- Tidak seorang pun dari 208 pekerja itu yang pola makannya masuk golongan baik.
- Lebih dari separuh pekerja, 54,3 persen, tergolong beraktivitas fisik rendah, dan hanya 8,7 persen yang tergolong tinggi.
- Indeks massa tubuh tidak berkaitan secara bermakna dengan skor mutu makan.
- Umur yang lebih tua dan aktivitas fisik yang tinggi berkaitan dengan skor mutu makan yang lebih tinggi.
- Rancangan penelitian yang memotret satu waktu tidak memungkinkan penarikan sebab-akibat.
Daftar Isi
Berat badan tidak membocorkan isi piring seorang pekerja kantoran. Di sebuah perusahaan energi di Istanbul, karyawan yang berbadan normal dan yang kelebihan berat sama-sama banyak ditemukan di kelompok berpola makan buruk. Yang lebih berkaitan dengan isi piring itu justru dua hal lain: umur si pekerja dan seberapa banyak ia bergerak. Indeks massa tubuh mereka tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan skor mutu makan.
Gambaran itu disusun dua ahli gizi, Büşra Meltem Ecertaş dan Nihal Zekiye Erdem dari Istanbul Medipol University, dalam artikel Correlates of diet quality among sedentary white-collar workers in Türkiye: associations with physical activity and lifestyle-related factors yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka mencatat makanan 208 pekerja kerah putih selama tiga hari, dua hari kerja dan satu hari akhir pekan. Para pekerja itu menghabiskan jam kerjanya di meja: di depan komputer, dalam rapat, memberi presentasi, membaca dokumen, dan menelepon.
Rata-rata asupan energi, protein, dan serat harian mereka berada di bawah anjuran, dan kira-kira dua dari tiga orang tergolong berpola makan buruk. Kedua peneliti lalu menelusuri apa saja yang berkaitan dengan skor mutu makan yang lebih tinggi di antara para pekerja itu. Mereka mencatat bahwa hal-hal yang mereka temukan hanya menerangkan sebagian kecil perbedaan skor.
Cara sebuah piring diberi angka
Untuk memahami temuan itu, perlu diketahui dulu cara mutu makan diukur. Kedua peneliti memakai Healthy Eating Index-2015, sebuah indeks yang menilai seberapa jauh makanan seseorang mengikuti anjuran makan sehat. Indeks itu terdiri atas tiga belas komponen. Sebagian menilai kecukupan, misalnya buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Sebagian lagi menilai pembatasan, misalnya natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh.
Seluruh komponen kemudian dijumlahkan menjadi satu skor antara 0 dan 100. Makin tinggi skornya, makin baik mutu makannya. Skor 50 ke bawah digolongkan sebagai pola makan buruk, skor 51 sampai 80 sebagai pola makan yang perlu perbaikan, dan skor di atas 80 sebagai pola makan baik. Dengan cara itu, catatan makan tiga hari setiap pekerja berubah menjadi satu angka yang bisa dibandingkan.
Angka yang muncul rendah. Skor rata-rata seluruh pekerja 44,9, masih di dalam golongan buruk. Sebanyak 135 orang atau 64,9 persen berpola makan buruk, sedangkan 73 orang atau 35,1 persen tergolong perlu perbaikan. Tidak seorang pun dari 208 pekerja itu yang pola makannya masuk golongan baik. Menurut kedua peneliti, banyak peserta tidak memenuhi anjuran gizi dasar walaupun mereka bekerja di lingkungan kerja yang teratur.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Perempuan dan laki-laki di meja yang sama
Di antara 208 pekerja itu terdapat 138 perempuan dan 70 laki-laki, dengan umur rata-rata 29,7 tahun. Skor mutu makan perempuan 46,7, sedangkan laki-laki 41,4. Sebanyak 61,6 persen perempuan dan 71,4 persen laki-laki tergolong berpola makan buruk. Persoalannya, selisih skor maupun selisih golongan itu tidak bermakna secara statistik, sehingga kedua peneliti hanya menyebut skor perempuan lebih tinggi secara angka.
Yang berbeda secara bermakna ialah rincian di dalam skor itu. Perempuan mencatat nilai lebih tinggi pada komponen buah, sayur, sayuran hijau dan kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta makanan laut dan protein nabati. Pada komponen sayuran hijau dan kacang-kacangan, misalnya, nilai perempuan 3,4 dan laki-laki 2,0. Laki-laki mencatat nilai lebih tinggi pada komponen gula tambahan dan lemak jenuh, masing-masing 9,2 berbanding 8,4 dan 4,6 berbanding 3,1.
Perbedaan juga terlihat pada tubuh dan asupan. Laki-laki dalam penelitian itu rata-rata lebih tua, lebih berat, dan lebih tinggi, dengan indeks massa tubuh 27,0 berbanding 23,7 pada perempuan. Asupan energi, karbohidrat, lemak, dan natrium kedua kelompok pun berbeda secara bermakna. Meski begitu, semua perbedaan tersebut tidak cukup untuk memisahkan skor akhir mutu makan perempuan dan laki-laki.
Mengapa timbangan tidak ikut bicara
Di sinilah kejanggalan pembuka tadi bekerja. Kedua peneliti menyandingkan golongan pola makan dengan golongan berat badan, lalu menghitung isinya. Dari 135 pekerja berpola makan buruk, 67 orang berbadan normal dan 45 orang kelebihan berat. Dari 73 pekerja yang pola makannya perlu perbaikan, 34 orang berbadan normal dan 28 orang kelebihan berat. Uji atas sebaran itu tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Ketika umur dan aktivitas fisik ikut diperhitungkan, hasilnya tetap sama. Indeks massa tubuh tidak berkaitan secara bermakna dengan skor mutu makan. Kedua peneliti mencatat bahwa mutu makan yang lebih tinggi memang sering dikaitkan dengan indeks massa tubuh yang lebih rendah dan risiko obesitas yang lebih kecil. Namun, hubungan itu tidak selalu muncul dalam penelitian yang hanya memotret satu waktu.
Mereka menawarkan dua penjelasan. Pertama, catatan makan jangka pendek mungkin tidak sepenuhnya menangkap pola makan jangka panjang atau tumpukan faktor gaya hidup yang memengaruhi berat badan. Kedua, para peserta berasal dari lingkungan kerja yang relatif seragam, sehingga keragaman sejumlah faktor yang berhubungan dengan berat badan dan mutu makan menjadi terbatas. Tinggi dan berat badan itu pun dilaporkan sendiri oleh para pekerja.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Umur dan gerak, dua hal yang ikut naik
Kalau bukan timbangan, lalu apa. Umur yang lebih tua dan aktivitas fisik yang tinggi berkaitan dengan skor mutu makan yang lebih tinggi. Hanya dua hal itu yang bertahan dalam perhitungan akhir kedua peneliti. Pekerja yang tergolong beraktivitas fisik tinggi mencatat skor yang secara bermakna lebih tinggi daripada mereka yang beraktivitas rendah. Sebaliknya, aktivitas fisik tingkat sedang tidak menunjukkan kaitan yang bermakna.
Yang membuatnya rumit, kelompok yang banyak bergerak itu kecil sekali. Lebih dari separuh pekerja, 54,3 persen, tergolong beraktivitas fisik rendah, dan hanya 8,7 persen yang tergolong tinggi. Sisanya, 37,0 persen, berada di tingkat sedang. Kedua peneliti menilai sebaran itu mencerminkan sifat pekerjaan kerah putih yang banyak duduk. Dalam perbandingan langsung tanpa memperhitungkan umur dan indeks massa tubuh, tingkat aktivitas fisik tidak berkaitan secara bermakna dengan golongan pola makan.
Penjelasan mereka untuk kedua kaitan itu bertumpu pada perilaku. Skor yang lebih tinggi pada pekerja yang lebih tua, menurut mereka, mungkin mencerminkan kesadaran kesehatan, pengetahuan tentang makanan, dan perubahan perilaku terkait kesehatan yang berkembang seiring umur. Adapun kaitan dengan aktivitas fisik sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa perilaku hidup sehat cenderung mengelompok: orang yang aktif secara fisik kerap pula menunjukkan pola makan yang lebih sehat.
Kedua peneliti menyebut temuan Karavelioğlu dan rekan-rekannya, yang juga melaporkan kaitan positif antara aktivitas fisik dan skor indeks yang sama pada pekerja kerah putih. Mereka lalu merangkum keadaan para pekerja Istanbul itu. “Bahkan pada kelompok yang relatif muda dan bekerja, mutu makan yang buruk dapat hadir bersama aktivitas fisik yang rendah dan asupan zat gizi yang kurang optimal,” tulis Ecertaş dan Erdem dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Isi piring di balik skor yang lebih tinggi
Skor yang lebih tinggi itu sendiri punya isi yang bisa dilacak. Pekerja dengan skor lebih tinggi ternyata mengonsumsi lebih banyak serat, vitamin C, kalium, dan zat besi. Kaitan paling kuat tercatat pada kalium dan serat, disusul beta-karoten, magnesium, dan vitamin C. Sebaliknya, skor mutu makan hampir tidak berkaitan dengan jumlah energi yang dimakan, dan sama sekali tidak dengan jumlah lemak maupun kolesterol.
Bagi kedua peneliti, pola itu cocok dengan gambaran makanan yang lebih sehat, yang ditandai oleh lebih banyak buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Karena itu, mereka menilai temuan tersebut secara tidak langsung mendukung pemakaian indeks itu pada kelompok ini. Bahkan di tengah kelompok yang skornya umumnya rendah, mutu makan yang lebih baik tetap mencerminkan asupan zat gizi yang lebih menguntungkan.
Lain halnya dengan mutu hidup yang dirasakan para pekerja, yang turut diukur lewat delapan sisi seperti fungsi fisik, nyeri tubuh, vitalitas, dan kesehatan mental. Kaitannya dengan skor mutu makan umumnya lemah dan tidak konsisten. Kedua peneliti menduga hal itu mencerminkan sifat mutu hidup yang bersegi banyak, yang dipengaruhi faktor psikososial, pekerjaan, dan lingkungan di luar perilaku makan semata.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Sebagian besar penjelasan masih di luar hitungan
Di titik ini penjelasan kedua peneliti berhenti. Umur, indeks massa tubuh, dan aktivitas fisik bersama-sama hanya menerangkan 4,1 persen keragaman skor mutu makan. Daya jelas yang rendah itu, tulis mereka, menunjukkan bahwa mutu makan dipengaruhi banyak faktor yang tidak terukur dalam penelitian ini, termasuk faktor sosial ekonomi, lingkungan, dan perilaku. Kaitan umur dan aktivitas fisik dengan mutu makan mereka sebut sederhana saja.
Beberapa faktor itu mereka singgung lewat penelitian lain. Sebagian besar asupan makanan harian orang dewasa terjadi pada jam kerja, sehingga lingkungan tempat kerja dapat berperan penting dalam membentuk perilaku makan. Penelitian terdahulu yang mereka rujuk menunjukkan pekerja kantor sering melewatkan makan atau makan tidak memadai, dan menghadapi hambatan untuk memperoleh pilihan makanan yang lebih sehat selama hari kerja. Keterbatasan waktu, tekanan pekerjaan, dan kebiasaan makan setempat mungkin ikut berpengaruh.
Batas lain mereka rinci sendiri. Rancangan penelitian yang memotret satu waktu tidak memungkinkan penarikan sebab-akibat. “Karena itu, kaitan yang teramati perlu dibaca sebagai hubungan statistik, bukan sebagai bukti adanya mekanisme sebab-akibat,” tulis kedua peneliti. Catatan makan tiga hari juga mungkin tidak mencerminkan kebiasaan makan yang sebenarnya, dan asupan yang dilaporkan bisa lebih rendah atau keliru dari yang sesungguhnya dimakan.
Masih ada beberapa batas lagi. Para peserta berasal dari satu tempat kerja dan relatif seragam, sehingga temuannya terbatas untuk diperluas ke kelompok lain. Indeks yang dipakai semula disusun berdasarkan pedoman makan untuk warga Amerika Serikat, sehingga perbedaan budaya makan perlu dipertimbangkan saat menafsirkan hasilnya. Banyaknya perhitungan kaitan yang dilakukan, menurut kedua peneliti, juga dapat memperbesar risiko galat tipe I.
Dari meja kerja ke penelitian berikutnya
Dari temuan itu kedua peneliti menarik saran yang hati-hati. Lingkungan kantor yang banyak duduk, menurut mereka, dapat menjadi tempat yang relevan bagi upaya promosi kesehatan di tempat kerja. Strategi yang memperluas pilihan makanan lebih sehat dan mendorong karyawan bergerak secara teratur sepanjang hari kerja mereka sebut sebagai peluang praktis untuk mendukung pola makan yang lebih sehat di kalangan pekerja kerah putih.
Untuk penelitian selanjutnya, mereka menyarankan rancangan yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu atau rancangan eksperimen, dengan memasukkan faktor yang lebih luas seperti lingkungan makanan di tempat kerja dan keadaan sosial ekonomi. Sampai itu tersedia, jawaban atas kejanggalan di perusahaan energi Istanbul itu berbunyi begini: mutu makan para pekerjanya umumnya buruk, dan skor yang lebih tinggi lebih konsisten berkaitan dengan umur yang lebih tua serta aktivitas fisik yang lebih tinggi daripada dengan berat badan.














