- Gabungan sebelas studi mencatat 24 persen dari 11.249 tenaga kesehatan di Arab Saudi memiliki infeksi tuberkulosis laten.
- Di rumah sakit tersier angka gabungannya 33,5 persen, sedangkan di fasilitas non-tersier 13,6 persen.
- Perawat punya peluang 1,40 kali lebih besar untuk tercatat memiliki TBC laten dibandingkan teknisi.
- Tenaga kesehatan non-Saudi punya peluang 3,2 kali lebih besar daripada rekan berkewarganegaraan Saudi.
- Kedua tes membaca ingatan sistem kekebalan terhadap kuman, bukan keberadaan kuman yang masih hidup.
Daftar Isi
Arab Saudi tergolong negara dengan beban tuberkulosis yang rendah. Namun di rumah sakit dan klinik negeri itu, hasil tes pada banyak dokter, perawat, dan teknisi menunjukkan bahwa tubuh mereka pernah bertemu kuman tuberkulosis. Mereka tidak sakit dan tidak menularkan apa pun. Kuman itu, kalau memang masih ada, hanya diam di dalam tubuh orang yang sehari-hari merawat orang lain.
Keadaan itu dihimpun oleh Yousef N. Alanazi, Afnan M. Alotaibi, Alaa Saeed Bahakam, Batool Awad Leslom, Raghad Ahmed Al Juhani, Abdalazez Mohammed Altayyar, Ahmad Yahya Alsayed, dan Mohsenah Jaber Alfaifi dalam artikel Prevalence of latent tuberculosis infection among healthcare workers in Saudi Arabia: a systematic review and meta-analysis. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Alanazi bekerja di Faculty of Medical Laboratory Technology, Northern Borders University, Arar.
Delapan penulis itu menggabungkan sebelas studi yang terbit antara 2003 dan 2024, dengan total 11.249 tenaga kesehatan di berbagai fasilitas di Arab Saudi. Angka gabungannya 24 persen tercatat memiliki infeksi tuberkulosis laten. Menurut para penulis, ini adalah rangkuman menyeluruh pertama tentang persoalan tersebut di negara itu.
Cara Kuman Tinggal Tanpa Gejala
Tuberkulosis, atau TBC, hadir dalam dua rupa. Yang pertama adalah TBC aktif, yang bergejala dan menular. Yang kedua adalah infeksi laten: orangnya sudah terinfeksi, tetapi tidak merasakan gejala dan tidak menularkan kuman kepada orang lain. Bentuk kedua inilah yang dihitung dalam sebelas studi tadi, bukan TBC aktif.
Diam bukan berarti selesai. Infeksi laten bisa aktif kembali seiring waktu, dan risikonya naik pada orang yang daya tahan tubuhnya ditekan, misalnya karena infeksi HIV, terapi kortikosteroid, kurang gizi, atau gagal ginjal tahap akhir. Karena itu, perubahan dari laten ke aktif yang tidak terdeteksi menjadi risiko bagi tenaga kesehatan sekaligus bagi pasien yang mereka rawat.
Kuman ini berpindah lewat partikel di udara yang dikeluarkan penderita TBC paru aktif. Di rumah sakit, peluang menghirupnya datang dari kontak dekat dan berulang dengan pasien yang belum terdiagnosis, dari tindakan seperti bronkoskopi, intubasi, dan pengisapan lendir, dari pekerjaan laboratorium dengan biakan kuman hidup, serta dari ruang rawat dan ruang tunggu yang ventilasinya kurang. Paparan berulang seperti itu, tulis para penulis, tidak mempercepat kambuhnya infeksi lama, tetapi menambah risiko infeksi baru.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Sebelas Studi dengan Angka yang Berjauhan
Angka 24 persen itu lahir dari studi-studi yang hasilnya tidak seragam. Sebuah rumah sakit perawatan sekunder di Najran mencatat 4,2 persen. Studi di beberapa rumah sakit non-tersier di Madinah mencatat 10,8 persen, dan studi pada perawat di area kritis sebuah rumah sakit akademik di Riyadh mencatat 34,5 persen. Di ujung lain, studi tahun 2003 di klinik King Abdulaziz University Hospital, Jeddah, melaporkan 78,9 persen.
Satu studi yang sangat tinggi itu ikut menarik angka gabungan ke atas. Ketika ia dikeluarkan dari hitungan, angka gabungan turun dari 24 menjadi 19 persen. Arah temuannya tidak berubah, sehingga para penulis menilai hasil keseluruhan tidak ditentukan oleh satu studi saja. Meski begitu, keragaman antarstudi tetap tinggi.
Para penulis lalu menaruh angka itu di antara negara lain. Ia lebih rendah daripada yang dilaporkan pada tenaga kesehatan di negara berbeban TBC tinggi seperti Iran, 47,8 persen, dan Mesir, 44,9 persen. Namun ia jauh lebih tinggi daripada di Uni Emirat Arab, 1 persen, dan Qatar, 6,9 persen. Perbandingan ini, kata mereka, harus dibaca hati-hati karena cara tes, rancangan studi, dan susunan tenaga kerjanya berbeda.
Rumah Sakit Rujukan Mencatat Lebih Banyak
Jenis rumah sakit ikut membedakan hasil. Di rumah sakit tersier, angka gabungan TBC laten pada tenaga kesehatan mencapai 33,5 persen. Di fasilitas non-tersier angkanya 13,6 persen. Selisih antara dua kelompok itu bermakna secara statistik, walau keragaman di dalam masing-masing kelompok juga besar.
Penjelasan yang ditawarkan para penulis adalah paparan kerja yang lebih besar di rumah sakit tersier. Persoalannya, penjelasan itu tidak bisa mereka uji. Studi-studi yang digabungkan tidak memuat data jumlah pasien, ragam kasus, tindakan yang menghasilkan percikan halus ke udara, atau praktik pengendalian infeksi di tiap tempat. Pengelompokan rumah sakit pun hanya bersandar pada keterangan yang tersedia di tiap studi.
Perawat, Dokter, Teknisi, dan Usia
Di antara tiga profesi yang dibandingkan, hanya satu pasangan yang menunjukkan perbedaan nyata. Perawat punya peluang 1,40 kali lebih besar untuk tercatat memiliki TBC laten dibandingkan teknisi, menurut lima studi. Para penulis menyebut hal itu sejalan dengan kontak perawat dengan pasien yang lebih sering dan lebih lama, terutama di bangsal.
Antara dokter dan perawat, enam studi tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Begitu pula antara dokter dan teknisi dalam lima studi. Yang membuatnya rumit, risiko kerja tampaknya lebih ditentukan oleh unit tempat seseorang ditugaskan daripada oleh nama jabatannya. Mereka yang bekerja di unit paru dan penyakit infeksi menghadapi paparan yang jauh lebih besar daripada yang bekerja di unit nonklinis atau diagnostik.
Jenis kelamin tidak membedakan apa-apa. Sembilan studi yang memisahkan laki-laki dan perempuan menghasilkan perbandingan peluang 1,01, nyaris sama persis. Para penulis mengaitkannya dengan susunan tenaga kerja di Arab Saudi, tempat profesi perawat juga diisi banyak laki-laki. Perbedaan yang terlihat, menurut mereka, digerakkan oleh paparan kerja, bukan oleh kerentanan biologis.
Usia menunjukkan pola menanjak. Pada tenaga kesehatan di bawah 30 tahun angka gabungannya 16 persen, pada usia 30 sampai 49 tahun 18 persen, dan pada usia 50 tahun ke atas 26 persen. Para penulis menyebutnya kemungkinan kenaikan seiring usia, tetapi mereka tidak melakukan uji khusus untuk memastikan tren itu.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Selisih antara Staf Saudi dan Non-Saudi
Perbedaan paling tajam muncul pada kewarganegaraan. Rumah sakit Arab Saudi mempekerjakan tenaga dari banyak negara, dan di sejumlah studi staf non-Saudi mencapai lebih dari delapan puluh persen peserta. Dari sembilan studi, tenaga kesehatan non-Saudi punya peluang 3,2 kali lebih besar untuk tercatat memiliki TBC laten daripada rekan mereka yang berkewarganegaraan Saudi.
Ada beberapa kemungkinan penjelasan yang bisa berlaku bersamaan. Paparan bisa terjadi sebelum seseorang pindah ke Arab Saudi, bisa terjadi di luar pekerjaan selama tinggal di sana, bisa berbeda menurut unit tempat bekerja, atau bisa pula berasal dari hasil tes kulit yang keliru pada orang yang pernah divaksin BCG. Tidak satu pun bisa dipastikan.
Sebabnya ada pada data. Studi-studi itu hanya mencatat peserta sebagai Saudi atau non-Saudi, tanpa negara asal, status vaksinasi BCG, kondisi tempat tinggal, atau pembagian unit kerja menurut kewarganegaraan. “Prevalensi TBC laten yang lebih tinggi pada tenaga kesehatan non-Saudi karena itu harus dilaporkan sebagai pengamatan, bukan dijelaskan, dan implikasi kebijakan yang ditarik dari hubungan ini harus sama berhati-hatinya,” tulis Yousef N. Alanazi, peneliti Northern Borders University, bersama tujuh rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Yang Sebenarnya Ditangkap oleh Tes
Untuk memahami batas angka-angka itu, perlu dilihat bagaimana TBC laten dikenali. Ada dua alat yang lazim dipakai, yakni tes kulit tuberkulin dan tes pelepasan interferon-gamma yang disingkat IGRA. Delapan dari sebelas studi memakai tes kulit sebagai alat utama, sedangkan tiga lainnya memakai IGRA.
Tes kulit bisa memberi hasil positif palsu pada orang yang pernah menerima vaksin BCG, dan tidak ada studi yang secara konsisten memperhitungkan status vaksinasi itu. Ini penting di tempat kerja yang stafnya datang dari negara dengan kebijakan BCG berlainan. Para penulis menyebut ketidakmampuan memisahkan hasil menurut jenis tes sebagai keterbatasan utama tinjauan mereka.
Ada batas yang lebih mendasar lagi, dan berlaku bagi kedua tes. Keduanya membaca ingatan sistem kekebalan terhadap kuman, bukan keberadaan kuman yang masih hidup. Hasil positif tidak bisa membedakan infeksi laten yang menetap, infeksi lama yang sudah sembuh, atau infeksi yang sudah pernah diobati. Karena itu, angka dalam tinjauan ini lebih tepat dibaca sebagai bukti kekebalan bahwa seseorang pernah terpapar, bukan bukti infeksi yang sedang berlangsung.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Mengapa Angkanya Tidak Bisa Diringkas Jadi Satu
Keragaman antarstudi dalam tinjauan ini luar biasa tinggi. Artinya, sebelas studi itu kemungkinan besar tidak sedang mengukur satu angka yang sama. Para penulis mencoba mencari sumbernya pada tahun terbit, jenis tes, dan porsi peserta non-Saudi, tetapi tidak satu pun dari ketiganya menjelaskan perbedaan itu secara bermakna.
Cara rumah sakit memeriksa stafnya ikut menyumbang. Arab Saudi belum punya kebijakan nasional tunggal untuk tes rutin tenaga kesehatan. Kebanyakan lembaga memakai tes kulit saat penerimaan pegawai, lalu memakai IGRA secara terbatas, terutama pada staf yang pernah divaksin BCG. Pemeriksaan ulang berkala tidak dijalankan secara konsisten dan sering hanya berlaku di unit berisiko tinggi atau setelah terjadi paparan.
Dari situ para penulis menarik simpulan yang menahan diri. Data yang ada, tulis mereka, tidak mendukung anjuran pemeriksaan berdasarkan kewarganegaraan. Temuan ini hanya menopang pembahasan yang hati-hati tentang strategi pemeriksaan yang seragam bagi tenaga kesehatan. Data TBC aktif pada tenaga kesehatan juga sangat sedikit, sehingga perjalanan dari laten ke aktif tidak bisa dinilai.
Yang mereka minta untuk penelitian berikutnya adalah studi yang mengikuti tenaga kesehatan dari waktu ke waktu dan mencatat negara asal, status BCG, unit kerja, serta hasil tes berulang. Menurut mereka, itulah keterangan yang paling mungkin memperjelas penentu risiko TBC laten pada tenaga kesehatan di Arab Saudi. Dari data yang ada sekarang, asal perbedaan angka itu belum bisa dijelaskan.














