- Sebanyak 98,5 persen peserta melaporkan pandemi berdampak pada hidup mereka dalam kadar tertentu.
- Lebih dari sepertiga peserta, yakni 35,9 persen, menyebut dampak pandemi berat bagi diri dan keluarga mereka.
- Di Ho Chi Minh City, 65,5 persen peserta melaporkan dampak berat, sedangkan di Hanoi 4,6 persen.
- Pendapatan dan pengeluaran rumah tangga mendapat skor dampak tertinggi, masing-masing 3,43 dan 3,41 dari lima.
- Hanya 1,9 persen remaja dilaporkan terinfeksi COVID-19 selama masa penelitian.
Daftar Isi
- Hampir Semua Keluarga Merasakan Pandemi, Sepertiganya Merasakannya dengan Berat
- Yang Paling Terpukul adalah Dompet Keluarga, Bukan Hubungan di Dalam Rumah
- Di Ho Chi Minh City, Dua dari Tiga Remaja Melaporkan Dampak Berat
- Obat Dua Kali Sehari, Rumah yang Bukan Milik Sendiri, dan Keluarga yang Lebih Besar
- Keluarga yang Menerima Bantuan Sosial Justru Lebih Sering Melaporkan Dampak Berat
Gelombang keempat COVID-19 menghantam Vietnam antara April dan September 2021. Varian Delta menyebar luas, dan Ho Chi Minh City bersama provinsi selatan di sekitarnya menjadi pusat wabah di bawah karantina wilayah yang ketat. Di kota itu tinggal sepertiga dari remaja dengan HIV yang kelak diteliti, anak-anak yang sejak kecil menelan obat setiap hari. Ketika mereka dan pengasuhnya ditanya seberapa keras pandemi mengguncang hidup, kira-kira dua dari tiga menjawab: berat.
Jawaban itu dicatat Khanh Toan Tran, Quynh Trang Pham, Linus Olson, Mattias Larsson, dan delapan rekan mereka dalam artikel Impacts of the COVID-19 pandemic on the lives of adolescents living with HIV aged 10–15 years and their families in Vietnam, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulis bekerja di Hanoi Medical University dan rumah sakit anak di Vietnam. Olson dan Larsson berasal dari Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia.
Yang mereka tanyai adalah 587 remaja dengan HIV berusia 10 sampai 15 tahun beserta pengasuh utamanya. Semua sedang menjalani terapi antiretroviral, disingkat ART, di lima rumah sakit pusat dan provinsi antara Juni 2020 dan Desember 2021. Kelima tempat itu adalah Vietnam National Children’s Hospital di Hanoi, Hai Phong Children’s Hospital, Quang Ninh General Hospital, serta Children’s Hospital 1 dan 2 di Ho Chi Minh City.
Hampir Semua Keluarga Merasakan Pandemi, Sepertiganya Merasakannya dengan Berat
Hampir tidak ada yang luput. Sebanyak 98,5 persen peserta melaporkan pandemi berdampak pada hidup mereka dalam kadar tertentu. Separuhnya, 50,1 persen, menyebut dampak itu sedang. Lebih dari sepertiga, yakni 35,9 persen, menyebutnya berat bagi diri dan keluarga mereka. Pada skala satu sampai lima, skor rata-rata dampak keseluruhan tercatat 3,28.
Remaja-remaja ini sudah lama hidup bersama penyakitnya. Rata-rata mereka berumur 12,8 tahun. Diagnosis HIV datang ketika usia mereka rata-rata baru 2,6 tahun, dan sejak itu mereka sudah menjalani ART rata-rata 9,9 tahun. Hampir semuanya, 99,5 persen, berada pada stadium klinis I menurut klasifikasi WHO. Kira-kira dua dari tiga remaja, 63,4 persen, meminum obat dua kali sehari.
Di belakang mereka berdiri para pengasuh. Usia pengasuh utama rata-rata 44,2 tahun, dan separuhnya, 50,8 persen, adalah ibu si remaja. Sebanyak 70,2 persen melaporkan pendapatan rumah tangga di bawah 10 juta dong Vietnam sebulan, kira-kira 425 dolar AS. Tiga dari empat pengasuh, 75,6 persen, mengaku mengalami kesulitan merawat remaja itu selama masa penelitian.
Bantuan tidak selalu datang. Sebanyak 68,8 persen pengasuh tidak menerima dukungan dari anggota keluarga, dan 59,8 persen tidak menerima dukungan sosial dari luar. Lebih dari separuh, 52,0 persen, melaporkan rasa lelah ketika merawat remaja itu. Sebagian kecil, 2,8 persen, mengatakan kelelahan itu sering datang.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Yang Paling Terpukul adalah Dompet Keluarga, Bukan Hubungan di Dalam Rumah
Pukulan paling keras jatuh pada uang. Dari semua sisi kehidupan yang ditanyakan, pendapatan dan pengeluaran rumah tangga mendapat skor dampak tertinggi, masing-masing 3,43 dan 3,41 dari lima. Hubungan di dalam keluarga justru berada di ujung lain dengan skor 2,84. Pendidikan remaja juga termasuk yang paling ringan terdampak, dengan skor 3,13.
Urutan itu tidak berubah ketika yang dihitung hanya jawaban berat. Sebanyak 41,06 persen peserta melaporkan dampak berat pada pendapatan dan pekerjaan. Untuk pengeluaran rumah tangga, angkanya 40,2 persen. Pendidikan disebut terdampak berat oleh 34,7 persen peserta.
Meja makan ikut terasa. Sebanyak 36,5 persen peserta melaporkan dampak pada ketahanan pangan, yaitu akses terhadap makanan dan kebutuhan sehari-hari. Tekanan batin akibat pembatasan jarak sosial juga muncul: 35,1 persen peserta melaporkan stres yang berat. Para penulis mencatat masa isolasi yang panjang dan gerak yang dibatasi bisa sangat membebani remaja dengan HIV, yang sudah menghadapi stigma dan tuntutan minum obat jangka panjang.
Lalu ada satu angka yang kecil. Hanya 1,9 persen remaja dilaporkan terinfeksi COVID-19, dan 1,5 persen dilaporkan terpapar. Di antara anggota rumah tangga mereka, paparan dilaporkan 13,6 persen peserta dan infeksi 14,3 persen. Menurut para penulis, hal itu menegaskan bahwa beban utama pandemi pada kelompok ini datang dari akibat sosial dan ekonomi yang tidak langsung, bukan dari infeksi itu sendiri.
Skor hubungan keluarga yang relatif rendah itu mereka baca dengan hati-hati. Menurut para penulis, angka tersebut mungkin menandakan kerekatan rumah tangga menjadi penyangga sebagian terhadap tekanan batin. Tetapi mereka segera menambahkan bahwa tafsir itu terbatas, sebab penelitian ini tidak memakai alat ukur kesehatan jiwa yang tervalidasi.
Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Di Ho Chi Minh City, Dua dari Tiga Remaja Melaporkan Dampak Berat
Kembali ke kota di selatan itu. Sepertiga peserta, 33,6 persen, tinggal di Ho Chi Minh City. Di antara mereka, 65,5 persen melaporkan dampak berat secara keseluruhan. Di Hanoi angkanya 4,6 persen. Di Hai Phong 10,5 persen, di Quang Ninh 17,4 persen. Peserta dari provinsi lain di luar wilayah kelima rumah sakit berada di tengah, 30,5 persen.
Jarak itu tetap lebar setelah faktor lain ikut diperhitungkan. Dibandingkan dengan remaja di Hanoi, peluang remaja di Ho Chi Minh City untuk melaporkan dampak berat tercatat 18,8 kali lebih besar dalam ukuran rasio odds, dengan rentang kepercayaan 5,9 sampai 60,0. Untuk Quang Ninh angkanya 5,9 kali, dan untuk provinsi lain 4,9 kali. Hai Phong tidak berbeda bermakna dari Hanoi.
Para penulis menautkan temuan itu dengan keadaan kota tersebut selama masa penelitian. Ho Chi Minh City mengalami penularan paling hebat di seluruh negeri. Karantina wilayah yang lama dan ketat, sistem kesehatan yang tertekan, dan jumlah kasus harian yang sangat tinggi, tulis mereka, mungkin memperbesar gangguan pada akses layanan kesehatan, nafkah rumah tangga, dan kesejahteraan batin keluarga.
Latarnya mereka paparkan dengan angka. Sampai 2 Januari 2022, Vietnam melaporkan 1.760.188 kasus COVID-19 yang tertular di dalam negeri di 63 provinsi. Ho Chi Minh City sendiri menyumbang 504.197 kasus, atau 28,6 persen. Banyak daerah lain, terutama provinsi kecil dan wilayah utara, mengalami penularan yang lebih terbatas.
Namun para penulis tidak menyebut hubungan itu sebagai sebab-akibat. Rentang kepercayaan angkanya lebar, dan faktor tingkat provinsi yang tidak terukur tidak bisa disingkirkan. “Karena itu, hubungan ini sebaiknya dibaca sebagai cerminan keterkaitan kontekstual yang kuat, bukan sebagai efek sebab-akibat,” tulis Khanh Toan Tran dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Obat Dua Kali Sehari, Rumah yang Bukan Milik Sendiri, dan Keluarga yang Lebih Besar
Di dalam rumah, beberapa hal lain ikut berkaitan. Remaja yang meminum ART dua kali sehari lebih sering melaporkan dampak berat daripada yang meminumnya sekali: 46,5 persen berbanding 18,6 persen. Setelah penyesuaian, rasio odds-nya 1,9. Para penulis meminta angka ini dibaca sebagai penanda rumitnya pengobatan dan besarnya ketergantungan pada perawatan, bukan akibat langsung dari frekuensi minum obat.
Penjelasan mereka begini. Jadwal minum obat yang lebih sering kemungkinan mewakili rejimen yang kurang sederhana, yang menuntut keterlibatan pengasuh lebih besar dan akses layanan kesehatan yang lebih ajek. Ketika pandemi mengganggu akses itu dan menambah beban pengasuhan, keluarga dengan rutinitas pengobatan yang lebih rumit mungkin terkena lebih keras.
Kepemilikan rumah juga terlihat. Sebanyak 70,5 persen remaja tinggal di rumah milik keluarga. Di kelompok ini, 28,7 persen melaporkan dampak berat. Di keluarga yang tidak memiliki rumah sendiri, angkanya 53,2 persen, dengan rasio odds 2,0 setelah penyesuaian.
Ukuran keluarga bergerak searah. Di rumah tangga berisi satu sampai dua orang, 25,0 persen melaporkan dampak berat. Di rumah tangga tiga sampai empat orang 34,1 persen, dan di rumah tangga lima orang atau lebih 44,7 persen. Rasio odds kedua kelompok terakhir masing-masing 2,9 dan 2,7. Menurut para penulis, keluarga yang lebih besar mungkin menghadapi tekanan keuangan lebih berat dan perebutan sumber daya yang terbatas.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Pendapatan justru tidak muncul. Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara pendapatan rumah tangga dan dampak keseluruhan pandemi. Para penulis menduga hal itu mungkin mencerminkan peran penyangga dari program perawatan HIV dan perlindungan sosial Vietnam, yang memberi akses pengobatan relatif stabil. Mereka menyatakan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperjelasnya.
Keluarga yang Menerima Bantuan Sosial Justru Lebih Sering Melaporkan Dampak Berat
Satu temuan tampak berlawanan dengan dugaan. Di keluarga yang pengasuhnya melaporkan menerima dukungan sosial, 64,0 persen melaporkan dampak berat. Di keluarga yang tidak menerimanya, hanya 17,7 persen. Rasio odds setelah penyesuaian mencapai 4,6.
Para penulis tidak membacanya sebagai bukti bahwa bantuan memperburuk keadaan. Hubungan itu, menurut mereka, mungkin berjalan terbalik: pengasuh yang menghadapi kesulitan lebih berat itulah yang aktif mencari bantuan atau ditawari bantuan tambahan selama pandemi. Akses pada dukungan sosial juga bergantung pada ketersediaan sumber daya, yang tidak merata dan sering terganggu.
“Secara keseluruhan, temuan ini mengisyaratkan bahwa dukungan sosial yang didapat di masa krisis mungkin mencerminkan kebutuhan mendasar yang lebih tinggi, alih-alih selalu bersifat melindungi,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Beberapa hal lain di sisi pengasuhan, seperti kesulitan merawat dan rasa lelah, tidak lagi bermakna setelah faktor rumah tangga dan konteks ikut diperhitungkan.
Batas penelitian ini mereka tulis sendiri. Peserta hanya direkrut dari rumah sakit besar, sehingga remaja yang dirawat di layanan terdesentralisasi atau yang hilang dari pemantauan mungkin mengalami gangguan yang berbeda atau lebih berat. Dampak pandemi dinilai lewat ingatan dan laporan peserta sendiri. Ukuran stres mencerminkan tekanan yang dirasakan, bukan hasil pemeriksaan kejiwaan dengan alat baku.
Dari sana para penulis menunjuk ke depan. Vietnam sudah menerapkan pemberian ART untuk beberapa bulan sekaligus sejak 2019, dan mereka menyarankan penelitian tentang perpanjangan selang pemberian obat bagi remaja yang kondisinya stabil. Mereka juga menyerukan layanan HIV yang tangguh dan ramah remaja, dukungan keluarga dan psikososial yang terpadu, serta perlindungan sosial yang lebih kuat untuk krisis kesehatan berikutnya.
Dalam simpulannya, para penulis menyatakan pandemi COVID-19 berdampak besar pada hidup remaja dengan HIV berusia 10 sampai 15 tahun yang menjalani ART di rumah sakit anak besar di Vietnam, juga pada keluarga mereka. Lebih dari sepertiga peserta melaporkan gangguan berat secara keseluruhan, terutama pada sisi ekonomi dan rumah tangga.















