Kebun berumur dua abad itu, catat Brigitta, nyaris tidak pernah dilirik peneliti bahasa, padahal pada masa libur panjang bisa menerima tujuh ribu pengunjung dalam sehari.
Yang ia dapat bukan satu bahasa, melainkan tujuh. Bahasa Indonesia, Inggris, Latin, Belanda, Arab, Prancis, dan Sunda muncul bergantian pada papan petunjuk, papan larangan, spanduk iklan, dan penunjuk jalan. Ketujuhnya tidak berdiri sejajar. Brigitta menemukan susunan yang rapi dan berulang: satu bahasa hampir selalu mendapat huruf terbesar, posisi teratas, atau sisi kiri, sementara yang lain menempel di bawah atau di dalam kurung. Susunan itu tidak ditentukan selera perancang papan, melainkan oleh dua peraturan negara.
Daftar Isi
Memilih Delapan Belas Papan dari Kebun Berumur Dua Abad

Kebun Raya Bogor terlalu luas untuk didata seluruhnya, dan Brigitta tidak berpura-pura melakukannya. Ia memakai pengambilan sampel bertujuan: papan dipilih karena terlihat, terjangkau, dan memperlihatkan pola bahasa yang berbeda satu sama lain. Sampelnya diambil dari beberapa titik — koleksi tanaman, taman bertema, dan Rumah Anggrek — dan seluruhnya papan resmi yang dipasang pihak pengelola, yakni PT Mitra Natura Raya, bersama Bank Mandiri dan Bank BRI sebagai penyokong.
Sebelum Brigitta, kebun raya nyaris tidak dilirik dalam kajian semacam ini. Teo dan Cacciafoco meneliti Singapore Botanic Gardens pada 2022 dan menemukan bahasa Inggris berdiri hampir sendirian di sana, dengan bahasa lain sekadar lewat. Di Indonesia, Sriyani sudah lebih dulu memeriksa lanskap bahasa Kebun Raya Bogor pada 2024, tetapi hanya pada satu lokasi, yaitu Taman Nepenthes. Brigitta melebarkan jangkauannya ke seluruh kebun.
Untuk memilah, Brigitta memakai taksonomi tanda yang disusun Spolsky dan Cooper, lalu fungsi informasional yang dirumuskan Landry dan Bourhis. Papan nama gedung dan plakat peringatan — yang oleh kedua kerangka itu dianggap bertugas simbolis — sengaja ia tinggalkan di luar penelitian. Yang ia kejar hanya papan yang bekerja: memberi tahu, melarang, menjual, dan menunjukkan arah. Empat golongan itu, kata Landry dan Bourhis, adalah wajah paling praktis dari sebuah lanskap bahasa, tempat bahasa dipakai untuk mengurus orang, bukan untuk membanggakan identitas.
Baca juga Dua Jalan Rekognisi Diri Sesudah Pembatasan Sosial
Backhaus memberinya alat kedua. Peneliti lanskap bahasa itu membagi papan menurut cara teksnya dibagi antarbahasa: monofonik bila hanya satu bahasa yang dipakai, homofonik bila semua bahasa saling menerjemahkan penuh, campuran bila terjemahannya hanya sebagian, dan polifonik bila bahasa-bahasa itu berdampingan tanpa menerjemahkan satu sama lain. Empat istilah itulah yang kemudian dipakai Brigitta menyortir delapan belas papannya. Backhaus juga mengingatkan bahwa pemakaian bahasa asing pada sebuah papan tidak selalu berarti papan itu ditujukan untuk orang asing.
Empat Golongan Papan dan Tujuh Bahasa yang Muncul
Hasil penyortirannya nyaris berimbang. Papan polifonik dan monofonik masing-masing lima buah atau 27,78 persen dari sampel; papan homofonik dan campuran masing-masing empat buah atau 22,22 persen. Sebaran seperti itu, tulis Brigitta, tidak mendukung anggapan Garvin bahwa lanskap bahasa merupakan potret yang tenang dan tetap dari satu tempat pada satu masa. Yang ia lihat justru keragaman yang bergantung pada konteks.
Di pintu toko suvenir dekat gerbang utama, papan sambutan ditulis seluruhnya dalam bahasa Inggris, huruf kapital, kontras tajam. Tidak jauh dari sana, sebuah papan yang dipasang pada bangku di Taman Teijsmann bercerita hanya dalam bahasa Indonesia tentang beringin yang ditanam Sukarno pada 1959. Menurut Brigitta, papan pertama menyapa pengunjung asing, sedangkan papan kedua menutup pintu bagi mereka tanpa berniat begitu.
Papan Taman Teijsmann memuat tiga bahasa sekaligus. Di bagian kiri atas terpampang kalimat Belanda “ter Herinnering aan Johannes Elias Teysmann”, kenangan untuk kurator kebun ini pada 1831 sampai 1869, dan kalimat itu dibiarkan tanpa terjemahan. Keterangan tamannya baru muncul di sisi kanan, dalam bahasa Indonesia lalu Inggris. Brigitta mencatat huruf Roman yang dipakai di sana bekerja seperti patina, memberi kesan lampau pada keterangan yang disampaikan.
Satu papan memperlihatkan bahwa terjemahan pun bisa berat sebelah. Di depan Wisma Tamu Nusa Indah, bekas rumah direktur kebun yang kini disewakan untuk umum, keterangan berbahasa Indonesia diterjemahkan penuh ke dalam bahasa Inggris. Namun versi Inggrisnya memuat satu keterangan tambahan yang tidak ada pada versi Indonesia: arti nama Nusa Indah, ‘Beautiful Island’. Brigitta membaca selisih kecil itu sebagai tanda siapa yang dianggap perlu diberi penjelasan.
Baca juga Mata Biru dan Merah di Poster Wayang Golek
Bahasa Latin muncul dengan tugas yang sempit. Pada papan anggrek dan papan pohon di Taman Arecaceae, Latin hanya menempel pada nama ilmiah — Saribus rotundifolius, misalnya — dan hampir selalu dicetak miring. Brigitta merujuk van Leeuwen untuk menjelaskan cetak miring itu: kemiringan huruf menandai sesuatu sebagai asing, sesuatu yang datang dari luar bahasa yang sedang dipakai. Pada papan pohon Arecaceae, Latin justru mengambil posisi atas dan tengah, sementara keterangan asal tanaman dalam bahasa Indonesia turun ke pinggir dengan huruf lebih tipis.
Membaca Ukuran Huruf, Posisi Kiri, dan Posisi Atas
Beberapa bahasa tidak bisa menempati satu titik yang sama pada selembar papan, dan justru dari keterbatasan itulah hierarki lahir. Brigitta memakai kerangka Kress dan van Leeuwen: yang di kiri adalah yang sudah diketahui, yang di kanan adalah yang baru; yang di atas adalah yang ideal, yang di bawah adalah yang nyata. Scollon dan Scollon menambahkan bahwa kode yang diutamakan biasanya duduk di posisi atas atau di tengah.
Papan larangan memperlihatkannya paling telanjang. Pada larangan memetik tanaman, Brigitta hanya menemukan bahasa Indonesia, huruf terbesar untuk kalimat larangannya, latar kuning yang lazim dipakai untuk peringatan, serta dua bagian yang ditebalkan: nama Kebun Raya dan angka denda lima juta rupiah. Di bawah larangan itu dipasang gambar bunga yang telah dipetik, supaya yang tidak membaca pun mengerti. Baris paling kecil pada papan itu berisi dasar hukumnya, dan barisan logo lembaga menutup bagian bawah.
Papan tanaman air di Taman Akuatik menunjukkan susunan serupa dengan cara berbeda. Logo kebun dan logo Bank Mandiri menempati baris paling atas sebagai penanda wewenang sekaligus sokongan dana, nama tanaman berbahasa Indonesia mengambil huruf terbesar, terjemahan Inggrisnya masuk ke dalam kurung dengan huruf miring, dan nama Latin hanya keluar untuk penyebutan ilmiah. Brigitta mencatat seluruh teks ditulis putih di atas biru agar sewarna dengan tema tamannya.
Dua papan larangan lain memakai dua bahasa sekaligus. Larangan membuang sampah dan larangan memasuki kawasan tertutup sama-sama menaruh kalimat Indonesia dalam huruf kapital tebal berukuran paling besar, lalu terjemahan Inggrisnya di bawah dengan huruf lebih kecil dan miring. Brigitta menyebut susunan itu menjaga bahasa Inggris tetap membantu tanpa pernah menjadi setara. Pada larangan memasuki kawasan tertutup, lambang larangan bahkan dipasang di posisi paling atas, di atas kalimat mana pun, agar aturannya sampai lebih dulu daripada bahasanya.
Baca juga Daun yang Digesek Jadi Motif Kain di Gorontalo
Iklan justru paling longgar. Spanduk sebuah restoran di kebun itu memasang kata Inggris untuk jenis sajiannya, kata serapan Arab untuk bulan puasa, dan bahasa Indonesia untuk nomor telepon; spanduk acara memakai istilah Prancis untuk tur keliling kebun dan istilah Inggris untuk sudut bermain anak. Pada penunjuk jalan bersponsor di dalam kebun, kata Sunda “Walungan” berdiri di baris teratas dengan ukuran huruf yang sama persis dengan pasangannya dalam bahasa Indonesia. Hanya pada papan itu, menurut Brigitta, hierarki bahasa benar-benar hilang.
Menakar Aturan Negara dan Apa yang Belum Terjawab
Susunan yang berulang itu, tulis Brigitta, bukan kebetulan rancangan. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 mewajibkan bahasa Indonesia pada nama bangunan, jalan, kawasan permukiman, dan lembaga, juga pada rambu umum serta sarana publik, dengan bahasa daerah atau asing hanya boleh mendampingi. Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 mempertegasnya: bahasa pendamping bersifat pelengkap dan tidak terpisahkan dari isi yang berbahasa Indonesia.
Dari sana Brigitta menarik dugaannya yang paling berani. Pilihan bahasa pada papan-papan itu, menurut dia, bukan semata cermin dari siapa yang datang berkunjung, melainkan tanda dari perencanaan bahasa yang sedang berjalan. Bahasa Indonesia memegang perintah, bahasa Inggris membuka akses, bahasa Latin mengurus urusan ilmu, dan sisanya dipanggil sesekali untuk keperluan budaya atau dagang. Yang dilihat pengunjung sebagai papan penunjuk arah, bagi Brigitta adalah keputusan kebijakan yang sedang dijalankan pada selembar pelat.
Brigitta tidak menutup catatannya dengan kemenangan. Ia menyatakan penelitiannya terbatas pada satu kebun raya dan tidak menghitung perubahan papan menurut musim atau acara — padahal dua di antara spanduk yang ia potret memang hanya berumur beberapa hari, satu untuk sajian buka puasa pada April 2023 dan satu untuk pasar tanaman hias pada bulan yang sama. Apa yang ia rekam adalah satu irisan waktu, bukan riwayat panjang.
Delapan belas papan tentu tidak mewakili seluruh Kebun Raya Bogor, dan Brigitta menolak mengatakan sebaliknya. Namun sesudah dua tahun berjalan di kebun itu, ia pulang membawa satu temuan yang sulit dilupakan. Bahasa di papan-papan itu tidak sedang menyapa siapa pun secara khusus; ia sedang mengatur. Pengunjung yang mengira sedang membaca petunjuk arah sebenarnya sedang dibacakan sebuah aturan, dan hampir tidak ada yang menyadarinya.













