- Hanya 22,5 persen mahasiswa yang pengetahuannya tentang tes pranikah tergolong baik.
- Sebaliknya, 89,2 persen bersikap baik terhadap tes itu dan 95,7 persen punya persepsi yang baik.
- Yang tahu tempat menjalani tes berjumlah 71 orang atau 8,4 persen.
- Mahasiswa sains lebih mungkin berpengetahuan baik daripada mahasiswa humaniora.
- Para penulis mengusulkan pelatihan pranikah masuk kurikulum universitas.
Daftar Isi
- Sejak 1973, satu per satu negara mewajibkan tes sebelum menikah
- Sebelum survei, Bangladesh tanpa aturan dan tanpa kampanye
- Maret sampai Agustus 2025, 844 mahasiswa memberi jawaban
- Pada survei yang sama, dukungan jauh melampaui pengetahuan
- Sesudah jawaban dipilah, tiga kelompok terlihat berbeda
- Sesudah survei, saran untuk kementerian dan kampus
Maret 2025, sebuah survei dimulai di Chattogram, Bangladesh. Sasarannya mahasiswa sarjana di empat universitas. Pertanyaannya tentang tes kesehatan pranikah, yaitu serangkaian pemeriksaan penyakit menular, penyakit genetik, dan penyakit yang ditularkan lewat darah bagi pasangan yang berencana menikah. Survei itu berjalan sampai Agustus 2025 dan menghimpun jawaban 844 mahasiswa.
Hasilnya terbit pada 2026. Sembilan penulisnya adalah Delwar Hossain, Mohammed Mohsin, Sadia Tasnuva Jahan, Bibi Salma, Nusrat Jahan, Anupam Barua, Mohammed Aktar Sayeed, Md. Mayin Uddin Hasan, dan Mohammad Injamul Hoq. Naskah berjudul Knowledge, attitudes, and perceptions towards premarital screening among undergraduate university students in Chattogram district, Bangladesh: a cross-sectional study itu dimuat di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 720.
Angka pokoknya ada tiga. Hanya 22,5 persen mahasiswa yang pengetahuannya tentang tes pranikah tergolong baik. Sebaliknya, 89,2 persen bersikap baik terhadap tes itu dan 95,7 persen punya persepsi yang baik. Para penulis menyebut survei ini yang pertama di Bangladesh yang mengukur ketiga hal itu sekaligus pada mahasiswa.
Sejak 1973, satu per satu negara mewajibkan tes sebelum menikah
Urutan waktunya dicatat para penulis di bagian awal naskah. Pada 1973, Siprus menjadi negara pertama yang mewajibkan tes pranikah, khusus untuk talasemia beta. Sesudah itu giliran negara-negara Timur Tengah, tempat perkawinan antarkerabat banyak dijumpai. Iran menerapkannya pada 1997. Arab Saudi menyusul pada 2004.
Setahun kemudian, pada 2005, Bahrain mengambil langkah yang sama. Uni Emirat Arab menerapkannya pada 2011. Isi kewajibannya tidak seragam. Arab Saudi mewajibkan pemeriksaan talasemia, anemia sel sabit, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Mesir hanya mewajibkan pemeriksaan kelainan hemoglobin, menurut penyakit yang banyak dijumpai di sana.
Di Asia jalurnya lain. China, Taiwan, Malaysia, India, Indonesia, Maladewa, Singapura, dan Thailand disebut para penulis memakai program tes pranikah yang bersifat sukarela. Program itu ditujukan untuk menemukan penyakit keturunan dan penyakit menular seksual. Tujuan tes semacam ini, tulis mereka, adalah mengenali pembawa sifat penyakit keturunan seperti talasemia dan anemia sel sabit.
Pembawa sifat biasanya tidak bergejala. Bila kedua calon pasangan sama-sama pembawa sifat, penyakit itu dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Para penulis mencatat tes pranikah telah menurunkan angka kejadian kelainan darah keturunan. Tes itu juga mereka sebut mengurangi risiko penularan HIV/AIDS, hepatitis B, dan hepatitis C kepada keturunan.
Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Sebelum survei, Bangladesh tanpa aturan dan tanpa kampanye
Asia Selatan berbeda. Menurut para penulis, tidak ada catatan nasional ataupun kebijakan tes pranikah yang terstruktur di Bangladesh, Pakistan, Nepal, Sri Lanka, dan Bhutan. Di Bangladesh, layanan itu tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan. Hanya sejumlah klinik dan rumah sakit swasta terkemuka yang menyediakannya.
Layanan di tempat-tempat swasta itu mencakup pemeriksaan HIV, sifilis, dan talasemia. Para penulis mencatat tidak ada kampanye media dan tidak ada kerangka hukum untuk pemeriksaan sebelum menikah, baik untuk penyakit menular seksual seperti HIV maupun kelainan darah genetik seperti talasemia.
Bangladesh, tulis para penulis, berada di zona talasemia. Kelainan hemoglobin seperti hemoglobin E dan talasemia beta diperkirakan dijumpai pada 6 sampai 12 persen penduduk. Sejumlah artikel yang dirujuk para penulis melaporkan sekitar 3,6 juta orang di negeri itu pembawa sifat talasemia dan 4,8 juta orang membawa hemoglobin E.
Para penulis menyatakannya dengan lugas. “Talasemia telah menjadi kekhawatiran besar bagi kesehatan masyarakat di Bangladesh,” tulis Hossain dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Beberapa penelitian sebelumnya di negeri itu sudah menanyakan soal tes pranikah. Namun penelitian itu terutama menyoroti pemeriksaan talasemia dan terbatas pada satu fakultas atau satu universitas.
Maret sampai Agustus 2025, 844 mahasiswa memberi jawaban
Survei kali ini mencakup empat kampus. University of Chittagong menyumbang 202 mahasiswa. International Islamic University Chittagong, University of Science and Technology Chittagong, dan BGC Trust University Bangladesh masing-masing 214 mahasiswa. Usia mereka 19 sampai 26 tahun, dengan rata-rata 22,2 tahun. Laki-laki 417 orang, perempuan 427 orang.
Hampir semuanya belum menikah, yaitu 803 orang atau 95,1 persen. Menurut bidang studi, 274 orang belajar sains, 208 orang bisnis, dan 362 orang humaniora. Ada pula catatan keluarga. Sebanyak 197 mahasiswa, atau 23,3 persen, melaporkan orang tuanya masih berkerabat. Jumlah yang sama melaporkan riwayat penyakit keturunan dalam keluarga.
Pertanyaan pertama paling sederhana: pernahkah mendengar tentang tes pranikah. Sebanyak 396 mahasiswa, atau 46,9 persen, menjawab pernah. Itu kurang dari separuh. Pertanyaan berikutnya lebih rinci, dan jumlah yang menjawab ya terus menyusut. Yang tahu arti tes pranikah 38,3 persen. Yang tahu tujuannya 30,7 persen.
Makin ke bawah makin tipis. Seperempat mahasiswa, tepatnya 25,0 persen, tahu bahwa tes itu menyasar penyakit keturunan. Hanya 20,5 persen yang tahu tes itu juga menyasar penyakit menular. Yang tahu tempat menjalani tes berjumlah 71 orang atau 8,4 persen. Yang tahu jenis pemeriksaan di dalamnya 57 orang atau 6,8 persen.
Dari tujuh pertanyaan itu disusun satu ukuran. Hasilnya, 190 mahasiswa tergolong berpengetahuan baik dan 654 mahasiswa berpengetahuan buruk. Para penulis menyebut angka 22,5 persen itu sejalan dengan temuan di tempat lain. Di Irak, sebuah penelitian di universitas mendapati 24,7 persen mahasiswa berpengetahuan baik. Penelitian di Arab Saudi melaporkan hanya 20 sampai 25 persen mahasiswa berpengetahuan cukup atau memuaskan.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Pada survei yang sama, dukungan jauh melampaui pengetahuan
Jawaban atas pertanyaan sikap bergerak ke arah sebaliknya. Sebanyak 699 mahasiswa, atau 82,8 persen, setuju bahwa tes pranikah penting. Lebih banyak lagi, 86,7 persen, mendukung upaya meningkatkan kesadaran tentang tes itu. Sebanyak 77,0 persen percaya tes pranikah mengurangi risiko penyakit genetik atau penyakit menular seksual.
Niat pribadi pun tercatat. Sebanyak 584 mahasiswa, atau 69,2 persen, berniat menjalani tes itu sendiri. Lalu 616 mahasiswa, atau 73,0 persen, akan menyarankannya kepada orang lain. Sebanyak 84,1 persen setuju tes dilakukan tepat sebelum menikah. Soal kerabat, 59,0 persen mengakui perkawinan sekerabat sebagai faktor risiko penyakit keturunan, dan 72,1 persen memilih tidak menikahi kerabat.
Agama dan privasi ikut ditanyakan. Sebanyak 533 mahasiswa, atau 63,2 persen, tidak setuju bahwa tes pranikah bertentangan dengan aturan agama. Sisanya, 36,8 persen, setuju atau bersikap netral. Sebanyak 61,2 persen mendukung pemuka agama membahas tes ini. Adapun yang tidak setuju bahwa tes itu melanggar privasi berjumlah 376 orang atau 44,5 persen.
Persepsi tentang manfaatnya juga condong positif. Sebanyak 71,1 persen menilai tes pranikah penting bagi pasangan, dan 75,1 persen menilainya bermanfaat bagi Bangladesh. Lebih dari separuh, 53,4 persen, bersedia membayar untuk tes itu. Sebanyak 59,8 persen percaya tes ini membantu mengurangi penyakit genetik, dan 53,0 persen percaya ia membantu mengurangi penyakit menular seksual.
Ada dua jawaban yang lebih terbelah. Separuh mahasiswa, 50,4 persen, setuju hasil tes harus dirahasiakan. Kira-kira satu dari empat, 23,2 persen, percaya tes pranikah bisa menimbulkan tekanan psikologis. Sebagian besar tidak yakin soal itu, yakni 55,6 persen. Sebanyak 21,2 persen tidak setuju.
Jarak antara dukungan dan pengetahuan itu dibahas para penulis. “Dalam penelitian kami, responden mungkin mendukung konsep skrining tanpa sepenuhnya menyadari efektivitasnya,” tulis mereka. Menurut mereka, sikap lebih dibentuk oleh norma sosial budaya daripada pemahaman faktual. Persepsi yang baik pun tidak berhubungan bermakna dengan tingkat pengetahuan.
Sumber informasi mahasiswa ikut dicatat. Media, yaitu televisi, radio, dan internet, paling sering disebut, oleh 284 mahasiswa atau 33,6 persen. Pendidik kesehatan disebut 11,0 persen dan teman 9,2 persen. Tenaga kesehatan disebut 7,7 persen. Sekolah hanya disebut 54 mahasiswa atau 6,4 persen.
Sesudah jawaban dipilah, tiga kelompok terlihat berbeda
Tahap berikutnya adalah memilah siapa yang tahu. Sesudah faktor lain diperhitungkan, tiga hal tetap berhubungan dengan pengetahuan: bidang studi, jenis kelamin, dan kekerabatan orang tua. Mahasiswa sains lebih mungkin berpengetahuan baik daripada mahasiswa humaniora, dengan rasio odds tersesuaikan 1,67. Dari 190 mahasiswa berpengetahuan baik, 85 orang belajar sains.
Para penulis menilai hasil itu sudah bisa diduga. Mahasiswa sains, tulis mereka, kemungkinan lebih banyak mempelajari tes pranikah lewat kurikulum daripada mahasiswa bidang lain. Temuan itu sejalan dengan penelitian di Arab Saudi. Dari bidang lain, 71 mahasiswa humaniora dan 34 mahasiswa bisnis masuk kelompok berpengetahuan baik.
Jenis kelamin menjadi pembeda kedua. Mahasiswi lebih kecil kemungkinannya berpengetahuan baik daripada mahasiswa laki-laki, dengan rasio odds tersesuaikan 0,61. Para penulis mencatat pola serupa pada orang dewasa di Oman. Namun penelitian di Arab Saudi, Suriah, dan Qatar menemukan hal sebaliknya. Perbedaan itu, tulis mereka, mungkin terkait faktor budaya, pendidikan, dan sosial ekonomi responden.
Pembeda ketiga adalah keluarga. Mahasiswa yang orang tuanya berkerabat lebih kecil kemungkinannya berpengetahuan baik, dengan rasio odds tersesuaikan 0,64. Sebuah penelitian di Kuwait yang dirujuk para penulis menunjukkan hal yang sejalan. Sementara itu, usia, tahun kuliah, dan riwayat penyakit keturunan dalam keluarga tidak lagi berhubungan bermakna sesudah faktor lain diperhitungkan.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Sesudah survei, saran untuk kementerian dan kampus
Dari temuan itu para penulis menyusun saran. Kementerian Kesehatan Bangladesh dianjurkan membuat pedoman baku tes pranikah dan merintis layanan untuk penyakit tertentu, misalnya talasemia. Pemerintah juga dianjurkan melibatkan lembaga pendidikan, media, dan tokoh masyarakat. Lokakarya dan webinar di kampus disebut sebagai salah satu caranya.
Angka 36,8 persen tadi menjadi dasar satu saran khusus. Karena sebanyak itu mahasiswa setuju atau netral terhadap pernyataan bahwa tes pranikah bertentangan dengan aturan agama, para penulis menilai penting melibatkan ulama. Pemuka agama, tulis mereka, dapat berperan lewat diskusi dan ceramah. Unggahan media sosial yang peka budaya dan video pendek di televisi juga mereka sebut.
Batas temuan dicatat pula oleh para penulis. “Pertama, penelitian ini tidak dapat digeneralisasi ke seluruh penduduk negara, karena dilakukan di kalangan mahasiswa,” tulis mereka. Selain itu, survei ini memotret satu waktu saja, sehingga hubungan sebab-akibat tidak boleh ditarik. Jawaban yang dikumpulkan secara tatap muka juga dapat mengandung bias pelaporan.
Naskah itu berhenti pada satu daftar pekerjaan. Para penulis mengusulkan pelatihan pranikah masuk kurikulum universitas, disertai program pendidikan lewat media dan komunitas. Alasan di balik perbedaan menurut jenis kelamin dan struktur keluarga, tulis mereka, masih perlu ditelusuri penelitian berikutnya. Survei Maret sampai Agustus 2025 itu mereka sebut dapat menjadi titik awal.















