- Di desa, yang menjawab ya 26,55 persen, kira-kira satu dari empat.
- Harta rumah tangga sendirian menyumbang 45,75 persen.
- Kepemilikan ponsel oleh rumah tangga menjadi penyumbang terbesar kedua, 27,28 persen dari selisih desa dan kota.
- Penyumbang ketiga adalah pendidikan perempuan, 21,61 persen.
- Sisa selisih itu, 14,66 persen, tidak terjelaskan oleh faktor yang diamati.
Daftar Isi
- Satu dari empat perempuan desa pernah berinternet, di kota lebih dari separuh
- Di rumah tangga termiskin, selisih desa dan kota tinggal 1,37 poin
- Ponsel keluarga yang lebih dulu sampai ke tangan laki-laki
- Bangku sekolah, bahasa Inggris dan Hindi, serta kelas tanpa komputer
- Bagian 14,66 persen yang belum terjelaskan dan batas sebuah survei
Sebuah ponsel di rumah pedesaan India belum tentu membuka jalan ke internet. Bisa jadi ia bukan ponsel pintar. Bisa jadi pula ia dipakai bersama anggota keluarga lain, yang kebanyakan laki-laki. Tanpa perangkat berinternet di tangan sendiri, perempuan di rumah itu lebih kecil kemungkinannya memakai internet.
Gambaran itu ditulis Tamal Basu Roy, Priya Das, dan Subhadeep Saha dalam artikel Rural-urban divide in internet usage among the women of reproductive age group: A non-linear Fairlie decomposition analysis in Indian context, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Roy adalah asisten profesor geografi di Department of Geography, Raiganj University, Uttar Dinajpur, West Bengal. Das dan Saha peneliti doktoral di departemen yang sama.
Ketiganya menimbang jawaban 105.373 perempuan India berusia 15 sampai 49 tahun atas satu pertanyaan: pernahkah memakai internet. Di desa, yang menjawab ya 26,55 persen, kira-kira satu dari empat. Di kota 52,27 persen, lebih dari separuh. Selisihnya 25,72 poin persentase. Lalu mereka mengurai selisih itu, faktor demi faktor, dan yang paling besar ternyata harta rumah tangga.
Satu dari empat perempuan desa pernah berinternet, di kota lebih dari separuh
Jawaban itu berasal dari National Family Health Survey putaran kelima, survei nasional India yang berlangsung pada 2019 sampai 2021. Dari seluruh perempuan yang ditimbang, 79.012 tinggal di desa dan 26.361 di kota. Kebanyakan berusia 15 sampai 29 tahun, baik di desa maupun di kota.
Sejak halaman awal, para penulis menaruh angka itu dalam gambar yang lebih lebar. Menurut laporan survei yang sama, sekitar 51 persen laki-laki India memakai internet, sedangkan perempuan 33 persen. Di pedesaan jaraknya lebih kentara. Hanya 25 persen perempuan desa yang memakai internet, dibanding 43 persen laki-laki desa.
Peta negara bagian memperlihatkan jurang yang tidak rata. Selisih desa dan kota paling lebar tercatat di Meghalaya, 34,03 persen. West Bengal menyusul dengan 32,58 persen, lalu Mizoram 32,34 persen dan Jharkhand 32,17 persen. Di ujung lain ada Kerala dengan selisih 7,39 persen, kemudian Goa 9,8 persen.
Usia ikut membelah. Di antara perempuan berumur 15 sampai 29 tahun, 36,53 persen di desa pernah berinternet, sedangkan di kota 62,71 persen. Pada kelompok 40 sampai 49 tahun angkanya merosot menjadi 9,09 persen di desa dan 32,81 persen di kota. Dilihat per wilayah, selisih terbesar ada di timur laut, 27,97 persen, dan yang relatif rendah di utara, 23,1 persen.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Di rumah tangga termiskin, selisih desa dan kota tinggal 1,37 poin
Lalu harta keluarga masuk hitungan. Kemiskinan di India lebih banyak berdiam di desa: 26,2 persen rumah tangga desa berada di lapisan termiskin, sedangkan di kota 2,93 persen. Lapisan terkaya berbalik arah. Sebanyak 41,41 persen rumah tangga kota ada di sana, berbanding 8,66 persen di desa.
Begitu perempuan dibandingkan dengan sesamanya di lapisan yang sama, jarak desa dan kota berubah rupa. Di keluarga termiskin, 10,29 persen perempuan desa pernah berinternet dan di kota 11,66 persen. Selisihnya 1,37 poin. Di keluarga terkaya angkanya 60,07 persen dan 72,03 persen, dengan selisih 11,96 poin. Di mana pun tinggalnya, perempuan dari keluarga berada jauh lebih banyak yang berinternet.
Penguraian itu memberi angka pada kesan tadi. Dari seluruh selisih desa dan kota, 85,34 persen dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang diamati. Harta rumah tangga sendirian menyumbang 45,75 persen. Para penulis menyebutnya penyumbang utama, dan menulis bahwa beda pemakaian internet antara desa dan kota sebagian besar dapat dikaitkan dengan lapisan kekayaan itu.
Mereka lalu menjelaskan jalannya. Rumah tangga kota umumnya lebih berada, dan kekayaan memudahkan akses ke ponsel pintar, komputer, laptop, dan gawai lain. Rumah tangga desa, terutama yang paling miskin, mungkin tidak memiliki perangkat itu. Kebanyakan rumah tangga desa, tulis mereka, tidak punya listrik yang stabil, dan inverter berada di luar jangkauan.
Di titik inilah naskah itu berhenti pada satu kalimat pendek. “Selain itu, biaya tetap menjadi penghalang bahkan ketika infrastruktur sudah tersedia,” tulis Roy, Das, dan Saha dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mayoritas keluarga miskin dan berpenghasilan rendah di pedesaan India, lanjut mereka, tidak sanggup membayar paket data yang mahal.
Harta tidak bekerja sendirian. Di daerah pedesaan dan berpenghasilan rendah, menurut para penulis, norma keluarga patriarkal umumnya lebih kuat dan membatasi gerak serta akses internet perempuan. Perempuan desa yang miskin biasanya mengerjakan pekerjaan rumah tak berbayar atau kerja informal. Perempuan kota dari keluarga berada lebih banyak terlibat dalam kegiatan ekonomi, yang melahirkan kebutuhan nyata akan internet.
Ponsel keluarga yang lebih dulu sampai ke tangan laki-laki
Kembali ke ponsel di rumah desa itu. Kepemilikan ponsel oleh rumah tangga menjadi penyumbang terbesar kedua, 27,28 persen dari selisih desa dan kota. Di desa, 49,55 persen perempuan tinggal di rumah tangga yang memiliki ponsel. Di kota 68,68 persen.
Ada atau tidaknya ponsel di rumah mengubah angka dengan tajam. Di rumah tanpa ponsel, hanya 9,4 persen perempuan desa dan 20,35 persen perempuan kota yang pernah berinternet. Di rumah yang punya ponsel, angkanya 44,45 persen di desa dan 66,14 persen di kota. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang perempuan di rumah berponsel untuk berinternet tercatat 7,19 kali peluang perempuan di rumah tanpa ponsel.
Para penulis menulis bahwa pemakaian ponsel kurang lazim di desa. Kepemilikan dan pemakaian ponsel oleh perempuan di sana kadang masih dipandang miring dan tidak didorong, yang mereka kaitkan dengan pendidikan rendah dan norma keluarga patriarkal. Perempuan desa yang miskin terus berhadapan dengan keterbatasan uang, sehingga rumah tangga bisa mendahulukan kepemilikan ponsel untuk keperluan kerja laki-laki saja.
Di kota ceritanya lain. Rumah tangga kota umumnya berasal dari kelompok berpenghasilan lebih tinggi, sehingga perempuan dapat memiliki ponsel pintar untuk dipakai sendiri. Naskah itu membaca pola tersebut sebagai urusan norma sosial dan hubungan kuasa di dalam rumah, yang ikut menentukan cara perempuan bersentuhan dengan teknologi digital.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Bangku sekolah, bahasa Inggris dan Hindi, serta kelas tanpa komputer
Penyumbang ketiga adalah pendidikan perempuan, 21,61 persen. Di kota, 25,13 persen perempuan berpendidikan tinggi, lebih dari dua kali bagian di desa yang 10,22 persen. Jejaknya terlihat pada internet. Di antara perempuan tanpa pendidikan, hanya 4,37 persen di desa dan 9,18 persen di kota yang pernah berinternet.
Pada perempuan berpendidikan tinggi angkanya melonjak menjadi 75,8 persen di desa dan 88,63 persen di kota. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang mereka berinternet tercatat 14,06 kali peluang perempuan tanpa pendidikan. Menurut para penulis, pendidikan berpengaruh besar pada akses digital, kemampuan, dan rasa percaya diri memakai teknologi.
Bahasa ikut menjadi pagar. Isi digital berbahasa daerah memang bertambah beberapa tahun terakhir, tulis mereka, tetapi sebagian besar informasi daring tentang pendidikan, administrasi, dan kesehatan masih terpusat dalam bahasa Inggris dan Hindi. Perempuan berpendidikan lebih tinggi lebih mungkin menguasai kedua bahasa itu. Perempuan berpendidikan rendah, terutama di desa, bisa terhalang bahasa dan pemahaman.
Sekolah pun tidak memberi bekal yang sama. Lembaga pendidikan di kota lebih mungkin memasukkan teknologi informasi dan komunikasi ke dalam pelajaran, sehingga murid langsung mencobanya. Banyak sekolah desa masih kekurangan komputer dan sambungan internet. Keadaan itu, menurut naskah, dapat membatasi perkenalan dini anak perempuan dengan dunia digital.
Faktor lain menyumbang jauh lebih kecil. Kepemilikan rekening bank 4,47 persen, status perkawinan 2,64 persen, jumlah anggota rumah tangga 1,65 persen, dan agama 1,11 persen. Dua faktor justru tercatat menyempitkan jurang, yaitu usia perempuan dan kasta. Setelah semua faktor itu diperhitungkan, peluang perempuan kota berinternet masih 1,34 kali peluang perempuan desa.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Bagian 14,66 persen yang belum terjelaskan dan batas sebuah survei
Sisa selisih itu, 14,66 persen, tidak terjelaskan oleh faktor yang diamati. Para penulis mencatatnya sebagai keterbatasan pertama. Mungkin ada faktor lain yang belum dikenali, tulis mereka, dan hal itu perlu ditelusuri penelitian berikutnya. Pertanyaan surveinya sendiri hanya punya dua jawaban, ya atau tidak. Seberapa sering, untuk apa, dan seberapa dalam seorang perempuan memakai internet tidak terekam. Jawaban itu juga dilaporkan sendiri oleh responden, sehingga bisa terpengaruh ingatan dan keinginan memberi jawaban yang dianggap pantas.
Keterbatasan lain mereka sebut satu per satu. Data survei itu diambil pada satu kurun waktu, sehingga hubungan sebab-akibat antara tiap faktor dan pemakaian internet tidak dapat ditetapkan. Kecakapan digital, mutu sambungan, dinamika di dalam rumah tangga, dan ketersediaan infrastruktur setempat tidak tercatat dalam data. Keyakinan pribadi, kebiasaan, serta norma sosial dan budaya juga luput.
Dari hasil itu para penulis menoleh ke kebijakan. Digital India Mission dan BharatNet Project, tulis mereka, telah memperbaiki konektivitas. Namun pendidikan perempuan, kecakapan digital, dan keterjangkauan biaya tetap perlu digarap secara khusus agar perempuan desa dapat memakai internet secara bermakna. “Kebijakan harus melampaui perbaikan konektivitas dan secara aktif membongkar hambatan sosial dan ekonomi yang menghalangi partisipasi digital perempuan, di mana pun mereka tinggal,” tulis ketiganya. Hambatan sosial-budaya, menurut mereka, sama pentingnya untuk ditangani.
Naskah itu juga kembali ke benda yang sama dengan pembukanya. Untuk menjembatani jurang digital gender di India masa kini, tulis Roy, Das, dan Saha, kepemilikan ponsel perlu ada di semua rumah tangga desa. Mereka menambahkan satu syarat: setiap perempuan memiliki ponsel sendiri dan akses langsung ke internet.















