- Perokok India menyusut dari 17,18 persen menjadi 13,18 persen di antara dua gelombang survei.
- Pada kedua gelombang, hanya 0,70 persen perokok yang berhasil berhenti sedikitnya enam bulan.
- Rumah yang melarang atau membatasi rokok berkaitan dengan peluang berhasil berhenti yang lebih besar pada kedua gelombang.
- Saran dokter tidak berkaitan secara statistik dengan keberhasilan berhenti pada gelombang mana pun.
- Kedua survei memotret orang pada satu waktu, sehingga hubungan sebab akibat tidak bisa ditarik.
Daftar Isi
- Dari 2003 sampai 2017, India menumpuk aturan soal rokok
- Mathur dan kawan-kawan membaca ulang dua gelombang survei
- Rantai riset lama tentang rumah yang menutup pintu bagi rokok
- Saran dokter yang tidak berubah sejak 2009
- Bantuan lain mulai tampak pada gelombang 2016-2017
- Pesan di media bertambah, tetapi tidak ikut mengubah hasil
- Yang belum terjawab oleh Mathur, Arora, Rawal, Bassi, dan Golkari
Tahun 2007 menjadi penanda zaman bagi upaya dunia melawan rokok. Pada tahun itu Organisasi Kesehatan Dunia meluncurkan paket kebijakan bernama MPOWER untuk menopang pelaksanaan konvensi pengendalian tembakau. Sesudahnya, angka merokok dunia turun dari rata-rata 22,7 persen pada 2007 menjadi 17,5 persen pada 2019, meski penurunan itu berjalan lebih lambat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. India, konsumen tembakau terbesar kedua di dunia, ikut bergerak dalam arus yang sama.
Di tengah arus itulah Manu Raj Mathur, Monika Arora, Tina Rawal, Shalini Bassi, dan Ali Golkari menulis artikel Multivariate decomposition analysis of factors influencing successful quitting of smoking in global adult tobacco survey of India, waves one and two, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Mathur, Arora, Rawal, dan Bassi bekerja di Public Health Foundation of India di New Delhi. Mathur juga tercatat, bersama Golkari, di Queen Mary University of London.
Yang mereka telaah adalah berapa banyak perokok yang berhenti lalu bertahan. Mereka menyebutnya berhasil berhenti merokok, yakni sudah berhenti dan tetap tidak merokok sedikitnya enam bulan. Menurut para penulis, kebanyakan kajian di India selama ini menyoroti upaya berhenti, bukan keberhasilan jangka panjang. Jawabannya mereka cari pada dua gelombang Global Adult Tobacco Survey di India, yang berjarak sekitar tujuh tahun.
Dari 2003 sampai 2017, India menumpuk aturan soal rokok
Latar kebijakannya panjang. India mengesahkan Cigarettes and Other Tobacco Products Act pada 2003, meratifikasi konvensi pengendalian tembakau Organisasi Kesehatan Dunia pada 2004, lalu meluncurkan National Tobacco Control Programme pada 2007-08. Para penulis mencatat perluasan kampanye penyadaran publik, penerapan aturan kawasan bebas asap rokok, peringatan kesehatan bergambar, dan pembatasan iklan tembakau sebagai kemajuan yang menyusul sesudahnya.
Daftar itu masih berlanjut. Peringatan bergambar diwajibkan menutup 85 persen kemasan tembakau. Gutkha dan tembakau tanpa asap dilarang, begitu pula segala bentuk rokok elektronik. Layanan berhenti merokok diperkuat lewat pusat-pusat pengendalian tembakau dan pusat satelit regional untuk konseling. Skor rata-rata MPOWER India, menurut pustaka yang dirujuk para penulis, naik dari 25,33 pada periode 2009-2013 menjadi 27 pada 2013-2019.
Gelombang pertama Global Adult Tobacco Survey India, yang dijalankan pada 2009-2010, mencatat 34,6 persen orang dewasa memakai tembakau dalam bentuk apa pun. Pada gelombang kedua, 2016-2017, angkanya turun menjadi 28,6 persen. Meski begitu, satu dari sepuluh orang dewasa India masih merokok, atau 99,5 juta orang, yang terdiri atas 19 persen laki-laki dan 2 persen perempuan.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Mathur dan kawan-kawan membaca ulang dua gelombang survei
Gelombang pertama mewawancarai 69.296 orang berusia 15 tahun ke atas, sedangkan gelombang kedua 74.037 orang. Dari seluruh peserta itu, mereka yang sedang merokok atau pernah merokok dalam dua belas bulan terakhir menyusut dari 17,18 persen menjadi 13,18 persen. Para penulis menghitungnya sebagai penurunan relatif 23,28 persen, dan penurunan itu bermakna secara statistik.
Temuan utama naskah menyangkut mereka yang berhasil berhenti. Pada gelombang pertama, 0,70 persen dari para perokok itu berhasil berhenti sedikitnya enam bulan. Pada gelombang kedua, angkanya tetap 0,70 persen, dan selisih di antara keduanya tidak bermakna secara statistik. Tabel naskah mencatat 82 orang yang berhasil berhenti pada survei pertama dan 68 orang pada survei kedua.
Angka itu juga tidak bergerak ketika dipilah. Tidak ada perubahan yang bermakna secara statistik pada kelompok umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, ataupun tingkat kekayaan mana pun. Padahal, tulis para penulis, ciri para peserta sendiri berubah cukup banyak di antara kedua survei.
Perubahan ciri itu antara lain begini. Porsi peserta berusia 45 tahun ke atas, penduduk desa, dan mereka yang tergolong berkekayaan rendah bertambah. Peserta yang melihat pesan bahaya merokok di media cetak naik dari 40,51 persen menjadi 56,72 persen, dan di media digital dari 48,39 persen menjadi 74,18 persen. Sebaliknya, yang terpapar iklan dan promosi rokok turun dari 32,56 persen menjadi 26,88 persen.
“Temuan ini mengisyaratkan bahwa meski India telah mencapai kemajuan kebijakan yang kuat dalam mengurangi kebiasaan merokok, kemajuan itu belum menjelma menjadi perbaikan dalam hal berhenti merokok yang bertahan,” tulis Manu Raj Mathur dan keempat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa pemantauan berkelanjutan dan kebijakan yang terarah diperlukan agar upaya berhenti berujung pada keberhasilan yang bertahan.
Rantai riset lama tentang rumah yang menutup pintu bagi rokok
Para penulis menyebut riset terdahulu di India dan negara berpenghasilan rendah dan menengah lain sudah menunjukkan bahwa pendidikan, tempat tinggal di kota, saran untuk berhenti, serta larangan merokok di tempat kerja dan di rumah berpengaruh pada keberhasilan berhenti. Yang masih terbatas, menurut mereka, adalah bukti tentang perubahan dari waktu ke waktu dengan menimbang semua faktor itu sekaligus.
Di antara faktor tersebut, aturan di rumah paling menonjol. Hanya satu faktor yang berkaitan dengan peluang berhasil berhenti yang lebih besar pada kedua gelombang, yaitu rumah yang melarang atau membatasi rokok di dalam ruangan. Rasio peluangnya 6,12 pada gelombang pertama dan 2,25 pada gelombang kedua, dibanding rumah yang membolehkan atau tidak punya aturan.
Angka kasarnya memperlihatkan jarak yang sama. Pada survei 2016-2017, 1,28 persen perokok dari rumah yang membatasi rokok berhasil berhenti, sedangkan dari rumah yang membolehkan hanya 0,35 persen. Tujuh tahun sebelumnya, angkanya 1,58 persen berbanding 0,39 persen. Rumah semacam itu pun makin banyak: dari 25,77 persen peserta pada gelombang pertama menjadi 37,69 persen pada gelombang kedua.
Para penulis menyambungkan temuan itu dengan dua pustaka dalam daftar rujukan mereka. Merujuk riset Owusu dan rekan-rekannya tentang aturan rumah bebas asap rokok di 20 negara berpenghasilan rendah dan menengah, mereka menulis bahwa pembatasan di rumah bukan hanya mengurangi paparan asap bagi orang lain. Pembatasan itu juga membuat merokok tidak lagi dianggap wajar dan mengurangi isyarat yang bisa memicu kambuh. Riset Akhtar dan rekan-rekannya mereka kutip untuk menyebut aturan rumah sebagai penguat perilaku yang kuat.
Saran dokter yang tidak berubah sejak 2009
Para penulis mengakui semua bukti menunjukkan India punya kebijakan dan program untuk membantu perokok berhenti lewat sistem kesehatannya. Namun, tulis mereka, prakarsa itu belum memengaruhi keberhasilan berhenti, baik lewat seringnya saran berhenti diberikan dokter dan tenaga kesehatan lain maupun lewat keampuhan saran tersebut.
Porsi perokok yang dalam dua belas bulan terakhir disarankan berhenti oleh dokter atau tenaga kesehatan lain nyaris sama: 22,01 persen pada gelombang pertama dan 22,56 persen pada gelombang kedua. Di antara mereka yang mendapat saran itu, 1,00 persen berhasil berhenti, baik pada survei pertama maupun kedua. Setelah faktor lain diperhitungkan, saran tersebut tidak berkaitan secara statistik dengan keberhasilan berhenti pada gelombang mana pun.
Mathur dan rekan-rekannya menulis bahwa prakarsa melatih tenaga kesehatan dalam dukungan berhenti merokok masih perlu diperkuat dan diperluas. Karena banyak orang India berobat ke layanan primer, mereka meminta kemampuan tenaga di sana diperkuat agar bisa memberi saran berhenti yang ajek dan berbasis bukti. Konseling berhenti merokok perlu masuk ke praktik klinis rutin, dan tenaga kesehatan perlu dilatih berkomunikasi secara efektif.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Bantuan lain mulai tampak pada gelombang 2016-2017
Yang justru bergerak adalah bantuan di luar ruang praktik dokter. Naskah memberi contoh saluran bantuan telepon, konseling, dan dukungan berhenti lainnya. Perokok yang menerima bantuan semacam itu bertambah dari 6,34 persen menjadi 10,23 persen. Pada gelombang kedua, bantuan tersebut berkaitan dengan peluang berhasil berhenti yang lebih besar, dengan rasio peluang 3,80.
Pada gelombang pertama kaitannya berada tepat di batas kemaknaan statistik, dengan rasio peluang 2,33, dan para penulis menyebutnya tetap patut dicatat. Angka kasarnya searah. Pada survei 2016-2017, 2,31 persen penerima bantuan lain berhasil berhenti, sementara di antara yang tidak menerimanya hanya 0,51 persen.
Ada pula temuan tentang tembakau tanpa asap. Mencoba beralih ke tembakau tanpa asap sebagai cara berhenti merokok berkaitan dengan peluang berhasil berhenti yang lebih besar hanya pada gelombang kedua, dengan rasio peluang 7,03. Padahal cara itu makin jarang ditempuh: dari 2,47 persen perokok pada survei pertama menjadi 1,45 persen pada survei kedua. Para penulis mengingatkan bahwa pemakaian tembakau tanpa asap dan pemakaian ganda di India tetap tinggi dan penting diakui.
Beberapa ciri lain muncul tidak seragam. Pada gelombang pertama, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi berkaitan dengan peluang berhasil berhenti yang lebih besar dibanding tanpa sekolah, sedangkan kekayaan tinggi berkaitan dengan peluang yang lebih kecil. Pada gelombang kedua, kelompok umur yang lebih tua berpeluang lebih kecil daripada kelompok 15-24 tahun, begitu pula kelompok berkekayaan menengah.
Pesan di media bertambah, tetapi tidak ikut mengubah hasil
Kenaikan paparan pesan antirokok di media cetak dan digital, menurut para penulis, sejalan dengan riset dan kebijakan kampanye media sebelumnya, dan di sini mereka merujuk kajian Durkin dan rekan-rekannya. Hanya saja kenaikan itu tidak berkaitan dengan keberhasilan berhenti. Mereka membacanya sebagai dukungan bagi teori bahwa kampanye media massa tradisional dulu ampuh, lalu memudar, barangkali karena ponsel pintar dan internet makin meluas di India.
Dari situ mereka melihat peluang. Media sosial dan program yang bisa dibuka lewat ponsel pintar, tulis mereka, membuka kesempatan yang belum pernah ada untuk pesan berhenti merokok yang terarah dan menarik. Mereka juga mengingatkan satu soal waktu: survei kedua berlangsung pada 2016 dan 2017, sedangkan saluran bantuan berhenti tembakau nasional dan program mCessation baru diluncurkan India pada 2016.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Yang belum terjawab oleh Mathur, Arora, Rawal, Bassi, dan Golkari
Para penulis lalu mencoba mengurai apa yang menyumbang pada perubahan dari gelombang pertama ke gelombang kedua. Tidak satu pun komponen uraian itu bermakna secara statistik, dan tidak ada faktor tunggal yang terbukti menyumbang. Sumbangan terbesar di dalam sampel datang dari bertambahnya rumah yang membatasi rokok, sebesar 248,47 persen, tetapi angka itu pun tidak bermakna secara statistik.
Bagi mereka, hasil nihil itu sendiri memberi keterangan. Angka keberhasilan yang diam di tempat kecil kemungkinannya dijelaskan oleh pergeseran ciri penduduk atau perilaku berhenti yang terukur di antara kedua survei. Faktor yang tidak terukur atau konteks yang lebih luas, misalnya keampuhan dan jangkauan layanan berhenti merokok, mungkin berperan lebih besar.
Keterbatasannya mereka tulis terang. Kedua survei memotret orang pada satu waktu, sehingga hubungan sebab akibat tidak bisa ditarik. Status merokok, lama berhenti, dan bantuan yang diterima dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga bisa meleset karena ingatan atau karena keinginan memberi jawaban yang dianggap baik. Mereka yang lama berhentinya dekat dengan batas enam bulan bisa saja masuk kelompok yang keliru.
Dalam simpulannya, para penulis menyebut angka keberhasilan berhenti tetap sangat rendah, hanya 0,70 persen pada kedua gelombang, meski porsi perokok turun bermakna. Mereka menunjuk pentingnya rumah bebas asap rokok, dukungan terarah di luar saran rutin tenaga kesehatan, dan inovasi digital. Mutu dan jangkauan layanan berhenti merokok, terutama di layanan primer, menurut mereka perlu diperkuat. Riset lanjutan dan pemantauan berkala juga mereka sebut diperlukan.















