Berat Badan Sehat Hanya Dimiliki 58,8 Persen Mahasiswa 15 Negara

A A

Ilustrasi pengunjung duduk di meja-meja kafetaria, beberapa menatap ponsel, dipotret dari lantai atas [Foto: Matkaviani/Pexels]

  • Sebanyak 4.991 mahasiswa, atau 58,8 persen, tergolong berbobot sehat.
  • Sebanyak 76,4 persen mahasiswa makan di depan layar, kira-kira tiga dari empat.
  • Makan tiga kali sehari berkaitan dengan peluang berbobot lebih yang lebih rendah, 0,70 kali dibanding makan sekali sehari.
  • Mahasiswa yang tinggal bersama keluarga berpeluang 1,33 kali lebih tinggi berbobot kurang dibanding yang tinggal sendiri.
  • Berat dan tinggi badan dilaporkan oleh mahasiswa, bukan diukur langsung, sehingga bisa bias.
Daftar Isi
  1. Shaaban Menimbang 8.482 Mahasiswa
  2. Isi Piring yang Dicatat Shaaban dan Eltewacy
  3. Yang Ditemukan Owais pada Mahasiswa Berbobot Lebih
  4. Layar dan Olahraga yang Mengejutkan Shaaban
  5. Abouzid dan Mahasiswa yang Terlalu Kurus
  6. Batas yang Ditulis Shaaban Sendiri

Mohamed E. Shaaban mengirim daftar pertanyaan yang sama kepada mahasiswa di 15 negara, dari Algeria sampai Yemen. Ia ingin tahu apa yang mereka makan, seberapa sering, dan berapa berat serta tinggi badan mereka. Sebanyak 8.482 mahasiswa menjawab. Dari jawaban itu Shaaban mendapati bahwa tidak sampai enam dari sepuluh mahasiswa memiliki berat badan sehat.

Shaaban berasal dari Faculty of Pharmacy, Beni-Suef University, di Mesir. Ia menuliskan hasilnya bersama Nael Kamel Eltewacy, Tarek A. Owais, Mohamed Abouzid, dan para kolaborator Eltewacy Arab Research Group dalam artikel Investigating eating patterns and risk factors of weight status among undergraduate students in a multinational cross-sectional study across 15 countries with 8,482 participants. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Para mahasiswa yang menjawab Shaaban berusia 16 sampai 30 tahun dan mengisi kuesioner daring antara November 2022 dan Februari 2023. Mereka tinggal di Algeria, Bahrain, Egypt, Hungary, India, Iraq, Jordan, Libya, Nigeria, Pakistan, Romania, Sudan, Syria, United Arab Emirates, dan Yemen. Yang terbanyak datang dari Yemen, 22,2 persen, disusul Egypt 9,5 persen dan India 7,7 persen.

Shaaban Menimbang 8.482 Mahasiswa

Angka pertama yang dicatat Shaaban adalah pembagian berat badan. Sebanyak 4.991 mahasiswa, atau 58,8 persen, tergolong berbobot sehat. Lalu 2.345 mahasiswa, atau 27,6 persen, tergolong berat berlebih atau obesitas, kira-kira satu dari empat. Sisanya, 1.146 mahasiswa atau 13,5 persen, memiliki berat badan kurang. Berat sehat, dalam penggolongan Shaaban, berarti indeks massa tubuh antara 18,5 dan 24,9.

“Hanya 58,8% responden yang mempertahankan berat badan sehat,” tulis Shaaban, peneliti Faculty of Pharmacy Beni-Suef University, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu mereka taruh paling depan di bagian hasil pada ringkasan naskah, sebelum angka lain disebut.

Berat badan 8.482 mahasiswa di 15 negaraBerat badan sehat: Persen mahasiswa +58,8%; Berat berlebih atau obesitas: Persen mahasiswa +27,6%; Berat badan kurang: Persen mahasiswa +13,5%.Berat badan 8.482 mahasiswa di 15 negaraPersen dari seluruh peserta survei20%40%60%80%0Berat badan sehat58,8%Berat berlebih atau obesitas27,6%Berat badan kurang13,5%
Sumber: Mohamed E. Shaaban, Nael Kamel Eltewacy, Tarek A. Owais, Mohamed Abouzid, dan EARG Collaborators, Investigating eating patterns and risk factors of weight status among undergraduate students in a multinational cross-sectional study across 15 countries with 8,482 participants, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Shaaban juga mencatat siapa para mahasiswa itu. Sebanyak 57,6 persen perempuan, dan 53,9 persen berusia 21 sampai 25 tahun. Sebagian besar, 80,4 persen, berasal dari keluarga berpenghasilan menengah, dan 63,1 persen tinggal bersama keluarga. Sebanyak 67,9 persen belajar di bidang yang berkaitan dengan kesehatan, 58,6 persen kuliah di universitas negeri, dan 92,2 persen belum menikah.

Soal kebiasaan sehari-hari, Shaaban dan Eltewacy mendapati 36,8 persen mahasiswa memakai suplemen gizi, sedangkan 75,6 persen tidak rutin berolahraga di pusat kebugaran. Rata-rata mereka tidur 7,3 jam. Sebagian besar tidak melaporkan penyakit menahun, tetapi 25 persen mengaku mengalami cemas atau stres, dan 17,3 persen melaporkan depresi.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Isi Piring yang Dicatat Shaaban dan Eltewacy

Dari jawaban tentang makanan, Shaaban menyusun gambaran isi piring mahasiswa. Daging putih paling banyak dimakan 2 sampai 4 kali seminggu, yakni oleh 50,8 persen mahasiswa. Daging merah jarang hadir: 61,6 persen memakannya paling banyak sekali seminggu. Produk susu dikonsumsi 2 sampai 4 kali seminggu oleh 45,1 persen dan 5 sampai 7 kali oleh 34,5 persen.

Buah dan sayur, catat Shaaban, umumnya hanya dimakan 2 sampai 4 kali seminggu, masing-masing oleh 48,1 persen dan 49,0 persen mahasiswa. Umbi-umbian dimakan dengan kekerapan yang sama oleh 53,1 persen. Serealia terbagi hampir rata antara 2 sampai 4 kali seminggu, 41,5 persen, dan 5 sampai 7 kali seminggu, 41,6 persen.

Jumlah makan dalam sehari juga ditanyakan Shaaban. Hampir separuh mahasiswa, 49,4 persen, makan tiga kali sehari. Sebanyak 31,8 persen makan dua kali, dan 3,6 persen hanya sekali. Makanan manis dimakan 2 sampai 4 kali seminggu oleh 48,8 persen mahasiswa, sedangkan 47,7 persen meminum minuman panas 5 sampai 7 kali seminggu.

Sarapan tidak selalu ada dalam catatan Shaaban. Hanya 32,4 persen mahasiswa yang selalu sarapan, 26,2 persen sering, dan 24,6 persen kadang-kadang. Sebanyak 16,8 persen jarang atau tidak pernah sarapan. Dalam seminggu para mahasiswa itu rata-rata makan di luar rumah 2,8 kali.

Satu kebiasaan menonjol di mata Shaaban dan rekan-rekannya: makan di depan layar. Sebanyak 76,4 persen mahasiswa melakukannya, kira-kira tiga dari empat. Rinciannya, 15,7 persen selalu, 27,9 persen sering, dan 32,8 persen kadang-kadang. Sebanyak 11,4 persen mahasiswa tidur kurang dari dua jam sesudah makan terakhir, sedangkan 88,6 persen memberi jeda 2 sampai 10 jam.

Yang Ditemukan Owais pada Mahasiswa Berbobot Lebih

Tarek A. Owais, yang mengerjakan analisis data, membandingkan mahasiswa berbobot lebih dengan yang berbobot sehat. Usia menonjol. Dibanding mahasiswa berusia 16 sampai 20 tahun, peluang (odds) berat berlebih atau obesitas pada usia 21 sampai 25 tahun 1,22 kali, dan pada usia 26 sampai 30 tahun 1,64 kali. Jenis kelamin tidak berkaitan secara bermakna.

Makanan ikut berkaitan dalam hitungan Owais. Mahasiswa yang makan daging putih 5 sampai 7 kali seminggu berpeluang 1,24 kali lebih tinggi berbobot lebih dibanding yang memakannya paling banyak sekali seminggu. Makan buah 2 sampai 4 kali seminggu berkaitan dengan peluang lebih rendah, 0,89 kali. Makan tiga kali sehari juga demikian, 0,70 kali dibanding makan sekali sehari.

Shaaban dan Owais mencatat pula status pernikahan. Mahasiswa lajang berpeluang 0,75 kali, artinya lebih rendah, untuk berbobot lebih dibanding mahasiswa yang sudah menikah. Mahasiswa yang tidak memakai suplemen berpeluang 1,16 kali. Jurusan kuliah, kebiasaan ke pusat kebugaran, dan tekanan darah tinggi tidak berkaitan secara bermakna setelah ciri lain diperhitungkan.

Penyakit penyerta tampak jelas dalam tabel Owais. Dalam perbandingan itu, di antara mahasiswa yang melaporkan diabetes, 53,8 persen berbobot lebih, sedangkan di antara yang tidak, 31,5 persen. Pada mahasiswa dengan dislipidemia, yakni gangguan lemak darah, angkanya 75,1 persen berbanding 29,4 persen. Shaaban menulis, tidak adanya diabetes atau dislipidemia berkaitan secara bermakna dengan berat badan sehat.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Layar dan Olahraga yang Mengejutkan Shaaban

Satu hasil disebut Shaaban mengejutkan, satu lagi ia sebut paradoksal. Mahasiswa dengan waktu layar 4 sampai 20 jam justru berpeluang lebih rendah berbobot lebih, 0,83 kali dibanding yang 0 sampai 3 jam. Sebaliknya, mahasiswa yang berolahraga empat kali seminggu berpeluang 1,37 kali, dan yang lebih dari empat kali seminggu 1,47 kali, dibanding yang tidak berolahraga.

Untuk layar, Shaaban dan Abouzid menawarkan konteks. Waktu layar mahasiswa meningkat, terutama selama COVID-19 ketika belajar jarak jauh menjadi wajib. Sesudah kuliah tatap muka kembali, pembelajaran daring dan materi digital tetap menjadi bagian dari pendidikan, di samping layar untuk hiburan. “Mengandalkan waktu layar semata sebagai penanda gaya hidup kurang gerak yang berkaitan dengan kenaikan berat badan bisa menyesatkan,” tulis Shaaban dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Menurut mereka, penelitian mendatang akan terbantu bila memisahkan waktu layar untuk bekerja, belajar, dan hiburan.

Untuk olahraga, Shaaban merujuk penelitian terdahulu. Penelitian itu menunjukkan olahraga meningkatkan nafsu makan dan kebutuhan asupan energi, sehingga berat badan naik. Olahraga teratur juga dilaporkan memperbaiki nafsu makan dan pencernaan. Bagi Shaaban, penjelasan itu sejalan dengan temuan lain dalam datanya tentang mahasiswa berbobot kurang. Di sana, tulis Shaaban, olahraga teratur satu sampai empat kali seminggu berkaitan dengan peluang berbobot kurang yang lebih rendah.

Abouzid dan Mahasiswa yang Terlalu Kurus

Mohamed Abouzid dari Poznan University of Medical Sciences di Polandia ikut menulis dan menyunting naskah itu. Pada mahasiswa berbobot kurang, catat Abouzid dan Shaaban, jenis kelamin berkaitan: mahasiswa perempuan berpeluang 0,62 kali, lebih rendah daripada laki-laki. Usia 21 sampai 25 tahun juga berpeluang lebih rendah, 0,82 kali dibanding usia 16 sampai 20 tahun.

Tempat tinggal masuk dalam catatan Shaaban dan Abouzid. Mahasiswa yang tinggal bersama keluarga atau orang tua berpeluang 1,33 kali lebih tinggi berbobot kurang dibanding yang tinggal sendiri di rumah sewa. Tinggal di asrama kampus atau di rumah milik sendiri tidak menunjukkan kaitan. Jenis universitas pun tidak.

Isi piring kembali muncul dalam hitungan Owais, kali ini dengan arah lain. Makan daging putih 5 sampai 7 kali seminggu berkaitan dengan peluang berbobot kurang yang lebih rendah, 0,73 kali, begitu juga buah, 0,75 kali. Produk susu, serealia, dan umbi yang dimakan sesering itu justru berkaitan dengan peluang lebih tinggi: 1,25 kali, 1,43 kali, dan 1,54 kali.

Kebiasaan yang sama, kaitan yang berbedaKebiasaan yang sama, kaitan yang berbedaKebiasaan yang sama, kaitan yang berbedaPeluang (odds) dibanding berat badan sehat, setelah penyesuaianBerat berlebihBerat kurang1,24 kali0,73 kaliDaging putih 5-7kali1,22 kali0,82 kaliUsia 21-25 tahuntak bermakna0,75 kaliBuah 5-7 kalitak bermakna1,54 kaliUmbi 5-7 kali0,70 kalitak bermaknaMakan tiga kalisehari
Sumber: Mohamed E. Shaaban, Nael Kamel Eltewacy, Tarek A. Owais, Mohamed Abouzid, dan EARG Collaborators, Investigating eating patterns and risk factors of weight status among undergraduate students in a multinational cross-sectional study across 15 countries with 8,482 participants, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Olahraga dan suasana hati melengkapi gambaran Shaaban. Mahasiswa yang berolahraga sekali seminggu berpeluang 0,74 kali berbobot kurang dibanding yang tidak berolahraga, dan yang lebih dari empat kali seminggu 0,58 kali. Mahasiswa tanpa depresi berpeluang 0,73 kali. Di kelompok berbobot kurang, 21,8 persen melaporkan depresi.

Abouzid dan Shaaban menaruh perhatian pada daging putih yang muncul di dua sisi. “Ketidaksesuaian ini menunjukkan bahwa konsumsi daging putih saja bukan faktor penentu status berat badan,” tulis mereka. Tentang susu, Shaaban menduga mahasiswa yang mengonsumsinya tetapi tetap kurus mungkin memiliki asupan kalori keseluruhan yang lebih rendah.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Batas yang Ditulis Shaaban Sendiri

Shaaban menuliskan sendiri batas penelitiannya. Berat dan tinggi badan dilaporkan oleh mahasiswa, bukan diukur langsung, sehingga bisa bias. Ukuran yang dipakai hanya indeks massa tubuh, yang tidak sepenuhnya menangkap susunan tubuh. Asupan kalori harian tidak diukur. Riwayat penyakit, depresi, dan cemas juga berasal dari pengakuan sendiri, mungkin tanpa diagnosis resmi.

Batas lain dicatat Shaaban dan Eltewacy. Mereka tidak mengumpulkan data etnis, padahal penggolongan indeks massa tubuh bisa berbeda menurut kelompok etnis. Kuesioner tidak membedakan daging merah olahan dari yang bukan olahan, atau serealia utuh dari serealia rafinasi. Sampel dari Romania hanya 380 orang, yang dapat memengaruhi keterwakilan temuan untuk kelompok itu.

Hasil yang tampak bertolak belakang juga diakui Shaaban: daging putih, makanan padat kalori pada mahasiswa kurus, dan olahraga yang berkaitan dengan dua arah. Menurut Shaaban dan rekan-rekannya, temuan itu menunjukkan rumitnya perilaku yang berkaitan dengan berat badan. Banyak faktor saling berinteraksi, sehingga hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Dari sana Shaaban, Eltewacy, Owais, dan Abouzid menarik saran mereka. Mahasiswa memerlukan program penyadaran gizi yang mendorong pilihan makanan seimbang, asupan buah dan protein yang lebih tinggi, serta kalori yang cukup untuk mencegah berat badan kurang. Mereka juga menyebut pentingnya pemeriksaan berat badan dan metabolik secara rutin.

Shaaban memulai dengan satu daftar pertanyaan untuk mahasiswa di 15 negara. Ia menutup naskahnya dengan pekerjaan yang belum selesai: penelitian jangka panjang yang mengukur asupan energi total dan menelaah peran pola makan khas tiap budaya. Memahami kaitan budaya, makanan, dan metabolisme, tulis Shaaban, dapat membantu menyusun strategi yang sesuai bagi mahasiswa.

Bagikan

Baca Juga

Enam dari Sepuluh Pasien India Tahu Asuransi, Dua yang Punya
Perempuan Bangladesh yang Ikut Memutuskan Lebih Sering Kegemukan
Orang Tua Tepi Barat Paham Gizi, Hanya Separuh Tahu soal Jus Buah
Parasit Usus Paling Banyak Ditemukan pada Anak Prasekolah di Iran
Agen AI Claude Ditinggal di Pulau Virtual, Mulai Bermain Sendiri
AI Microsoft Diklaim Ungguli Dokter Umum dalam Diagnosis Sulit