Kasa Berinsektisida di Jendela dan Celah Atap Menahan Nyamuk

A A

Ilustrasi kasa nyamuk berjaring rapat terpasang di bukaan jendela berpagar teralis [Foto: Techgadgets89/Pexels]

  • Kasa dipasang menutup celah di bawah atap dan lubang jendela pondok percobaan di Bagamoyo, Tanzania.
  • Nyamuk yang sempat mengisap darah hanya 15,5 persen pada kasa lama dan 6,3 persen pada kasa baru.
  • Di pondok berkasa baru, 67,6 persen nyamuk mati dalam 72 jam.
  • Kasa kehilangan lebih dari 70 persen kandungan deltametrin dan PBO sesudah setahun.
  • Kasa dan kelambu hanya dituakan setahun dan parameter model berasal dari satu uji.
Daftar Isi
  1. Kandang jaring di Bagamoyo
  2. Empat pondok, empat perlakuan
  3. Celah atap dan jendela yang tertutup
  4. Nyamuk yang mati sesudah 72 jam
  5. Anak balita dalam simulasi
  6. Yang belum diuji di kampung

Pukul enam sore di Bagamoyo, Tanzania, empat relawan membuka gelas kertas bertutup jaring di belakang empat pondok percobaan. Dari tiap gelas terbang 30 ekor nyamuk betina yang belum mengisap darah. Para relawan lalu masuk ke pondok, menutup pintu, dan tidur di dalamnya sampai pukul tujuh pagi. Di luar, nyamuk-nyamuk itu dibiarkan mencari jalan masuk sendiri.

Malam semacam itu diulang 32 kali. Catatannya dimuat Olukayode G. Odufuwa, Richard J. Sheppard, Safina Ngonyani, dan lima belas rekan mereka dalam artikel House modifications using insecticide-treated screening of eave and window as a vector control tool: evidence from a semi-field system in Tanzania and simulated epidemiological impact di jurnal BMC Public Health tahun 2026, yang terbit sebagai naskah diterima dan belum bernomor volume. Odufuwa bekerja di Ifakara Health Institute di Bagamoyo, Sheppard di Imperial College London.

Yang mereka uji adalah selembar kasa. Kasa itu dipasang menutup celah di bawah atap dan lubang jendela, dua jalan masuk nyamuk yang menurut naskah terbuka pada kebanyakan rumah sederhana. Benangnya mengandung deltametrin, sejenis insektisida, bersama piperonil butoksida atau PBO, bahan yang dipakai untuk memulihkan kepekaan nyamuk terhadap insektisida golongan itu.

Kandang jaring di Bagamoyo

Tempat ujinya bukan kampung, melainkan sebuah kandang raksasa. Bangunan milik Ifakara Health Institute itu berukuran 28,8 kali 21 meter, berdiri di atas lantai beton yang ditinggikan dan dikelilingi parit berisi air untuk menghalangi semut. Dindingnya jaring, atapnya lembaran polietilena. Di dalamnya ada empat ruang, dan tiap ruang berisi satu pondok percobaan.

Kandang tertutup itu punya satu kegunaan. Nyamuk yang dilepas bisa ditangkap lagi, baik yang berhasil masuk pondok maupun yang tertahan di luar. Dari 15.722 ekor yang dilepas selama uji, 13.370 ekor atau 85 persen ditemukan kembali. Setelah itu nyamuk yang masih hidup dipelihara selama 72 jam untuk melihat berapa yang akhirnya mati.

Empat macam nyamuk dipakai, semuanya biakan laboratorium. Dua di antaranya, Anopheles arabiensis dan Anopheles funestus, disebut naskah sebagai pembawa utama malaria di Tanzania. Aedes aegypti menularkan dengue, sedangkan Culex quinquefasciatus dikenal sebagai nyamuk pengganggu. Hanya Aedes yang masih peka terhadap insektisida piretroid. Tiga lainnya sudah kebal.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Empat pondok, empat perlakuan

Tiap pondok mendapat perlakuan berbeda. Pondok pertama dipasangi kasa baru, yang sebelumnya disimpan setahun di dalam peti kemas. Pondok kedua memakai kasa yang sudah dituakan. Kasa itu dipasang dengan perekat Velcro pada celah atap dan empat jendela sebuah rumah hewan di kompleks lembaga tersebut sejak Agustus 2021, lalu dibiarkan sampai akhir September 2022.

Pondok ketiga tidak berkasa. Isinya kelambu Olyset Plus, kelambu berinsektisida permetrin dan PBO yang menurut naskah menjadi standar di Tanzania. Kelambu itu juga dituakan setahun, dicuci enam kali, dan sengaja dilubangi agar menyerupai kelambu yang sudah dipakai warga. Pondok keempat dibiarkan tanpa kasa dan tanpa kelambu.

Di pondok tanpa perlindungan, hasilnya nyaris seragam. Nilai tengah nyamuk yang tertangkap di dalam pondok mencapai 25 ekor semalam, dan 92,8 persen nyamuk yang tertangkap kembali sudah kenyang darah. Hanya 5,6 persen yang mati dalam 72 jam. Para peneliti menyebut risiko di pondok itu sangat tinggi, dan menurut mereka hal tersebut menegaskan bahwa semua rumah di sebuah komunitas perlu diberi suatu bentuk perlindungan.

Celah atap dan jendela yang tertutup

Pindah ke pondok berkelambu, angkanya turun, tetapi nyamuk tetap masuk. Nilai tengahnya 13 ekor semalam di dalam pondok. Kelambu yang berlubang itu juga tidak sepenuhnya menahan gigitan, sebab 46,3 persen nyamuk yang tertangkap kembali sudah mengisap darah. Kelambu itu menjadi pembanding bagi kedua kasa.

Pondok berkasa memberi gambaran lain. Dengan kasa yang sudah berumur setahun, nilai tengah nyamuk di dalam pondok tinggal dua ekor. Dengan kasa baru, nilai tengahnya nol. Nyamuk yang sempat mengisap darah hanya 15,5 persen pada kasa lama dan 6,3 persen pada kasa baru. Dibandingkan kelambu, kedua selisih itu bermakna secara statistik.

Nyamuk yang sempat mengisap darahPondok tanpa perlindungan: Persen nyamuk +92,8%; Kelambu Olyset Plus umur setahun: Persen nyamuk +46,3%; Kasa berinsektisida umur setahun: Persen nyamuk +15,5%; Kasa berinsektisida baru: Persen nyamuk +6,3%.Nyamuk yang sempat mengisap darahPersen dari nyamuk yang tertangkap kembali, empat galur digabung25%50%75%100%0Pondok tanpa perlindungan92,8%Kelambu Olyset Plus umur setahun46,3%Kasa berinsektisida umur setahun15,5%Kasa berinsektisida baru6,3%
Sumber: Olukayode G. Odufuwa, Richard J. Sheppard, Safina Ngonyani, dan rekan-rekan, House modifications using insecticide-treated screening of eave and window as a vector control tool: evidence from a semi-field system in Tanzania and simulated epidemiological impact, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hasil itu berlaku hampir merata. Jumlah nyamuk di dalam pondok turun untuk keempat galur, baik pada kasa baru maupun kasa lama. Untuk gigitan, hampir semua galur menunjukkan penurunan yang bermakna pada kedua kasa. Culex, si pengganggu, ikut tertahan di luar dan tercegah mengisap darah. Para peneliti menduga lega dari gigitan nyamuk pengganggu dapat memperbesar kemungkinan warga mau memakai kasa.

Ada kekhawatiran lama yang ikut diperiksa. Menutup celah atap, tulis para peneliti, dapat mengurangi aliran udara dan berpotensi menaikkan suhu ruangan, sehingga sering tidak diterima di daerah tropis. Di Bagamoyo, suhu tengah di dalam pondok berkasa tercatat 25,2 derajat Celsius. Pondok berkelambu sama, 25,2 derajat, dan pondok tanpa perlakuan 25,0 derajat. Kasa, menurut naskah, tidak menaikkan suhu dalam ruangan.

Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat

Nyamuk yang mati sesudah 72 jam

Selain jumlah nyamuk yang masuk dan mengisap darah, para peneliti menghitung berapa yang mati. Hitungannya dilakukan 72 jam sesudah nyamuk ditangkap kembali. Di pondok berkasa baru, 67,6 persen nyamuk mati dalam 72 jam. Angka itu lebih tinggi secara bermakna daripada kelambu berumur setahun, yang mematikan 54,9 persen.

Kasa lama tidak sekuat itu. Sesudah setahun terpapar suhu tropis, angin, dan debu, ia mematikan 50,6 persen nyamuk. Selisihnya dengan kelambu lama tidak bermakna, sehingga keduanya dinilai setara. Para peneliti menulis bahwa pondok berkasa membunuh lebih dari separuh nyamuk kebal piretroid yang dilepas, dan mereka menduga hal itu berkat deltametrin yang ditambah PBO.

Setahun itu meninggalkan bekas. Kasa kehilangan lebih dari 70 persen kandungan deltametrin dan PBO. Kasa di jendela terkena sinar ultraviolet dari matahari, dan para peneliti menduga paparan itu ikut mengurai insektisida serta bahan pendampingnya. Meski begitu, kasa yang sama masih mencegah gigitan dan mengurangi nyamuk yang masuk. Penjelasan mereka: jaringnya masih utuh sebagai penghalang, dan sisa bahan aktifnya masih ada.

Satu galur menjadi catatan. Anopheles funestus yang terpapar kasa lama mati 66 persen, sedangkan pada kelambu lama 79 persen. Para peneliti menyebut tiga kemungkinan: kandungan insektisida yang susut, tingkat kekebalan nyamuk itu, dan tubuhnya yang kecil sehingga lebih mudah menembus kasa. Mereka menilai penting mencari insektisida lain di luar piretroid untuk membidik jenis ini.

Para relawan yang tidur di pondok juga ditanyai. Bersin adalah keluhan yang paling sering dilaporkan, dan lebih umum pada mereka yang tidur di pondok berkasa serta berkelambu. Tidak seorang pun mundur dari uji karena keluhan itu. Para peneliti menilai efek tersebut masih dapat ditoleransi.

Anak balita dalam simulasi

Dari kandang jaring, angka-angka itu dibawa ke komputer. Para peneliti memasukkannya ke sebuah model penularan malaria untuk menakar apa jadinya bila kasa dipasang di banyak rumah. Sasaran hitungannya anak berumur 6 sampai 59 bulan, selama tiga tahun. Pembandingnya adalah keadaan ketika pembagian kelambu massal, yang sebelumnya dipakai 60 persen penduduk, dihentikan.

Bila kampanye kelambu dilanjutkan, model memperkirakan rata-rata prevalensi malaria pada anak-anak itu turun 23 persen. Bila kasa ditambahkan dan menjangkau 60 persen penduduk, penurunannya menjadi 76 persen. Kasa saja, tanpa kampanye kelambu baru, masih menurunkan 65 persen. Naskah menyebut dampak kasa yang dipakai sendirian itu tetap mengesankan.

Simulasi malaria pada anak 6-59 bulanSimulasi malaria pada anak 6-59 bulanSimulasi malaria pada anak 6-59 bulanPenurunan rata-rata prevalensi selama tiga tahun menurut model23%kelambu sajakampanye dilanjutkan65%kasa sajatanpa kelambu baru76%kasa + kelambukasa menjangkau 60%Jalan risetnya32 malam uji diBagamoyo13.370 nyamuktertangkapData masuk modelmalariaPembanding: pembagian kelambu massal dihentikan. Angka kelambumemakai data uji Bagamoyo.
Sumber: Olukayode G. Odufuwa, Richard J. Sheppard, Safina Ngonyani, dan rekan-rekan, House modifications using insecticide-treated screening of eave and window as a vector control tool: evidence from a semi-field system in Tanzania and simulated epidemiological impact, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Model juga dicoba dengan anggapan yang lebih rendah. Dengan jangkauan hanya 40 persen dan daya bunuh yang bertahan rata-rata satu sampai dua tahun, penurunan prevalensi dan jumlah kasus menurut hitungan itu masih besar. Karena itu para peneliti membuka kemungkinan kasa dipertimbangkan sebagai pengganti kelambu di tempat yang sumber dayanya tidak cukup untuk menyediakan keduanya.

Ada satu kelebihan yang mereka garis bawahi. “Keunggulan produk ini dibanding kelambu adalah kemampuannya melindungi semua anggota rumah tangga secara setara,” tulis Odufuwa dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka mengutip kajian lain bahwa remaja paling jarang tidur di bawah kelambu. Kasa yang menempel di rumah juga tidak menuntut penghuninya rutin memakainya.

Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh

Yang belum diuji di kampung

Para peneliti sendiri memberi batas pada hitungan itu. Model menganggap kasa terpasang seketika pada 60 persen penduduk, hal yang menurut mereka kemungkinan besar tidak dapat dilakukan. Manfaatnya di lapangan bisa datang lebih pelan daripada yang tergambar. Seluruh parameter model pun berasal dari satu uji di satu kandang, dan hasil kelambunya berada di sisi atas rentang kajian-kajian sebelumnya.

Batas lain ada pada umur bahan. Kasa dan kelambu hanya dituakan setahun, padahal menurut para peneliti uji selama lebih dari tiga tahun akan memberi keterangan penting. Kelambu baru dan gabungan kasa dengan kelambu juga tidak ikut diuji. Model menganggap nyamuk harus melewati kasa saat masuk dan keluar rumah, sementara kemungkinan nyamuk keluar lewat pintu belum mereka uji.

Soal lingkungan pun disinggung. Bila kasa dipakai luas, tulis mereka, perlu ditimbang dampak tidak langsungnya, termasuk risiko dari jaring yang disalahgunakan atau dialihkan menjadi alat tangkap ikan. Mereka menyarankan uji lanjutan di lapangan yang sesungguhnya untuk melihat daya tahan, biaya, penolakan rumah tangga, dan tanggapan tiap jenis nyamuk.

Naskah ditutup dengan simpulan tentang kasa itu. “Mengingat kesederhanaannya, kasa ini patut dipertimbangkan sebagai alat tambahan atau alat yang berdiri sendiri untuk menutup rumah yang belum layak,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Di Bagamoyo, pada malam-malam ketika gelas kertas dibuka pukul enam sore, nilai tengah nyamuk yang sampai ke dalam pondok berkasa baru adalah nol.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Dua dari Tiga Perokok Bangladesh Gagal Saat Coba Berhenti
Jamban Bertambah di India, Tinja Anak Tetap Dibuang Sembarangan
Warga Uzbekistan Kenal Hepatitis B, Sedikit Paham Cara Menularnya
Remaja Korea yang Diet dengan Banyak Cara Lebih Sering Murung
Pemakaian Zat Remaja India Mengumpul di Sekolah-Sekolah Tertentu
Pendapatan Negara Naik, Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Turun