- Dari 60 studi yang ditelaah, 42 studi atau 70 persen melaporkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam urusan resistensi antimikroba.
- Sebanyak 27 studi atau 45 persen menyoroti ketergantungan warga pada penjual obat informal.
- Ketiga puluh dokumen negara yang diperiksa, 15 dari Bangladesh dan 15 dari Sri Lanka, seluruhnya dinilai buta gender.
- Di Bangladesh, sekitar 82 persen antibiotik diresepkan berdasarkan dugaan diagnosis dokter dan hanya 18 persen berdasarkan uji kultur dan kepekaan.
- Di sektor peternakan Bangladesh, hanya 11 persen orang memakai resep ketika membeli antibiotik.
Daftar Isi
Resistensi antimikroba, istilah yang terdengar seperti urusan laboratorium, pada dasarnya berarti obat yang dulu menyembuhkan kini tidak lagi mempan. Para penulis sebuah telaah di BMC Public Health merumuskannya begini: bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah seiring waktu lalu berhenti menanggapi obat, sehingga penyakit makin sulit disembuhkan. Antimikroba sendiri mencakup antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit.
Telaah itu ditulis Sneha Paul, Farha Musharrat Noor, Syeda Tahmina Ahmed, Nahitun Naher, Bachera Aktar, Naushalya Rajapaksha, Thiraj Haputhanthri, Sally Theobald, Rosie Steege, Katy Davis, Meenakshi Monga, Sabina Faiz Rashid, dan Syed Masud Ahmed. Artikel mereka, Gender and equity within antimicrobial resistance: a scoping review of evidence and policy in Bangladesh and Sri Lanka, dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Paul dan sebagian besar rekannya bekerja di BRAC James P Grant School of Public Health, BRAC University, Dhaka.
Yang mereka kumpulkan adalah 60 studi terbitan 2014 sampai 2024, sebanyak 38 dari Bangladesh dan 22 dari Sri Lanka, ditambah 30 dokumen negara berupa kebijakan, rencana aksi nasional, pedoman, dan laporan. Pertanyaannya satu: apakah obat yang tak lagi mempan itu menimpa laki-laki dan perempuan dengan cara yang sama. Jawaban singkatnya, tidak.
Kedua negara dipilih karena bebannya berat. Di antara 204 negara, Bangladesh menempati urutan ke-75 dan Sri Lanka urutan ke-58 dalam angka kematian yang berkaitan dengan resistensi antibiotik. Pada 2019, tulis para penulis, 26.000 kematian di Bangladesh dan 2.300 kematian di Sri Lanka disebabkan langsung oleh resistensi antimikroba, sedangkan 98.800 dan 8.800 kematian lain berkaitan dengannya.
Gender, atau peran yang dibentuk masyarakat
Istilah kedua yang perlu diluruskan adalah gender. Mengutip rumusan yang mereka pakai, para penulis menyebut gender sebagai peran, hubungan, dan norma yang dibentuk secara sosial dan dilekatkan suatu budaya kepada laki-laki dan perempuan. Bedanya begini: jenis kelamin menunjuk ciri biologis yang ditetapkan saat lahir, dan dapat berbeda dari identitas gender seseorang.
Dari 60 studi yang ditelaah, 42 studi atau 70 persen melaporkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam urusan resistensi antimikroba. Perbedaan itu menyangkut pengetahuan, sikap, kebiasaan, paparan, dan akses. Sebanyak 27 studi atau 45 persen menyoroti ketergantungan warga pada penjual obat informal. Hampir semua studi, 53 dari 60, memakai pendekatan kuantitatif, dan 47 dari 60 studi itu membahas kesehatan manusia, sementara 13 lainnya menyangkut kesehatan hewan dan lingkungan.
Soal pengetahuan, hasilnya tidak searah. Enam naskah dari Bangladesh melaporkan laki-laki lebih paham konsep dan praktik terkait resistensi antimikroba ketimbang perempuan, terutama di kalangan mahasiswa, tenaga kesehatan hewan, dan orang tua. Studi lain menemukan kebalikannya: karena perempuan yang terutama merawat anak dan anggota keluarga yang sakit, mereka lebih sering datang ke layanan kesehatan dan bercakap dengan petugas, lalu tahu lebih banyak tentang antibiotik.
Pendidikan dan tempat tinggal ikut menentukan. Ibu berpendidikan tinggi 1,14 kali lebih mungkin memperoleh informasi tentang antibiotik dibandingkan ibu berpendidikan dasar, dan perempuan kota lebih mudah menjangkau layanan serta informasi daripada perempuan desa. Di sektor peternakan, peternak perempuan kurang terjangkau kampanye penyadaran, sehingga peternak laki-laki menunjukkan pengetahuan dan praktik yang lebih tepat.
Di Sri Lanka, perempuan yang punya akses internet dan pemilik toko obat setempat memahami antibiotik dan resistensi lebih baik daripada laki-laki, meski di kalangan pelajar tidak terlihat perbedaan. Pemakaian antibiotik tanpa anjuran di negara itu serupa pada kedua gender. Di sana, catat para penulis, tingkat pendidikan lebih berpengaruh daripada gender.
Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Pemakaian tanpa anjuran, atau antibiotik tanpa resep
Frasa “pemakaian yang tidak dianjurkan” dalam telaah ini berarti memakai antibiotik tanpa resep tenaga kesehatan profesional: membeli sendiri di toko obat terdekat, meminum sisa obat lama, atau berhenti sebelum obat habis. Kebiasaan itu, menurut studi-studi dari Bangladesh, ada pada laki-laki maupun perempuan, dan keduanya terutama mengandalkan apotek setempat. Yang berbeda adalah alasannya.
Laki-laki cenderung melakukannya karena pengalaman sebelumnya, pengaruh jejaring sosial, dan rasa akrab dengan obat. Perempuan dituntun norma budaya dan hambatan menjangkau layanan, termasuk kurangnya pengetahuan. Beberapa studi mencatat angka pembelian antibiotik tanpa anjuran tenaga kesehatan, atau pemakaian sisa obat, lebih tinggi pada perempuan, yakni 77 persen, didorong keterbatasan uang, tugas merawat, dan sulitnya akses, terutama selama pandemi COVID-19.
Namun gambaran itu tidak tunggal. Studi lain menyebut pemakaian tanpa anjuran justru lebih menonjol pada laki-laki, karena mereka lebih bebas memutuskan dan leluasa membeli obat tidak sampai tuntas di toko terdekat. Satu studi tidak menemukan kaitan bermakna dengan gender. Para penulis sendiri menyebut hasil pada bagian ini campuran, dengan 13 naskah dari Bangladesh dan empat dari Sri Lanka.
Di Sri Lanka, pemakaian antibiotik tanpa anjuran lazim pada laki-laki maupun perempuan. Di kalangan mahasiswa, angkanya lebih tinggi pada laki-laki, sedangkan perempuan lebih mungkin berhenti minum antibiotik sebelum tuntas. Di sektor peternakan Bangladesh, hanya 11 persen orang memakai resep ketika membeli antibiotik. Laki-laki juga lebih sering membeli obat di toko dibandingkan peternak perempuan.
Otonomi, atau siapa yang memutuskan berobat
Otonomi dalam telaah ini berarti kuasa memutuskan sendiri kapan dan ke mana berobat, termasuk punya uang untuk membayarnya. Di Bangladesh, perempuan sering bergantung pada keluarga atau komunitas untuk keputusan kesehatan, sementara laki-laki lebih leluasa. Untuk Sri Lanka, para penulis tidak menemukan satu studi pun yang mengaitkan kuasa memutuskan, ketergantungan uang, dan akses layanan dengan resistensi antimikroba.
Jejaknya terlihat di toko obat. Di kota, laki-laki dan perempuan datang ke toko obat dalam jumlah hampir sama, tetapi di desa perempuan jauh lebih jarang terlihat. Para penulis membacanya sebagai tanda norma gender, seperti ruang gerak yang dibatasi dan terbatasnya kuasa memutuskan. Keterbatasan itu mendorong perempuan bergantung pada penyedia informal terdekat dan pada uang anggota keluarga.
Di titik inilah satu salah paham dikoreksi. Kalau hanya dilihat dari gender, orang bisa menyimpulkan perempuan lebih sering memakai antibiotik tanpa resep. Menurut para penulis, kecenderungan itu terutama tajam pada perempuan desa berpenghasilan rendah yang ruang gerak dan kemandirian uangnya terbatas. Begitu pula pada laki-laki: pemakaian tanpa anjuran paling menonjol pada mereka yang bekerja di peternakan.
“Gambaran-gambaran ini menunjukkan bahwa gender saja tidak dapat dipakai untuk menjelaskan dinamika resistensi antimikroba tanpa faktor-faktor penentu sosial yang saling berkaitan,” tulis Sneha Paul dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Cara membaca seperti itu mereka sebut lensa interseksional, yaitu melihat gender bersama kemiskinan, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal sekaligus.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Paparan, atau dari mana kuman kebal datang
Paparan berarti jalan seseorang bersentuhan dengan kuman yang sudah kebal, dan jalan itu mengikuti pembagian kerja. Di peternakan unggas komersial, pasar unggas hidup, dan pertanian, laki-laki terpapar lewat kontak sering dengan darah dan kotoran hewan, minimnya alat pelindung dan cuci tangan, serta pemakaian antimikroba yang lebih tinggi. Perempuan terpapar lewat ternak rumahan dan pengasuhan anak.
Di perdesaan, memelihara hewan di dalam ruang tinggal dan mengerjakan banyak hal sekaligus tanpa cuci tangan yang layak tercatat sebagai faktor pendorong. Pengelolaan limbah yang tidak tepat dan pemakaian kotoran unggas sebagai pupuk mencemari lingkungan. Di Sri Lanka, laki-laki juga berisiko lewat peternakan, sedangkan ayah atau pengasuh laki-laki kurang cakap menyiapkan antibiotik sirop anak dibandingkan perempuan.
Tubuh pun ikut berperan. Di Bangladesh, perempuan lebih rentan terkena infeksi saluran kemih, terutama karena saluran kencing yang lebih pendek, kurang gizi, dan kehamilan pertama. Laki-laki berumur 10 sampai 60 tahun lebih mungkin terbukti membawa kuman yang kebal terhadap banyak obat. Pada anak di bawah lima tahun, pola resistensi tidak berbeda menurut gender.
Di Sri Lanka, perempuan hamil, perempuan pascamelahirkan, dan perempuan yang tidak bekerja rentan membawa kuman kebal banyak obat di vagina. Laki-laki di sana lebih rentan terhadap MRSA, yakni bakteri Staphylococcus aureus yang kebal metisilin, meski satu studi tidak menemukan beda bermakna. Para penulis juga mencatat kekosongan bukti tentang buruh perempuan di pabrik garmen Bangladesh.
Resep dugaan dan toko obat sebagai pintu pertama
Resep pun tidak selalu berangkat dari uji laboratorium. Di Bangladesh, sekitar 82 persen antibiotik diresepkan berdasarkan dugaan diagnosis dokter dan hanya 18 persen berdasarkan uji kultur dan kepekaan. Tenaga kesehatan lebih sering meresepkan antibiotik kepada laki-laki daripada perempuan. Di toko obat, perempuan lebih mungkin menunjukkan resep ketika membeli antibiotik, sedangkan laki-laki lebih sering membeli tanpa resep.
Toko obat, yang dalam telaah ini disebut apotek tanpa izin, menjadi penjaga gerbang utama antara dokter dan pasien. Sebagian penjual merasa terpaksa menjual antibiotik tanpa resep karena permintaan pelanggan dan takut kehilangan pembeli serta pendapatan. Sebagian lain, karena kurang pengetahuan, yakin bahwa mematuhi aturan penjualan antibiotik bukan tanggung jawab mereka.
Penjual informal itu, catat para penulis, sering menjadi titik layanan pertama, khususnya bagi perempuan yang ruang geraknya terbatas, yang memikul tugas merawat, dan yang bergantung secara keuangan. Bagi buruh harian di Bangladesh, waktu ikut menentukan: mereka tidak sanggup kehilangan upah karena antrean panjang di klinik. Batasan budaya juga membuat sedikit perempuan menjadi apoteker.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Buta gender, atau aturan yang memperlakukan semua orang sama
Istilah terakhir datang dari skala penilaian WHO yang membagi dokumen ke lima tingkat, dari yang memperkuat ketimpangan sampai yang membongkar akar ketimpangan. “Buta gender” berarti dokumen mengabaikan norma dan peran gender serta pembagian sumber daya bagi laki-laki dan perempuan. Kebanyakan dokumen, tulis para penulis, memperlakukan semua orang sama atas dasar prinsip adil.
Ketiga puluh dokumen negara yang diperiksa, 15 dari Bangladesh dan 15 dari Sri Lanka, seluruhnya dinilai buta gender. Dari 30 dokumen itu, 22 membahas resistensi antimikroba, yakni 12 dari Bangladesh dan 10 dari Sri Lanka. Tak satu pun memuat tindakan atau indikator yang berfokus pada gender dan kesetaraan, tanpa ketentuan data terpilah menurut gender dan tanpa pesan yang dibedakan bagi perempuan, laki-laki, atau pengasuh.
Contohnya disebut satu per satu. Undang-undang obat dan kosmetik Bangladesh 2023, kebijakan obat nasional 2016, dan strategi surveilans 2020 sampai 2025 tidak memberi tekanan kuat pada penjual obat informal. Rencana strategis Sri Lanka 2023 sampai 2028 dan pedoman antimikroba 2024 juga tidak merincinya. Aturan-aturan itu mendorong pemakaian antibiotik yang rasional dan penjualan berbasis resep, tanpa mengenali sisi gendernya.
Undang-undang yang diperketat saja, menurut para penulis, tidak akan cukup. Mereka merujuk bukti dari Meksiko bahwa penegakan hukum semata tidak menghentikan penjualan obat tanpa resep bila akar hambatannya tidak disentuh. Di Bangladesh larangan itu sudah ada, tetapi penghasilan rendah, kedekatan dengan penjual, antrean panjang, dan jauhnya layanan tetap mendorong orang ke toko obat.
Telaah ini punya batas yang diakui penulisnya. Data resistensi yang dipilah menurut gender masih langka, dan studi yang masuk hanya mengenal dua kategori gender, tanpa kelompok LGBTQIA+, penyandang disabilitas, atau buruh pabrik. Hanya naskah berbahasa Inggris dan berakses terbuka yang ditelaah, akses ke sebagian pangkalan data terbatas, dan sebagian kebijakan tidak tersedia daring.
Saran mereka mengikuti peta paparan tadi: langkah biosekuriti bagi laki-laki di pertanian, peternakan unggas, dan perikanan budi daya, kampanye penyadaran bagi perempuan tentang keselamatan saat merawat, serta akses layanan yang lebih dekat dan terjangkau bagi perempuan. Sistem surveilans, tulis mereka, perlu memuat indikator gender dan kesetaraan. Mereka juga meminta aturan bagi penjual obat setempat dan perusahaan farmasi diperkuat, dan upaya itu mencakup pula kesehatan hewan serta lingkungan.















