- Sebanyak 23.813 kasus echinococcosis dilaporkan di 96 wilayah setingkat county di Xinjiang sepanjang 2005 sampai 2024.
- Angka kasus mencapai puncak 11,07 per 100.000 penduduk pada 2017, setahun setelah pemeriksaan kesehatan gratis diberlakukan.
- Daerah berangka sedang sampai tinggi tersebar di utara, khususnya Ili, Altay, dan Tacheng.
- Pada anak berumur 0 sampai 14 tahun tidak ada perubahan bermakna yang teramati setelah kebijakan berjalan.
- Model prakiraan memperkirakan 1.040 kasus pada 2025 dengan angka bulanan tertinggi pada Maret.
Daftar Isi
Pemeriksaan kesehatan gratis dibuka untuk semua umur di Xinjiang, wilayah penggembalaan luas di barat laut China, dan sesudahnya angka sebuah penyakit parasit justru melonjak ke titik tertinggi dalam dua dasawarsa. Penyakit itu echinococcosis, yang berpindah dari hewan ke manusia. Lonjakan tersebut tidak bertahan lama, sebab pada tahun-tahun berikutnya angkanya menurun, kecuali pada satu kelompok umur.
Pola itu diurai Lingyu Jiang, Liping Zhang, Yang Yang, Kaisar Tursunjiang, Xuehui Cao, Yarikun Maimaitiyiming, Guangzhong Shi, Adili Simayi, Jiangshan Zhao, dan Li Li dalam artikel Spatio-temporal dynamics, trend analysis, and incidence prediction of echinococcosis in Xinjiang, China (2005–2024), yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis berasal dari Xinjiang Medical University dan Xinjiang Uygur Autonomous Region Center for Disease Control and Prevention di Urumqi.
Bahan mereka adalah seluruh kasus yang dilaporkan di 96 wilayah setingkat county di Xinjiang sejak Januari 2005 sampai Desember 2024. Jumlahnya 23.813 kasus, dengan rata-rata 5,48 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun. Dari tumpukan laporan itu mereka menelusuri tiga hal sekaligus: kapan angka berubah arah, di mana penyakit ini berkumpul, dan siapa yang belum ikut merasakan penurunannya.
Dari telur parasit ke hati manusia
Echinococcosis, menurut uraian Jiang dan rekan-rekannya, adalah penyakit parasit zoonotik yang disebabkan tahap larva Echinococcus granulosus. Manusia tertular karena menelan telur parasit dari makanan atau air yang tercemar, atau karena bersentuhan dengan hewan sebangsa anjing yang terinfeksi. Penyakitnya biasanya menahun dan terutama mengenai hati, tetapi dapat pula menyerang organ lain dan berujung pada komplikasi yang berpotensi mematikan.
Di tingkat dunia, para penulis mengutip perkiraan sekitar 19.300 kematian setiap tahun dan kerugian ekonomi lebih dari tiga miliar dolar Amerika Serikat. Organisasi Kesehatan Dunia memasukkannya ke dalam kelompok penyakit tropis terabaikan. China disebut memikul salah satu beban terberat, dengan penyakit yang terpusat di kawasan penggembalaan pada tujuh wilayah setingkat provinsi, termasuk Xinjiang, Qinghai, Tibet, dan Inner Mongolia.
Xinjiang sendiri digambarkan sebagai salah satu kawasan penggembalaan terbesar di China. Peternakannya luas, manusia dan hewan sering bersentuhan, dan keadaan alamnya mendukung penularan parasit. Penduduk tetapnya 26,23 juta jiwa pada akhir 2024. Sejak September 2016, tulis para penulis, program pemeriksaan kesehatan gratis untuk semua kelompok umur di seluruh wilayah itu memperkuat penemuan kasus secara dini.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Angka yang naik ketika pemeriksaan diperluas
Selama lebih dari satu dasawarsa pertama, arah angkanya menanjak pelan. Sejak Januari 2005 sampai Agustus 2016, jumlah kasus bertambah 0,0026 per 100.000 penduduk setiap bulan. Pada 2005 tercatat 1,95 kasus per 100.000 penduduk. Para penulis mencatat bahwa pada rentang 2005 sampai 2017 populasi sapi dan domba di Xinjiang tumbuh rata-rata sekitar 4,5 persen setahun, menurut buku statistik tahunan wilayah itu.
Pertumbuhan ternak yang cepat itu, tulis mereka, mungkin menambah kesulitan mengelola anjing di daerah penggembalaan sehingga risiko penularan tetap terpelihara. Lalu datang September 2016, ketika pemeriksaan kesehatan gratis bagi semua kelompok umur diberlakukan di seluruh wilayah. Pada bulan itu angka kasus naik seketika sebesar 0,2265 per 100.000 penduduk, dan setahun kemudian, pada 2017, mencapai puncaknya di 11,07 kasus per 100.000 penduduk.
Jiang dan rekan-rekannya menulis bahwa puncak 2017 mungkin berkaitan dengan penemuan kasus yang membaik setelah kebijakan tersebut. Cakupan penapisan meluas, sehingga infeksi yang sebelumnya tanpa gejala atau ringan ikut teridentifikasi. Mereka juga menyebut periode 2016 sampai 2017 sebagai masa peralihan ketika angka menggelembung karena penemuan kasus.
Penurunan yang tidak bisa dialamatkan ke satu kebijakan
Sesudah September 2016, arahnya berbalik. Sampai Desember 2024 angka kasus turun 0,0069 per 100.000 penduduk setiap bulan. Pada periode itu, menurut para penulis, investasi pemerintah yang berkelanjutan menopang serangkaian upaya terpadu: pemberian obat cacing rutin pada anjing, vaksinasi ternak, pendidikan kesehatan, dan penapisan aktif di tengah masyarakat.
Para penulis menegaskan bahwa analisis mereka menilai dampak gabungan program pengendalian secara luas, bukan sumbangan khusus pemeriksaan kesehatan gratis. “Mengingat berbagai intervensi berjalan serentak — termasuk pemberian obat cacing pada anjing, vaksinasi ternak, pendidikan kesehatan, dan relokasi pengentasan kemiskinan — pada periode yang sama, mengaitkan penurunan yang teramati dengan satu langkah tertentu tidaklah berdasar,” tulis Jiang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Pandemi sempat mengganggu jalannya program. Antara 2020 dan 2022, kegiatan pengendalian terhambat sebagian karena sumber daya dialihkan untuk menangani COVID-19. Meski begitu, angkanya tetap relatif rendah: 4,16 kasus per 100.000 penduduk pada 2020, lalu 3,72 pada 2021, dan 3,21 pada 2022. Kenaikan tipis baru muncul sesudahnya, yaitu 4,06 pada 2023 dan 4,58 pada 2024.
“Kenaikan kembali ini perlu mendapat perhatian dan mungkin mencerminkan pulihnya surveilans rutin pada masa pascapandemi, bukan kebangkitan penyakit yang sesungguhnya,” tulis para penulis dalam naskah aslinya yang berbahasa Inggris. Mereka tetap menekankan bahwa penapisan dini, pendidikan kesehatan, dan langkah pengendalian terpadu perlu terus dijalankan.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Sabuk di utara, sepanjang lereng Tianshan
Peta penyakit ini tidak merata. Seluruh 96 wilayah melaporkan kasus, tetapi daerah berangka rendah, antara 0,645 dan 3,600 kasus per 100.000 penduduk, terutama berada di Xinjiang selatan, meliputi Hotan, Kashgar, dan beberapa county di Aksu. Sebaliknya, daerah berangka sedang sampai tinggi, antara 14,319 dan 46,003, tersebar di utara, khususnya Ili Kazakh Autonomous Prefecture, Altay, dan Tacheng.
Titik terpadatnya berada di Ili bagian barat dan Changji Hui Autonomous Prefecture bagian timur, yang membentuk dua kawasan inti. Di antara keduanya terbentang daerah berkepadatan sedang sampai tinggi yang menyerupai sabuk di sepanjang lereng utara Pegunungan Tianshan. Para penulis mencatat bahwa bentangan itu bersesuaian erat dengan kawasan penggembalaan di Xinjiang utara, dan mungkin berkaitan dengan kepadatan ternak serta keadaan ekologinya.
Pengelompokan itu juga bertahan dari waktu ke waktu. Dari 108 lokasi yang dipetakan, 19 masuk kelompok berangka tinggi yang dikelilingi tetangga berangka tinggi pula, terpusat di Ili, Altay, dan Tacheng. Sebanyak 45 lokasi berada di kelompok sebaliknya, rendah di antara yang rendah, yang menandai Xinjiang selatan dan timur. Shanshan County di Turpan menjadi satu-satunya daerah rendah yang dikepung tetangga berangka tinggi.
Peta itu juga memuat arah perubahannya. Tidak satu pun titik panas yang menetap, menguat, atau baru muncul ditemukan. Sebelas titik panas yang ada bersifat sporadis, terkumpul di Zhaosu, Tekes, dan Huocheng di Ili bagian barat. Titik dingin jauh lebih banyak, tiga puluh lokasi, dan yang berturut-turut dingin tercatat di Fukang, Jimsar, Qitai, dan Mori di Changji bagian timur.
Laki-laki turun lebih curam, anak-anak belum
Pada laki-laki dan perempuan, arah angkanya serupa: naik lalu turun. Kenaikan seketika pada September 2016 bermakna secara statistik pada laki-laki, tetapi tidak pada perempuan. Sesudah itu keduanya menurun, masing-masing 0,0037 dan 0,0032 kasus per 100.000 penduduk setiap bulan, sehingga penurunan pada laki-laki sedikit lebih besar.
Perbedaan itu, menurut para penulis, mungkin mencerminkan lebih besarnya keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan berisiko tinggi, seperti menggembala, menyembelih, dan menangani hewan, yang memperbesar peluang terpapar. Menurut umur, penurunan terbesar terjadi pada kelompok 15 sampai 44 tahun, yakni 0,0040 per bulan, disusul kelompok 45 tahun ke atas dengan 0,0029 per bulan.
Pada anak berumur 0 sampai 14 tahun, tidak ada perubahan bermakna yang teramati setelah kebijakan berjalan. Jiang dan rekan-rekannya membaca hal itu sebagai petunjuk bahwa risiko penularan pada anak mungkin belum turun sejauh pada orang dewasa. Anak-anak di komunitas penggembalaan, tulis mereka, sering bersentuhan dengan anjing peliharaan dan lingkungan yang tercemar, sedangkan kebiasaan mencuci tangan dan menjaga keamanan makanan kurang terjaga secara ajek.
Penjelasan mereka berikutnya menyangkut cara kerja program itu sendiri. Pemeriksaan kesehatan gratis dapat memperbaiki penemuan dan pengobatan kasus, tetapi tidak secara langsung memutus jalur penularan lewat lingkungan. Karena itu, penurunan pada anak bisa berlangsung lebih lambat daripada pada orang dewasa. Infeksi pada anak, menurut para penulis, dapat menandakan penularan setempat yang masih berlangsung.
Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Prakiraan 2025 dan sinyal peringatan dini
Dari pola bulanan 2018 sampai 2024, para penulis menyusun model prakiraan jangka pendek. Ketika diuji pada 2024, model itu memperkirakan 908 kasus, sedangkan yang benar-benar dilaporkan 1.057 kasus, sehingga perkiraannya lebih rendah 149 kasus atau 14,06 persen. Selisih terbesar jatuh pada September 2024, bulan yang bertepatan dengan musim penggembalaan tradisional selepas musim panas.
Untuk 2025, model yang sama memperkirakan 1.040 kasus, turun 1,61 persen atau 17 kasus dibanding 2024. Puncak musimannya diperkirakan terjadi pada musim semi, dengan angka bulanan tertinggi pada Maret sebanyak 102 kasus. Para penulis mengusulkan satu kegunaan praktis: bila jumlah kasus melampaui batas atas rentang prakiraan, hal itu dapat menjadi sinyal peringatan dini untuk segera menggiatkan pemberian obat cacing pada anjing dan penapisan pada manusia.
Di mana penjelasan ini berhenti
Para penulis membatasi sendiri jangkauan temuan mereka. Seluruh analisis memakai data surveilans yang dijumlahkan per county, sehingga pola yang terlihat menggambarkan penduduk secara keseluruhan dan tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti risiko pada tingkat perorangan. Perubahan kemampuan diagnosis, cara pelaporan, cakupan penapisan, dan keterjangkauan layanan kesehatan selama dua puluh tahun juga mungkin ikut membentuk pola waktu dan tempat yang teramati.
Data tingkat keikutsertaan penapisan menurut umur, tingkat tindak lanjut, dan cakupan obat cacing anjing per county tidak tersedia, sehingga mekanisme di balik tidak turunnya angka pada kelompok 0 sampai 14 tahun belum dapat diperiksa dengan angka. Model prakiraannya juga hanya cocok untuk jangka pendek, dengan galat yang masih besar pada bulan-bulan tertentu.
Dari situ lahir saran mereka. Pendidikan kesehatan berbasis sekolah, pemeriksaan ultrasonografi berkala di komunitas endemis, dan pengelolaan anjing yang berkelanjutan perlu diutamakan. Daerah yang angkanya terus tinggi memerlukan penguatan pemberian obat cacing pada anjing dan praktik penyembelihan yang terstandar, sedangkan county dengan tren menurun cukup mempertahankan pengelolaan rutin dan penapisan aktif.
Dalam simpulannya, para penulis menyatakan echinococcosis di Xinjiang beralih dari naik menjadi turun selama dua dasawarsa terakhir. Simpulan itu juga menyebut pola musiman yang tetap nyata, perbedaan antarwilayah yang besar, dan kelompok rentan, khususnya anak-anak di permukiman perdesaan yang terpencar, yang memerlukan upaya terarah menurut wilayah dan umur.















