- Hasilnya, 54,7 persen penduduk pernah mendengar hepatitis B dan 39,0 persen pernah mendengar hepatitis C.
- Hubungan seksual sebagai jalan penularan hanya disebut 16,0 persen untuk hepatitis B dan 15,8 persen untuk hepatitis C.
- Sebanyak 28,8 persen responden mengaku pernah dites hepatitis B dan 17,7 persen pernah dites hepatitis C.
- Tenaga kesehatan menempati urutan pertama di semua kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan tingkat pendidikan.
Daftar Isi
- Mengapa pertanyaan sesederhana “pernah dengar” perlu diajukan
- Nama hepatitis B lebih sering terdengar daripada hepatitis C
- Dari mendengar nama ke memahami cara menular, banyak yang gugur
- Tidak tahu jalan masuknya, tidak tahu pula cara menutupnya
- Pernah didiagnosis pun tidak membuat orang lebih paham
- Tenaga kesehatan, pintu yang paling dipercaya
- Di titik mana penjelasan survei ini berhenti
Hampir semua orang yang pernah mendengar hepatitis di Uzbekistan tahu bahwa penyakit itu tidak berpindah lewat jabat tangan, makanan, atau benda di tempat umum. Namun, pengetahuan mereka tentang jalan penularan yang sebenarnya rendah. Hanya sebagian kecil yang tahu hepatitis dapat menular lewat hubungan seksual atau dari ibu ke anak. Sebuah survei terhadap ribuan orang dewasa di negeri itu mencatat jarak antara dua pengetahuan tersebut.
Survei itu dilaporkan Rania A. Tohme, Shaun Shadaker, Elizaveta Joldasova, Aybek Khodiev, Dilafkor Mirdjalilov, Zulfiya Abdurakhimova, Botirjon Kurbanov, Nino Khetsuriani, Shakhida Karamatova, dan Erkin Musabaev dalam artikel Awareness, knowledge, and practices related to hepatitis B and hepatitis C in the Republic of Uzbekistan—Results from a population-based survey, 2022. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Division of Viral Hepatitis pada U.S. Centers for Disease Control and Prevention, lembaga riset virologi di Tashkent, dan Kementerian Kesehatan Republik Uzbekistan.
Bahan mereka adalah wawancara tatap muka dengan orang berusia 18 tahun ke atas di tujuh dari 14 wilayah Uzbekistan, yaitu Andijan, Samarkand, Kashkadarya, Khorezm, Republik Karakalpakstan, Tashkent, dan Kota Tashkent. Dari 10.000 orang dewasa yang disasar, 9.066 orang atau 91 persen ikut serta. Menurut para penulis, inilah survei pertama yang menilai kesadaran, pengetahuan, dan praktik terkait hepatitis akibat virus pada penduduk umum negara itu.
Mengapa pertanyaan sesederhana “pernah dengar” perlu diajukan
Hepatitis B dan hepatitis C, tulis para peneliti, menimpa lebih dari 300 juta orang di dunia dan menyebabkan hampir 1,3 juta kematian setiap tahun akibat sirosis dan kanker hati. Uzbekistan sendiri belum memiliki angka nasional yang akurat. Berbagai perkiraan pemodelan yang dirujuk naskah menyebut hepatitis B kronis diidap 2,1 sampai 4,3 persen penduduk, sedangkan hepatitis C kronis 3,0 sampai 3,7 persen.
Pemerintah negara itu sudah bergerak. Sebuah resolusi presiden menetapkan skrining hepatitis B dan C gratis bagi penduduk, pengobatan gratis bagi pengidap hepatitis C, dan vaksinasi hepatitis B gratis bagi tenaga kesehatan di semua wilayah. Meski begitu, kepatuhan berobat dilaporkan rendah. Naskah itu mencatat 13 sampai 14 persen orang yang terdiagnosis tidak lagi terpantau sesudah skrining pertama, dan 62 sampai 66 persen lainnya tidak melanjutkan perawatan.
Sebuah kajian kualitatif yang dirujuk para penulis mencatat hambatannya. Hambatan untuk tes mencakup kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang hepatitis, rendahnya literasi kesehatan, terbatasnya informasi soal tempat dan biaya tes, tidak adanya waktu, dan takut pada stigma. Karena itu survei ini dirancang untuk menyediakan bahan bagi penyusunan materi edukasi hepatitis yang ditujukan kepada penduduk umum.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Nama hepatitis B lebih sering terdengar daripada hepatitis C
Lapisan pertama yang diukur adalah kesadaran, yang diartikan sebagai pernah mendengar nama penyakitnya. Hasilnya, 54,7 persen penduduk pernah mendengar hepatitis B dan 39,0 persen pernah mendengar hepatitis C. Para peneliti menduga selisih itu berkaitan dengan lebih banyaknya pengidap hepatitis B dibandingkan hepatitis C di Uzbekistan. Sebuah studi di 11 negara dan wilayah Asia yang mereka rujuk juga mendapati kesadaran lebih tinggi di tempat yang penyakitnya lebih banyak.
Sejarah kedua penyakit ikut menjelaskan. Hepatitis B sudah dikenali sebagai infeksi tersendiri sejak 1960-an, dan vaksinnya diperkenalkan bertahap pada 1998 sampai 2001 di negara-negara bekas Uni Soviet. Hepatitis C bertahun-tahun hanya disebut hepatitis non-A non-B. Tidak ada studi yang menilai bebannya di negara-negara bekas Uni Soviet sampai awal 2000-an, dan hal itu, menurut para penulis, mungkin memengaruhi kesadaran penduduk.
Kesadaran itu tidak merata. Perempuan berpeluang 2,61 kali lebih besar daripada laki-laki untuk pernah mendengar hepatitis B, dan 2,15 kali untuk hepatitis C. Lulusan universitas juga lebih sadar daripada lulusan sekolah teknik atau kejuruan. Di Kota Tashkent, 92,4 persen warga pernah mendengar hepatitis B, sedangkan di Karakalpakstan hanya 28,9 persen. Untuk hepatitis C, angka tertinggi tercatat di Khorezm, 80,2 persen, dan terendah di Samarkand, 19,9 persen.
Dari mendengar nama ke memahami cara menular, banyak yang gugur
Lapisan kedua hanya ditanyakan kepada mereka yang pernah mendengar penyakitnya. Di sinilah jarak itu tampak. Kira-kira dua pertiga tahu hepatitis B atau C dapat menular lewat darah yang tercemar, dan sedikit di atas separuh tahu berbagi jarum dan alat suntik bisa menularkannya. Berbagi benda rumah tangga seperti pisau cukur dan sikat gigi dikenali 39,0 persen untuk hepatitis B dan 28,7 persen untuk hepatitis C.
Makin ke bawah, makin sedikit yang tahu. Hubungan seksual sebagai jalan penularan hanya disebut 16,0 persen untuk hepatitis B dan 15,8 persen untuk hepatitis C. Penularan hepatitis B dari ibu ke anak dikenali lebih sedikit lagi, 7,6 persen. Akibatnya, yang mampu menyebut semua jalan penularan dengan benar hanya 2,4 persen untuk hepatitis B dan 3,5 persen untuk hepatitis C.
Sebaliknya, daftar hal yang tidak menularkan dikuasai hampir semua orang. Sebanyak 93,6 persen tahu jabat tangan tidak menularkan hepatitis B, 97,8 persen tahu makanan bukan penularnya, 97,6 persen tahu percikan napas bukan penularnya, dan 98,0 persen tahu menyentuh benda di tempat umum tidak berbahaya. Para penulis mencatat bahwa salah paham semacam itu, yang lazim di studi lain, tidak banyak ditemukan di Uzbekistan.
Kedua daftar itu bertemu dalam satu kalimat naskah. “Pengetahuan tentang cara penularan dan pencegahan rendah di antara mereka yang melaporkan pernah mendengar hepatitis B atau hepatitis C,” tulis Rania A. Tohme, peneliti Division of Viral Hepatitis pada U.S. Centers for Disease Control and Prevention, bersama sembilan rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Angka-angka tersebut, menurut mereka, lebih rendah daripada yang dilaporkan di Australia, Georgia, Yunani, dan Vietnam, tetapi serupa dengan Ethiopia.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Tidak tahu jalan masuknya, tidak tahu pula cara menutupnya
Pengetahuan tentang pencegahan juga rendah, dan para penulis menyebutnya cerminan rendahnya pengetahuan faktor risiko. Menghindari alat medis yang tidak steril disebut 51,0 persen untuk hepatitis B, dan tidak berbagi jarum suntik 46,1 persen. Vaksinasi sebagai pencegah hepatitis B dikenali 46,0 persen. Kondom hanya disebut 8,8 persen untuk hepatitis B dan 8,6 persen untuk hepatitis C.
Skor yang dihitung para peneliti merangkum keadaan itu. Nilai tengah skor pengetahuan penularan adalah 4,9 dari sembilan untuk hepatitis B dan 4,8 dari delapan untuk hepatitis C. Untuk pencegahan, nilainya 1,7 dan 2,3 dari lima. Mereka yang menjawab benar lebih dari 70 persen pertanyaan, yang digolongkan berpengetahuan tinggi, hanya 19,1 persen untuk hepatitis B dan 30,2 persen untuk hepatitis C.
Ada pula pengetahuan yang lebih baik. Sebanyak 61,7 persen tahu infeksi hepatitis B bisa berlangsung tanpa gejala, dan 77,7 persen tahu penyakit itu dapat diobati; untuk hepatitis C angkanya 61,5 dan 74,8 persen. Usia ikut berkaitan. Orang berusia 50 tahun ke atas berpeluang lebih kecil memiliki pengetahuan tinggi tentang hepatitis B daripada kelompok usia 18 sampai 29 tahun. Para penulis menduga orang muda lebih mudah menjangkau informasi lewat media sosial dan internet.
Pernah didiagnosis pun tidak membuat orang lebih paham
Lapisan ketiga adalah praktik. Sebanyak 28,8 persen responden mengaku pernah dites hepatitis B dan 17,7 persen pernah dites hepatitis C. Yang pernah diberi tahu tenaga kesehatan bahwa dirinya mengidap hepatitis B berjumlah 8,2 persen, dan hepatitis C 2,3 persen. Mereka yang pernah didiagnosis hepatitis C memang jauh lebih sadar akan penyakit itu, 86 persen berbanding 37,7 persen pada yang tidak didiagnosis.
Pengetahuan tidak mengikuti pola itu. Di antara yang sadar akan hepatitis C, 29,4 persen pengidap berpengetahuan tinggi, berbanding 32,2 persen pada yang tidak pernah didiagnosis, dan selisih itu tidak bermakna secara statistik. Pada hepatitis B angkanya 11,7 berbanding 16,4 persen, juga tidak bermakna. Para penulis menyebut hasil survei ini memperlihatkan kesenjangan yang berarti dalam praktik maupun pengetahuan.
Survei itu juga mencatat kebiasaan yang dapat membuka jalan bagi virus. Sebanyak 15,5 persen responden bertindik, dan 79,3 persen di antaranya ditindik di rumah. Dari 2,6 persen yang bertato, 16,8 persen mendapatkannya di ketentaraan, 9,5 persen di penjara, dan 7,8 persen melaporkan jarum bekas dipakai. Menurut para penulis, rendahnya pengetahuan tentang faktor risiko mungkin memengaruhi keterlibatan dalam praktik semacam itu.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Tenaga kesehatan, pintu yang paling dipercaya
Kalau pengetahuan hendak diperbaiki, pertanyaannya lewat siapa. Dari 5.345 responden yang berminat pada informasi kesehatan, 67,0 persen paling memercayai tenaga kesehatan, 35,4 persen internet, dan 17,2 persen televisi. Tenaga kesehatan menempati urutan pertama di semua kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan tingkat pendidikan. Internet lebih dipercaya laki-laki, 41,5 persen berbanding 29,7 persen pada perempuan, dan lebih dipercaya kelompok usia 18 sampai 29 tahun, 43,4 persen berbanding 19,3 persen pada usia 60 tahun ke atas.
Para peneliti menyandingkan Uzbekistan dengan Georgia. Kesadaran penduduk Uzbekistan akan hepatitis C hampir separuh dari angka Georgia, 66 persen. Bedanya, tulis mereka, Georgia menjalankan kampanye kesadaran dan edukasi yang luas ketika meluncurkan program eliminasi hepatitis C pada 2015. Karena itu mereka menilai Uzbekistan perlu kampanye nasional yang disebarkan lewat tenaga kesehatan layanan primer, media sosial, dan jaringan televisi.
Kampanye itu, menurut mereka, tidak bisa seragam. Karena kesadaran dan pengetahuan berbeda menurut ciri sosial dan demografi, program edukasi yang disesuaikan akan paling efektif. Untuk menjangkau orang berpendidikan rendah, penyuluhan perlu disusun agar dipahami orang awam, misalnya lewat pertemuan berbasis komunitas yang memakai cerita. Para penulis juga menyarankan agar tema perubahan perilaku dimasukkan ke dalam kampanye, tidak sekadar membagikan pengetahuan tentang hepatitis.
Di titik mana penjelasan survei ini berhenti
Para penulis menuliskan sendiri batas temuan mereka. Semua jawaban adalah laporan responden, sehingga ada bias ingatan dan kecenderungan menjawab yang dianggap pantas. Kuesioner kertas membuat tidak semua pertanyaan wajib terisi, dan cukup banyak peserta tidak menjawab pertanyaan kesadaran hepatitis B dan C tanpa sebab yang bisa dipastikan. Perbedaan ciri antara seluruh peserta dan mereka yang menjawab, tulis para peneliti, mungkin memengaruhi sejauh mana hasil dapat digeneralisasi.
Ada dua batas lain. Hubungan antara pengetahuan dan praktik tidak dapat diukur karena terlalu sedikit peserta yang melaporkan perilaku tertentu. Pertanyaan tentang praktik seksual juga tidak dimasukkan karena kepekaan budaya, sehingga perilaku itu tidak bisa dinilai. Meski begitu, para penulis menyatakan jumlah sampelnya cukup besar untuk memberi perkiraan kesadaran dan pengetahuan di tujuh wilayah tersebut.
Para penulis merangkum temuan itu dalam pembahasan. Warga Uzbekistan tidak banyak memegang salah paham tentang jabat tangan atau makanan, tetapi pengetahuan mereka tentang faktor risiko yang sebenarnya rendah. “Survei ini menemukan rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang, serta terbatasnya skrining untuk, hepatitis B dan hepatitis C di Uzbekistan,” tulis Tohme dan rekan-rekannya dalam simpulan. Tenaga kesehatan dan internet, sumber yang paling dipercaya, mereka sebut perlu dilibatkan dalam kampanye edukasi.















