- Pasien di kota akrab dengan konsultasi jarak jauh, aplikasi kesehatan, jam pintar, dan alat pemantau gula darah berkelanjutan.
- Pasien di desa terutama mengandalkan pertemuan langsung dengan dokter dan memakai media sosial untuk mencari keterangan umum.
- Ponsel pintar kerap dipakai bersama oleh seisi keluarga, terutama di desa, dan hal itu memengaruhi akses.
- Hampir 51,6 persen perempuan desa di India tidak memiliki ponsel menurut data nasional yang dikutip penulis.
- Syarat ikut serta adalah memakai ponsel pintar, sehingga orang yang paling terpinggirkan secara digital mungkin tidak terjaring.
Daftar Isi
- Di Chennai Dokter Hadir Lewat Layar, di Chunampet Pasien Tetap Datang Sendiri
- Anak dan Kerabat Menjadi Jembatan, tetapi Ponsel di Rumah Hanya Satu
- Perempuan Desa yang Tak Punya Ponsel dan Enggan Wajahnya Terkirim ke Seberang
- Tenaga Kesehatan Mengandalkan WhatsApp, Pasien Bertanya ke Mana Data Mereka Pergi
- Yang Diminta Peserta Sederhana: Aplikasi yang Mudah, Bahasa Daerah, dan Video Pendek
Seorang pendamping pasien diabetes di Chennai bercerita tentang ponsel para orang tua. Ponsel itu bertombol. Yang bisa dilakukan pemiliknya hanya menelepon dan menutup telepon. Membuka ponsel, lalu membuka aplikasi, lalu mencari keterangan tentang gula darah di dalamnya, terasa terlalu rumit bagi mereka. Padahal di kota yang sama, pasien diabetes lain sudah berkonsultasi dengan dokter lewat layar.
Cerita itu dicatat Ranjit Mohan Anjana, Sharma Nitika, Steena Kuriakose, Alice A Gibson, Charles Kamotho, Martin Heine, Luisa C Brant, Jasper Tromp, Arun Pulikkottil Jose, dan Harish Ranjani dalam artikel Digital divide in diabetes care: qualitative insights from the DIG-EQUITY study, India. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Anjana bekerja di Madras Diabetes Research Foundation, Chennai.
Mereka mendengarkan 54 orang di Tamil Nadu, di kota Chennai dan di desa Chunampet. Sebanyak 42 orang adalah pasien diabetes dan anggota keluarga yang mendampingi mereka. Dua belas lainnya tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan wakil organisasi komunitas. Usia rata-rata peserta diskusi 45 tahun, sekitar 60 persen di antaranya laki-laki, dan semuanya memakai ponsel pintar kecuali satu orang. Dari mulut mereka muncul gambaran tentang siapa yang terjangkau layanan kesehatan digital dan siapa yang tertinggal.
Di Chennai Dokter Hadir Lewat Layar, di Chunampet Pasien Tetap Datang Sendiri
Pasien di kota akrab dengan konsultasi jarak jauh, konsultasi video, aplikasi kesehatan, jam pintar, dan alat pemantau gula darah berkelanjutan. Bagi mereka, layanan itu terasa praktis dan luwes. Catatan kesehatan dan tanda vital tersimpan di perangkat. Rekam medis elektronik sudah menjadi bagian dari cara mereka berobat.
Di desa ceritanya lain. Pasien terutama mengandalkan pertemuan langsung dengan dokter dan memakai media sosial untuk mencari keterangan umum. Ponsel pintar mereka pakai untuk mencatat data, mengirim laporan, dan merencanakan makanan. Alat yang mereka kenal sebatas pelacak aktivitas fisik sederhana. Para penulis mencatat keleluasaan pasien desa terbatas karena akses ke perangkat digital pun terbatas.
Ada satu hal yang sama. Pasien dan pendamping di kota maupun di desa sama-sama mengenal alat untuk memeriksa gula darah sendiri. Selebihnya, pilihan mereka berpisah jalan. Seorang peserta yang dicatat penulis sebagai pasien diabetes tipe 2 dari kota bercerita bahwa ia biasa mencatat makanannya memakai aplikasi. Kalau tidak bisa sampai ke rumah sakit, katanya, laporan dikirim lewat WhatsApp dan email, lalu dokter menindaklanjutinya esok hari.
Jawaban dari desa bernada sebaliknya. Seorang peserta yang dicatat sebagai pasien diabetes tipe 2 dari desa mengatakan mereka pergi ke dokter dan bertindak sesuai nasihat yang diberikan. Anjuran jalan kaki dan olahraga ringan dari dokter mereka ikuti dalam keseharian. Ia menyatakan mereka tidak puas dengan aplikasi-aplikasi itu.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Kenyamanan memakai layanan digital ternyata berbeda menurut jenis diabetesnya. Perempuan dengan diabetes pada masa kehamilan menyukai beragam aplikasi untuk mencari keterangan dan memantau kondisi. Pasien diabetes tipe 1 justru memilih bertemu dokter langsung. Alasannya jelas. Mereka merasa perlu diperiksa secara fisik.
Banyak peserta melihat konsultasi jarak jauh sebagai keuntungan untuk kontrol lanjutan dan untuk mengirim hasil laboratorium lewat pesan atau email. Aplikasi pencatat kebugaran dan makanan membantu pasien tetap terlibat merawat diri. Catatan kesehatan digital juga lebih disukai daripada laporan kertas. Lebih mudah dibuka, disimpan, dan dirujuk kembali bertahun-tahun kemudian.
Lalu datang hambatannya. Kemampuan memakai perangkat digital yang terbatas, terutama pada orang lanjut usia, muncul sebagai tantangan yang berarti. Sebagian peserta merasa layanan digital tidak personal atau tidak lengkap. Pasien diabetes tipe 1 di kota meragukan ketepatan angka yang ditampilkan aplikasi. Banyak pasien sulit menjalankan anjuran aplikasi karena jam kerja mereka tidak teratur.
Di sinilah ponsel bertombol itu masuk. Seorang peserta yang dicatat penulis sebagai pendamping pasien diabetes tipe 2 dari kota mengatakan kebanyakan orang tua tidak tahu apa-apa soal memakai ponsel, bahkan tidak tahu apa itu aplikasi. Mereka, katanya, hanya memakai ponsel bertombol, dan yang bisa mereka lakukan hanya menelepon dan menutup telepon. Ia menambahkan, para orang tua itu merasa tidak nyaman.
Anak dan Kerabat Menjadi Jembatan, tetapi Ponsel di Rumah Hanya Satu
Keluarga mengisi celah itu. Para pendamping berperan penting membuka jalan ke layanan kesehatan digital, terutama bagi orang lanjut usia dan anak dengan diabetes. Pendamping di kota memakai konsultasi jarak jauh untuk mengurus anggota keluarga yang sudah tua dan mengurangi kunjungan ke rumah sakit yang tidak perlu.
Seorang pendamping dari kota menceritakan ibunya yang berusia 76 tahun. Layanan jarak jauh itu dipakai untuk sang ibu, dan ia baru membawanya ke rumah sakit bila benar-benar perlu. Pendamping lain, orang tua dari anak dengan diabetes tipe 1, mengenang masa pandemi. Anak-anak tidak bisa dibawa ke pusat layanan. Panggilan video WhatsApp menghubungkan mereka dengan dokter dan kelas daring tentang makanan.
Di desa, para pendamping belajar tentang makanan dan olahraga dari video daring, lalu membantu pasien menjalankannya. Seorang di antaranya bercerita tentang ayahnya. Sang ayah menonton video di YouTube tentang pola makan dan jalan kaki. Keterangan itu ia tanggapi dengan serius, lalu ia ikuti.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Namun jembatan itu punya batas. Ponsel pintar kerap dipakai bersama oleh seisi keluarga, terutama di desa, dan hal itu memengaruhi akses. Seorang wakil organisasi komunitas mengatakan di daerah pedesaan hanya akan ada satu ponsel pintar dalam satu keluarga. Para penulis menyebut berbagi perangkat, khususnya di kalangan perempuan desa, menghalangi pemakaian layanan digital secara mandiri.
Perempuan Desa yang Tak Punya Ponsel dan Enggan Wajahnya Terkirim ke Seberang
Hambatan yang menimpa perempuan lebih terasa di desa. Akses mereka ke ponsel pintar terbatas, dan mereka enggan berkonsultasi lewat video. Seorang pembuat kebijakan menggambarkannya dengan terang. Di sebagian lapisan masyarakat, kata dia, perempuan kadang tidak memiliki ponsel sama sekali dan memilih tidak berbicara dengan dokter melalui kamera.
Pembuat kebijakan itu menyebut para perempuan tersebut berhati-hati terhadap kamera dan tidak ingin gambar mereka dikirim ke ujung yang lain. Para penulis menautkan cerita itu dengan data nasional yang mereka kutip. Hampir 51,6 persen perempuan desa di India tidak memiliki ponsel.
Jurang kota dan desa juga tampak pada hal yang lebih dasar. Peserta di kota melaporkan jaringan internet dan sarana digital yang lebih baik. Seorang pasien kota bahkan menyebut sambungan internet bukan lagi masalah di perkotaan. Peserta di desa menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam sambungan, bahasa, dan pengetahuan tentang adanya layanan kesehatan digital.
Keadaan ekonomi ikut bermain. Warga berpenghasilan rendah dan orang lanjut usia sering kesulitan memakai perangkat digital dan sulit memercayai teknologi. Dalam ringkasan temuan mereka, para penulis mencatat ketersediaan layanan yang terbatas di wilayah pedesaan berujung pada diagnosis yang terlambat dan akses yang sempit ke perawatan spesialis.
Tenaga Kesehatan Mengandalkan WhatsApp, Pasien Bertanya ke Mana Data Mereka Pergi
Dari sisi klinik, gambarnya serupa. Tenaga kesehatan swasta di kota memakai rekam medis elektronik, layanan jarak jauh, dan perangkat yang dikenakan di badan. Rekan mereka di desa memakai perangkat digital terutama untuk konsultasi dan penapisan. Tenaga kesehatan pemerintah, di kota maupun desa, menghubungi pasien lewat layanan jarak jauh, panggilan video, dan pesan.
Mereka melihat manfaatnya. Perangkat digital memperluas jangkauan ke pasien, meringankan beban perjalanan, dan memungkinkan pemantauan seketika. Tetapi seorang tenaga kesehatan pemerintah di desa memberi catatan. Penerimaan terhadap konsultasi jarak jauh, katanya, tinggi hanya bila memakai WhatsApp, bukan aplikasi atau video lain.
Sambungan yang buruk merusak percakapan. Seorang tenaga kesehatan pemerintah di kota mengatakan, bila sambungan jelek, mereka tidak bisa mendengar pasien dan tidak memahami apa yang dikatakan. Pasien pun merasakan hal serupa. Seorang pasien diabetes tipe 1 di kota mengaku cenderung lupa beberapa hal saat berbicara dengan dokter lewat telepon.
Baca juga Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar
Lalu ada soal kepercayaan. Peserta berulang kali menyuarakan kekhawatiran tentang keamanan dan kerahasiaan data. Peserta yang dicatat sebagai pasien dan pendamping diabetes tipe 2 dari kota mengatakan mereka memasukkan semua data kesehatan mereka, tetapi tidak tahu ke mana data itu pergi atau siapa yang mengaksesnya.
Pembuat kebijakan memberi jawaban dari seberang meja. Dua pembuat kebijakan yang diwawancarai berasal dari dinas kesehatan masyarakat Tamil Nadu dan program e-Sanjeevani milik pemerintah pusat. Layanan seperti e-Sanjeevani, menurut mereka, mematuhi pedoman yang berlaku dan tidak ada pelanggaran yang dilaporkan. Para penulis tetap memberi catatan. “Namun, temuan kami menunjukkan bahwa pelaksanaan yang efektif dan komunikasi yang transparan tetap penting untuk membangun kepercayaan publik,” tulis Ranjit Mohan Anjana dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris.
Yang Diminta Peserta Sederhana: Aplikasi yang Mudah, Bahasa Daerah, dan Video Pendek
Peserta di semua tempat menekankan hal yang sama. Tampilan harus ramah pengguna, rancangan aplikasi mudah ditebak, dan bahasa daerah tersedia. Mereka mengusulkan peragaan langsung, video pendek, dan bahan belajar bergambar. Seorang peserta menjelaskan apa yang terjadi bila aplikasi membingungkan. Orang tersangkut di tengah jalan, tidak tahu harus ke mana, lalu menutup aplikasi itu.
Peserta lain menyebut video sebagai cara terbaik menyentuh hati orang. Rentang perhatian, katanya, hanya dua menit. Lebih dari itu, orang akan memindah saluran. Tenaga kesehatan menyarankan fitur percakapan dalam bahasa setempat, video olahraga singkat, dan bahan edukasi pasien. Keterlibatan anggota keluarga juga dianjurkan agar pasien, terutama yang lanjut usia, lebih taat berobat.
Para penulis mengakui satu keterbatasan. Syarat ikut serta adalah memakai ponsel pintar, sehingga orang yang paling terpinggirkan secara digital mungkin tidak terjaring. “Akibatnya, penelitian ini mungkin menaksir terlalu rendah dalamnya kesenjangan digital,” tulis mereka, dalam naskah berbahasa Inggris.
Menurut para penulis, upaya ke depan tidak cukup berhenti pada membuka akses. Mereka menyebut perlunya pelatihan kecakapan digital yang terarah, penguatan peran pendamping, perbaikan sarana, bahasa, dan keterjangkauan, serta penegakan aturan perlindungan data yang lebih kuat. Semua itu ditujukan pada jurang kota dan desa, antargender, dan antarlapisan sosial ekonomi.
Dalam catatan Anjana dan rekan-rekannya, para pendamping dari keluarga itulah yang membuka jalan ke layanan digital bagi orang lanjut usia dan anak dengan diabetes. Penelitian mereka didanai World Heart Federation, Swiss.















