- Israel akan menutup total perlintasan masuk dan keluar Tepi Barat pada hari pemilu, Selasa.
- Menhan Israel Katz mengonfirmasi sekitar 2.000 warga Hebron terusir paksa dari rumah mereka.
- Wali Kota Hebron menyebut kota itu dan desa sekitarnya berada di bawah blokade total.
Cekricek.id — Israel akan menutup semua perlintasan darat dengan Tepi Barat yang diduduki pada hari pemilu umum Israel, Selasa pekan ini.
Dalam pernyataan pada Minggu, militer Israel menyatakan akan memberlakukan larangan masuk bagi pekerja Palestina di sebagian besar wilayah Tepi Barat pada Minggu hingga Senin, serta penutupan total perlintasan masuk dan keluar wilayah itu pada Selasa, hari pemungutan suara, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Minggu (25/10/2026).
Pengumuman itu muncul sehari setelah militer Israel memberlakukan penutupan Hebron dan memaksa ribuan warga Palestina meninggalkan rumah. Militer Israel telah melakukan ratusan penggerebekan sejak serangan dua pria bersenjata Palestina ke pangkalan cadangan militer Israel di kota itu pada Jumat, yang menewaskan dua tentara Israel. Kedua pria Palestina itu juga tewas.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengonfirmasi “sekitar 2.000” orang telah terusir paksa. “Mereka tidak akan diizinkan kembali ke lingkungan mereka sampai kami selesai menangani semua urusan Hamas di Hebron,” kata Katz kepada lembaga penyiaran publik Kan.
Wali Kota Hebron Yousef al-Ja’bari mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kota itu dan sejumlah desa di sekitarnya berada di bawah blokade total. Ia menyebut 2.200 orang terpaksa meninggalkan rumah akibat tentara dan penggerebekan Israel.
Warga mengaku tentara mengumumkan perintah evakuasi paksa lewat pengeras suara larut malam, sehingga mereka tidak punya waktu bersiap dan hanya punya sedikit tempat tujuan. Otoritas Palestina menyebut tindakan Israel sebagai “hukuman kolektif” dan menyerukan tekanan internasional untuk melindungi warga Hebron.
Sekitar 200.000 warga Palestina tinggal di Kota Hebron dan 600.000 lainnya di Kegubernuran Hebron, menjadikannya kawasan terpadat di Tepi Barat. Militer Israel menyebut operasinya akan berlangsung beberapa hari, tetapi Netanyahu mengisyaratkan operasi berskala yang belum pernah terjadi sejak Israel menduduki Tepi Barat pada 1967.
Netanyahu menghadapi persaingan ketat dalam pemilu Selasa, dan para analis menilai ia berupaya memanfaatkan konflik militer kawasan dan kekhawatiran keamanan nasional untuk menopang kampanyenya.















