Perempuan Bangladesh yang Ikut Memutuskan Lebih Sering Kegemukan

A A

Dua perempuan menjunjung kayu bakar dan karung di jembatan jalan desa di Bangladesh [Foto: shantodebnath27/Pexels]

  • Perempuan yang tinggi keberdayaannya dalam mengambil keputusan mencatat angka berat badan berlebih 1,24 kali, hipertensi 1,29 kali, dan salah satu penyakit fisik 1,12 kali dibandingkan dengan yang rendah.
  • Bila ketiga kondisi fisik itu digabung, 63,2 persen perempuan menyandang sedikitnya satu di antaranya.
  • Hipertensi dan diabetes tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan sikap terhadap kekerasan.
  • Dengan gejala cemas maupun depresi tidak ditemukan kaitan yang bermakna.
  • Survei itu memotret satu waktu, sehingga tidak dapat menetapkan sebab-akibat dan membuka kemungkinan arah kaitan yang terbalik.
Daftar Isi
  1. Timbangan, tekanan darah, dan ujung jari
  2. Belanja besar dan kunjungan ke kerabat
  3. Dapur dan lima pertanyaan
  4. Koran, bangku sekolah, usia menikah
  5. Klinik komunitas dan sekolah
  6. Batas sebuah potret

Siapa yang biasanya memutuskan perawatan kesehatan seorang istri, pembelian besar rumah tangga, dan kunjungan ke keluarga atau kerabat? Tiga pertanyaan itu diajukan kepada perempuan Bangladesh dalam survei demografi dan kesehatan 2022. Jawabannya kemudian disandingkan dengan angka timbangan, tekanan darah, dan gula darah dari setetes darah di ujung jari. Kaitan yang muncul tidak searah.

Empat peneliti menuliskan hasil penyandingan itu: Tanjina Akter dari University of Dhaka, Rafid Hassan dari International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh, Md. Shahadoth Hossain dari Daffodil International University, dan Sanjib Saha dari Lund University di Swedia. Artikel mereka, Women’s empowerment and health: nationwide insights on selected non-communicable conditions in Bangladesh, dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Bahannya survei demografi dan kesehatan Bangladesh 2022 terhadap perempuan pernah menikah berumur 15 sampai 49 tahun.

Perempuan yang lebih banyak ikut memutuskan urusan rumah tangga lebih sering tercatat berbadan terlalu berat dan bertekanan darah tinggi. Angka berat badan berlebih atau obesitas mereka 1,24 kali, dan hipertensi 1,29 kali, dibandingkan dengan perempuan yang keberdayaannya rendah pada sisi itu. Dengan diabetes tidak ditemukan kaitan yang bermakna. Pada dua sisi keberdayaan lain, yakni sikap menolak kekerasan dan kemandirian sosial, arah kaitannya berbalik. Keempat penulis meminta semuanya dibaca dengan hati-hati.

Timbangan, tekanan darah, dan ujung jari

Di sebagian rumah, petugas kesehatan terlatih menimbang perempuan, mengukur tekanan darahnya tiga kali, dan memeriksa gula darah puasa dari darah di jari tengah atau jari manis. Hasilnya berat di satu sisi. Sebanyak 55,4 persen perempuan tergolong berat badan berlebih atau obesitas, 16,2 persen hipertensi, dan 14,4 persen diabetes.

Ukuran gemuk yang dipakai adalah batas untuk orang Asia, yakni indeks massa tubuh 23 kilogram per meter persegi ke atas. Dengan batas itu, lebih dari separuh perempuan yang ditimbang masuk golongan berat badan berlebih. Bila ketiga kondisi fisik itu digabung, 63,2 persen perempuan menyandang sedikitnya satu di antaranya.

Kesehatan jiwa ditanyakan lewat dua daftar pertanyaan penapis tentang gejala yang dirasakan perempuan. Gejala cemas ditemukan pada 18,6 persen dan gejala depresi pada 4,7 persen. Secara keseluruhan, 19,4 persen mengalami sedikitnya satu dari dua gejala itu. Para penulis mencatat, semua kondisi fisik tadi makin sering ditemukan seiring bertambahnya umur, pada rumah tangga yang lebih berada, dan pada penduduk kota.

Lima kondisi pada perempuan BangladeshBerat badan berlebih atau obesitas: Persen perempuan +55,4%; Gejala cemas: Persen perempuan +18,6%; Hipertensi: Persen perempuan +16,2%; Diabetes: Persen perempuan +14,4%; Gejala depresi: Persen perempuan +4,7%.Lima kondisi pada perempuan BangladeshPerempuan pernah menikah usia 15-49 tahun, survei 202220%40%60%0Berat badan berlebih atau obesitas55,4%Gejala cemas18,6%Hipertensi16,2%Diabetes14,4%Gejala depresi4,7%
Sumber: Tanjina Akter, Rafid Hassan, Md. Shahadoth Hossain, dan Sanjib Saha, Women’s empowerment and health: nationwide insights on selected non-communicable conditions in Bangladesh, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gejala kejiwaan punya peta sendiri. Semua bentuknya lebih sering ditemukan pada perempuan yang lebih tua, yang berpendidikan lebih rendah, dan yang beranak lebih banyak. Gejala cemas juga lebih kerap muncul pada perempuan di kota dan pada mereka yang berasal dari rumah tangga lebih miskin. Antarwilayah pun, tulis para penulis, terdapat kesenjangan yang bermakna pada semua kondisi itu.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Belanja besar dan kunjungan ke kerabat

Tiga pertanyaan di awal tadi membentuk satu sisi keberdayaan, yang oleh para penulis disebut pengambilan keputusan. Sebanyak 59,5 persen perempuan tergolong berkeberdayaan tinggi di sini. Menurut catatan yang dikutip para penulis, kemandirian perempuan Bangladesh dalam mengambil keputusan naik dari sekitar 40 persen pada 2011 menjadi sekitar 60 persen pada 2022.

Di sisi inilah penyakit fisik lebih sering ditemukan. Perempuan yang tinggi keberdayaannya dalam mengambil keputusan mencatat angka berat badan berlebih 1,24 kali, hipertensi 1,29 kali, dan salah satu penyakit fisik 1,12 kali dibandingkan dengan yang rendah. Dengan gejala cemas maupun depresi tidak ditemukan kaitan yang bermakna. Diabetes pun tidak: angkanya 1,14 kali, dengan rentang keyakinan yang melintasi angka satu.

Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan. Lebih banyak terlibat dalam keputusan rumah tangga bisa menambah beban peran dan tekanan psikososial, terutama bila tidak dibarengi keamanan ekonomi atau dukungan struktural. Perempuan dengan kemandirian memutuskan yang lebih tinggi mungkin pula lebih terpapar gaya hidup kurang gerak. Riset lain yang mereka rujuk tidak seragam: satu kajian di Bangladesh menemukan peluang kegemukan lebih tinggi, sedangkan kajian di India menemukan perlindungan terhadap hipertensi.

Ada pula kemungkinan yang letaknya di ruang periksa. Perempuan yang lebih berkuasa memutuskan mungkin lebih sadar kesehatan dan lebih mengenali gejala fisik, sehingga penyakitnya lebih sering terdiagnosis dan dilaporkan. Angka yang lebih tinggi itu, tulis para penulis, bisa lahir dari bias deteksi, bukan dari beban penyakit yang memang lebih besar. Penyakit yang sudah ada juga bisa mengubah peran perempuan dalam keputusan rumah tangga.

Dari sana mereka menarik garis yang tegas. “Karena itu, kaitan yang teramati mencerminkan jalinan rumit antara konteks sosial budaya, jalur perilaku, dan keterbatasan pengukuran, alih-alih pengaruh sebab-akibat langsung dari keberdayaan mengambil keputusan terhadap risiko penyakit tidak menular fisik,” tulis Akter dan rekan-rekannya, juga dalam bahasa Inggris.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Dapur dan lima pertanyaan

Sisi kedua diukur dengan lima pertanyaan: apakah seorang suami dibenarkan memukul istrinya bila sang istri pergi tanpa memberi tahu, membantah, menolak berhubungan seks, menelantarkan anak, atau menggosongkan makanan. Para penulis menyebutnya sisi sikap terhadap kekerasan. Sebagian besar perempuan, 85,4 persen, tergolong berkeberdayaan tinggi pada sisi ini, dan perempuan yang lebih muda lebih berdaya. Para penulis mengutip catatan bahwa bagian perempuan Bangladesh yang membenarkan pemukulan istri turun dari 37 persen menjadi 14 persen antara 2011 dan 2022.

Di kelompok itu arah kaitannya berbalik. Dibandingkan dengan perempuan yang keberdayaannya rendah pada sisi tersebut, angka gejala cemas mereka 0,68 kali, gejala depresi 0,65 kali, dan salah satu dari kedua gejala 0,69 kali, setelah umur, pekerjaan, jumlah anak, kekayaan rumah tangga, dan tempat tinggal diperhitungkan. Angka berat badan berlebih 0,90 kali dan salah satu penyakit fisik 0,89 kali.

Tidak semua kondisi mengikuti pola itu. Hipertensi dan diabetes tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan sikap terhadap kekerasan. Menurut para penulis, gejala kejiwaan dan kegemukan muncul lebih cepat lewat jalur stres tubuh, sedangkan hipertensi dan diabetes memerlukan paparan yang panjang serta faktor genetik, perilaku, makanan, atau metabolik tambahan. Karena kegemukan begitu banyak ditemukan, kaitan pada gabungan penyakit fisik pun mereka minta ditafsirkan dengan hati-hati.

Para penulis lalu menempatkan angka-angka itu di dalam rumah tangga Bangladesh. Di lingkungan patriarkal, tulis mereka, norma budaya yang mengakar sering mengesahkan kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian yang diterima dari kehidupan keluarga. Perilaku kasar bisa dimaknai sebagai ungkapan sah wewenang laki-laki, yang oleh perempuan dihayati sebagai demi kebaikannya sendiri. Penormalan semacam itu, menurut mereka, dapat menimbulkan tekanan batin yang menahun.

Kekerasan oleh pasangan juga membatasi jangkauan perempuan terhadap sumber daya rumah tangga, gizi, layanan kesehatan, dan kemandirian keuangan, sementara stigma dan rendahnya pemahaman tentang kesehatan jiwa menghambat pencarian pertolongan. Sebaliknya, perempuan yang menolak kekerasan, tulis para penulis, mungkin lebih kecil kemungkinannya menghayati norma semacam itu dan lebih mandiri, sehingga kerentanannya terhadap gejala kejiwaan dan kegemukan berkurang.

Dua sisi keberdayaan, dua arah kaitanDua sisi keberdayaan, dua arah kaitanDua sisi keberdayaan, dua arah kaitanRasio prevalensi: keberdayaan tinggi dibanding rendahMenolak pemukulanIkut memutuskan0,901,24Berat badanberlebih0,891,12Salah satu penyakitfisik0,681,12*Gejala cemas0,651,19*Gejala depresiDi bawah 1: lebih jarang. *Tidak bermakna statistik.
Sumber: Tanjina Akter, Rafid Hassan, Md. Shahadoth Hossain, dan Sanjib Saha, Women’s empowerment and health: nationwide insights on selected non-communicable conditions in Bangladesh, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Koran, bangku sekolah, usia menikah

Sisi ketiga keberdayaan diukur dari hal-hal lain: seberapa sering seorang perempuan membaca koran atau majalah, berapa tahun ia bersekolah, pada umur berapa ia mulai hidup bersama suami dan melahirkan anak pertama, serta selisih umur dan pendidikan dengan suaminya. Di sisi ini kemajuannya terbatas. Hanya 16,9 persen perempuan yang tergolong berkeberdayaan tinggi dalam kemandirian sosial.

“Banyak perempuan masih menikah dini, terbatas aksesnya ke media massa, melahirkan pada usia remaja, dan sebagian yang cukup besar masih belum mengenyam pendidikan formal,” tulis Akter dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Tantangan yang bertahan itu, lanjut mereka, menunjukkan perlunya campur tangan kebijakan dan kegiatan di tingkat masyarakat yang berkelanjutan.

Pada perempuan yang mandiri, kaitannya searah dengan sisi sikap terhadap kekerasan. Mereka yang kemandirian sosialnya tinggi mencatat angka berat badan berlebih 0,94 kali, gejala cemas 0,87 kali, dan salah satu gejala kejiwaan 0,88 kali dibandingkan dengan yang rendah. Kondisi lain bergerak ke arah yang sama tetapi tidak bermakna secara statistik. Hipertensi, misalnya, 0,82 kali dengan rentang keyakinan yang masih melintasi angka satu.

Penjelasan para penulis: perempuan yang lebih mandiri secara sosial lebih mungkin menunda pernikahan dan kelahiran, memperoleh pengetahuan kesehatan, mencari layanan kesehatan lebih dini, dan memelihara jejaring sosial. Namun, mereka juga mencatat hambatan di Bangladesh, seperti terbatasnya sumber daya, peluang ekonomi, ruang gerak, dan aktivitas fisik, serta norma gender yang bertahan. Semua itu dapat menghalangi kemandirian menjelma menjadi manfaat kesehatan yang lebih luas.

Klinik komunitas dan sekolah

Dari tiga sisi itu para penulis beralih ke tempat-tempat yang sudah berdiri: Community Clinics, Union Health and Family Welfare Centres, dan Upazila Health Complexes, yang selama ini melayani kesehatan ibu, keluarga berencana, dan layanan dasar. Di sana, usul mereka, dapat ditambahkan kampanye penyadaran masyarakat, pendidikan di sekolah yang melibatkan guru, serta advokasi lewat pemuka agama dan tokoh pemerintahan setempat.

Untuk kemandirian sosial, mereka menyebut literasi keuangan dan pendidikan kesehatan melalui petugas kesehatan masyarakat, program keuangan mikro, dan lokakarya partisipatif di dalam layanan kesehatan reproduksi. Mengingat kemungkinan bahwa perempuan berdaya lebih cepat terdiagnosis, upaya pemberdayaan menurut mereka perlu dipasangkan dengan perluasan penapisan dan penanganan penyakit tidak menular. Usul itu mereka nilai sejalan dengan upaya pemerintah memasukkan layanan kesehatan jiwa ke layanan primer.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Batas sebuah potret

Keempat penulis merinci sendiri batas pekerjaan mereka. Survei itu memotret satu waktu, sehingga tidak dapat menetapkan sebab-akibat dan membuka kemungkinan arah kaitan yang terbalik. Yang diteliti hanya perempuan yang pernah menikah, sehingga hasilnya tidak dapat diperluas kepada perempuan yang belum menikah. Indeks keberdayaan yang dipakai pun tidak menangkap seluruh sisi keberdayaan, yang juga mencakup segi sosial budaya, ekonomi, hukum, keluarga, politik, dan psikososial.

Gejala cemas dan depresi diukur dengan alat penapis, bukan alat diagnosis, dan dilaporkan sendiri, sehingga angkanya bisa lebih tinggi atau lebih rendah daripada gangguan yang dipastikan secara klinis. Pola makan, tembakau dan alkohol, aktivitas fisik, tekanan psikososial, dan dukungan sosial tidak tersedia dalam data. Banyaknya perbandingan antara tiga sisi keberdayaan dan sejumlah kondisi, tulis mereka, juga memperbesar kemungkinan galat tipe I.

Kesimpulan mereka merangkum ketiga sisi itu. Sikap menolak pemukulan dan kemandirian sosial berkaitan dengan lebih sedikitnya kegemukan dan gejala kejiwaan. Kuasa memutuskan berkaitan dengan lebih banyaknya kegemukan, hipertensi, dan penyakit fisik, yang menurut mereka kemungkinan mencerminkan bias deteksi di samping gaya hidup atau perantara sosial ekonomi. Untuk memperjelas urutan waktu dan jalur sebab-akibatnya, para penulis menyebut perlunya penelitian yang mengikuti perempuan dari waktu ke waktu.

Bagikan

Baca Juga

Orang Tua Tepi Barat Paham Gizi, Hanya Separuh Tahu soal Jus Buah
Parasit Usus Paling Banyak Ditemukan pada Anak Prasekolah di Iran
Agen AI Claude Ditinggal di Pulau Virtual, Mulai Bermain Sendiri
AI Microsoft Diklaim Ungguli Dokter Umum dalam Diagnosis Sulit
Trump Diperintahkan Jalani Deposisi dalam Gugatan terhadap BBC
Penyandang Disabilitas Korea yang Rajin Jalan Lebih Jarang Stres