Penyandang Disabilitas Korea yang Rajin Jalan Lebih Jarang Stres

A A

Ilustrasi pria lanjut usia bertongkat berjalan membelakangi kamera di jalur taman kota yang rindang [Foto: Muhammed Hanefi/Pexels]

  • Sekitar 51,5 persen dari 1.890 penyandang disabilitas dewasa di Korea tergolong aktif secara fisik, yakni berjalan kaki 150 menit atau lebih dalam sepekan.
  • Stres dilaporkan 21,5 persen penyandang disabilitas yang aktif berjalan kaki, dibandingkan 29,9 persen pada mereka yang tidak aktif.
  • Aktivitas fisik tingkat tinggi berkaitan dengan peluang depresi 52 persen lebih rendah dibandingkan aktivitas tingkat sedang.
  • Pada penyandang disabilitas neuropsikologis dan intelektual, kajian ini tidak menemukan hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan kesehatan jiwa.
Daftar Isi
  1. Separuh yang berjalan, separuh yang tidak
  2. Tingkat sedang sudah berarti, tingkat tinggi memberi lebih
  3. Jenis disabilitas yang berbeda, hasil yang berbeda
  4. Usia, pekerjaan, kota, dan penyakit menahun
  5. Mengapa berjalan bisa meringankan pikiran
  6. Sebuah hubungan, belum sebuah sebab

Olahraga menyehatkan jiwa, begitu anjuran yang sudah lama diterima orang sebagai kebenaran yang berlaku bagi siapa saja, di mana saja, pada tubuh macam apa pun. Namun bukti di balik anjuran itu, sebagaimana dicatat sebuah kajian dari Korea, sebagian besar dikumpulkan dari penduduk pada umumnya, sedangkan bagi penyandang disabilitas, yang lebih jarang bergerak dan lebih besar risikonya mengalami gangguan kesehatan jiwa, buktinya masih langka.

Kajian itu ditulis Shiva Raj Acharya dari Yonsei University College of Medicine di Wonju, Republik Korea, dengan judul Differential relationships between physical activity and mental health among adults with disabilities in Korea, dan dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Bahan yang ia pakai adalah data Korea Health Panel Survey tahun 2019 sampai 2021, survei yang mewakili penduduk negeri itu, dan dari sana ia memperoleh 1.890 orang dewasa penyandang disabilitas terdaftar, dengan rata-rata usia 67,44 tahun.

Yang dimaksud aktivitas fisik dalam kajian ini sebetulnya sederhana, yakni berjalan kaki: berapa hari dalam sepekan seseorang berjalan dan berapa menit ia melakukannya setiap hari, lalu dijumlahkan menjadi menit per pekan. Mengikuti pedoman WHO bagi orang dewasa penyandang disabilitas, mereka yang berjalan 150 menit atau lebih dalam sepekan disebut aktif secara fisik, dan kelompok itu dipilah lagi menjadi tingkat sedang, 150 sampai 300 menit, serta tingkat tinggi, di atas 300 menit.

Latar itu dipaparkan Acharya dengan angka. Gangguan kesehatan jiwa, tulisnya, menimpa lebih dari satu miliar orang di dunia, sementara sekitar 1,3 miliar orang hidup dengan disabilitas, dan bukti global menunjukkan kelompok ini tiga sampai empat kali lebih mungkin mengalami depresi, stres, kecemasan, dan bunuh diri dibandingkan penduduk umum. Di Korea, sekitar lima persen penduduk terdaftar memiliki satu atau lebih jenis disabilitas, dan gangguan kesehatan jiwa dilaporkan pada hingga 40 persen di antara mereka.

Separuh yang berjalan, separuh yang tidak

Sekitar 51,5 persen dari 1.890 penyandang disabilitas dewasa di Korea tergolong aktif secara fisik, yakni berjalan kaki 150 menit atau lebih dalam sepekan. Itu berarti kira-kira satu dari dua orang, tepatnya 974 orang yang aktif berhadapan dengan 916 orang yang tidak, dengan lama berjalan yang berbeda: mereka yang aktif rata-rata berjalan 398,77 menit dalam sepekan, sedangkan mereka yang tidak aktif hanya 59,26 menit.

Jalan kaki penyandang disabilitas Korea, sekilasJalan kaki penyandang disabilitas Korea, sekilasJalan kaki penyandang disabilitas Korea, sekilasData Korea Health Panel Survey1.890orang dewasapenyandangdisabilitas51,5%aktif150 menit ataulebih398,77menitsepekan, yangaktif59,26menitsepekan, tidakaktifJalan risetnyaSurvei 2019-2021Empat jenis disabilitasEmpat keluhan jiwaMenit: rata-rata berjalan kaki. Rata-rata usia peserta 67,44 tahun.
Sumber: Shiva Raj Acharya, Differential relationships between physical activity and mental health among adults with disabilities in Korea, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara seluruh peserta, stres dilaporkan oleh 25,6 persen, depresi oleh 11,1 persen, kecemasan oleh 8,5 persen, dan pikiran ingin mati oleh 8,6 persen. Keempatnya diukur dari jawaban peserta sendiri: stres yang dirasakan banyak atau sangat banyak, perasaan tertekan lebih dari dua pekan berturut-turut dalam setahun terakhir, cemas berlebihan yang mengganggu keseharian lebih dari enam bulan, dan pernah tidaknya terlintas keinginan untuk mati dalam setahun terakhir.

Begitu angka itu dipisah menurut kebiasaan berjalan, polanya searah pada keempat keluhan. Stres dilaporkan 21,5 persen penyandang disabilitas yang aktif berjalan kaki, dibandingkan 29,9 persen pada mereka yang tidak aktif. Depresi dilaporkan 9,3 persen berbanding 13,0 persen, kecemasan 6,9 persen berbanding 10,3 persen, dan pikiran ingin mati 6,9 persen berbanding 10,4 persen, selalu dengan angka yang lebih rendah di pihak mereka yang cukup berjalan kaki.

Yang cukup berjalan kaki lebih jarang mengeluhStres: Aktif berjalan kaki +21,5%, Tidak aktif +29,9%; Depresi: Aktif berjalan kaki +9,3%, Tidak aktif +13,0%; Cemas: Aktif berjalan kaki +6,9%, Tidak aktif +10,3%; Pikiran ingin mati: Aktif berjalan kaki +6,9%, Tidak aktif +10,4%.Yang cukup berjalan kaki lebih jarang mengeluhPersen penyandang disabilitas dewasa di Korea yang melaporkannyaAktif berjalan kakiTidak aktif10%20%30%40%0Stres21,5%29,9%Depresi9,3%13,0%Cemas6,9%10,3%Pikiran ingin mati6,9%10,4%Aktif: berjalan 150 menit atau lebih per pekan (974 orang; tidak aktif916).
Sumber: Shiva Raj Acharya, Differential relationships between physical activity and mental health among adults with disabilities in Korea, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Namun kedua kelompok itu memang tidak serupa sejak awal. Laki-laki mengisi 59,1 persen kelompok aktif tetapi hanya 52,3 persen kelompok tidak aktif, lulusan pendidikan tinggi 14,4 persen berbanding 8,8 persen, penduduk kota 51,6 persen berbanding 46,2 persen, dan mereka yang bekerja 42,2 persen berbanding 37,9 persen. Acharya mencatat perbedaan bermakna antara status aktivitas fisik dan jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, konsumsi alkohol, serta jenis disabilitas.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Tingkat sedang sudah berarti, tingkat tinggi memberi lebih

Hubungan tersebut lalu dihitung dengan memperhitungkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, rokok, alkohol, jenis disabilitas, hipertensi, obesitas, dan diabetes. Hasilnya, dibandingkan mereka yang kurang berjalan, penyandang disabilitas dengan aktivitas tingkat sedang memiliki rasio peluang 0,55 untuk stres dan 0,62 untuk pikiran ingin mati, sedangkan pada aktivitas tingkat tinggi rasio peluang stres tercatat 0,61.

Depresi menunjukkan pola yang sedikit lain, sebab di sini yang tampak adalah perbedaan antara tingkat sedang dan tingkat tinggi. Aktivitas fisik tingkat tinggi berkaitan dengan peluang depresi 52 persen lebih rendah dibandingkan aktivitas tingkat sedang. Bagi Acharya, temuan itu mendukung adanya hubungan dosis dan respons, yakni makin lama atau makin berat aktivitasnya makin baik kesehatan jiwanya, sementara kaitan aktivitas tingkat sedang dengan stres dan pikiran ingin mati yang lebih rendah mengisyaratkan bahwa aktivitas yang belum optimal pun mungkin sudah memberi manfaat.

“Karena itu, mendorong dan meningkatkan partisipasi dalam program aktivitas fisik yang disesuaikan bagi penyandang disabilitas semestinya menjadi prioritas kesehatan masyarakat untuk meringankan beban gangguan kesehatan jiwa dan menopang kesejahteraan jiwa pada populasi ini,” tulis Shiva Raj Acharya, peneliti Yonsei University College of Medicine, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut Acharya, temuannya juga menyoroti hubungan yang berbeda menurut jenis disabilitas dan kelompok sosiodemografi.

Jenis disabilitas yang berbeda, hasil yang berbeda

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea mengenali 15 jenis disabilitas, dan kajian ini meringkasnya menjadi empat kelompok besar. Ada disabilitas fisik; disabilitas neuropsikologis dan intelektual, yang mencakup lesi otak, epilepsi, gangguan mental, autisme, dan gangguan bicara; disabilitas sensorik, yaitu gangguan penglihatan dan pendengaran; serta disabilitas organ dalam, yang meliputi gangguan ginjal, jantung, hati, pernapasan, saluran kemih, dan reproduksi. Lebih dari separuh peserta, baik di kelompok aktif maupun tidak aktif, tergolong disabilitas fisik.

Pada tiga dari empat kelompok itu, berjalan kaki yang cukup berkaitan dengan keluhan jiwa yang lebih rendah, hanya saja keluhannya berlainan. Penyandang disabilitas fisik yang aktif memiliki rasio peluang 0,38 untuk pikiran ingin mati dibandingkan rekan mereka yang tidak aktif, penyandang disabilitas sensorik yang aktif memiliki peluang stres 51 persen lebih rendah, dan pada penyandang disabilitas organ dalam yang aktif rasio peluang stres tercatat 0,27 serta kecemasan 0,60.

Justru sebaliknya yang terjadi pada kelompok keempat. Pada penyandang disabilitas neuropsikologis dan intelektual, kajian ini tidak menemukan hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan kesehatan jiwa. Acharya mengakui hasil ini berlawanan dengan sejumlah penelitian terdahulu, dan ia menawarkan kemungkinan penjelasan: partisipasi aktivitas fisik yang lebih rendah dan terbatasnya akses ke program yang inklusif pada kelompok ini, di samping perbedaan cara otak menanggapi aktivitas atau hambatan kognitif untuk terlibat di dalamnya.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Usia, pekerjaan, kota, dan penyakit menahun

Kajian ini juga menemukan interaksi yang bermakna dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, serta ada tidaknya hipertensi atau diabetes. Untuk stres, kaitannya lebih kuat pada penduduk kota yang aktif, dengan rasio peluang 0,62, dan pada mereka yang hidup dengan hipertensi, 0,52, atau diabetes, 0,53.

Depresi dan kecemasan mengikuti garis usia dan pekerjaan. Penyandang disabilitas berusia di atas 55 tahun yang aktif memiliki rasio peluang 0,32 untuk depresi dan 0,37 untuk kecemasan, sedangkan pada mereka yang bekerja angkanya 0,26 dan 0,31. Pada peserta laki-laki, kaitan itu paling kuat untuk depresi, dengan rasio peluang 0,29, dan untuk pikiran ingin mati, 0,64, sementara peserta aktif berpendidikan tinggi memiliki peluang depresi 58 persen lebih rendah.

Acharya menimbang beberapa sebab yang mungkin. Pekerjaan, tulisnya, menyumbang kesejahteraan jiwa lewat rutinitas yang teratur, kestabilan keuangan, dan hubungan sosial, dan aktivitas fisik dapat menambah pengaruh itu; penduduk kota mungkin memetik manfaat lebih besar karena akses ke sarana rekreasi, program yang terorganisasi, dan lingkungan berolahraga yang lebih aman. Pendidikan yang lebih tinggi tampak memperbesar manfaat itu, barangkali karena pemahaman kesehatan yang lebih baik.

Namun perbedaan antara laki-laki dan perempuan ia baca dengan dua kemungkinan sekaligus. Laki-laki penyandang disabilitas mungkin menunjukkan peluang depresi dan pikiran ingin mati yang lebih rendah karena perbedaan biologis dalam pengaturan suasana hati dan keterlibatan yang lebih besar dalam olahraga berat atau olahraga bersama. Perempuan, di pihak lain, mungkin menghadapi hambatan sosial dan stigma yang lebih besar, yang membatasi akses mereka ke program aktivitas fisik.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Mengapa berjalan bisa meringankan pikiran

Jalur yang menghubungkan gerak tubuh dan keadaan jiwa diuraikan Acharya dari dua arah. Secara biologis, aktivitas fisik disebutnya meningkatkan kadar faktor neurotropik yang berasal dari otak, memperbaiki kelenturan hipokampus, dan mengatur serotonin serta dopamin, yang semuanya terlibat dalam timbulnya depresi dan kecemasan. Aktivitas fisik juga memengaruhi poros hipotalamus, hipofisis, dan adrenal serta mengurangi peradangan di seluruh tubuh, dua hal yang berperan dalam pengaturan stres.

Arah kedua bersifat psikososial, dan bagi kelompok yang terpinggirkan seperti penyandang disabilitas ia sama pentingnya. Aktivitas fisik membuka kesempatan bertemu orang lain, menumbuhkan keyakinan pada kemampuan diri, dan memperbaiki cara seseorang memandang dirinya. Keikutsertaan di dalamnya, tulis Acharya, juga dapat mengurangi rasa terasing serta memperbaiki rutinitas dan mutu tidur, yang lazim berkaitan dengan gejala cemas dan depresi yang lebih rendah.

Sebuah hubungan, belum sebuah sebab

Semua itu, bagaimanapun, adalah hubungan dan bukan bukti sebab-akibat, dan penulisnya sendiri yang menegaskan batas itu. Data dari tiga tahun survei digabung dan dibaca sebagai potret sesaat, sehingga kajian ini tidak dapat menyimpulkan bahwa berjalan kaki yang menurunkan keluhan jiwa. Keluhan jiwa, hipertensi, dan diabetes juga dicatat dari pengakuan peserta, bukan dari diagnosis klinis, sehingga kekeliruan mengingat atau melaporkan tidak dapat disingkirkan.

Keterbatasan lain menyangkut apa yang tidak terukur. Kajian ini tidak memperhitungkan berat ringannya disabilitas, yang mungkin memengaruhi hasil, dan penyesuaian terhadap keluhan jiwa yang saling berkaitan mungkin membuat perhitungannya berlebihan. Faktor seperti bawaan genetik, pola makan dan tidur, pemakaian obat, lingkungan, serta pengaruh budaya, termasuk stigma kesehatan jiwa dan keterasingan sosial, juga tidak ikut dihitung.

Di dalam batas itu, Acharya menyarankan strategi lintas sektor yang memadukan program kesehatan berpusat pada aktivitas fisik yang disesuaikan, serta pelatihan olahraga adaptif dan teknik latihan inklusif bagi tenaga kesehatan dan instruktur. Program semacam itu, tulisnya, mungkin paling bermanfaat bila diarahkan kepada orang berusia lanjut, mereka yang hidup dengan diabetes atau hipertensi, penduduk kota, dan mereka yang bekerja, dengan tetap menimbang perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Acharya menyimpulkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik dan kesehatan jiwa pada penyandang disabilitas dewasa di Korea, terutama pada disabilitas fisik, sensorik, dan organ dalam. Penelitian klinis berikutnya, tulisnya, perlu menelusuri mekanisme di balik hubungan itu dan mengembangkan program aktivitas fisik yang inklusif dan mudah dijangkau, dengan menimbang kebutuhan tiap kelompok disabilitas yang berlainan.

Bagikan

Baca Juga

Tertular Covid dan Jaga Zona Merah, Nakes Kazakhstan Masih Cemas
Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Penyakit Parasit di Xinjiang Menurun, Belum Terlihat pada Anak
Survei Gigi Jepang Lebih Diminati bila Digelar di Klinik Terdekat
Warga Dekat Kawasan Industri Korea Lebih Sering Sakit Pernapasan
Suami Merantau, Istri Remaja Bangladesh Jarang Memakai KB Modern