- Proporsi fatalitas kasus gabungan radang otak Jepang pada pasien anak di India tercatat 18 persen.
- Anak-anak mencakup 23 persen kasus yang dipastikan lewat laboratorium, bukan 23 persen dari seluruh anak India.
- Demam muncul pada 90 sampai 100 persen kasus, disertai penurunan kesadaran dan kejang.
- Cakupan vaksin dosis pertama sering melampaui 95 persen, sedangkan dosis kedua berkisar 81 sampai 88 persen.
- Kebanyakan studi berbasis rumah sakit atau distrik endemis sehingga tidak mewakili seluruh India.
Daftar Isi
- Radang otak Jepang, infeksi virus yang diantar nyamuk
- Proporsi gabungan, satu angka dari tiga puluh enam studi
- Proporsi fatalitas kasus, berapa pasien yang tidak tertolong
- Gejala dan gejala sisa, dari ruang rawat sampai sesudah selamat
- Cakupan vaksin, dosis kedua yang tertinggal dari dosis pertama
- Heterogenitas, tanda bahwa hasil antarstudi sangat beragam
Proporsi fatalitas kasus, istilah yang terdengar dingin itu, sebenarnya menjawab pertanyaan yang sangat sederhana: dari anak-anak yang sudah dipastikan sakit, berapa yang akhirnya meninggal. Untuk radang otak Jepang pada anak di India, jawabannya 18 persen. Para penelitinya sendiri membahasakan angka itu sebagai hampir satu dari lima pasien anak yang terdiagnosis.
Angka tersebut dihitung N. Siva, Krishna Kumari Samantaray, Pravati Tripathy, Baby S Nayak, Deena Sivakumar, Preethy D’Souza, dan Ramesh Chandrababu dalam artikel Japanese encephalitis among children in India: proportion of cases, case fatality, and epidemiological patterns - a systematic review and meta-analysis. Tulisan mereka terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulis berasal dari departemen keperawatan, antara lain di SUM Nursing College, Bhubaneswar, Odisha.
Radang otak Jepang adalah padanan sehari-hari untuk Japanese encephalitis, yang dalam naskah disingkat JE. Maksudnya, infeksi virus pada susunan saraf pusat yang dibawa nyamuk, terutama jenis Culex tritaeniorhynchus. Naskah itu menyebutnya salah satu penyebab utama radang otak akibat virus di Asia, dengan beban sakit dan kematian yang besar pada anak di daerah endemis.
Radang otak Jepang, infeksi virus yang diantar nyamuk
Ukurannya di tingkat dunia dicatat para penulis di bagian awal naskah. Setiap tahun diperkirakan terjadi 68.000 kasus klinis. Antara 20 dan 30 persen penderitanya meninggal. Dari yang selamat, 30 sampai 50 persen membawa gejala sisa jangka panjang pada saraf atau kejiwaan.
India menanggung bagian yang tidak kecil, kira-kira 15 sampai 20 persen kasus yang dilaporkan tiap tahun. Penularannya di sana dibentuk oleh lingkungan: sawah padi, peternakan babi, pola permukiman desa, genangan musim hujan tempat nyamuk berbiak, dan iklim yang berubah-ubah. Puncaknya biasanya datang pada bulan-bulan monsun dan sesudahnya.
Mengapa anak yang paling kena? Naskah itu memberi alasan yang mudah dibayangkan. Orang dewasa di daerah endemis sering sudah memperoleh kekebalan sebagian lewat infeksi yang tidak bergejala. Anak di bawah 15 tahun belum punya bekal itu, sehingga merekalah yang terdampak secara tidak sebanding.
Wabah berulang tercatat di banyak negara bagian, di antaranya Uttar Pradesh, Assam, Bihar, Odisha, West Bengal, Tamil Nadu, dan Karnataka. Padahal vaksin yang aman dan efektif tersedia, dan India punya program nasional khusus untuk mencegah serta mengendalikan penyakit ini. Di sejumlah distrik endemis, tulis para penulis, radang otak Jepang tetap bertahan.
Baca juga Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet
Proporsi gabungan, satu angka dari tiga puluh enam studi
Istilah kedua yang perlu diterjemahkan adalah proporsi gabungan, atau pooled proportion. Maksudnya, hasil banyak penelitian yang terpisah dilebur menjadi satu angka. Di sini bahannya 36 studi terbitan 2011 sampai Agustus 2025, dengan 69.905 peserta berusia 0 sampai 19 tahun, terdiri atas 41.457 laki-laki dan 28.448 perempuan.
Studi-studi itu berasal dari 15 negara bagian. Uttar Pradesh menyumbang tujuh, West Bengal enam, Assam lima, dan Bihar empat. Dilihat dari kawasannya, 32 studi datang dari India utara dan timur laut, sedangkan India selatan hanya diwakili empat studi.
Angka gabungan pertama menyangkut porsi anak. Dari 30 studi yang bisa dilebur, anak-anak mencakup 23 persen kasus radang otak Jepang yang dipastikan lewat laboratorium. Rentang kepercayaannya lebar, dari 15 sampai 34 persen.
Di titik inilah salah paham paling mudah terjadi. Angka 23 persen itu bukan berarti hampir seperempat anak India terkena radang otak Jepang. Bedanya begini: yang dihitung adalah porsi anak di dalam kelompok pasien yang tercatat di rumah sakit atau di sistem pemantauan sindrom radang otak akut, kebanyakan di wilayah dengan penularan tinggi.
Para penulis sendiri memagari angkanya. “Angka itu tidak mencerminkan prevalensi tingkat populasi di antara seluruh anak di India dan tidak boleh ditafsirkan sebagai angka prevalensi anak secara nasional,” tulis N. Siva dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Porsi yang tinggi itu, menurut mereka, kemungkinan mencerminkan menumpuknya studi di distrik endemis.
Proporsi fatalitas kasus, berapa pasien yang tidak tertolong
Kembali ke istilah pembuka. Dari 19 studi yang melaporkan kematian pada pasien anak yang dipastikan lewat laboratorium, proporsi fatalitas kasus gabungannya 18 persen. Rentang kepercayaannya 14 sampai 23 persen. Kesimpulan naskah menyebut angka itu masih tinggi.
Batas istilah ini sama pentingnya dengan angkanya. Yang dihitung adalah kematian di antara kasus yang sudah terdiagnosis, sebagian besar di rumah sakit atau lewat pemantauan. Para penulis menegaskan angka itu tidak boleh dibaca sebagai kematian pada populasi anak secara umum.
Sebagai pembanding, naskah itu menyebut laporan-laporan rumah sakit terdahulu yang mencatat fatalitas 20 sampai 30 persen pada kasus berat. Angka 18 persen dinilai sebanding dengan catatan tersebut. Selisih antarstudi, menurut para penulis, kemungkinan lahir dari perbedaan tingkat keparahan, pola rujukan, akses layanan, dan ketersediaan perawatan intensif.
Satu studi yang mereka himpun memperlihatkan sisi lainnya. Di sana 77,8 persen pasien berhasil dipulangkan dan fatalitasnya 11,1 persen. Hasil itu dikaitkan dengan diagnosis dini, penanganan cepat, dan tersedianya ruang perawatan intensif anak.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Gejala dan gejala sisa, dari ruang rawat sampai sesudah selamat
Sembilan studi mencatat seperti apa penyakit ini tampak pada anak. Demam paling konsisten, muncul pada 90 sampai 100 persen kasus. Lalu ada altered sensorium, istilah klinis untuk kesadaran yang berubah atau menurun, yang tercatat pada 46 sampai 100 persen kasus. Kejang dilaporkan pada 19,6 sampai 89 persen.
Daftar itu masih berlanjut. Kaku kuduk, yaitu leher yang kaku, tercatat pada 52 sampai 55 persen kasus. Sakit kepala 43 sampai 80 persen, muntah 27 sampai 64 persen, dan hilang kesadaran 43 persen. Yang lebih jarang antara lain perdarahan saluran cerna 39 persen, batuk 17 persen, ruam 15 persen, dan nyeri perut 9 persen.
Gambaran besarnya, menurut para penulis, adalah demam tinggi yang disertai gangguan saraf yang nyata, terutama kejang dan perubahan kesadaran. Gejala pencernaan dan pernapasan yang ikut muncul mereka baca sebagai tanda bahwa lebih dari satu sistem tubuh terlibat.
Angka kematian tidak menceritakan semuanya. Naskah itu memakai kata sequelae, yang berarti gejala sisa: gangguan yang menetap setelah infeksinya sendiri berlalu. Pada penyintas radang otak Jepang, yang kerap terdokumentasi adalah kejang yang menetap, perubahan status mental, dan gangguan kognitif.
Beberapa kasus juga mencatat komplikasi lain, seperti gangguan fungsi ginjal dan infeksi bersamaan dengan neurosistiserkosis. Akses layanan yang buruk, diagnosis yang terlambat, dan prasarana yang terbatas, terutama di perdesaan dan daerah endemis, disebut ikut memperburuk hasil perawatan dan memperpanjang pemulihan.
Bebannya terasa pula di rumah sakit. Pada musim monsun dan sesudahnya, jumlah pasien yang masuk naik tajam dan menekan bangsal anak serta unit perawatan intensif di negara bagian berbeban tinggi. Gejala saraf yang berat sering menuntut rawat inap lama dan perawatan penunjang tingkat lanjut.
Cakupan vaksin, dosis kedua yang tertinggal dari dosis pertama
Cakupan vaksin berarti porsi anak sasaran yang benar-benar sudah disuntik. India memulai program vaksinasi nasional radang otak Jepang pada 2006 dengan vaksin hidup yang dilemahkan, SA 14-14-2. Program itu, tulis para penulis, menurunkan angka kejadian secara berarti di beberapa distrik endemis.
Persoalannya ada pada kelengkapan. Cakupan dosis pertama sering melampaui 95 persen. Dosis kedua tertinggal, berkisar 81 sampai 88 persen di wilayah seperti Arunachal Pradesh dan blok Ormanjhi di distrik Ranchi, Jharkhand. Di Jharkhand, 81,5 persen anak tercatat divaksin lengkap, 15,9 persen baru sebagian, dan 2,6 persen belum sama sekali.
Antarwilayah, angkanya timpang. Arunachal Pradesh melaporkan cakupan 83,09 persen dan Karnataka 68,6 persen, dengan anak laki-laki 67,3 persen dan perempuan 68 persen. West Bengal mencatat 66,4 persen. Di wilayah tertentu Maharashtra cakupannya hanya 28,18 persen, yang oleh para penulis ditandai sebagai daerah yang perlu perbaikan.
Alasan anak terlewat juga dicatat. Yang paling sering: anak tidak ada saat sesi imunisasi karena sakit atau sedang pergi. Menyusul rasa takut pada efek samping, kekurangan vaksin, dan gangguan akibat pandemi COVID-19. Dalam satu studi, 31,4 persen keluarga melaporkan anaknya tidak divaksin, terutama karena kurang tahu, 36,8 persen, dan ragu, 35,3 persen.
Ada pula yang berhasil mendorong orang tua. Petugas garis depan, yakni bidan pembantu dan kader kesehatan yang di Jharkhand disebut Sahiya, berperan besar. Sebanyak 78,0 persen orang tua mengaku memvaksin anaknya atas saran mereka. Pemerintah juga menetapkan protokol baku penanganan, membangun laboratorium sentinel di rumah sakit besar, dan memberi santunan 50.000 rupee kepada keluarga anak yang meninggal.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Heterogenitas, tanda bahwa hasil antarstudi sangat beragam
Istilah terakhir adalah heterogenitas, yaitu seberapa jauh hasil studi-studi itu berbeda satu sama lain. Di sini nilainya sangat tinggi. Para penulis menyebutnya sebagai keterbatasan pertama: keragaman sebesar itu membatasi ketepatan angka gabungan dan cara menafsirkannya.
Keterbatasan lain mereka tulis terang. Kebanyakan studi berbasis rumah sakit atau dilakukan di distrik endemis, sehingga tidak mewakili seluruh India dan bisa melebihkan porsi anak maupun fatalitasnya. Cara diagnosis dan sistem pemantauan berbeda antarnegara bagian. Mereka juga tidak membandingkan hasil menurut tahun, musim, atau wilayah, sebab pelaporan studinya tidak seragam.
Angka kematian itu pun tidak menangkap dua hal: gejala sisa jangka panjang dan kematian yang terjadi di tengah masyarakat, di luar pencatatan. Pemeriksaan para penulis menemukan pula bahwa studi-studi kecil cenderung melaporkan porsi anak yang berbeda dari studi besar. Karena itu angka 23 persen mereka minta dibaca dengan hati-hati.
Maka batas kedua istilah itu jelas. Proporsi fatalitas kasus 18 persen adalah gambaran tentang anak yang sudah terdiagnosis, kebanyakan di rumah sakit daerah endemis, bukan tentang seluruh anak India. Untuk tahu beban yang sebenarnya, para penulis menyarankan studi pemantauan berbasis populasi dengan pembagi yang baku, serta pelaporan yang seragam atas kasus, hasil akhir, dan gejala sisa.















