- Sebanyak 11,2 persen remaja mengaku memakai sedikitnya satu zat dalam tiga bulan terakhir.
- Sekitar 23 persen keragaman pemakaian zat terletak pada perbedaan antara satu sekolah dan sekolah lain.
- Remaja dengan paparan digital tinggi punya peluang memakai zat lebih dari dua kali lipat dibanding yang paparannya rendah.
- Setelah semua ciri murid dan sekolah dimasukkan, 70,0 persen perbedaan antarsekolah masih tersisa.
- Rancangan sekali potret membuat urutan waktu antara faktor dan pemakaian zat tidak bisa ditetapkan.
Daftar Isi
- Sebanyak 11,2 persen murid mengaku memakai, dan mereka tidak tersebar rata
- Layar di tangan murid berkaitan kuat dengan pemakaian zat
- Yang menahan: faktor pelindung, kesejahteraan mental, dan beda murid laki-laki dengan perempuan
- Negeri atau swasta, desa atau kota, tidak ada yang menjawab mengapa sekolah berbeda
- Dari seratus yard di sekeliling gerbang sekolah sampai ruang konseling di dalamnya
Satu pertanyaan disodorkan kepada murid di ruang kelas, pada jam sekolah: dalam tiga bulan terakhir, seberapa sering kamu memakai zat-zat berikut? Daftarnya panjang. Rokok dan tembakau kunyah. Bir, anggur, minuman keras. Ganja, lem dan bensin yang dihirup, obat tidur, sampai opioid. Jawabannya dikumpulkan dari sekolah negeri dan swasta, di desa dan di kota, di berbagai penjuru India.
Jawaban itu diolah tujuh peneliti: U. Venkatesh, Sudip Bhattacharya, Palanivel Chinnakali, Krupal Joshi, Aravind P. Gandhi, Rashmi Agarwalla, dan Amiya Saha. Artikel mereka, School-level clustering and individual correlates of adolescent substance use in India: a multicentre multilevel study, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Lokasi kajiannya enam: Gorakhpur, Nagpur, Deoghar, Rajkot, Guwahati, dan Puducherry, yang dipilih untuk mewakili ragam sosial, budaya, dan ekonomi negeri itu.
Murid yang memakai zat tidak tersebar rata. Mereka mengumpul di sekolah-sekolah tertentu, dan para peneliti menyebut pengelompokan itu besar. Sekolah negeri atau swasta, di desa atau di kota, ternyata tidak menerangkan mengapa satu sekolah berbeda dari sekolah lain. Sebagian besar perbedaan itu tetap tidak terjawab sampai halaman terakhir naskah mereka.
Sebanyak 11,2 persen murid mengaku memakai, dan mereka tidak tersebar rata
Sebanyak 6.168 remaja berumur 10 sampai 19 tahun dari 108 sekolah mengisi kuesioner, antara Oktober 2025 dan Januari 2026. Sebagian besar, 62 persen, berumur 14 sampai 16 tahun. Lebih dari 80 persen tinggal bersama kedua orang tua. Tidak semua jawaban bisa dipakai untuk hitungan utama: 332 remaja tidak memberi keterangan soal pemakaian zat, dan 988 murid Puducherry dikeluarkan karena keterangan itu tidak tersedia di sana.
Tersisa 4.848 remaja dari lima lokasi. Sebanyak 11,2 persen remaja mengaku memakai sedikitnya satu zat dalam tiga bulan terakhir. Batasnya begini: siapa pun yang menjawab pernah memakai, entah sekali dua kali, bulanan, mingguan, atau hampir tiap hari, dihitung sebagai pemakai. Hanya yang menjawab tidak pernah untuk semua zat dalam daftar yang masuk kelompok bukan pemakai.
Angka kedua menyangkut sekolah. Sekitar 23 persen keragaman pemakaian zat terletak pada perbedaan antara satu sekolah dan sekolah lain. Sisanya terletak pada perbedaan antarmurid. Bagi para peneliti, itu berarti jawaban murid dalam satu sekolah tidak berdiri sendiri-sendiri. Besaran pengelompokan serupa, tulis mereka, juga dilaporkan sejumlah kajian lain yang memakai cara hitung sejenis.
Para peneliti tidak menyimpulkan sekolah sebagai penyebabnya. Pengelompokan, menurut mereka, bisa lahir dari dua hal yang bercampur: susunan murid yang berbeda dari sekolah ke sekolah, dan keadaan lingkungan atau lembaga yang tidak terukur. Kajian ini tidak dapat memisahkan keduanya.
“Pengelompokan ini tidak membuktikan bahwa ciri-ciri sekolah menyebabkan perbedaan yang teramati,” tulis Venkatesh dan enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu mereka ulang dalam beberapa rumusan di bagian pembahasan. Yang terbukti hanyalah adanya perbedaan antarsekolah, dan bahwa perbedaan itu bertahan.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Layar di tangan murid berkaitan kuat dengan pemakaian zat
Mundur ke meja tiap murid. Kuesioner yang sama menanyakan banyak hal lain: sikap terhadap zat, faktor pelindung, cara mengatasi tekanan, pergaulan, kesejahteraan mental, mudah tidaknya zat didapat, dan paparan digital. Yang terakhir itu diukur dari pemakaian media sosial, pemakaian gawai, dan seberapa sering murid melihat konten terkait zat di media sosial atau video daring.
Paparan digital ternyata menonjol. Remaja dengan paparan digital tinggi punya peluang memakai zat lebih dari dua kali lipat dibanding yang paparannya rendah. Angka itu bertahan setelah umur, jenis kelamin, keadaan keluarga, dan ciri sekolah ikut diperhitungkan. Paparan tingkat sedang pun berkaitan dengan peluang yang lebih tinggi. Para peneliti menyebutnya temuan yang patut dicatat.
Mereka segera memasang pagar. Kuesioner tidak menanyakan dari mana konten itu datang, apakah bermuatan dagang, atau seperti apa persisnya isinya. Pustaka terdahulu menawarkan penjelasan, misalnya paparan konten terkait zat dan bergesernya anggapan tentang apa yang lumrah. Namun, mekanisme itu tidak diuji di sini. Para peneliti memintanya dibaca sebagai dugaan dari pustaka, bukan penjelasan yang dibuktikan data mereka.
Kemudahan mendapat zat menyusul di belakangnya. Remaja yang mengaku zat bisa dijangkau punya peluang memakai 1,63 kali dibanding yang mengaku tidak. Para peneliti menyebut temuan itu sejalan dengan bukti dari India dan negara lain: ketika zat tersedia, rintangan untuk mulai mencoba ikut turun.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Yang menahan: faktor pelindung, kesejahteraan mental, dan beda murid laki-laki dengan perempuan
Ada pula yang menarik ke arah sebaliknya. Remaja dengan faktor pelindung tingkat sedang punya peluang memakai zat 41 persen lebih rendah daripada yang faktor pelindungnya lemah. Kesejahteraan mental bekerja searah. Pada remaja yang kesejahteraan mentalnya tinggi, peluang itu kira-kira separuh dari peluang remaja yang kesejahteraan mentalnya rendah.
Beberapa hal yang tampak penting justru meredup. Pada hitungan kasar, pemakaian zat lebih jarang di kalangan remaja yang sikap anti-zatnya baik, yang pandai mengatasi tekanan, dan yang pergaulannya luas. Setelah semua faktor ditimbang bersama, ketiganya tidak lagi bermakna. Para peneliti menduga pengaruhnya tersalur lewat, atau tertutup oleh, kesejahteraan mental dan faktor pelindung yang lebih luas.
Jenis kelamin bernasib sama. Murid laki-laki tidak berbeda bermakna dari murid perempuan dalam peluang memakai zat. Padahal gambaran keduanya tidak serupa. Murid laki-laki lebih banyak yang cara mengatasi tekanannya buruk, 26,2 persen berbanding 21,0 persen. Pergaulan sosial yang rendah juga lebih sering pada mereka, begitu pula paparan digital yang tinggi.
Murid perempuan membawa beban lain. Sebanyak 44,8 persen dari mereka berasal dari keluarga golongan miskin, sedangkan pada murid laki-laki angkanya 36,0 persen. Mereka juga lebih banyak bersekolah di sekolah negeri, 82,8 persen berbanding 76,3 persen. Para peneliti mencatatnya sebagai ketimpangan ekonomi yang nyata di antara peserta.
Dari susunan itu para peneliti menarik satu bacaan. Kajian terdahulu di India menekankan jenis kelamin, keadaan orang tua, dan jenis sekolah sebagai penanda pemakaian zat remaja. Dalam hitungan mereka, kaitan itu melemah begitu faktor kejiwaan dan paparan digital dimasukkan. Mereka menyebutnya pergeseran bobot, bukan pemutusan dari bukti lama.
Paparan digital dan kesejahteraan mental, tulis mereka, menunjuk pada risiko baru yang dibentuk lingkungan digital bersama dan menembus lapisan sosial ekonomi. Karena itu, penyasaran menurut golongan penduduk mereka nilai perlu dilengkapi dengan pencegahan yang menjangkau semua remaja dan bertumpu pada sisi kejiwaan.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Negeri atau swasta, desa atau kota, tidak ada yang menjawab mengapa sekolah berbeda
Kembali ke teka-teki sekolah. Para peneliti punya empat hal yang bisa dicoba: jenis sekolah, letaknya, lokasi kajian, dan rata-rata jawaban murid di tiap sekolah. Tidak satu pun dari dua ciri pertama berkaitan bermakna dengan pemakaian zat. Sekolah swasta tidak berbeda dari sekolah negeri. Sekolah kota tidak berbeda dari sekolah desa.
Rata-rata faktor pelindung dan rata-rata paparan digital per sekolah juga tidak bermakna setelah semua faktor dimasukkan. Antarlokasi, perbedaannya terbatas. Hanya Nagpur yang menonjol, dengan peluang pemakaian zat yang lebih rendah secara bermakna dibanding Gorakhpur. Tiga lokasi lain tidak berbeda bermakna dari Gorakhpur.
Lalu hitungan pengurangannya. Ciri-ciri murid mengurangi perbedaan antarsekolah sebesar 16,7 persen. Ciri sekolah yang tersedia menambah pengurangan 13,3 persen. Setelah semua ciri murid dan sekolah dimasukkan, 70,0 persen perbedaan antarsekolah masih tersisa. Ukuran pengelompokan yang semula 0,23 turun menjadi 0,20, lalu 0,18. Turun, tetapi tetap besar.
Para peneliti menolak dua tafsir sekaligus. Besarnya sumbangan ciri murid, tulis mereka, tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa lingkungan sekolah tidak penting. Ukuran sekolah yang mereka punya sajalah yang tidak cukup untuk menggambarkan apa yang bekerja di balik pengelompokan itu. Sisa perbedaan mungkin mencerminkan keadaan lembaga, pergaulan sebaya, atau lingkungan sekitar yang tidak dinilai langsung.
Rata-rata sekolah itu pun punya cacat bawaan yang mereka akui. Angkanya dihitung dari jawaban murid yang sama, sehingga bisa mencampur keadaan sekolah dengan susunan muridnya. Kaitan pada tingkat sekolah, menurut mereka, juga tidak boleh diturunkan menjadi kesimpulan tentang seorang murid. Tidak boleh disimpulkan bahwa risiko seorang anak berubah semata karena rata-rata sekolahnya.
Di sinilah batas kajian itu tampak. Kuesioner tidak mencatat kebijakan sekolah tentang zat, layanan konseling, perbandingan jumlah guru dan murid, cara sekolah menegakkan disiplin, iklim sekolah, atau jaringan pertemanan. Semua itu disebut para peneliti sebagai penjelasan yang masuk akal menurut riset terdahulu. Di kajian ini, semuanya tetap dugaan yang menunggu diukur langsung.
Batas lain menyangkut waktu. Rancangan sekali potret membuat urutan waktu antara faktor dan pemakaian zat tidak bisa ditetapkan. Bisa jadi sebagian faktor justru akibat, bukan pendahulu. Para peneliti mencontohkan bolos sekolah dan keadaan mental: keduanya mungkin mendahului pemakaian zat, mungkin pula sebagian lahir darinya. Kaitan yang mereka laporkan, tulis mereka, tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat.
Jawaban murid juga diisi sendiri. Untuk perilaku sepeka pemakaian zat, para peneliti menyebut kemungkinan murid menjawab sesuai yang dianggap pantas, sehingga angka pemakaian bisa lebih rendah dari kenyataan. Sejumlah hal di rumah tidak terukur pula: pemakaian zat oleh orang tua, pengalaman buruk masa kecil, pertengkaran keluarga, dan kemiskinan lingkungan tempat tinggal.
Sekolah yang sudah menjalankan program pencegahan sengaja tidak diikutkan. Akibatnya, temuan ini belum tentu berlaku bagi sekolah yang lebih giat mencegah. Murid Puducherry dan mereka yang tidak menjawab soal pemakaian zat juga berada di luar hitungan utama. Hasilnya, menurut para peneliti, mungkin tidak sepenuhnya mewakili kelompok itu.
Dari seratus yard di sekeliling gerbang sekolah sampai ruang konseling di dalamnya
Dari temuan soal layar dan soal akses, para peneliti melangkah ke kebijakan. “Implikasi kebijakan harus melampaui penyadaran pencegahan yang umum dan ‘literasi digital’,” tulis Venkatesh dan rekan-rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Yang mereka minta adalah campur tangan pada tataran aturan, mengingat risiko dari paparan digital dan dari mudahnya zat dijangkau.
Aturannya, menurut mereka, sudah ada. Undang-undang rokok dan produk tembakau India, Cigarettes and Other Tobacco Products Act, melarang penjualan dalam jarak 100 yard dari lembaga pendidikan. Para peneliti meminta larangan itu ditegakkan dengan ketat dan diaudit. Untuk dunia digital, mereka mendorong pengawasan terhadap platform, pembatasan usia yang tegas, dan pembatasan pemasaran zat yang menyasar anak di bawah umur.
Di dalam sekolah, arah yang mereka tunjuk berangkat dari temuan tentang kesejahteraan mental. Model antinarkoba yang semata menghukum mereka minta ditinggalkan. Gantinya adalah pemeriksaan psikologis yang baku dan layanan konseling kesehatan mental yang tersedia di sekolah itu sendiri, supaya murid punya daya tahan sebelum mulai mencoba.
Untuk kajian berikutnya, permintaan mereka lebih sederhana: ukur sekolahnya secara langsung. Iklim sekolah, praktik pencegahan, jaringan pertemanan, keadaan lingkungan sekitar, dan cara konten digital bekerja pada remaja perlu dinilai sendiri. Hanya dengan begitu, tulis mereka, dapat diketahui apakah dan bagaimana semua itu ikut membentuk perbedaan antarsekolah.
Pertanyaan di ruang kelas itu sudah dijawab ribuan murid. Yang mengaku memakai zat mengumpul di sekolah tertentu. Layar, akses, faktor pelindung, dan kesejahteraan mental menerangkan sebagian. Jenis dan letak sekolah tidak berkaitan bermakna. Tujuh dari sepuluh bagian perbedaan antarsekolah masih tersisa, tanpa penjelasan dari data yang ada.















