Air Saset di Nigeria Membawa Kuman, Logam, dan Sampah Plastik

A A

Ilustrasi perempuan menjunjung karung berisi kantong air minum saset di jalan tanah [Foto: Kingsford Amoah/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Tiga belas penelitian membahas akibat air saset bagi kesehatan, sedangkan hanya tiga yang menilai lingkungan.
  • Lima penelitian menemukan organisme penanda cemaran atau kuman penyebab penyakit pada sebagian merek air saset.
  • Kadar timbal dan kadmium melampaui batas pedoman WHO pada sebagian merek dalam tiga penelitian.
  • Kadar ftalat naik bila kantong lama disimpan di bawah sinar matahari atau pada suhu tinggi.
  • Serpihan dan lembaran mikroplastik dilaporkan padat di saluran drainase kota.
Daftar Isi
  1. Kantong plastik kecil mengisi kekosongan yang ditinggalkan air perpipaan
  2. Kuman ikut terbawa sampai ke dalam kantong yang tersegel
  3. Timbal dan kadmium masuk lewat air sumber yang sudah tercemar
  4. Plastik pembungkus melepas bahan kimia ketika kantong terjemur
  5. Mutu air saset bisa turun di tiga titik, dari sumur sampai lapak
  6. Kantong bekasnya menjadi serpihan plastik di selokan dan ladang
  7. Penjelasan ini berhenti di pintu laboratorium

Air minum dalam kantong plastik kecil yang disegel dijual di jalan, pasar, dan kios eceran Nigeria. Di negeri itu, kantong kecil berisi air tersebut dijuluki pure water, air murni, dan menjadi sumber air minum utama banyak orang karena murah, mudah dibawa, dan dijual di mana-mana. Namun kantong yang sama berulang kali kedapatan membawa kuman, logam berat, dan bahan kimia yang berasal dari plastik pembungkusnya sendiri.

Gambaran itu disusun Hilary I. Okagbue, Nnenna U. Kwaghshir, Success C. David, Eyitayo A. Lawal, Olanma Okezie-Okafor, Deborah Kolawole, Sunday Nto, Sunday Atobatele, dan Sidney Sampson dalam artikel Health and environmental impacts of sachet water consumption and sachet plastic waste in Nigeria: a scoping review, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Kesembilan penulis bekerja di Sydani Group, Abuja, Nigeria. Mereka memetakan 20 penelitian tentang air saset dan sampah plastiknya di negeri itu, yang terbit sepanjang 2016 sampai 2026.

Peta itu berat sebelah, dan para penulis mencatatnya sendiri. Tiga belas penelitian membahas akibat air saset bagi kesehatan, sedangkan hanya tiga yang langsung menilai akibatnya bagi lingkungan. Sebagian besar berupa uji laboratorium atas mutu air. Menurut para penulis, riset tentang dampak kesehatan air saset di Nigeria jauh lebih berkembang daripada riset tentang akibat lingkungannya.

Kantong plastik kecil mengisi kekosongan yang ditinggalkan air perpipaan

Air saset diperkenalkan di Nigeria pada 1990-an, lalu produksi dan konsumsinya meluas dengan cepat. Naskah menyebut tiga pendorongnya: prasarana air publik yang kurang, urbanisasi yang pesat, dan permintaan akan air minum yang terjangkau. Bagi jutaan warga, terutama di kota dan pinggiran kota tempat air perpipaan tidak bisa diandalkan atau tidak tersedia, kantong berbahan polietilena itulah sumber air layak minum yang penting.

Skalanya besar. Pustaka yang dirujuk para penulis mencatat kira-kira tujuh dari sepuluh orang Nigeria meminum paling sedikit satu saset air setiap hari, sehingga diperkirakan 50 sampai 60 juta kantong dibuang per hari. Kekhawatiran pun mengikuti. Mutu mikrobiologi dan kimia air saset, juga beban lingkungan dari kantong bekasnya, menurut naskah itu sudah dicatat selama beberapa dasawarsa.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Kuman ikut terbawa sampai ke dalam kantong yang tersegel

Lima penelitian memeriksa air saset yang dijual di jalan, pasar, dan kios eceran. Kelimanya menemukan organisme penanda cemaran atau kuman penyebab penyakit, setidaknya pada sebagian merek. Bakteri Escherichia coli dikenali pada banyak merek dalam tiga penelitian, dengan jumlah total koliform yang melampaui nilai pedoman air minum nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Salmonella dan Shigella juga dilaporkan.

Pada satu penelitian, hanya sebagian kecil merek yang memenuhi standar mikrobiologi. Beberapa penelitian bahkan melaporkan kuman yang kebal terhadap banyak obat di dalam air saset yang tercemar. Para penulis membaca keberadaan mikroba itu sebagai tanda adanya kelalaian dalam pengolahan air, kebersihan produksi, dan pengawasan. Persoalannya, kata mereka, tidak khas Nigeria. Air minum kemasan di negara Afrika sub-Sahara lain juga didapati melampaui nilai pedoman WHO.

Yang diteliti dari air saset NigeriaCemaran mikroba: Jumlah penelitian +5; Logam berat: Jumlah penelitian +4; Bahan kimia dari kemasan: Jumlah penelitian +2; Risiko kesehatan berlapis: Jumlah penelitian +2; Mikroplastik: Jumlah penelitian +2; Tanah dan pertanian: Jumlah penelitian +1.Yang diteliti dari air saset NigeriaJumlah penelitian menurut pokok bahasan2460Cemaran mikroba5Logam berat4Bahan kimia dari kemasan2Risiko kesehatan berlapis2Mikroplastik2Tanah dan pertanian1
Sumber: Hilary I. Okagbue, Nnenna U. Kwaghshir, Success C. David, Eyitayo A. Lawal, Olanma Okezie-Okafor, Deborah Kolawole, Sunday Nto, Sunday Atobatele, dan Sidney Sampson, Health and environmental impacts of sachet water consumption and sachet plastic waste in Nigeria: a scoping review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Timbal dan kadmium masuk lewat air sumber yang sudah tercemar

Empat penelitian mengukur logam berat, dan keempatnya menemukan paling sedikit satu jenis logam di dalam sampel. Kadar timbal dan kadmium melampaui batas pedoman WHO pada sebagian merek dalam tiga penelitian. Mangan dan besi juga dilaporkan di atas batas yang diizinkan pada sampel tertentu. Satu penelitian mendapati semua merek yang diambilnya mengandung timbal di atas ambang yang dianjurkan.

Dua penelitian lain melihat beberapa bahaya sekaligus. Yang pertama melaporkan timbal di atas pedoman WHO pada semua merek yang diperiksa, sementara merkuri, kadmium, dan arsen melampaui batas pada sejumlah sampel. Paparan itu dikaitkan dengan gangguan saraf, gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta gangguan tumbuh kembang. Yang kedua mencatat sumur bor sumber yang airnya asam, kondisi yang disebut berpotensi menyuburkan mikroba.

Karena logam yang sama terdeteksi berulang di banyak penelitian, para penulis menilai cemaran itu kecil kemungkinannya terbatas pada lokasi tertentu. Mereka menduga ada persoalan lingkungan dan pengaturan yang lebih luas pada mutu air tanah. Satu penelitian memperkirakan risiko nonkanker pada orang dewasa umumnya rendah sampai sedang, tetapi indeks bahayanya mencapai tingkat sedang pada bayi. Di rumah tangga yang memakai air saset untuk makanan bayi, anak kecil lebih rentan.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Plastik pembungkus melepas bahan kimia ketika kantong terjemur

Yang membuatnya rumit, pembungkus itu sendiri ikut menjadi sumber cemaran. Dua penelitian menelusuri ftalat, bahan kimia dari plastik, dan keduanya menemukannya di dalam air saset. Pada satu penelitian kadarnya lebih tinggi daripada di air botol. Kadar itu naik bila kantong lama disimpan di bawah sinar matahari atau pada suhu tinggi. Dalam beberapa kasus, nilai yang terukur mendekati atau melampaui nilai pedoman air minum.

Penelitian lain menunjukkan arah yang sama. Air saset yang lama terpapar matahari mengalami kenaikan kadar logam beracun dan cemaran mikroba. Panas lingkungan dan radiasi turut merusak kemasan polietilena, lalu senyawa yang berpotensi berbahaya, termasuk hidrokarbon dan turunan benzena, terlepas ke dalam air. Satu penelitian lagi menemukan kadar mangan yang tinggi pada beberapa merek dan mengaitkannya sebagian dengan sifat air sumbernya.

Iklim tropis Nigeria memperberat proses itu. Para penulis menyebut penyimpanan dan pengangkutan air saset di luar ruangan dalam waktu lama dapat mempercepat rusaknya plastik dan menambah bahan kimia yang berpindah ke air. Temuan itu mereka anggap penting. Dalam pustaka yang mereka rujuk, paparan ftalat menahun dikaitkan dengan gangguan reproduksi, kekacauan hormon, serta kanker payudara dan testis.

Mutu air saset bisa turun di tiga titik, dari sumur sampai lapak

Mengapa mutu air saset berbeda-beda? Bukti yang dipetakan menunjuk tiga faktor yang saling berkait, yakni mutu air sumber, kondisi produksi, serta penyimpanan dan distribusi sesudah produksi. Air sumber adalah penentu paling hulu. Beberapa penelitian melaporkan produsen mengambil air tanah dari sumur bor yang letaknya dekat pasar, terminal kendaraan, dan bengkel, sehingga peluang cemaran mikroba dan kimia sudah ada sebelum air diolah.

Titik kedua ada di pabrik. Penelitian yang ditinjau memperlihatkan kekurangan pada prasarana produksi dan cara kerja di sebagian pabrik. Bagi para penulis, hal itu mengisyaratkan bahwa terdaftar pada lembaga pengawas saja tidak selalu menjamin mutu produk. Titik ketiga adalah perjalanan kantong setelah keluar dari pabrik, ketika ia disimpan, diangkut, dan dijajakan.

“Keamanan air saset bukanlah sifat tetap yang terkunci di titik produksi; ia sifat yang dinamis dan menurun di sepanjang rantai pasok,” tulis Hilary I. Okagbue, peneliti Sydani Institute for Research and Innovation, bersama delapan rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Karena itu, menurut mereka, air saset yang dibeli konsumen dari pedagang setelah disimpan bisa jauh lebih berbahaya daripada air yang meninggalkan pabrik. Dampak itu, tulis mereka, sama sekali tidak terlihat oleh penilaian pengawas saat ini.

Akibatnya, peminum air saset tidak berhadapan dengan satu bahaya yang berdiri sendiri. Para penulis menyebutnya beban yang menumpuk, karena cemaran mikroba, logam berat, dan bahan kimia hadir bersamaan dalam produk yang diminum setiap hari. Mikroba membawa risiko penyakit infeksi yang segera. Logam berat dan bahan kimia dari plastik membawa risiko kesehatan menahun lewat paparan yang terus bertambah.

Air saset Nigeria, sekilasAir saset Nigeria, sekilasAir saset Nigeria, sekilasPeta bukti tentang air minum saset dan sampah plastiknya20penelitianterbit 2016-202613penelitiansoal kesehatan3penelitiansoal lingkungan5penelitiandari Barat DayaJalan risetnya1.940 catatan ditemukan602 tersisa disaring20 penelitian masuk
Sumber: Hilary I. Okagbue, Nnenna U. Kwaghshir, Success C. David, Eyitayo A. Lawal, Olanma Okezie-Okafor, Deborah Kolawole, Sunday Nto, Sunday Atobatele, dan Sidney Sampson, Health and environmental impacts of sachet water consumption and sachet plastic waste in Nigeria: a scoping review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Kantong bekasnya menjadi serpihan plastik di selokan dan ladang

Setelah isinya habis, kantong itu memulai perjalanan kedua. Dua penelitian menyebut kemasan air saset yang dibuang sebagai sumber penting polusi mikroplastik di perkotaan. Serpihan dan lembaran mikroplastik dilaporkan padat di saluran drainase kota, dan itu ikut menyumbang pencemaran serta banjir. Kantong sekali pakai tersebut dikenali sebagai sumber utama serpihan polietilena berukuran kecil di darat maupun di perairan.

Serpihan itu tidak diam. Permukaannya menjadi tempat tumbuh lapisan mikroba dan menyerap logam berat serta polutan organik, sehingga ia berpotensi membawa cemaran berpindah di dalam ekosistem. Hanya satu penelitian yang memeriksa tanah pertanian. Tanah yang tercemar plastik air saset lebih mampat, lebih sulit meresapkan air, dan menghasilkan tanaman yang lebih buruk dibanding tanah pembanding yang bersih.

Lapisan tanah yang kaya mikroplastik itu juga mencatat kadar kadmium dan timbal yang tinggi. Penelitian yang sama mengisyaratkan kemungkinan kaitan dengan bertambahnya bakteri kebal antibiotik, jalur yang menurut para penulis perlu diselidiki lebih jauh. Tidak satu pun dari 20 penelitian itu menilai langsung akibatnya bagi kesehatan hewan.

Penjelasan ini berhenti di pintu laboratorium

Para penulis mencatat sendiri batas peta mereka. Pustaka yang ada didominasi uji mutu air di laboratorium, dengan sedikit penelitian yang menghubungkan paparan air saset dengan keadaan kesehatan penduduk. Bukti lingkungan masih jarang. Sebaran wilayahnya pun tidak merata: lima penelitian berasal dari Nigeria barat daya, sedangkan wilayah utara tengah dan selatan-selatan masing-masing dua. Sedikit pula yang meneliti pengangkutan, penyimpanan di tempat penjualan, dan penanganan oleh konsumen.

Karena hanya tiga penelitian yang langsung menilai lingkungan, temuan di bagian itu mereka minta ditafsirkan dengan hati-hati dan tidak dianggap mewakili seluruh beban lingkungan sampah plastik air saset. Masih perlu penelitian tambahan di Nigeria, tulis mereka, sebelum kesimpulan yang lebih luas ditarik tentang sumbangannya pada kerusakan tanah, ketahanan pangan, atau kekebalan kuman terhadap obat.

Dari peta itu mereka menarik usulan. Pengawasan perlu diperkuat di sepanjang rantai produksi dan distribusi, mulai dari mutu air sumber, proses pabrik, kondisi penyimpanan, sampai pemantauan sesudah produk beredar. Badan pengawas makanan dan obat Nigeria, NAFDAC, disebut perlu menegakkan standar yang sudah ada lewat inspeksi rutin, ketertelusuran produk, serta label wajib berisi tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, dan nomor batch.

Kesimpulan naskah itu merangkum peta tersebut. Ada bukti yang konsisten bahwa air saset yang diminum di Nigeria dapat terkena cemaran mikroba, logam berat, dan bahan kimia yang berpindah dari plastik kemasannya. Bukti tentang lingkungan lebih terbatas, tetapi mengisyaratkan bahwa kantong yang dibuang sembarangan dapat menyumbang polusi mikroplastik dan kerusakan tanah. Para penulis meminta pengaturan mutu air diperkuat, pengelolaan sampah plastik diperbaiki, dan riset lingkungannya diperluas.

Bagikan

Baca Juga

Telanjur Minum Vitamin Palsu? Dokter IPB Bagikan Lima Langkah
Daging Ternak Mati karena Antraks Tetap Berbahaya Meski Dimasak
Belanja Kesehatan 3 Persen PDB, Pakar UGM Dorong Revisi UU SJSN
Kelainan Darah Bawaan Ditemukan pada 89 dari 400 Warga Suku India
Orang Tua Lebanon Jarang Periksakan Lemak Darah Anak Mereka
Peminum Alkohol di Iran Bertambah, Pemakai Opium Berkurang