Mata Biru dan Merah di Poster Wayang Golek

A A

Ilustrasi dalang memainkan wayang di atas panggung pertunjukan. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Kepala Kayu yang Dipahat
  2. Huruf GOLEK dan Ruang Putih
  3. Seratus Lima Puluh Responden

Cekricek.id — Sepasang mata pada poster itu tidak berwarna sama. Satu biru, satu merah. Mata itu menempel pada wajah kayu seorang tokoh wayang golek yang dicetak besar di atas bidang hitam, putih, dan abu-abu, ditemani satu kata dalam huruf kapital berjarak lebar: GOLEK. Perbedaan warna itu bukan kekeliruan cetak. Ia keputusan yang diambil di meja gambar, sesudah sejumlah sketsa manual dan digital dibuang lebih dulu.

Poster itu berjudul “Masterpiece of West Java Culture”. Pembuatnya Ary Leo Bermana dan Well Victory, pengajar Desain Komunikasi Visual pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Sumatera Barat. Laporan penciptaannya terbit dengan judul Penciptaan Poster “Masterpiece of West Java Culture” sebagai Representasi Identitas Budaya Sunda di jurnal Artchive: Indonesia Journal of Visual Art and Design, Volume 6 Nomor 1, tahun 2025, halaman 33 sampai 43.

Yang hendak dijangkau lewat poster itu bukan galeri, melainkan orang muda yang sudah jauh dari panggung wayang. Andrew Limelta dan Paramita, dalam kajian yang dikutip laporan itu, mencatat bahwa Cepot — tokoh panakawan yang dulu dianggap simbol identitas Sunda — kini oleh generasi milenial dan Gen Z lebih dipandang sekadar penghibur. Daya tarik pertunjukannya menyusut di kalangan yang lebih akrab dengan media visual modern.

Kepala Kayu yang Dipahat

Ilustrasi perajin memahat kayu dengan alat tangan di bengkel kerjanya.
Ilustrasi perajin memahat kayu dengan alat tangan di bengkel kerjanya. [Foto: Pexels]

Sebelum menjadi gambar, wayang golek adalah benda. Kata “wayang” berasal dari “bayang”, sedangkan “golek” menunjuk boneka kayu bertangkai penggerak. Bahannya kayu ringan seperti mahoni atau sengon supaya dalang tidak cepat lelah menggerakkannya. Pengerjaannya berurutan: kepala dipahat lebih dulu, tubuh dibentuk, batang penggerak dipasang, lalu boneka dicat, dipakaikan busana, dan diberi aksesori sesuai wataknya.

Boneka itu hidup di acara adat, ritual budaya, dan pertunjukan rakyat, diiringi gamelan dan dipandu seorang dalang yang merangkap narator. Ceritanya diambil dari Ramayana, Mahabharata, kisah-kisah Islam, cerita rakyat, atau rekaan yang diimprovisasi di tempat. Sejarahnya dipercaya bermula di pesisir utara Jawa pada abad ke-17, berkembang pada masa ekspansi Kesultanan Mataram, dan sempat dipakai tokoh Wali Songo seperti Sunan Kudus untuk menyebarkan Islam.

Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga

Di panggung, wajah adalah tata bahasa. Tokoh dibagi ke dalam lima tipe: halus, setengah halus, kuat, emosional, dan tokoh khusus seperti Semar. Warna wajah menandai watak. Putih untuk kemurnian dan kebijaksanaan, seperti pada Arjuna. Merah untuk keberanian dan agresi, seperti pada Gatotkaca. Hitam untuk ketenangan dan kestabilan, seperti pada Semar. Emas untuk keagungan raja dan dewa. Mata pun punya kamus sendiri. Mata kacang menandakan ketenangan dan kelembutan; mata setengah tertutup menandakan introspeksi atau kesedihan; mata besar menandakan keterkejutan, ketakutan, atau kebingungan. Arah kepala ikut berbicara: menunduk berarti hormat atau merenung, tegak berarti berwibawa, menengadah berarti angkuh. Postur tubuh menegaskannya lagi, dari satria yang tegak sampai panakawan yang sengaja dibuat tidak proporsional agar lucu.

Seluruh kamus itu selama berabad-abad disampaikan lewat mulut dalang, bukan lewat cetakan. Menurut Danandjaja, ahli folklor yang bukunya menjadi rujukan laporan ini, tradisi lisan adalah sarana pewarisan nilai budaya yang hidup melalui narasi, petuah, dan simbol. Fitriyani menambahkan bahwa tradisi lisan dalam kesenian rakyat masih efektif sebagai sarana pendidikan budaya, tetapi perlu direkontekstualisasi agar tetap nyambung dengan zamannya.

Pemindahan dari mulut ke bidang cetak itu punya nama teori. Stuart Hall, sosiolog budaya yang bukunya Representation menjadi rujukan utama laporan ini, menyatakan bahwa representasi adalah proses produksi makna melalui bahasa, tanda, dan simbol, sehingga budaya dapat dipahami masyarakat luas. Edmund Burke Feldman menambahkan sisi lain: seni selalu mengalami transformasi makna ketika dipindahkan ke konteks yang baru. Poster itu berdiri di persimpangan kedua pernyataan tersebut.

Huruf GOLEK dan Ruang Putih

Di poster, kamus itu dipotong habis dan disisakan satu bagian saja: sorot mata. Ilustrasi wayangnya dibuat abstrak, garis dan bentuk melengkung diulang-ulang sebagai ritme visual. Warna dasarnya hitam, putih, dan abu-abu, dengan biru dan merah sebagai satu-satunya aksen. Ruang putih dibiarkan luas mengelilingi bentuk yang rumit itu, sehingga kontras menjadi prinsip utama tata letaknya. Judul GOLEK ditulis kapital dengan huruf sans-serif geometris bergaya Avenir Next, tegak, tanpa ornamen, jarak antarhuruf lebar. Di sekitarnya, teks pendukung “Intangible Heritage of Humanity” dan “Masterpiece of the Oral” dicetak kecil dan ringan dengan huruf semacam Helvetica Neue Light atau Lato. Yang berat dan yang ringan sengaja dipasangkan supaya keterangan tidak merebut perhatian dari wajah kayu itu.

Baca juga Rp600 Ribu Dua Bulan Sekali bagi Buruh Rokok Kudus

Warna mata biru dan merah dipilih sebagai penanda filosofis. Biru dibaca sebagai ketenangan, kebijaksanaan, dan kedalaman; merah sebagai vitalitas, keberanian, dan energi. Rujukannya Wassily Kandinsky, pelukis sekaligus penulis Concerning the Spiritual in Art, yang pada 1911 menyatakan bahwa warna memiliki kekuatan emosional dan spiritual yang dapat memengaruhi pengalaman penonton. Dari situ dualitas biru dan merah dibaca sebagai keseimbangan antara spiritualitas dan materialitas.

Ada gesekan kecil yang tidak disembunyikan laporan itu. Dalam kamus wayang golek yang mereka susun sendiri di bagian awal, biru justru melambangkan ketakutan, kesedihan, atau konflik batin, bukan ketenangan. Pembacaan Kandinsky dan pembacaan panggung tidak bertemu di titik yang sama. Poster itu memilih yang pertama, dan pilihan itulah yang membuatnya karya baru, bukan salinan.

Cara kerjanya disebut practice-based research, penelitian yang menjadikan proses berkarya sebagai inti kajian, mengikuti panduan Carole Gray dan Julian Malins. Tahapannya tiga: eksplorasi konseptual lewat studi pustaka dan pengamatan pertunjukan, eksperimen visual berupa sketsa manual dan digital yang diuji berulang, lalu rekontekstualisasi. Tulis Bermana dan Victory, rekontekstualisasi dilakukan dengan menjaga keselarasan unsur tradisional dan modern agar poster tetap berakar meski dibaca orang luar.

Seratus Lima Puluh Responden

Karya itu lalu diuji, meski dalam skala kecil. Uji coba terbatas dilakukan terhadap 150 responden. Sebanyak 80 persen menilai penggunaan warna mata biru dan merah kuat menyampaikan pesan simbolik. Sekitar 70 persen menilai poster itu berhasil menghadirkan nuansa yang mereka sebut “modern tetapi tetap tradisional”, dua sifat yang biasanya sulit berdiri berdampingan dalam satu bidang cetak. Angka yang paling menarik datang dari luar. Sekitar 60 persen responden dari Malaysia dan Singapura menyatakan poster itu membantu mereka memahami identitas budaya Sunda, padahal mereka belum pernah menonton pertunjukan wayang golek secara langsung. Dengan kata lain, sebagian pesan sampai tanpa perantara dalang, tanpa gamelan, dan tanpa cerita — hanya lewat wajah dan dua warna mata.

Baca juga Gurabesi dan Empat Abad Arsip yang Berlubang

Batasnya perlu dikatakan terus terang. Uji itu terbatas, dan laporannya tidak memerinci cara responden dipilih. Evaluasi lainnya bersandar pada refleksi pribadi pencipta serta diskusi dengan pakar seni rupa dan budaya. Satu poster yang dinilai baik oleh 150 orang bukan bukti bahwa desain grafis sanggup menahan surutnya penonton wayang golek di Jawa Barat, dan laporan itu pun tidak mengklaim sejauh itu.

Posisinya dalam percakapan yang lebih besar cukup jelas. Kajian terdahulu yang dirujuk laporan ini bergerak di jalur lain: I Gede Marutama dan rekan meneliti poster Pis Bolong yang memadukan unsur budaya Cina dan Bali; tim Ghifari mengkaji desain visual untuk kampanye digital di Living Museum Bandung; Wen mengusulkan teori Culture Code untuk membaca citra poster. Ketiganya menganalisis atau mengampanyekan. Yang ini membuat.

Perbedaan itu membawa konsekuensi. Karya penciptaan menghasilkan benda yang bisa dilihat dan diperdebatkan, tetapi tidak menghasilkan ukuran yang bisa diulang peneliti lain. Nilainya ada pada keputusan-keputusan kecil yang terekam: memilih mahoni sebagai pengetahuan latar, memilih sorot mata sebagai pusat, memilih ruang putih yang luas, memilih satu kata pendek untuk judul.

Ada juga yang tidak ikut pindah. Improvisasi dalang, celetuk Cepot yang mengkritik keadaan hari itu, dan tawar-menawar dengan penonton di depan panggung tidak punya tempat di bidang cetak yang diam. Poster memindahkan wajah dan warna, bukan percakapan. Bagian yang paling hidup dari tradisi lisan justru bagian yang paling sulit dibekukan menjadi gambar, dan laporan itu tidak berpura-pura sudah menyelesaikannya.

Kembali ke mata yang tidak sewarna itu. Di panggung, biru dan merah tidak pernah dipasang pada satu wajah; masing-masing menandai watak yang berbeda pada tokoh yang berbeda. Di poster itu keduanya dipaksa tinggal di satu kepala kayu. Yang dulu dipisahkan cerita kini disatukan satu bidang cetak, dan pemisahnya tinggal ingatan orang-orang yang pernah duduk di depan panggung dan menonton wajah itu bergerak.

Bagikan

Baca Juga

Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu
Keraton Buton, Nanas dan Naga di Atap Rumah Warganya
Kidung Subrata, Naskah Merapi-Merbabu dengan 22 Salinan
Jabatan Puun Kanekes Berakhir Ketika Istrinya Meninggal
Tari Perang Nias Hidup di Gunung Pangilun Sejak 1939
Tiga Puluh Empat Laporan Warisan Budaya di Meja BRIN