Kompleksitas Ekonomi Mengangkat Negara Kaya, Menekan yang Miskin

A A

Derek gantry merah dan tumpukan peti kemas di Pelabuhan Niigata Timur, Jepang [Foto: Gazouya-japan/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di kelompok berpendapatan tinggi, kompleksitas ekonomi berpengaruh positif terhadap pendapatan.
  • Di kelompok berpendapatan rendah, pengaruhnya justru negatif.
  • Sebagian besar angkatan kerja di negara kurang berkembang terdiri atas pekerja tidak terampil.
  • Pengaruh mutu kelembagaan terhadap pendapatan per kapita positif dari persentil ke-10 sampai ke-70.
Daftar Isi
  1. Di Tangga Atas, Kemampuan Baru Menambah Pendapatan
  2. Di Tangga Bawah, Kemampuan Baru Belum Menjadi Upah
  3. Dagang dan Harga: Naik Bersama di Semua Tangga
  4. Sekolah dan Lembaga: Lebih Terasa di Tangga Bawah
  5. Saran untuk Negara Berpendapatan Rendah
  6. Saran untuk Negara Berpendapatan Tinggi

Jepang pada 2011 dan Kirgistan pada 1997 jarang disebut dalam satu tarikan napas, tetapi sebuah naskah ekonomi menaruh keduanya di dua ujung daftar yang sama. Daftar itu mengurutkan negara menurut kompleksitas ekonominya, yakni kemampuan produktif yang tertanam di sebuah negara. Jepang mencatat skor tertinggi, Kirgistan skor terendah. Di antara keduanya berjajar negara-negara lain dari 115 negara yang diteliti.

Daftar itu disusun M. Lokman-Hamdan, W.N.W. Azman-Saini, Yasmin Bani, dan Anitha Rosland dalam The effect of economic complexity on income levels across countries: A dynamic panel quantile approach. Artikelnya terbit di Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1 tahun 2026. Keempat penulis bernaung di School of Business and Economics, Universiti Putra Malaysia, Selangor.

Mereka menelusuri 115 negara sepanjang 1995–2020, dari negara maju, negara berkembang, sampai negara kurang berkembang. Pertanyaannya sederhana: apakah ekonomi yang makin kompleks menaikkan pendapatan semua negara dengan cara yang sama. Pendapatan diwakili produk domestik bruto per kapita, yang oleh naskah dipandang sebagai perkiraan pendapatan rata-rata sebuah negara.

Jawabannya ternyata bergantung pada tempat sebuah negara berdiri. Di kelompok berpendapatan tinggi, kompleksitas ekonomi berpengaruh positif terhadap pendapatan. Di kelompok berpendapatan rendah, pengaruhnya justru negatif. Dua arah yang berlawanan itu, menurut para penulis, mendukung gagasan bahwa kompleksitas ekonomi melebarkan kesenjangan pendapatan antarnegara.

Naskah menerangkan kompleksitas ekonomi lewat dua ukuran. Yang pertama keragaman, yaitu rentang produk yang mampu diekspor sebuah negara. Yang kedua jumlah negara yang sanggup membuat suatu produk. Produk yang bisa dibuat banyak negara dipandang melimpah, sedangkan produk yang hanya dibuat satu atau segelintir negara dipandang langka.

Satu faktor, dua arah pengaruhSatu faktor, dua arah pengaruhSatu faktor, dua arah pengaruhArah pengaruh terhadap PDB per kapita, 115 negara, 1995-2020Kuantil bawahKuantil atasnegatifpositifKompleksitaspositifnegatifKelembagaanpositifpositifDagang terbukapositifpositifInflasiKelembagaan positif di persentil ke-10 sampai ke-70, negatif di ke-80dan ke-90.
Sumber: M. Lokman-Hamdan, W.N.W. Azman-Saini, Yasmin Bani, dan Anitha Rosland, The effect of economic complexity on income levels across countries: A dynamic panel quantile approach, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di Tangga Atas, Kemampuan Baru Menambah Pendapatan

Pada kelompok atas, hasilnya searah dengan dugaan lama. Pengaruh kompleksitas ekonomi terhadap pendapatan positif dan bermakna dari persentil ke-60 sampai ke-90, dan paling menonjol di persentil ke-90. Artinya, di negara yang pendapatannya sudah tinggi, bertambahnya kemampuan produktif berjalan seiring dengan naiknya pendapatan per kapita.

“Temuan ini tampaknya sejalan dengan pandangan bahwa kemampuan yang lebih canggih terkait dengan negara berpendapatan tinggi dan negara maju,” tulis Lokman-Hamdan dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Pada bagian simpulan, mereka menambahkan bahwa kenaikan kemampuan produktif sebuah negara terkait dengan pendapatan pekerja yang lebih tinggi di negara maju.

Gambaran negara semacam itu sudah diuraikan di bagian awal naskah. Negara dengan kemampuan produktif yang beragam dapat membangun industri yang sangat canggih dan membuat produk yang kompleks. Industri seperti itu menawarkan banyak pilihan pekerjaan. Mengutip riset terdahulu, naskah menyebut negara-negara tersebut juga memiliki porsi pekerja terampil yang lebih besar ketimbang pekerja tidak terampil.

Data yang dihimpun memperlihatkan betapa lebar rentangnya. Pendapatan per kapita tertinggi dalam kumpulan data itu dicatat Qatar pada 2011. Mutu kelembagaan tertinggi dicatat Finlandia pada 2005. Secara umum, kompleksitas ekonomi dan pendapatan per kapita bergerak searah: naskah melaporkan hubungan positif di antara keduanya, sesuai dengan pandangan teoretis yang dirujuk para penulis.

Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya

Di Tangga Bawah, Kemampuan Baru Belum Menjadi Upah

Di sisi lain, kelompok bawah menunjukkan arah yang berbalik. Pengaruh kompleksitas ekonomi terhadap pendapatan negatif dan bermakna pada kuantil rendah, termasuk persentil ke-10 dan ke-20. Menurut simpulan naskah, kenaikan kemampuan produktif di negara-negara ini tidak menguntungkan pendapatan pekerja berketerampilan rendah.

“Dengan demikian, peningkatan kemampuan produktif di negara-negara kuantil bawah tidak secara langsung menaikkan pendapatan mereka atau mempersempit kesenjangan,” tulis keempat penulis. Kalimat aslinya berbahasa Inggris. Mereka menduga negara berpendapatan rendah hanya mampu menyerap sebagian dari dampak tersebut.

Alasan utamanya, menurut naskah, terletak pada tenaga kerja. Sebagian besar angkatan kerja di negara kurang berkembang terdiri atas pekerja tidak terampil. Pembagian peluang yang tidak merata hanya menguntungkan pekerja terampil dan lapisan berpendapatan atas dalam perekonomian. Akibatnya, tulis para penulis, kesenjangan di negara itu justru memburuk.

Ujung bawah daftar punya nama-namanya sendiri. Pendapatan per kapita terendah dalam kumpulan data dicatat Venezuela pada 2019. Mutu kelembagaan terendah dicatat Republik Demokratik Kongo pada 1998. Naskah juga mengingatkan, dengan merujuk riset terdahulu, bahwa negara kurang berkembang cenderung membuat produk yang kurang kompleks dan sangat bergantung pada ekspor sumber daya alam.

Latar itu dibuka dengan angka kemiskinan dunia. Mengutip perkiraan Bank Dunia 2024, naskah menyebut sekitar 692 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan internasional 2,15 dolar AS per hari. Kira-kira dua dari tiga orang itu, tepatnya 67 persen, tinggal di Afrika Sub-Sahara. Asia Selatan menampung 21 persen, sedangkan negara berpendapatan tinggi hanya 1 persen.

Di mana penduduk termiskin dunia tinggalAfrika Sub-Sahara: Persen +67%; Asia Selatan: Persen +21%; Negara berpendapatan tinggi: Persen +1%.Di mana penduduk termiskin dunia tinggalBagian dari sekitar 692 juta orang di bawah garis US$2,15 per hari20%40%60%80%0Afrika Sub-Sahara67%Asia Selatan21%Negara berpendapatan tinggi1%Perkiraan Bank Dunia 2024 yang dikutip naskah.
Sumber: M. Lokman-Hamdan, W.N.W. Azman-Saini, Yasmin Bani, dan Anitha Rosland, The effect of economic complexity on income levels across countries: A dynamic panel quantile approach, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara kedua tangga itu ada kelompok tengah. Pada sejumlah kuantil menengah, pengaruh kompleksitas ekonomi tampak lemah atau tidak bermakna secara statistik. Para penulis membacanya sebagai masa peralihan di negara berpendapatan menengah. Negara-negara ini mendapat sebagian manfaat dari kemampuan produktif yang tumbuh, tetapi masih tertahan serapan teknologi yang terbatas, keterampilan yang tidak merata, dan kelembagaan yang belum efisien.

Dagang dan Harga: Naik Bersama di Semua Tangga

Tidak semua faktor membelah negara menjadi dua kubu. Keterbukaan perdagangan, yakni jumlah ekspor dan impor barang serta jasa dibanding produk domestik bruto, berkaitan positif dan bermakna dengan pendapatan per kapita di semua kuantil. Inflasi, yang diukur dari perubahan tahunan indeks harga konsumen, menunjukkan pola yang sama. Dari kelompok terbawah sampai kelompok teratas, arahnya tidak berubah.

Karena pendapatan cenderung naik di semua kelompok, naskah menyimpulkan kedua faktor itu tidak memengaruhi kesenjangan pendapatan antarnegara. Dengan kata lain, pengaruh perdagangan dan inflasi terhadap pendapatan tampak seragam di negara berpendapatan rendah maupun tinggi. Keduanya ikut mengangkat, tetapi tidak mengubah jarak di antara anak tangga.

Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir

Sekolah dan Lembaga: Lebih Terasa di Tangga Bawah

Pada kasus kedua, polanya berbeda. Modal manusia, jumlah penduduk, dan mutu kelembagaan memperlihatkan pengaruh yang berubah-ubah di sepanjang sebaran pendapatan. Naskah menyebut ketiganya secara umum mempersempit kesenjangan, sebab pengaruhnya positif pada kuantil bawah dan negatif pada kuantil atas. Temuan itu, tulis para penulis, sejalan dengan riset Chu pada 2023.

Mutu kelembagaan memberi contoh paling jelas. Pengaruhnya terhadap pendapatan per kapita positif dari persentil ke-10 sampai ke-70. Menurut naskah, perbaikan kelembagaan memperkuat penciptaan pendapatan di negara berkembang dan negara yang sedang tumbuh. Pada persentil ke-80 dan ke-90 arahnya berbalik menjadi negatif, tanda bahwa perbaikan lanjutan di negara yang sudah berpendapatan tinggi mungkin memberi hasil yang kian menyusut.

Para penulis juga memeriksa hasil mereka dengan ukuran lain, yaitu indeks Gini, pada 69 negara yang pendapatan per kapitanya di bawah rata-rata dunia pada 2020. Kompleksitas ekonomi kembali berkaitan dengan kesenjangan yang lebih tinggi. Modal manusia dan kelembagaan berpengaruh negatif terhadap Gini, sedangkan keterbukaan perdagangan dan inflasi berpengaruh positif. Jumlah penduduk tidak bermakna dalam pemeriksaan ini. Para penulis mengakui menyusutnya jumlah negara dapat memengaruhi seberapa jauh hasil pemeriksaan itu berlaku umum.

Saran untuk Negara Berpendapatan Rendah

Dari temuan itu para penulis menarik saran yang berbeda untuk tiap kelompok. Pemerintah negara berpendapatan rendah dianjurkan memasuki industri baru yang memberi nilai tambah, dengan menghadirkan kemampuan produktif baru dalam perekonomian. Kemampuan baru itu, tulis mereka, bukan hanya menaikkan kompleksitas sebuah negara, melainkan juga menimbulkan efek berantai dalam perekonomian.

Naskah menambahkan dua pekerjaan rumah bagi kelompok ini. Negara berpendapatan rendah perlu memperkuat pembentukan keterampilan dan transformasi struktural agar dapat memetik manfaat dari kompleksitas. Penguatan modal manusia dan mutu kelembagaan disebut penting untuk meredam dampak kesenjangan. Tanpa daya serap yang memadai, menurut para penulis, kompleksitas justru mempertegas kesenjangan ketika negara berpendapatan rendah belum mampu memanfaatkan kemampuan baru secara efektif.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Saran untuk Negara Berpendapatan Tinggi

Bagi negara berpendapatan tinggi, anjurannya lain. Kebijakan sebaiknya disusun untuk mendorong kegiatan yang lebih kompleks dan lebih beragam, terutama yang bertumpu pada kemampuan produktif yang sudah ada. Naskah merangkumnya dalam dua kata kunci, inovasi dan diversifikasi. Secara keseluruhan, para penulis meminta kebijakan dirancang untuk mempersempit jarak antara negara berpendapatan tinggi dan rendah.

Para penulis mencatat beberapa keterbatasan. Produk domestik bruto per kapita menangkap perbedaan antarnegara, bukan ketimpangan di dalam satu negara. Hasil mereka juga mungkin terpengaruh faktor yang tidak ikut dihitung, seperti struktur pasar kerja atau pembentukan modal. Selain itu, tidak semua dari 115 negara memiliki data yang bersambung dari 1995 sampai 2020, sehingga ketepatan taksiran di kuantil bawah dan atas bisa terganggu.

Untuk langkah berikutnya, mereka menyarankan riset yang memasukkan data pendapatan di dalam negeri agar ketimpangan pada tingkat perorangan lebih tertangkap. Kajian lanjutan juga dapat diperluas ke data wilayah atau sektor. Dengan begitu, tulis mereka, akan terlihat lebih rinci bagaimana kemampuan produktif membentuk pendapatan dalam konteks ekonomi yang berbeda-beda.

Simpulan naskah merangkum dua arah itu. Pada kuantil tinggi, kompleksitas ekonomi terkait dengan pendapatan per kapita yang lebih tinggi. Pada kuantil rendah, pengaruhnya terhadap pendapatan per kapita negatif. Sementara itu, peningkatan modal manusia, jumlah penduduk, dan mutu kelembagaan disebut mengurangi kesenjangan pendapatan antara negara berpendapatan rendah dan tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Benny Gantz Mundur dari Pemilu Israel, Partainya Terancam Gagal
Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 160 Orang
Arab Saudi Tunda Konferensi FII 2026 di Tengah Serangan Houthi
Label Pintar di Botol Alkohol Melompati Aturan Kesehatan
Lembaga Keuangan BRICS+ Menguat, Energi Terbarukan Menyusut
Ibu Bangladesh Rajin Periksa Hamil Lebih Kerap Bersalin di Faskes