Dosen Muda Tiongkok yang Rajin Menerbitkan Justru Lebih Murung

A A

Ilustrasi dua tangan mengetik di laptop berlayar putih kosong di ruangan temaram [Foto: Artem Podrez/Pexels]

  • Sebelum kontrak diteken, rata-rata skor depresi dosen muda itu 3,19, masih di wilayah tanpa depresi.
  • Skor depresi kelompok yang rajin menerbitkan naik 5,67 poin, sedangkan kelompok pembandingnya naik 4,41 poin.
  • Peraih hibah nasional menutup tahun ketiga dengan skor depresi 2,61, sedangkan dosen tanpa hibah mencatat 15,79.
  • Pada tahun ketiga, tidak ada lagi beda bermakna antara dosen pria dan wanita pada stres, cemas, maupun depresi.
Daftar Isi
  1. Up-or-out, naik pangkat atau angkat kaki
  2. PHQ-9, takaran murung dua pekan terakhir
  3. Jenjang hibah, tangga dana dari kampus ke nasional
  4. Paradoks keluaran tinggi, rajin terbit tetapi murung
  5. Efek konvergensi, beda pria dan wanita yang luruh
  6. Asosiasi eksploratif, hubungan yang belum tentu sebab-akibat

Naik atau keluar, begitulah arti harfiah up-or-out, aturan kerja yang membuat seorang dosen baru menjalani masa percobaan dengan dua ujung saja: diangkat tetap atau diberhentikan. Penentunya kinerja riset. Tiga peneliti di Tiongkok mengikuti ribuan dosen muda yang hidup di bawah aturan itu selama tiga tahun, lalu mencatat apa yang terjadi pada suasana batin mereka.

Ketiganya adalah Feilong Wu dan Qun Yang dari Department of Military Medical Psychology, Air Force Medical University, Xi’an, serta Juan Jiang dari Martial Arts and Dance College, Shenyang Sport University. Artikel mereka, The “up-or-out” system and early-career faculty mental health: a three-year longitudinal study of the paradox of research performance, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Yang diikuti adalah dosen awal karier di 39 universitas yang terang-terangan menerapkan sistem tersebut.

Hasilnya berlawanan dengan dugaan umum. Stres, cemas, dan depresi terus naik seiring mendekatnya tenggat penilaian. Dosen yang menerbitkan lebih banyak makalah tidak lebih tenang. Skor depresi mereka justru naik lebih tinggi daripada rekan yang terbitannya lebih sedikit.

Up-or-out, naik pangkat atau angkat kaki

Maksudnya begini. Universitas papan atas Tiongkok, tulis para peneliti, banyak mengadopsi sistem ini dengan meniru model Barat, yang di sana dikenal sebagai tenure-track atau jalur menuju jabatan tetap. Dosen baru menjalani masa percobaan yang terstruktur. Di atas kertas, sistem itu dimaksudkan membangun jalur karier yang mengarah pada keunggulan akademik.

Selama masa percobaan itu, kampus menggelar penilaian berkala, yaitu tinjauan kinerja tahunan pada akhir tiap tahun akademik. Keputusan akhir baru jatuh setelah masa percobaan habis, berdasarkan kinerja yang terkumpul. Pilihannya dua: jabatan tetap diberikan, atau dosen itu dilepas.

Ada tiga hal yang dihitung sebagai kinerja riset dalam kajian ini. Pertama, berapa kali seorang dosen mengajukan hibah penelitian sebagai ketua peneliti. Kedua, jenjang hibah yang berhasil diraih. Ketiga, jumlah makalah di jurnal inti yang ia tulis sebagai penulis pertama.

Para peneliti berangkat dari satu pertanyaan mendasar. Apakah sistem ini menaikkan kinerja lewat dorongan yang positif, atau ia memacu produktivitas dengan cara menimbulkan stres dan cemas? Besarnya ongkos batin dari sistem itu, tulis mereka, sebagian besar belum pernah ditelusuri.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

PHQ-9, takaran murung dua pekan terakhir

Alat ukur utamanya bernama PHQ-9, kependekan dari Patient Health Questionnaire-9. Isinya sembilan pertanyaan tentang seberapa sering gejala depresi muncul dalam dua pekan terakhir. Jumlah skornya merentang dari 0 sampai 27. Skor 0 sampai 4 berarti tanpa depresi, 5 sampai 9 ringan, 10 sampai 14 sedang, 15 sampai 19 cukup berat, dan 20 ke atas berat.

Dua alat lain menjadi pendamping. GAD-7 menakar gejala cemas dalam dua pekan terakhir dengan skor 0 sampai 21. PSS-10 menakar stres yang dirasakan selama sebulan terakhir dengan skor 0 sampai 40. Pada ketiganya, makin tinggi angka berarti makin berat keadaannya.

Pengukuran pertama dilakukan pada September 2022, tepat sebelum para dosen meneken kontrak. Ada 2.846 orang yang terjaring, 57,77 persen di antaranya pria, dengan usia rata-rata 32,36 tahun. Sebanyak 2.632 orang, atau 92,5 persen, terus mengisi kuesioner pada tiga tahun akademik berikutnya sampai September 2025.

Sebelum kontrak diteken, rata-rata skor depresi dosen muda itu 3,19, masih di wilayah tanpa depresi. Skor cemas mereka 3,27, juga di rentang paling rendah, dan skor stres 7,22. Sebelum bergabung, 78,81 persen dari mereka pernah ikut proyek penelitian sebagai anggota tim, bukan sebagai ketua peneliti.

Tiga tahun kemudian gambarnya lain. Rata-rata skor depresi dosen pria pada tahun ketiga tercatat 14,36 dan dosen wanita 14,42. Pada tahun pertama angkanya masih 5,53 dan 4,67. Para peneliti menyebut kenaikan itu kemungkinan mencerminkan tekanan sistem yang menumpuk, bukan pengaruh waktu itu sendiri.

Jenjang hibah, tangga dana dari kampus ke nasional

Hibah di sini berarti dana penelitian yang diperebutkan lewat proposal. Para peneliti membagi dosen menjadi dua kelompok: yang mengajukan kurang dari tiga proposal dan yang mengajukan tiga atau lebih. Pada tahun pertama skor depresi keduanya hampir sama, 6,32 dan 6,37. Jaraknya baru terbuka kemudian.

Pada tahun ketiga, kelompok yang lebih sering mengajukan mencatat skor depresi 12,43, sedangkan kelompok yang lebih jarang 9,64. Kenaikannya 6,06 poin berbanding 3,32 poin. Skor cemas bergerak serupa, 12,76 berbanding 9,89. Sering melamar dana, dalam data ini, berjalan seiring dengan batin yang lebih berat.

Lain cerita bila proposal itu tembus, dan lebih-lebih bila tembus di jenjang yang tinggi. Dalam kajian ini jenjang hibah bertingkat lima: tanpa hibah, hibah dari kampus sendiri, hibah tingkat kota, tingkat provinsi, dan tingkat nasional. Jenjang nasional mencakup dana semacam National Natural Science Foundation of China.

Peraih hibah nasional menutup tahun ketiga dengan skor depresi 2,61, sedangkan dosen tanpa hibah mencatat 15,79. Peraih hibah kampus dan hibah kota tidak jauh dari kelompok tanpa hibah, masing-masing 15,56 dan 14,76. Skor cemas tahun ketiga tersusun dalam urutan yang sama, dari 17,35 pada dosen tanpa hibah sampai 4,50 pada peraih hibah nasional.

Depresi tahun ketiga per jenjang hibahTanpa hibah: Rata-rata skor PHQ-9 +15,79; Hibah tingkat kampus: Rata-rata skor PHQ-9 +15,56; Hibah tingkat kota: Rata-rata skor PHQ-9 +14,76; Hibah tingkat provinsi: Rata-rata skor PHQ-9 +6,08; Hibah tingkat nasional: Rata-rata skor PHQ-9 +2,61.Depresi tahun ketiga per jenjang hibahRata-rata skor PHQ-9, rentang 0-2751015200Tanpa hibah15,79Hibah tingkat kampus15,56Hibah tingkat kota14,76Hibah tingkat provinsi6,08Hibah tingkat nasional2,61
Sumber: Feilong Wu, Qun Yang, dan Juan Jiang, The “up-or-out” system and early-career faculty mental health: a three-year longitudinal study of the paradox of research performance, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Peraih hibah provinsi berada di tengah. Skor depresi mereka 6,08 pada tahun ketiga, nyaris tidak berubah dari 6,19 pada tahun pertama. Skor cemas kelompok ini malah turun 1,55 poin. Adapun hibah nasional tidak diraih seorang pun pada tahun pertama, sehingga perubahan kelompok ini dihitung dari tahun kedua, dan arahnya turun 2,31 poin.

Pola yang sama tampak pada stres. Dosen tanpa hibah menutup tahun ketiga dengan skor stres 33,48 dari maksimum 40. Peraih hibah provinsi mencatat 12,83 dan peraih hibah nasional 5,50. Para peneliti menjelaskan bahwa hibah bukan hanya uang. Ia sering membawa pula nama baik dan pengakuan atas kelayakan seseorang sebagai ilmuwan.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Paradoks keluaran tinggi, rajin terbit tetapi murung

Istilah yang dipakai para peneliti adalah paradoks high-output–high-depression, keluaran tinggi dengan depresi tinggi. Dosen dipilah menurut jumlah makalah jurnal inti per tahun: paling banyak dua, atau tiga ke atas. Garis itu dipilih karena banyak universitas Tiongkok mensyaratkan paling banyak dua makalah inti selama masa percobaan, dan angka itu kerap dianggap garis lulus.

Orang mudah menduga bahwa dosen yang melampaui garis lulus akan lebih tenang. Datanya berkata lain. Pada tahun pertama skor depresi kedua kelompok nyaris kembar, 6,31 dan 6,26. Pada tahun ketiga, kelompok tiga makalah atau lebih mencatat 11,93, sedangkan kelompok dua makalah atau kurang 10,72.

Skor depresi kelompok yang rajin menerbitkan naik 5,67 poin, sedangkan kelompok pembandingnya naik 4,41 poin. Skor cemas mengikuti arah yang sama, 4,89 poin berbanding 4,17 poin. Stres naik pada kedua kelompok dengan besaran yang serupa, 13,32 dan 12,05 poin.

Dua kelompok dosen menurut jumlah makalahDua kelompok dosen menurut jumlah makalahDua kelompok dosen menurut jumlah makalahRata-rata skor PHQ-9 dan PSS-10 per tahun akademikMaks. 2 makalah3 makalah/lebih6,316,26Depresi tahunpertama10,7211,93Depresi tahunketiga4,415,67Kenaikan depresi12,0513,32Kenaikan stres
Sumber: Feilong Wu, Qun Yang, dan Juan Jiang, The “up-or-out” system and early-career faculty mental health: a three-year longitudinal study of the paradox of research performance, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peneliti juga menelusuri jalur tak langsung, yaitu seberapa jauh kinerja riset menjadi perantara antara mendekatnya tenggat dan keadaan batin. Di jalur itu, jenjang hibah dan jumlah makalah berhubungan dengan stres yang lebih rendah. Seringnya mengajukan hibah berhubungan dengan depresi dan cemas yang lebih tinggi.

Penjelasan yang mereka tawarkan menyangkut makna. Ketika karya ilmiah lahir karena tuntutan aturan dari luar, rasa bermakna yang semestinya melekat pada karya itu cenderung menyusut. Dosen yang paling produktif, tulis mereka, mengerahkan usaha luar biasa tetapi makin kehilangan makna dari hasil kerjanya, lalu menunjukkan gejala depresi yang lebih nyata.

“Temuan ini menggugat anggapan intuitif bahwa kinerja riset adalah sumber utama masalah kesehatan mental, dan sebaliknya mengisyaratkan bahwa sistem up-or-out bisa menjadi faktor risiko psikologis yang berarti,” tulis Wu, Yang, dan Jiang dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Analisis jalur tak langsung, menurut mereka, menunjukkan bahwa pengaruh masa percobaan terhadap depresi berkaitan dengan terkikisnya makna yang berlangsung terus, bukan dengan banyaknya makalah yang dihasilkan.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Efek konvergensi, beda pria dan wanita yang luruh

Konvergensi berarti dua garis yang semula berjarak lalu bertemu. Pada tahun pertama, dosen pria mencatat stres dan depresi yang lebih tinggi daripada dosen wanita. Skor depresinya 5,53 berbanding 4,67. Sebaliknya, dosen wanita lebih cemas, dengan skor 6,83 berbanding 5,66.

Pada tahun kedua, stres dan depresi pria masih sedikit lebih tinggi, tetapi beda pada cemas sudah hilang. Pada tahun ketiga, tidak ada lagi beda bermakna antara dosen pria dan wanita pada stres, cemas, maupun depresi. Skor depresi keduanya hampir berimpit, 14,36 dan 14,42.

Para peneliti membaca luruhnya perbedaan itu sebagai tanda bahwa tekanan sistem menimpa semua dosen. Menurut mereka, ada tiga lapis yang bekerja berurutan. Mula-mula tenggat penilaian dirasakan sebagai ancaman yang tidak bisa dikendalikan. Lalu perolehan sumber daya, terutama hibah, memisahkan nasib para dosen. Akhirnya rasa bermakna terkikis.

Asosiasi eksploratif, hubungan yang belum tentu sebab-akibat

Istilah terakhir ini adalah pagar yang dipasang para peneliti sendiri. Kajian mereka bersifat pengamatan, tanpa perlakuan apa pun terhadap para dosen. Karena itu, tulis mereka, temuannya harus dibaca sebagai asosiasi eksploratif, yakni hubungan yang baru terlihat dan perlu diuji lagi, bukan bukti sebab-akibat.

Arah hubungan pun bisa terbalik. Kesehatan mental yang memburuk dapat menurunkan kinerja riset, bukan hanya sebaliknya. Faktor yang tidak diukur, misalnya sifat kepribadian, juga mungkin ikut bermain. Para peneliti menyarankan kajian berikutnya memakai rancangan yang mampu memilah arah hubungan tersebut.

Keterbatasan lain menyangkut sumber datanya. Jumlah proposal, jenjang hibah, dan jumlah makalah dilaporkan oleh dosen sendiri, sehingga bisa meleset karena ingatan atau keinginan tampil baik. Dosen yang meninggalkan dunia akademik karena tekanan berat mungkin tidak terjaring pada survei lanjutan. Bila begitu, tulis para peneliti, pengaruh yang sesungguhnya bisa lebih besar daripada yang tercatat.

Pendapatan tahunan dan keadaan ekonomi para dosen tidak ikut ditanyakan. Bagian kepegawaian kampus menganggap keterangan itu sangat peka, walaupun surveinya tanpa nama. Para peneliti juga mengingatkan bahwa sistem penilaian dan budaya kampus berbeda-beda antarnegara, antarbidang ilmu, dan antarjenis perguruan tinggi, sehingga temuan ini tidak bisa begitu saja dibawa ke tempat lain.

Dari data itu mereka menyarankan universitas mempertimbangkan dukungan psikologis bagi dosen yang berulang kali gagal mengajukan hibah. Saran tersebut, mereka tegaskan, berpijak pada data pengamatan dan masih menunggu pembuktian lewat kajian yang menguji suatu tindakan. Dalam abstraknya mereka menyebut pula dua contoh penataan lain, yaitu memperpanjang siklus penilaian dan memperluas cakupan pendanaan.

Bagikan

Baca Juga

Satu Dolar Imunisasi di Arab Saudi Kembali 6,8 hingga 11,3 Dolar
Ingin Cantik Jadi Alasan Memutihkan Kulit di 26 dari 43 Studi
Skrining Kanker di Korea Turun pada 2022, Kecuali Kanker Hati
Laba Bank Sentral ASEAN Baru Meredam Inflasi Bila Independen
Kasa Berinsektisida di Jendela dan Celah Atap Menahan Nyamuk
Hampir Dua dari Tiga Perokok Bangladesh Gagal Saat Coba Berhenti