Lansia Tiongkok yang Tinggal Sendiri Lebih Banyak Kehilangan Gigi

A A

Ilustrasi tangan bersarung karet hijau memoles gigi tiruan dengan alat poles berputar [Foto: Karola G/Pexels]

  • Lansia yang tinggal sendiri rata-rata kehilangan 8,26 gigi, sedangkan yang tinggal bersama orang lain 6,76 gigi.
  • Di kelompok yang tinggal sendiri 83,01 persen peserta memiliki karies, berbanding 76,26 persen pada kelompok pembanding.
  • Hanya 11,54 persen lansia yang tinggal sendiri masih bergigi lengkap, berbanding 18,86 persen pada kelompok pembanding.
  • Pendapatan rumah tangga dua kelompok itu tidak berbeda bermakna, sehingga uang bukan seluruh jawaban.
  • Rancangan potong lintang penelitian ini tidak memungkinkan penetapan hubungan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Weng Menghitung Gigi yang Tanggal di Rumah yang Sepi
  2. Zhang Menemukan Hal-hal yang Ternyata Tidak Berbeda
  3. Li dan Weng Melihat Siapa yang Tinggal Sendiri
  4. Zhang Menimbang Uang dan Mendapati Itu Bukan Seluruh Jawaban
  5. Weng dan Zhang Menyebut Batas Penelitian Mereka
  6. Yang Diusulkan Zhang untuk Lansia yang Hidup Sendiri

Ying Zhang merancang sebuah penelitian yang berangkat dari pertanyaan sederhana tentang rumah orang tua di Tiongkok: adakah orang lain yang tinggal di dalamnya. Dari ruang kerjanya di Departemen Kedokteran Gigi Pencegahan, Shanghai Stomatological Hospital, Fudan University, ia dan enam rekannya menyandingkan jawaban atas pertanyaan itu dengan isi mulut ribuan orang berusia 65 sampai 74 tahun. Hasilnya tidak menggembirakan bagi mereka yang tinggal sendiri.

Zhang menulis bersama Qingqing Weng, Jiaxin Li, Hao Zhang, Xiaoli Zeng, Dongxin Da, dan Huning Wang. Artikel mereka berjudul Living alone and oral health disparities in Chinese older adults: a national cross-sectional study dan terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Menurut keterangan di naskah, Weng mengerjakan perolehan data, analisis, dan penulisan, sedangkan Zhang merancang penelitian serta menyunting naskahnya.

Bahan yang dipegang Weng dan Zhang adalah Survei Kesehatan Mulut Nasional keempat di Tiongkok, yang menjangkau 31 provinsi, daerah otonom, dan kota setingkat provinsi. Dari survei itu mereka mengambil 4.406 orang berusia 65 sampai 74 tahun. Gigi setiap peserta diperiksa, lalu peserta ditanya tentang latar hidup dan kebiasaannya. Sebanyak 312 orang, atau 7,1 persen, tinggal sendiri.

Weng Menghitung Gigi yang Tanggal di Rumah yang Sepi

Angka pertama yang dicatat Weng dan rekan-rekannya adalah gigi yang sudah tidak ada. Lansia yang tinggal sendiri rata-rata kehilangan 8,26 gigi. Pada lansia yang tinggal bersama orang lain, angkanya 6,76 gigi. Perbedaan itu bermakna secara statistik.

Zhang dan timnya lalu melihat karies, yakni gigi berlubang. Di kelompok yang tinggal sendiri, 83,01 persen peserta memiliki karies. Di kelompok yang tinggal bersama orang lain, angkanya 76,26 persen. Sesudah usia, pendidikan, pendapatan, dan kebiasaan ikut diperhitungkan, peluang lansia yang tinggal sendiri untuk memiliki karies tetap lebih tinggi, dengan rasio odds 1,416.

Gigi lansia Tiongkok menurut teman serumahGigi lansia Tiongkok menurut teman serumahGigi lansia Tiongkok menurut teman serumahUsia 65-74 tahun; gigi hilang dan pasangan gigi berupa rata-rataTinggal sendiriTinggal bersama83,01%76,26%Punya karies8,266,76Gigi hilang6,858,14Pasangan gigi11,54%18,86%Gigi lengkap5,886,32Skor pengetahuan
Sumber: Qingqing Weng, Jiaxin Li, Hao Zhang, Xiaoli Zeng, Dongxin Da, Huning Wang, dan Ying Zhang, Living alone and oral health disparities in Chinese older adults: a national cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada ukuran lain yang dipakai Weng untuk menilai apakah gigi masih bisa bekerja, yaitu pasangan gigi yang saling bertemu. Satu pasangan berarti gigi di rahang atas dan gigi di rahang bawah pada posisi yang sama dan sisi yang sama. Lansia yang tinggal sendiri rata-rata memiliki 6,85 pasangan. Lansia yang tinggal bersama orang lain memiliki 8,14 pasangan.

Gigi yang lengkap, dalam batasan Zhang dan rekan-rekannya, berarti sedikitnya 28 gigi yang berfungsi tanpa menghitung geraham bungsu. Hanya 11,54 persen lansia yang tinggal sendiri masih memilikinya. Di kelompok pembanding angkanya 18,86 persen. Dalam hitungan akhir tim itu, tinggal sendiri tetap berkaitan dengan peluang yang lebih kecil untuk bergigi lengkap, dengan rasio odds 0,653.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Zhang Menemukan Hal-hal yang Ternyata Tidak Berbeda

Tidak semua ukuran memisahkan dua kelompok itu, dan Zhang serta Weng mencatatnya dengan terang. Proporsi orang yang sudah ompong seluruhnya nyaris sama, 4,49 persen pada yang tinggal sendiri dan 4,45 persen pada yang tinggal bersama orang lain. Jumlah gigi yang berlubang atau ditambal juga tidak berbeda bermakna, begitu pula perbandingan gigi berlubang yang sudah ditambal.

Keadaan gusi pun serupa. Tim Zhang mencatat rata-rata 5,61 gigi dengan kehilangan perlekatan pada lansia yang tinggal sendiri dan 5,65 gigi pada kelompok pembanding. Gigi dengan gusi berdarah rata-rata 10,53 dan 11,32. Kedua selisih itu tidak bermakna secara statistik. Artinya, yang membedakan dua kelompok itu terutama gigi berlubang, gigi yang tanggal, dan gigi yang masih berpasangan.

Kebiasaan sehari-hari juga tidak banyak berbeda dalam catatan Weng. Sepertiga lansia yang tinggal sendiri, tepatnya 33,0 persen, menyikat gigi dua kali sehari, sedangkan pada kelompok pembanding 29,8 persen. Kebiasaan makan makanan manis dan minum minuman manis pun setara. Seberapa sering mereka pergi ke layanan gigi juga tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok.

Yang berbeda justru cara mereka menilai mulutnya sendiri. Kepada petugas survei, 39,7 persen lansia yang tinggal sendiri menyebut kesehatan mulutnya buruk atau sangat buruk. Pada yang tinggal bersama orang lain, angkanya 32,4 persen. Zhang dan rekan-rekannya menulis bahwa penilaian buruk itu mungkin mencerminkan keadaan klinis mereka yang sebenarnya, bukan sekadar cara pandang yang pasrah.

Li dan Weng Melihat Siapa yang Tinggal Sendiri

Jiaxin Li, yang bersama Weng mengerjakan analisis, mendapati bahwa penghuni rumah yang sepi itu kebanyakan perempuan. Sebanyak 63,1 persen lansia yang tinggal sendiri adalah perempuan, sementara di kelompok pembanding 48,8 persen. Usia mereka juga sedikit lebih tua, rata-rata 70,06 tahun berbanding 69,04 tahun.

Bangku sekolah ikut membedakan. Dalam tabel yang disusun Weng dan Li, 34,3 persen lansia yang tinggal sendiri tidak pernah bersekolah, sedangkan pada yang tinggal bersama orang lain 22,5 persen. Mereka yang menamatkan sekolah menengah atas atau lebih hanya 7,7 persen, berbanding 16,9 persen. Lansia tanpa asuransi juga lebih banyak di kelompok yang tinggal sendiri, 3,8 persen berbanding 1,8 persen.

Siapa lansia yang tinggal sendiriSiapa lansia yang tinggal sendiriSiapa lansia yang tinggal sendiriPeserta Survei Kesehatan Mulut Nasional ke-4 Tiongkok4.406pesertausia 65-74 tahun312tinggal sendiri7,1% peserta63,1%perempuandi kelompok itu34,3%tak bersekolahdi kelompok ituJalan risetnyaGigi diperiksaPeserta ditanyaDibandingkan
Sumber: Qingqing Weng, Jiaxin Li, Hao Zhang, Xiaoli Zeng, Dongxin Da, Huning Wang, dan Ying Zhang, Living alone and oral health disparities in Chinese older adults: a national cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pengetahuan dan sikap tentang kesehatan gigi diukur lewat dua belas pertanyaan, antara lain tentang penyebab gigi berlubang, fluorida, dan gusi berdarah. Weng mencatat skor rata-rata 5,88 pada lansia yang tinggal sendiri dan 6,32 pada kelompok pembanding. Namun dalam hitungan akhir yang memasukkan semua faktor, skor pengetahuan itu tidak lagi muncul sebagai penentu keadaan gigi.

Lalu ada temuan yang oleh Zhang dan timnya disebut mengejutkan. Lansia yang tinggal sendiri justru lebih jarang merokok dan minum alkohol. Sebanyak 18,9 persen dari mereka merokok, berbanding 24,0 persen. Yang tidak pernah minum alkohol mencapai 75,3 persen, berbanding 60,6 persen. Para penulis menduga hal itu mencerminkan susunan kelompok tersebut yang sebagian besar perempuan.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Zhang Menimbang Uang dan Mendapati Itu Bukan Seluruh Jawaban

Dugaan yang paling mudah adalah kemiskinan. Zhang dan Weng memeriksanya, dan tabel mereka tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam pendapatan rumah tangga maupun dalam sebaran kota dan desa di antara dua kelompok. Sebanyak 53,5 persen lansia yang tinggal sendiri berada di kota, berbanding 50,4 persen pada kelompok pembanding.

“Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mulut yang buruk pada kelompok yang hidup sendiri tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh kekurangan finansial,” tulis Qingqing Weng, Ying Zhang, dan rekan-rekan mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu muncul ketika mereka membandingkan temuannya dengan sejumlah penelitian di negara Barat.

Uang tetap berperan bagi lansia secara umum. Dalam hitungan Weng dan Li, pendapatan yang lebih tinggi berkaitan dengan gigi yang lengkap, dan pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan lebih banyak pasangan gigi yang tersisa. Merokok berkaitan dengan karies yang lebih banyak dan gigi yang tidak lengkap. Usia berkaitan dengan gigi lengkap dan dengan jumlah pasangan gigi.

Tim Zhang juga memisahkan peserta menurut ada tidaknya penyakit kronis. Di antara lansia tanpa penyakit kronis, mereka yang tinggal sendiri tetap lebih jarang bergigi lengkap, 10,60 persen berbanding 19,00 persen, walau karies di kelompok ini tidak berbeda bermakna. Di antara lansia yang memiliki penyakit kronis, tinggal sendiri berkaitan dengan hasil yang lebih buruk pada karies, gigi tanggal, dan pasangan gigi.

Karena kaitan itu bertahan sesudah rokok, alkohol, dan kebiasaan menyikat gigi diperhitungkan, Weng dan Zhang menduga kurangnya dukungan sosial bekerja lewat jalur yang tidak mereka ukur. Mereka menyebut pola makan, kunjungan ke dokter gigi yang tidak teratur, dan tidak adanya pertolongan cepat ketika gigi mendadak bermasalah.

Weng dan Zhang Menyebut Batas Penelitian Mereka

Para penulis tidak menyembunyikan batas pekerjaannya. “Pertama, rancangan potong lintang tidak memungkinkan penetapan hubungan sebab-akibat,” tulis Weng, Zhang, dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris. Data mereka memotret dua kelompok pada satu waktu. Karena itu yang mereka laporkan adalah kaitan antara tinggal sendiri dan keadaan gigi.

Zhang dan timnya menyebut tiga batas lain. Kuesioner survei tidak mengukur kesepian, depresi, gangguan kognitif, ataupun bentuk-bentuk dukungan sosial, padahal semua itu bisa ikut memengaruhi hasil. Kemampuan mengunyah, kemampuan berbicara, dan tekstur makanan tidak dinilai. Analisis statistiknya juga tidak diberi bobot, yang menurut mereka dapat membuat galat baku ditaksir terlalu rendah.

Ada satu catatan lagi dari Weng. Dalam hitungan akhir, kaitan antara tinggal sendiri dan jumlah pasangan gigi hanya bermakna secara marginal. Lansia yang tinggal sendiri cenderung memiliki lebih sedikit pasangan gigi, dengan rasio 0,889, tetapi rentang kepercayaannya terbentang dari 0,784 sampai 1,008.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Yang Diusulkan Zhang untuk Lansia yang Hidup Sendiri

Dari temuan itu Zhang dan rekan-rekannya menarik usul. Lansia yang tinggal sendiri, menurut mereka, perlu dikenali sebagai kelompok prioritas. “Karena tinggal sendiri membawa risiko yang tidak bergantung pada pendapatan dan perilaku kesehatan, intervensi tidak dapat hanya mengandalkan subsidi keuangan atau pendidikan perilaku,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Dukungan sosial mereka sebut sangat penting.

Weng dan Zhang juga menulis untuk pembuat kebijakan dan dokter gigi. Perluasan tanggungan perawatan gigi dalam asuransi publik mereka anggap penting untuk meringankan hambatan biaya bagi semua lansia. Informasi yang ramah bagi orang tua tetap dibutuhkan. Bagi dokter, mereka menyarankan cara berkomunikasi yang disesuaikan dan rujukan ke layanan di lingkungan tempat tinggal lansia yang hidup sendiri.

Zhang memandang ke depan dengan satu perkiraan: tinggal sendiri akan makin lazim seiring urbanisasi dan mengecilnya ukuran keluarga di Tiongkok. Karena itu ia dan timnya meminta penelitian lanjutan yang mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu, penelitian yang menggali sisi kejiwaan dan sosial, serta uji coba sistem dukungan berbasis komunitas.

Pertanyaan yang dipakai Ying Zhang sejak awal tetap sama, yakni adakah orang lain di rumah itu. Pada 312 lansia yang menjawab tidak ada, ia dan Qingqing Weng mendapati gigi berlubang yang lebih banyak, gigi tanggal yang lebih banyak, dan gigi lengkap yang lebih jarang. Menurut mereka, selisih itu kemungkinan bersumber dari kurangnya dukungan sosial yang menyertai hidup terpisah dari orang lain.

Bagikan

Baca Juga

Pasien Diabetes di Desa India Masih Tertinggal Layanan Digital
Rasa Tak Adil dan Gangguan Tidur serta Makan Warga Kota Tiongkok
Pekerja Kantoran Istanbul yang Rajin Bergerak Makan Lebih Baik
Makin Pekat Debu Halus, Makin Tinggi Tensi Dewasa Muda Asia Timur
Obat HIV Gratis di Sughd Tajikistan, Kematian Pasien Tetap Tinggi
Talasemia Dikenal Perempuan Lima Negara, tapi Sedikit yang Paham