Rasa Tak Adil dan Gangguan Tidur serta Makan Warga Kota Tiongkok

A A

Kanal di kawasan Xinyifang, Hangzhou, Tiongkok, diapit rumah tua dan menara apartemen [Foto: 梅白/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Hampir empat dari sepuluh responden, tepatnya 38,5 persen, melaporkan gangguan kerja, makan, atau tidur.
  • Bidang yang paling sering disebut menimbulkan stres berat adalah pendidikan dan promosi jabatan.
  • Pada pria, stres ketidakadilan yang berat tetap berkaitan dengan peluang lebih besar mengalami gejala.
  • Pada perempuan, yang bertahan justru stres hidup sehari-hari.
  • Empat kota yang diteliti semuanya ibu kota provinsi, dan penduduk desa tidak tercakup.
Daftar Isi
  1. Stres ketidakadilan, tekanan yang datang dari sistem
  2. Gejala terkait ketidakadilan, saat tidur dan makan terganggu
  3. Bidang ketidakadilan, tempat rasa dirugikan itu muncul
  4. Koping, cara orang menanggapi perlakuan tak adil
  5. Pola menurut gender, dua jalur yang tidak serupa
  6. Keterbatasan, sejauh mana istilah ini boleh dipakai

Stres karena merasa diperlakukan tidak adil, yang dalam naskah ilmiah disebut perceived unfairness stress, adalah rasa tertekan ketika seseorang yakin dirinya dirugikan dalam urusan sekolah, kenaikan jabatan, gaji, atau berobat. Di empat kota besar Tiongkok, banyak warga melaporkan rasa itu disertai gangguan makan, tidur, dan kerja.

Gambaran itu ditulis Shuhan Jiang, Mingyuan Sheng, Jiayao Ye, Zhaoqing Liao, Qi Lu, dan Weifang Zhang dalam artikel berjudul Gender-patterned associations of exposure, coping, and health outcomes of perceived unfairness stress in urban China. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya bernaung di Zhejiang Chinese Medical University dan Zhejiang University di Hangzhou, serta University of Auckland di Selandia Baru.

Mereka bertanya kepada 2.843 orang dewasa berusia 18 sampai 85 tahun di Hangzhou, Guangzhou, Guiyang, dan Xi’an sepanjang Juli sampai Desember 2021. Jumlah pria dan perempuan hampir sama, yaitu 1.409 dan 1.434 orang. Dari merekalah muncul dua angka pokok: 33,6 persen menanggung stres berat karena merasa tidak adil, dan 38,5 persen melaporkan gangguan pada tubuh atau kegiatan hariannya.

Stres ketidakadilan, tekanan yang datang dari sistem

Maksudnya begini. Para penulis membedakan stres ini dari stres hidup sehari-hari, misalnya tempat tinggal yang kurang layak atau pertengkaran dengan orang lain, yang lebih cepat terasa dan sampai batas tertentu masih bisa ditangani sendiri. Stres ketidakadilan mereka gambarkan sebagai tekanan menahun yang bersumber dari ketimpangan dalam sistem, di luar kendali orang per orang.

Naskah itu mengukurnya di tujuh bidang kehidupan, yakni pendapatan, pendidikan, promosi jabatan, layanan medis, pekerjaan, pensiun, dan bidang lainnya. Di setiap bidang, responden menilai seberapa tertekan dirinya, dari tidak merasa tertekan sampai tertekan berlebihan. Skor ketujuh bidang dijumlahkan, dan skor 21 ke atas digolongkan sebagai stres berat.

Dengan batas itu, 955 orang masuk golongan berat, kira-kira satu dari tiga responden. Kelompok ini lebih sering melaporkan gangguan. Sebanyak 48,2 persen dari mereka mengalaminya, sedangkan pada kelompok yang stresnya tidak berat angkanya 33,6 persen.

Gejala terkait ketidakadilan, saat tidur dan makan terganggu

Istilah kedua dalam naskah itu adalah unfairness-related health outcomes, atau gejala kesehatan yang oleh responden sendiri dikaitkan dengan perlakuan tidak adil. Pertanyaannya menyangkut lima tahun terakhir. Ada tiga bentuk gejala yang ditanyakan, dan seseorang dihitung mengalaminya bila menyebut salah satunya.

Bentuk pertama adalah tidak sanggup bertahan di sekolah atau tempat kerja selama lebih dari satu hari. Bentuk kedua adalah makan yang berkurang lebih dari sepertiga selama lebih dari tiga hari berturut-turut. Bentuk ketiga adalah tidur kurang dari lima jam sehari, juga selama lebih dari tiga hari berturut-turut.

Hampir empat dari sepuluh responden, tepatnya 38,5 persen, melaporkan gejala semacam itu. Angkanya tidak merata antarkota. Guiyang mencatat 46,4 persen, Guangzhou 38,7 persen, Xi’an 36,2 persen, dan Hangzhou 34,8 persen. Usia dan pekerjaan juga memperlihatkan perbedaan. Kelompok usia 35 sampai 44 tahun mencatat angka tertinggi, yaitu 50,7 persen, sedangkan mereka yang berusia di bawah 25 tahun mencatat 30,8 persen. Di antara wiraswasta angkanya 51,7 persen, dan di antara penganggur, pelajar, serta pensiunan 28,3 persen.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Bidang ketidakadilan, tempat rasa dirugikan itu muncul

Bidang yang paling sering disebut menimbulkan stres berat, menurut para penulis, adalah pendidikan dan promosi jabatan, baik pada pria maupun perempuan. Pada pria, 17,0 persen melaporkan stres berat soal promosi dan 16,5 persen soal pendidikan. Pada perempuan, angkanya 13,6 persen dan 13,1 persen.

Para penulis mengaitkan pola itu dengan ciri Tiongkok masa kini. Mereka menyebut ujian masuk perguruan tinggi yang sangat kompetitif, yaitu gaokao, serta jenjang pekerjaan yang kaku. Keduanya membuat ijazah dan kenaikan jabatan menjadi peristiwa penentu dalam perjalanan hidup seseorang.

Bedanya begini antara pria dan perempuan. Menurut naskah itu, layanan kesehatan menempati urutan ketiga bagi perempuan, sesudah pendidikan dan promosi. Pria lebih sering menyebut bidang lainnya, misalnya perumahan, sebagai urusan ketiga yang menekan mereka.

Penjelasan yang ditawarkan para penulis menyangkut pembagian tugas merawat di keluarga Tiongkok. Perempuan menanggung porsi lebih besar dalam mengasuh anak dan merawat orang tua. Karena itu, tulis mereka, perempuan lebih peka terhadap ketimpangan akses layanan medis atau mutu perawatan yang diterima anggota keluarganya.

Di bidang apa rasa tak adil terasa beratDi bidang apa rasa tak adil terasa beratDi bidang apa rasa tak adil terasa beratPersen yang melaporkan stres berat di tiap bidangPriaPerempuan17,013,6Promosi16,513,1Pendidikan16,513,1Layanan medis16,612,3Lainnya15,811,4Pendapatan15,512,3Pekerjaan14,811,6Pensiun
Sumber: Shuhan Jiang, Mingyuan Sheng, Jiayao Ye, Zhaoqing Liao, Qi Lu, dan Weifang Zhang, Gender-patterned associations of exposure, coping, and health outcomes of perceived unfairness stress in urban China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Secara keseluruhan, pria melaporkan stres ketidakadilan sedikit lebih tinggi daripada perempuan di semua bidang. Selisihnya berkisar 3,2 sampai 4,4 poin persentase, dan para penulis menyebutnya tipis. Jarak terlebar ada pada soal pendapatan, yang dilaporkan 15,8 persen pria dan 11,4 persen perempuan.

Gejalanya mengikuti arah yang sama. Sebanyak 41,2 persen pria melaporkan gangguan kerja, makan, atau tidur akibat perlakuan tidak adil, sedangkan pada perempuan angkanya 35,9 persen. Stres hidup yang berat juga sedikit lebih banyak dilaporkan pria, 44,4 persen berbanding 40,4 persen.

Koping, cara orang menanggapi perlakuan tak adil

Koping, dari kata Inggris coping, adalah cara seseorang menanggapi tekanan. Responden diminta memilih satu cara utama yang paling menggambarkan dirinya ketika menghadapi peristiwa yang tidak adil. Naskah itu mengelompokkannya menjadi lima.

Koping aktif berarti mengambil tindakan untuk mengatasi keadaan, dan cara ini dipilih 37,8 persen responden. Mencari dukungan, misalnya bercerita kepada keluarga atau teman, dipilih 34,0 persen. Koping menghindar, yaitu menahan diri atau menarik diri, dipilih 18,6 persen. Koping konfrontatif, yakni tanggapan yang agresif atau melawan, dipilih 2,3 persen, dan cara lainnya 6,9 persen.

Pilihan pria dan perempuan tidak sama. Pria lebih banyak memilih bertindak aktif, 39,0 persen berbanding 36,7 persen pada perempuan. Perempuan lebih banyak mencari dukungan, 38,9 persen berbanding 29,6 persen pada pria. Menghindar dipilih 21,1 persen pria dan 16,2 persen perempuan.

Tiap cara berjalan bersama angka gejala yang berbeda. Di antara mereka yang memilih cara konfrontatif, 54,5 persen melaporkan gejala, dan di antara yang menghindar 47,3 persen. Pada kelompok pencari dukungan angkanya 39,9 persen, pada kelompok yang bertindak aktif 34,4 persen, dan pada kelompok cara lainnya 25,1 persen.

Cara menghadapi dan gejala yang menyertaiKonfrontatif: Persen yang melaporkan gejala +54,5%; Menghindar: Persen yang melaporkan gejala +47,3%; Mencari dukungan: Persen yang melaporkan gejala +39,9%; Bertindak aktif: Persen yang melaporkan gejala +34,4%; Cara lainnya: Persen yang melaporkan gejala +25,1%.Cara menghadapi dan gejala yang menyertaiPersen yang melaporkan gangguan kerja, makan, atau tidur20%40%60%0Konfrontatif54,5%Menghindar47,3%Mencari dukungan39,9%Bertindak aktif34,4%Cara lainnya25,1%
Sumber: Shuhan Jiang, Mingyuan Sheng, Jiayao Ye, Zhaoqing Liao, Qi Lu, dan Weifang Zhang, Gender-patterned associations of exposure, coping, and health outcomes of perceived unfairness stress in urban China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Pola menurut gender, dua jalur yang tidak serupa

Ketika pria dan perempuan dianalisis terpisah, dengan memperhitungkan usia, kota, pendidikan, pekerjaan, stres hidup, dan kesehatan jiwa, muncul dua pola. Pada pria, stres ketidakadilan yang berat tetap berkaitan dengan peluang lebih besar mengalami gejala, dengan rasio odds 1,574. Pada perempuan, rasio odds-nya 1,277 dan kaitan itu tidak bermakna secara statistik.

Pada perempuan, yang bertahan justru stres hidup sehari-hari. Stres hidup yang berat berkaitan dengan peluang gejala yang lebih besar, dengan rasio odds 1,593. Pada pria, kaitan stres hidup dengan gejala tidak bermakna. Stres hidup di sini mencakup enam sumber, antara lain pekerjaan dan penghasilan yang tidak pasti, konflik keluarga, serta kesehatan diri atau keluarga yang buruk.

Kesehatan jiwa berkaitan kuat dengan gejala pada kedua kelompok. Responden yang tergolong mengalami tekanan psikologis, sekitar seperempat dari seluruh sampel, memiliki rasio odds 3,299 pada pria dan 2,970 pada perempuan. Di antara mereka, 60,9 persen melaporkan gejala, berbanding 31,0 persen pada responden lainnya.

Cara menghadapi pun memperlihatkan pola serupa. Dibandingkan dengan menghindar, bertindak aktif berkaitan dengan peluang gejala yang lebih kecil pada pria, dengan rasio odds 0,540. Pada perempuan, kaitan itu tidak bermakna sesudah stres hidup dan kesehatan jiwa diperhitungkan.

Para penulis menafsirkan perbedaan itu dengan hati-hati. Menurut mereka, pria mungkin lebih mudah mengenali dan menamai pelanggaran keadilan yang mengancam kedudukannya. Perempuan, yang menanggung banyak peran sekaligus, mungkin menyerap ketimpangan struktural sebagai bagian dari beratnya hidup sehari-hari, bukan sebagai peristiwa ketidakadilan tersendiri.

“Bahkan laki-laki, yang secara tradisional dipandang sebagai penerima manfaat tatanan sosial ini, tidak kebal terhadap ongkos kesehatan dari ketidakadilan struktural,” tulis Shuhan Jiang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Sebaliknya, mereka menulis bahwa stres ketidakadilan pada perempuan mungkin jauh lebih besar daripada yang tercatat.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Ada satu kategori yang menonjol tetapi belum dapat dijelaskan. Responden yang memilih cara lainnya memiliki peluang gejala yang lebih kecil daripada mereka yang menghindar, baik pada pria maupun perempuan. Rasio odds-nya 0,399 pada pria dan 0,393 pada perempuan.

Persoalannya, survei itu tidak menanyakan perilaku apa saja yang tercakup di dalamnya. Para penulis menduga kategori ini sebagian memuat cara memaknai ulang keadaan, yakni menata kembali tujuan dan prioritas hidup ketika sumber tekanan tidak dapat diubah. Cara semacam itu mereka nilai sejalan dengan tradisi Tao dan Buddha yang menekankan penerimaan atas kesulitan.

Dugaan itu mereka beri batas yang tegas. Para penulis menyebutnya spekulatif dan tidak dapat dibuktikan dengan data yang ada. Menurut mereka, penelitian kualitatif diperlukan untuk mengetahui isi perilaku tersebut sebelum kesimpulan apa pun tentang cara kerjanya ditarik.

Keterbatasan, sejauh mana istilah ini boleh dipakai

Pola menurut gender tadi berasal dari analisis terpisah atas pria dan perempuan. Uji yang secara langsung membandingkan kedua kelompok tidak menemukan perbedaan yang bermakna, baik untuk stres ketidakadilan maupun untuk cara menghadapi. Karena itu para penulis menyebut penjelasan mereka masih berupa hipotesis yang perlu diuji penelitian berikutnya.

Batas lain mereka tulis sendiri. Empat kota yang diteliti semuanya ibu kota provinsi dengan tingkat ekonomi dan sosial yang relatif tinggi, dan penduduk desa tidak tercakup. Data dikumpulkan pada satu kurun waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan.

Gejala dilaporkan sendiri oleh responden dengan mengingat lima tahun ke belakang, dan ingatan dapat meleset. Setiap orang juga hanya menyebut satu cara utama, padahal seseorang bisa memakai beberapa cara sekaligus. Faktor lain, seperti ketangguhan pribadi serta konteks sosial dan politik, menurut para penulis belum cukup digali.

Dari temuan itu para penulis menarik dua saran. Mengurangi rasa tidak adil di bidang yang paling sering disebut, yaitu pendidikan dan promosi, mungkin membantu mengurangi gejala terkait stres. Penanganan stres juga mereka sarankan peka gender: saluran pengaduan yang lebih kuat bagi pria, serta kebijakan yang meringankan tumpukan stres hidup bagi perempuan.

Para penulis menutup naskahnya dengan menyebut stres ketidakadilan sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang patut diperhatikan di perkotaan Tiongkok masa kini. Hampir 40 persen orang dewasa, tulis mereka, melaporkan gejala yang dikaitkan dengan perlakuan tidak adil, seperti gangguan tidur, makan yang berkurang, atau kesulitan bertahan di tempat kerja atau sekolah.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Kantoran Istanbul yang Rajin Bergerak Makan Lebih Baik
Makin Pekat Debu Halus, Makin Tinggi Tensi Dewasa Muda Asia Timur
Obat HIV Gratis di Sughd Tajikistan, Kematian Pasien Tetap Tinggi
Talasemia Dikenal Perempuan Lima Negara, tapi Sedikit yang Paham
Tiga dari Empat Keluarga Suku di Nagpur India Urung Berobat
Mahasiswa Chattogram Setuju Tes Pranikah, Sedikit yang Paham