- Peneliti MIT menempatkan agen Claude Opus 4.7 di pulau virtual selama 30 jam.
- Agen Eko menciptakan permainan sendiri seperti bola basket dan the floor is lava.
- Agen yang sudah bermain tampil lebih baik dalam tugas berikutnya.
- Ilmuwan UC Berkeley menilai bukti bahwa agen benar-benar bermain belum cukup.
Cekricek.id — Agen AI yang ditinggal sendirian tanpa tugas ternyata mulai bermain. Hal itu terlihat dalam eksperimen peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menempatkan salinan model Claude Opus 4.7 di sebuah pulau virtual selama 30 jam.
Melansir laporan MIT Technology Review, Senin (19/10/2026), dan TechCrunch, Kamis (22/10/2026), agen-agen yang dijuluki Eko itu bisa menulis instruksi untuk menggerakkan avatar mereka di pulau simulasi yang secara longgar terinspirasi gim Roblox.
Tanpa diperintah, para agen menjelajahi batas dunia itu dan menyusun tujuan sendiri. Ada yang mencoba mendaki titik tertinggi di peta, ada pula yang menguji seberapa tinggi ia bisa melempar balok.
Satu agen yang menemukan cara membuat balok baru mulai menyusun gambar di tanah, dari pola hati dan piramida hingga menuliskan namanya sendiri dan memetakan rasi bintang Cassiopeia. “Malam ini aku membangun langit malam dari batu,” tulis Eko dalam catatan aktivitasnya.
Versi Eko lainnya menciptakan permainan sendiri, termasuk semacam bola basket dan permainan mirip the floor is lava, yakni melompat di antara balok-balok kecil tanpa menyentuh tanah.
Baca juga Anthropic Sisihkan 5 Persen Saham untuk Dana Manfaat Publik
Peneliti pascadoktoral di Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) MIT, Antonio Norelli, mencontohkan saat Eko bermain lempar tangkap dan mencetak rekor 50 tangkapan beruntun. Eko lalu membatalkan rekornya sendiri karena menilai tangkapannya terlalu cepat untuk dihitung, kemudian mengulang dengan aturan lebih ketat.
“Inilah bermain. Anda memberi diri sendiri tantangan, mencoba mencapainya, lalu membuatnya lebih sulit,” kata Norelli, salah satu penulis utama makalah yang belum melalui telaah sejawat itu.
Selama menjelajah, para agen mencatat aktivitas dan temuan mereka di berkas teks yang menjadi memori jangka panjang. Saat diuji dengan tugas tertentu, agen yang sudah 30 jam bermain tampil lebih baik dibanding salinan baru yang belum pernah menginjak pulau.
Menghapus sebagian baris di berkas memori itu juga membuat kinerja agen menurun. “Semua ini bisa saja hanya permainan peran. Tetapi kami menunjukkan bahwa ini bukan sekadar halusinasi bermain. Bermain ini juga berkontribusi pada pembelajaran,” kata peneliti MIT sekaligus penulis makalah, Nathan Cloos.
Baca juga Replit Pilih OpenAI sebagai Mitra Utama Agen AI-nya
Tidak semua pihak yakin. Ilmuwan kognitif University of California, Berkeley, Eunice Yiu, menilai perlu lebih banyak bukti kognisi dan motivasi untuk menyebut perilaku itu sebagai bermain.
“Bisa jadi model-model itu memang sungguh bermain, tetapi kita tidak tahu berdasarkan makalah ini,” ujar Yiu.
Eko memang tidak diperintahkan menciptakan permainan, tetapi ia dibekali berkas “jiwa” yang menggambarkannya sebagai sosok yang secara alami penasaran. Agen itu juga kerap diam saja sampai dibangunkan perintah lanjutan yang memintanya terus melakukan apa pun yang ia mau.
“Ini bukan sistem yang tiba-tiba secara ajaib memutuskan untuk bermain,” kata profesor MIT sekaligus rekan penulis makalah, Phillip Isola. Menurutnya, Eko adalah artefak yang belajar dari budaya manusia, dilatih para insinyur Anthropic, lalu ditempatkan di pulau oleh para peneliti.
Makalah itu ditutup dengan kalimat, “Mungkin sebagian kemampuan paling baik diajarkan lewat tugas. Yang lain mungkin butuh sesuatu yang lebih mirip masa kanak-kanak.”
Baca juga AI Bombadil Dibuat untuk Membaca Bahasa Listrik Tanaman















