- Dari 946 orang tua, 401 orang atau 42,4 persen pernah mendengar tentang dislipidemia pada anak.
- Skor pengetahuan orang tua rata-rata 14,1 dari nilai tertinggi 23 poin.
- Hanya 63 orang tua atau 6,7 persen yang melaporkan anaknya pernah menjalani tes darah untuk lemak darah.
- Orang tua yang sudah memeriksakan anak punya skor pengetahuan rata-rata 16,9, sedangkan yang belum 13,9.
- Sebanyak 87,9 persen orang tua ingin mendapat informasi lebih banyak tentang dislipidemia pada anak.
Daftar Isi
Marie-Hélène Gannagé Yared dan enam rekannya menitipkan sebuah kuesioner lewat saluran resmi sekolah di Beirut, termasuk grup WhatsApp orang tua murid. Salah satu pertanyaannya sederhana: pernahkah Anda mendengar tentang dislipidemia pada anak, yaitu kadar lemak darah yang tidak normal? Dari 946 ayah dan ibu yang menjawab, kurang dari separuh berkata pernah. Padahal hampir semuanya lulusan universitas.
Jawaban itu dihimpun Khalil Hamadeh, Mariana Boulos, Bachir Atallah, Maya Bou Hamdan, Dina Maddah, Nada Ghorayeb, dan Marie-Hélène Gannagé Yared. Artikel mereka, Dyslipidemia in Lebanese children and adolescents: parents’ knowledge and practices, dimuat BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang sudah diterima dan sedang dalam proses terbit. Para penulis bekerja di Department of Endocrinology rumah sakit Hôtel-Dieu de France dan Clinical Research Center, Faculty of Medicine, Saint-Joseph University, Beirut.
Hamadeh dan rekan-rekannya menerangkan dislipidemia sebagai gangguan metabolik yang umum. Tandanya kolesterol LDL yang tinggi, trigliserida yang tinggi, kolesterol HDL yang rendah, atau kolesterol non-HDL yang tinggi. Gangguan ini bisa bersifat primer, terkait kelainan genetik seperti hiperkolesterolemia familial. Bisa pula sekunder, mengikuti kondisi seperti obesitas, diabetes, dan hipotiroidisme, atau pemakaian obat tertentu.
Bagi Gannagé Yared dan timnya, soal ini dekat dengan rumah. Mereka mengutip penelitian pertama di Lebanon yang menemukan trigliserida tinggi pada 26,6 persen anak sekolah. Penelitian lain atas anak Lebanon berumur dua sampai sepuluh tahun mencatat kolesterol total tinggi pada 19,5 persen anak dan trigliserida tinggi pada 31,8 persen. Kadar lemak yang tidak normal pada masa kanak-kanak, tulis mereka, berkaitan dengan risiko lebih tinggi terkena aterosklerosis dan penyakit jantung pada usia dewasa muda dan paruh baya.
Para ibu yang membalas pesan Hamadeh
Hamadeh dan tim menerima jawaban dari orang tua murid delapan sekolah swasta di Greater Beirut dan Mount Lebanon, antara Maret dan November 2025. Anak-anak mereka berumur lima sampai 18 tahun. Dari 946 penjawab, 861 perempuan dan 85 laki-laki, dengan umur rata-rata 43,9 tahun. Sebanyak 94,1 persen bergelar universitas dan 11,6 persen bekerja sebagai tenaga kesehatan. Separuh dari mereka, 50,5 persen, punya dua anak.
Mengapa ibu begitu dominan? Gannagé Yared dan rekan-rekannya menduga hal itu mencerminkan keterlibatan ibu yang lebih besar dalam kesehatan dan pengasuhan anak. Ibulah yang membawa anak ke dokter anak, lebih terlibat dalam komunikasi dengan sekolah, dan lebih hadir di grup percakapan orang tua. Mereka membandingkannya dengan penelitian Kern dan kawan-kawan di Amerika Serikat, tempat 81,3 persen penjawab juga perempuan.
Yang pernah mendengar, dan dari siapa
Atallah, yang mengolah data tim ini, mencatat 401 orang atau 42,4 persen pernah mendengar tentang dislipidemia pada anak. Sisanya, 57,6 persen, belum pernah. Di antara yang pernah mendengar, media seperti televisi dan internet menjadi sumber utama dengan 25,2 persen. Tenaga kesehatan menyusul dengan 24,4 persen, lalu sumber lain 22,2 persen, teman 17,5 persen, dan keluarga 7,5 persen. Sekolah berada paling bawah: 3,2 persen, hanya 13 orang.
Para orang tua juga diminta Hamadeh menilai diri sendiri. Sebanyak 44,7 persen menyatakan tidak tahu apa-apa tentang gangguan ini dan 32,9 persen tahu sedikit. Hanya 15,8 persen menilai pengetahuannya sedang, dan 6,7 persen sangat baik. “Temuan kami menunjukkan bahwa, meskipun 94 persen populasi penelitian telah meraih gelar universitas, kesadaran orang tua secara keseluruhan tentang dislipidemia pada anak tetap terbatas,” tulis Hamadeh dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Angka 24,4 persen dari tenaga kesehatan itu dibahas tersendiri oleh Gannagé Yared dan timnya. Menurut mereka, temuan tersebut bisa dijelaskan oleh data penelitian lain yang mereka rujuk: hanya 26 persen dokter anak mengetahui rekomendasi skrining yang berlaku. Karena itu, mereka menilai penguatan pendidikan bagi tenaga kesehatan penting untuk menaikkan kesadaran orang tua dan angka skrining pada anak.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Nilai 14,1 dari 23 di kuesioner Hamadeh
Hamadeh dan rekan-rekannya lalu menghitung skor pengetahuan dengan nilai tertinggi 23 poin. Rata-ratanya 14,1, dengan nilai tengah 14,0, dan jawaban para orang tua terentang dari 1 sampai 23. Tim penulis menyebut tingkat pengetahuan itu sedang. Hanya sekitar separuh orang tua, 50,5 persen, yang meyakini anak perlu diskrining untuk dislipidemia. Separuh lainnya menjawab tidak.
Pertanyaan tentang umur memperlihatkan keraguan yang sama, catat Hamadeh. Sebanyak 45,8 persen menjawab benar bahwa skrining dimulai pada umur sembilan sampai sebelas tahun. Hampir sepertiga, 32,6 persen, mengira pemeriksaan hanya perlu bila ada masalah medis. Ada pula 15,9 persen yang menunjuk umur 21 tahun ke atas dan 5,8 persen yang memilih 30 tahun ke atas.
Patokan yang dipakai Gannagé Yared berasal dari National Heart, Lung, and Blood Institute, yang didukung American Academy of Pediatrics. Lembaga itu menganjurkan skrining lemak darah untuk semua anak pada umur sembilan sampai sebelas tahun, lalu sekali lagi pada umur 17 sampai 21 tahun. Anak dengan faktor risiko, seperti riwayat keluarga penyakit jantung dini, obesitas, hipertensi, atau diabetes, dianjurkan diperiksa mulai umur dua tahun.
Hamadeh dan tim tidak menutupi bahwa anjuran itu masih diperdebatkan. U.S. Preventive Services Task Force dan American College of Family Physicians menilai bukti belum cukup untuk menimbang manfaat dan risiko skrining pada anak dan remaja di bawah 20 tahun. Menurut para penulis, apakah Lebanon sebaiknya memakai skrining untuk semua anak atau hanya yang terarah memerlukan pertimbangan cermat atas pandangan yang berbeda-beda itu.
Soal penyebab, sebagian besar orang tua mengenali faktor risiko yang ditanyakan. Makanan tinggi lemak dikenali 77,0 persen orang tua sebagai faktor risiko, riwayat penyakit jantung dalam keluarga 72,9 persen, obesitas 72,6 persen, kurang gerak 68,0 persen, dan asupan gula tinggi 65,2 persen. Sebanyak 82,5 persen tahu bahwa dislipidemia didiagnosis lewat tes darah, sementara 13,6 persen menjawab tidak tahu.
Penyakit yang dapat ditimbulkan dislipidemia lebih jarang dikenali, menurut tabel dalam naskah. Diabetes disebut 61,6 persen orang tua, perlemakan hati 58,9 persen, dan serangan jantung 56,8 persen. Aterosklerosis, penumpukan lemak di pembuluh darah, hanya dikenali 40,3 persen. Pankreatitis akut atau radang pankreas paling jarang disebut, yaitu oleh 29,6 persen penjawab.
Hamadeh juga bertanya tentang cara menangani dan mencegah. Perubahan pola makan disebut 79,3 persen orang tua dan penambahan aktivitas fisik 73,0 persen. Pemantauan profil lemak darah secara berkala hanya disebut 39,4 persen, obat 28,2 persen, dan 12,3 persen menjawab tidak tahu. Untuk pencegahan, kebiasaan makan sehat dipilih 94,5 persen dan olahraga teratur 87,8 persen. Pemeriksaan kesehatan rutin dipilih 47,8 persen, pembatasan waktu layar 37,6 persen.
Siapa yang nilainya lebih tinggi menurut Atallah
Atallah dan rekan-rekannya kemudian membandingkan skor antarkelompok. Perempuan rata-rata meraih 14,2 poin, laki-laki 12,4. Lulusan universitas 14,2, yang bukan lulusan universitas 12,5. Tenaga kesehatan mencatat 17,3 poin, orang tua dengan pekerjaan lain 13,7. Mereka yang pernah mendengar tentang dislipidemia pada anak meraih 15,8, sedangkan yang belum pernah 12,8. Umur orang tua dan jumlah anak tidak berhubungan dengan skor.
Keempat ciri itu tetap bertahan ketika Atallah mengujinya bersamaan. Menjadi perempuan berkaitan dengan tambahan rata-rata 1,35 poin, bergelar universitas 1,48 poin, bekerja sebagai tenaga kesehatan 2,32 poin, dan pernah mendengar tentang dislipidemia pada anak 2,65 poin. Tim penulis mencatat bahwa keempatnya bersama-sama menjelaskan 16,1 persen keragaman skor pengetahuan.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Enam puluh tiga orang tua yang sudah ke laboratorium
Lalu praktiknya. Hanya 63 orang tua, 6,7 persen, yang melaporkan kepada tim Hamadeh bahwa anaknya pernah menjalani tes darah untuk memeriksa lemak darah. Dari 63 itu, 28 menyebut hasilnya normal, sembilan tinggi, dan lima di ambang batas. Sebanyak 21 orang, sepertiganya, tidak tahu hasil pemeriksaan anaknya sendiri. Tiga anak sedang menjalani pengobatan dislipidemia.
Gannagé Yared dan timnya lalu membandingkan skor pengetahuan dengan praktik orang tua. Orang tua yang sudah memeriksakan anak punya skor pengetahuan rata-rata 16,9, sedangkan yang belum 13,9. Mereka yang selalu menyediakan makanan seimbang meraih 14,4, yang tidak pernah 12,5. Orang tua yang anaknya makan buah dan sayur setiap hari meraih 14,3, yang tidak pernah 11,7. Para penulis menyebutnya hubungan, bukan sebab-akibat.
Hamadeh dan tim menilai angka 6,7 persen itu sebanding dengan laporan sebelum rekomendasi tahun 2011, ketika penelitian sepanjang 1995 sampai 2012 mencatat hanya 3,4 sampai 16 persen anak diskrining. Mereka juga mengutip Kern dan kawan-kawan, yang mendapati 30,8 persen orang tua tetap tidak setuju pada skrining untuk semua anak. Sebaliknya, P. Scully dan kawan-kawan melaporkan 98 persen orang tua mendukung, tetapi dari hanya 53 orang tua anak yang dirawat di rumah sakit.
Angka yang menurut Gannagé Yared perlu dibaca hati-hati
Sebagian jawaban terlihat nyaris sempurna, dan Gannagé Yared sendiri yang mengingatkannya. Sebanyak 99,2 persen orang tua mengaku mendorong anak aktif bergerak, 65,5 persen selalu menyediakan makanan seimbang, dan 85,6 persen memberi buah serta sayur setiap hari. “Orang tua mungkin telah melaporkan perilaku sehat ini secara berlebihan agar sesuai dengan norma sosial atau harapan medis yang dirasakan tentang praktik pengasuhan yang ideal,” tulis tim itu, juga dalam bahasa Inggris.
Hamadeh dan rekan-rekannya mencatat keterbatasan lain. Orang tua hanya direkrut dari sekolah swasta di Beirut dan Mount Lebanon, tanpa sekolah negeri, sehingga kalangan perkotaan yang mapan dan berpendidikan tinggi bisa terwakili berlebihan. Tingkat jawaban sekitar 25 persen, dan mereka yang bersedia mengisi mungkin memang lebih berminat pada kesehatan anak. Rancangan penelitian yang memotret satu waktu juga tidak memungkinkan penetapan sebab-akibat.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Satu jawaban hampir bulat. Sebanyak 87,9 persen orang tua mengatakan kepada tim Hamadeh bahwa mereka ingin mendapat informasi lebih banyak tentang dislipidemia pada anak. Sumber daring paling diminati, dipilih 57,7 persen, disusul program di sekolah 48,0 persen dan brosur 27,4 persen. Konsultasi perorangan dengan tenaga kesehatan dipilih 19,1 persen, lokakarya atau seminar 17,2 persen.
Sebagai langkah berikutnya, Gannagé Yared dan timnya berniat menggelar sesi penyadaran dan membagikan materi digital kepada orang tua, murid, dan guru di sekolah, lalu mengukur dampaknya pada skor pengetahuan lewat evaluasi daring. Mereka juga menyebut tes di tempat yang mengukur kolesterol dan trigliserida dari setetes darah kapiler. Alat semacam itu, menurut mereka, kemungkinan memudahkan skrining yang lebih luas karena lebih mudah diterima orang tua.
Kesimpulan Hamadeh dan rekan-rekannya ditulis dengan hati-hati. Skrining untuk semua anak masih menjadi perdebatan internasional, tetapi pengetahuan orang tua tentang dislipidemia pada anak belum memadai dan angka skrining rendah. “Memperkuat pendidikan orang tua dan konseling pencegahan dapat membantu mendorong skrining dini dan mengurangi risiko kardiovaskular di masa depan,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Grup percakapan orang tua juga masuk dalam usulan Marie-Hélène Gannagé Yared dan timnya. Bersama platform sekolah dan media sosial, grup semacam itu mereka sebut sebagai sarana yang mudah dijangkau untuk kampanye kesehatan digital. Sekolah, yang hanya disebut 13 orang tua sebagai sumber informasi, menurut timnya dapat berperan penting menyebarkan informasi kesehatan kepada orang tua.














