Telinga Berdenging Dialami Tiga dari Sepuluh Orang Dewasa Amerika

A A

Ilustrasi daun telinga orang dewasa dipotret dari jarak sangat dekat [Foto: Shaun F/Pexels]

  • Perkiraan nasional tinnitus di Amerika Serikat mencapai 30,8 persen, dan bentuk yang mengganggu 11,6 persen.
  • Di kelompok yang menilai pendengarannya buruk, 56,1 persen mengalami tinnitus dan 35,1 persen mengalami yang mengganggu.
  • Di kelompok yang bekerja dalam bising lebih dari 15 tahun, angkanya 48,2 dan 24,7 persen.
  • Para penulis menyatakan faktor-faktor itu saja tidak cukup untuk memberikan daya prediksi yang kuat bagi tinnitus.
Daftar Isi
  1. Tiga dari sepuluh orang dewasa, dan satu yang benar-benar terusik
  2. Satu pertanyaan tentang pendengaran yang paling menentukan
  3. Usia enam puluhan, kulit putih, dan teka-teki yang belum terjawab
  4. Tahun-tahun di tempat kerja yang bising meninggalkan jejak
  5. Faktor yang dikenali ternyata belum cukup untuk meramal

Bunyi itu tidak datang dari mana pun. Tidak ada sumber suara di luar, tetapi orang yang mengalaminya mendengar denging, siulan, atau dengung, dengan kekuatan, kekerapan, dan lama yang berbeda-beda. Di Amerika Serikat, 125.252 orang dewasa menjawab pertanyaan tentang bunyi semacam itu lewat iPhone mereka. Dari jawaban itulah lahir sebuah perkiraan: kira-kira tiga dari sepuluh orang dewasa di negeri itu mengalaminya.

Perkiraan tersebut disusun Ying Tang, Xin Zhang, Lauren M. Smith, Abas Shkembi, Glenn E. Green, dan Richard L. Neitzel dalam artikel Tinnitus prevalence and characteristics in the United States: insights from a cross-sectional analysis of the 2019–2022 Apple Hearing Study cohort, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Lima penulis bekerja di Department of Environmental Health Sciences, School of Public Health, University of Michigan. Green berasal dari departemen telinga, hidung, tenggorok serta bedah kepala dan leher di universitas yang sama.

Dunia kedokteran menamai bunyi itu tinnitus, yakni persepsi suara tanpa kehadiran suara dari luar. Mendengar bukan syarat untuk mengalaminya, sebab orang tuli pun bisa merasakannya. Bila sering dan berlangsung lama, tulis para penulis, tinnitus dapat menggerus mutu hidup: tidur terganggu, orang menarik diri dari pergaulan, suasana hati berubah, dan kesehatan secara umum menurun.

Tiga dari sepuluh orang dewasa, dan satu yang benar-benar terusik

Angka persisnya begini. Dari 125.252 peserta, 32.943 orang melaporkan tinnitus, yaitu denging yang muncul setidaknya beberapa kali setahun dan tiap kali bertahan paling sedikit beberapa menit. Setelah jawaban mereka dibobot agar mendekati susunan penduduk Amerika Serikat, perkiraan nasionalnya menjadi 30,8 persen. Sebelum dibobot, angkanya 26,3 persen.

Sebagian dari mereka mengalami bentuk yang lebih berat. Para penulis menyebutnya tinnitus yang mengganggu: denging yang dalam dua pekan terakhir sering disadari, keras, atau menghalangi pendengaran, dengan sedikitnya dua dari tiga ciri itu hadir bersamaan. Sebanyak 9.903 peserta masuk golongan ini. Perkiraan nasionalnya 11,6 persen, atau kira-kira satu dari sepuluh orang dewasa.

Seperti apa rasanya, tergambar dari jawaban 32.943 orang tadi. Sebanyak 46,4 persen mendengar denging itu sampai beberapa kali sehari. Bagi 37,6 persen, bunyinya tidak pernah berhenti. Dalam dua pekan sebelum mengisi survei, 17,2 persen selalu menyadari kehadirannya, 2,5 persen menyebutnya luar biasa keras, dan 2,2 persen mengatakan denging itu sepenuhnya menghalangi kemampuan mereka mendengar dengan jelas.

Telinga berdenging di Amerika SerikatTelinga berdenging di Amerika SerikatTelinga berdenging di Amerika SerikatJawaban 125.252 orang dewasa peserta Apple Hearing Study30,8%mengalamitinnitusperkiraannasional11,6%tinnitusmenggangguperkiraannasional46,4%denging tiapharidari 32.943pengalami37,6%denging tanpajedadari 32.943pengalamiJalan risetnyaDijawab lewat iPhoneNovember 2019-2022Dibobot nasional
Sumber: Ying Tang, Xin Zhang, Lauren M. Smith, Abas Shkembi, Glenn E. Green, dan Richard L. Neitzel, Tinnitus prevalence and characteristics in the United States: insights from a cross-sectional analysis of the 2019–2022 Apple Hearing Study cohort, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka 30,8 persen itu berada di dekat ujung atas rentang dunia, yang menurut pustaka rujukan naskah terentang dari 4,1 sampai 37,2 persen antara 1972 dan 2021. Para penulis menduga sebabnya ada pada batasan yang mereka pakai. Episode berdurasi beberapa menit sampai satu jam sudah terhitung, lebih longgar daripada batasan yang lazim, yakni denging yang bertahan lebih dari lima menit.

Untuk tinnitus yang mengganggu, hasilnya sedikit di atas perkiraan dari survei kesehatan nasional Amerika Serikat, National Health Interview Survey, yang mencatat 9,6 persen pada 2007 dan 11,2 persen pada 2014. Angka yang lebih tinggi itu, tulis mereka, bisa jadi sekadar mencerminkan bertambahnya tinnitus seiring menuanya penduduk.

Baca juga Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia

Satu pertanyaan tentang pendengaran yang paling menentukan

Di antara semua hal yang ditanyakan, satu jawaban paling tajam membelah peserta. Pertanyaannya sederhana: bagaimana Anda menilai kemampuan mendengar Anda? Pilihannya lima, dari prima sampai buruk. Di kelompok yang merasa pendengarannya prima, 15,8 persen mengalami tinnitus dan 3,9 persen mengalami bentuk yang mengganggu.

Angka itu menanjak di setiap anak tangga. Sangat baik: 21,9 dan 5,2 persen. Baik: 32,7 dan 10,7 persen. Sedang: 45,5 dan 21,4 persen. Lalu di kelompok yang menilai pendengarannya buruk, 56,1 persen mengalami tinnitus dan 35,1 persen mengalami yang mengganggu.

Makin buruk pendengaran, makin sering berdengingPrima: Tinnitus +15,8, Tinnitus mengganggu +3,9; Sangat baik: Tinnitus +21,9, Tinnitus mengganggu +5,2; Baik: Tinnitus +32,7, Tinnitus mengganggu +10,7; Sedang: Tinnitus +45,5, Tinnitus mengganggu +21,4; Buruk: Tinnitus +56,1, Tinnitus mengganggu +35,1.Makin buruk pendengaran, makin seringberdengingPersen peserta menurut penilaian atas pendengaran sendiriTinnitusTinnitus mengganggu1020304050600Prima15,83,9Sangat baik21,95,2Baik32,710,7Sedang45,521,4Buruk56,135,1
Sumber: Ying Tang, Xin Zhang, Lauren M. Smith, Abas Shkembi, Glenn E. Green, dan Richard L. Neitzel, Tinnitus prevalence and characteristics in the United States: insights from a cross-sectional analysis of the 2019–2022 Apple Hearing Study cohort, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kaitan itu bertahan setelah usia, jenis kelamin, ras dan etnis, serta ciri sosial lain ikut diperhitungkan. Dibandingkan dengan kelompok berpendengaran prima, peluang (odds) kelompok berpendengaran buruk untuk mengalami tinnitus tercatat 4,52 kali, dan untuk tinnitus yang mengganggu 8,88 kali. Para penulis menyebut penilaian atas pendengaran sendiri sebagai faktor risiko mandiri terbesar bagi kedua jenis tinnitus.

Pohon keputusan yang mereka susun menunjukkan arah serupa. Kemungkinan tinnitus yang mengganggu pada seluruh peserta adalah 12 persen. Pada mereka yang pendengarannya sedang atau buruk, kemungkinan itu 25 persen. Di kelompok berpendengaran lebih baik, usia yang kemudian membedakan: 11 persen pada orang berumur 50 tahun ke atas, 5 persen pada yang lebih muda.

Usia enam puluhan, kulit putih, dan teka-teki yang belum terjawab

Usia menjadi faktor kedua. Perkiraan tinnitus naik dari 18,5 persen pada kelompok 18–24 tahun hingga 45,7 persen pada kelompok 70 tahun ke atas. Bentuk yang mengganggu bergerak dari 4,6 persen pada kelompok termuda dan memuncak 19,6 persen pada kelompok 60–64 tahun.

Setelah pendengaran, bising kerja, dan ciri lain diperhitungkan, puncaknya tetap di usia 60–64 tahun. Peluang kelompok ini 2,01 kali untuk tinnitus dan 2,72 kali untuk tinnitus yang mengganggu, dibandingkan dengan kelompok 18–24 tahun. Para penulis sendiri mengingatkan bahwa paparan bising bisa menjadi faktor pengacau yang berpotensi menjelaskan kaitan usia itu.

Lalu ada perbedaan menurut ras dan etnis. Peserta kulit putih non-Hispanik mencatat perkiraan tertinggi: 37,6 persen untuk tinnitus dan 14,6 persen untuk yang mengganggu. Pada peserta kulit hitam non-Hispanik angkanya 17,5 dan 5,7 persen, pada peserta Hispanik 21,5 dan 7,7 persen, pada peserta Asia non-Hispanik 17,1 dan 4,2 persen. Perbedaan itu tidak hilang setelah usia dan pendengaran diperhitungkan.

“Tidak jelas mengapa kelompok minoritas ras dan etnis memiliki prevalensi tinnitus yang lebih rendah,” tulis Tang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Satu penjelasan yang mereka anggap mungkin: kelompok minoritas juga kerap dilaporkan lebih jarang mengalami gangguan dengar.

Jenis kelamin memberi jawaban yang lebih samar. Perkiraan pada laki-laki memang lebih tinggi, 33,5 persen berbanding 28,1 persen pada perempuan untuk tinnitus, serta 12,6 berbanding 10,7 persen untuk yang mengganggu. Namun kaitannya, menurut para penulis, relatif lemah. Mengingat temuan penelitian terdahulu juga bercampur, mereka menyatakan hubungan jenis kelamin dengan tinnitus belum dapat disimpulkan.

Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh

Tahun-tahun di tempat kerja yang bising meninggalkan jejak

Peserta juga ditanya apakah pernah bekerja di tempat yang bising, dan berapa tahun. Di kelompok yang tidak pernah, 28,3 persen mengalami tinnitus dan 9,1 persen mengalami yang mengganggu. Di kelompok yang bekerja dalam bising lebih dari 15 tahun, angkanya 48,2 dan 24,7 persen.

Kaitan itu tetap terlihat setelah usia dan pendengaran diperhitungkan. Dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah terpapar, peluang kelompok yang terpapar lebih dari 15 tahun adalah 1,5 kali untuk tinnitus dan 1,88 kali untuk tinnitus yang mengganggu. Semua kelompok yang pernah terpapar mencatat peluang lebih tinggi, berkisar 1,23 sampai 1,88 kali.

Untuk tinnitus yang mengganggu, peluang kelompok dengan paparan 5–10 tahun, yakni 1,76 kali, tidak terpaut jauh dari kelompok di atas 15 tahun. Mereka menilai hal itu sejalan dengan penelitian terdahulu bahwa sebagian besar kerusakan pendengaran terjadi dalam sepuluh tahun pertama paparan bising kerja, dan menegaskan pentingnya mengendalikan bising di tempat kerja.

Pohon keputusan menambahkan dua kelompok kecil di antara peserta yang pendengarannya sangat baik atau prima. Kemungkinan tertinggi, 13 persen, ada pada peserta berusia di bawah 50 tahun yang sudah pensiun. Kemungkinan tertinggi kedua, 10 persen, ada pada peserta kulit putih non-Hispanik yang belum pensiun dan pernah bekerja dalam bising sedikitnya satu tahun.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Faktor yang dikenali ternyata belum cukup untuk meramal

Semua faktor itu kemudian disatukan untuk meramal siapa yang mengalami tinnitus yang mengganggu. Daya pembedanya tergolong sedang. Pohon keputusan mencapai nilai 0,735 pada ukuran daya pembeda yang dipakai para penulis, dan mereka menegaskan model itu alat penjajakan, bukan perangkat untuk mengambil keputusan klinis.

“Faktor-faktor ini saja tidak cukup untuk memberikan daya prediksi yang kuat bagi tinnitus,” tulis Tang dan rekan-rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Untuk penelitian berikutnya mereka menyebut calon faktor lain yang perlu ditimbang: kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi, merokok, gangguan tidur, bising lingkungan dan bising saat rekreasi, serta migrain.

Para penulis juga merinci batas penelitian mereka. Apple Hearing Study dirancang terutama untuk menelaah perilaku terkait pendengaran, paparan suara lingkungan, dan pemakaian pelantang telinga. Tinnitus hanya komponen sampingan, sehingga pertanyaan yang tersedia terbatas. Semua data adalah laporan peserta sendiri, yang bisa keliru karena ingatan atau cara melapor.

Pesertanya pun bukan sembarang orang. Mereka pengguna iPhone yang mendaftar sukarela dan agaknya sudah menaruh minat pada kesehatan pendengaran, sehingga angka tinnitus bisa lebih rendah atau lebih tinggi daripada keadaan penduduk dewasa Amerika Serikat sesungguhnya. Pembobotan, tulis para penulis, tidak dapat menghapus seluruh keterbatasan itu. Pendengaran pun hanya diukur dengan satu pertanyaan, bukan pemeriksaan audiometri.

Karena semua jawaban dikumpulkan pada satu waktu, penelitian ini tidak dapat menyimpulkan sebab dan akibat. Yang ditawarkannya adalah gambaran berukuran besar, yang menurut para penulis merupakan analisis tinnitus terbesar di Amerika Serikat sejauh yang mereka ketahui. Kesesuaian hasilnya dengan penelitian terdahulu mereka baca sebagai tanda bahwa aplikasi di ponsel layak dipakai untuk penelitian kesehatan berskala besar.

Bagikan

Baca Juga

Warhound Rekayasa Genetik Anjing Perang untuk Militer AS
Anak TK Obesitas Heilongjiang Paling Sering Gagal Tes Kebugaran
Dua dari Tiga Lansia Nyeri Otot di Hat Yai Keliru Memakai Obat
Pengapuran Sendi Lebih Banyak Diidap Perempuan yang Punya Anak
Berat Badan Sehat Hanya Dimiliki 58,8 Persen Mahasiswa 15 Negara
Enam dari Sepuluh Pasien India Tahu Asuransi, Dua yang Punya