- Secara keseluruhan, 63,5 persen dari 4.433 perempuan Bangladesh itu melahirkan di fasilitas kesehatan.
- Tanpa periksa hamil hanya 19,2 persen bersalin di fasilitas kesehatan, sedangkan empat kali atau lebih 83,7 persen.
- Di rumah tangga termiskin angkanya 38,8 persen, sedangkan di rumah tangga terkaya 87,5 persen.
- Divisi Khulna mencatat 83,3 persen, sementara Mymensingh paling bawah dengan 51,1 persen.
- Kaitan televisi dan internet menghilang setelah semua faktor dihitung bersama.
Daftar Isi
- Lima belas tahun yang memindahkan banyak persalinan dari rumah ke fasilitas kesehatan
- Dari rumah tangga termiskin ke yang terkaya, angkanya terpaut hampir lima puluh poin
- Periksa hamil, faktor yang kaitannya paling kuat dengan bersalin di fasilitas kesehatan
- Khulna di urutan teratas, Mymensingh di urutan terbawah, dan desa di belakang kota
- Televisi dan internet tampak penting, sampai harta dan sekolah ikut dihitung
Dari 381 perempuan Bangladesh yang tidak sekali pun memeriksakan kehamilannya, hanya 19,2 persen yang melahirkan di fasilitas kesehatan. Pada 1.057 perempuan yang memeriksakan diri empat kali atau lebih, angkanya 83,7 persen. Selisihnya 64,5 poin persentase. Di antara semua hal yang ditimbang dalam data itu, pemanfaatan layanan kesehatan menunjukkan kaitan yang paling kuat dengan tempat seorang ibu melahirkan.
Hitungan itu disusun Mahmudul Hasan dan Suman Biswas dalam artikel Socioeconomic and geographic disparities in institutional delivery in Bangladesh: a Bayesian multilevel modelling framework, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya berasal dari Department of Statistics and Data Science, Islamic University, Kushtia, Bangladesh. Bahan mereka adalah jawaban 4.433 perempuan berusia 15 sampai 49 tahun dalam Survei Demografi dan Kesehatan Bangladesh 2022.
Secara keseluruhan, 63,5 persen dari para perempuan itu melahirkan di fasilitas kesehatan. Sisanya, 36,5 persen, tidak. Yang dihitung sebagai fasilitas kesehatan adalah rumah sakit pemerintah atau swasta, pusat kesehatan yang dikelola lembaga swadaya masyarakat, dan klinik. Persalinan di rumah atau di tempat lain masuk kelompok kedua.
Lima belas tahun yang memindahkan banyak persalinan dari rumah ke fasilitas kesehatan
Mundur ke 2007. Menurut survei yang sama pada tahun itu, hanya 15 persen kelahiran di Bangladesh terjadi di fasilitas kesehatan. Angkanya naik menjadi 29 persen pada 2011, lalu 49 persen pada 2017–2018. Data 2022 yang diolah Hasan dan Biswas menunjukkan 63,5 persen. Layanan kesehatan ibu di negara itu, tulis mereka, membaik secara berarti dalam 15 tahun terakhir.
Angka kematian ibu bergerak searah. Rasio kematian ibu di Bangladesh turun dari 437 per 100.000 kelahiran hidup pada 2001 menjadi 123 pada 2020. Sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030. Untuk sampai ke sana, menurut naskah itu, dibutuhkan upaya yang berkelanjutan dan terarah. Pada 2015 saja, sekitar 5.500 kematian ibu dilaporkan di negara tersebut.
Mengapa tempat melahirkan begitu dipersoalkan? Persalinan di fasilitas kesehatan, tulis kedua peneliti, memastikan hadirnya tenaga medis terampil untuk menangani komplikasi serta menjaga keselamatan ibu dan bayi. Di seluruh dunia, sekitar 287.000 perempuan meninggal setiap tahun karena sebab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Sebagian besar terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, terutama di Asia Selatan dan Afrika Sub-Sahara.
Tetapi kemajuan itu tidak merata. Ringkasan tingkat nasional, kata para penulis, sering menyembunyikan ketimpangan yang dalam. Maka mereka memecah angka 63,5 persen itu menurut tiga lapis: perempuan itu sendiri, rumah tangganya, dan wilayah tempat ia tinggal. Di tiap lapis, jaraknya lebar.
Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter
Dari rumah tangga termiskin ke yang terkaya, angkanya terpaut hampir lima puluh poin
Harta lebih dulu. Di rumah tangga termiskin, 38,8 persen perempuan melahirkan di fasilitas kesehatan. Di kelompok miskin 54,0 persen, menengah 63,9 persen, kaya 74,9 persen. Di rumah tangga terkaya, 87,5 persen. Jarak antara ujung bawah dan ujung atas 48,7 poin. Naskah menyebutnya sebagai jenjang sosial ekonomi yang paling curam.
Sekolah menggambar tangga yang mirip. Perempuan tanpa pendidikan: 38,8 persen melahirkan di fasilitas kesehatan. Lulusan pendidikan dasar 46,5 persen, pendidikan menengah 65,9 persen. Pada perempuan berpendidikan tinggi, 87,2 persen. Pendidikan ibu, tulis para penulis, berkaitan kuat dengan persalinan di fasilitas kesehatan.
Ketika semua faktor diperhitungkan bersama, keduanya bertahan. Peluang perempuan dari rumah tangga terkaya untuk melahirkan di fasilitas kesehatan 2,76 kali peluang perempuan termiskin. Kelompok kaya 1,98 kali, kelompok menengah 1,51 kali. Perempuan berpendidikan tinggi berpeluang 2,87 kali dibanding yang tidak bersekolah. Pendidikan dasar saja tidak memberi perbedaan yang bermakna.
Penjelasan yang dihimpun naskah dari pustaka rujukannya terasa dekat. Rumah tangga yang kurang mampu mungkin menghabiskan hampir seluruh uangnya untuk makan, sehingga sedikit yang tersisa untuk kesehatan dan pendidikan. Perempuan miskin bergantung pada dukun beranak yang sumber dayanya tidak memadai. Perempuan yang lebih berada menjangkau layanan persalinan yang lebih aman dan ditangani tenaga terampil.
Soal sekolah, ada satu lapisan lagi. Pendidikan seorang ibu memang menguatkan pilihannya atas kesehatan diri. Namun dalam tatanan masyarakat Bangladesh yang berpusat pada laki-laki, tulis para penulis, pendidikan itu juga yang membuka dukungan rumah tangga dan keputusan bersama. Keduanya dibutuhkan agar seorang ibu bisa melahirkan di fasilitas kesehatan.
Periksa hamil, faktor yang kaitannya paling kuat dengan bersalin di fasilitas kesehatan
Kembali ke 381 perempuan tadi. Di antara mereka dan kelompok empat kali atau lebih, ada kelompok terbesar: 2.995 perempuan yang dicatat memeriksakan kehamilan satu sampai empat kali. Sebanyak 61,9 persen dari mereka melahirkan di fasilitas kesehatan. Tiga kelompok, tiga angka: 19,2 persen, 61,9 persen, 83,7 persen.
Setelah harta, sekolah, dan wilayah ikut dihitung, kaitan itu tetap yang paling besar. Peluang kelompok satu sampai empat kali periksa 4,77 kali peluang mereka yang tidak pernah periksa. Kelompok empat kali atau lebih 7,83 kali. Makin sering kehamilan diperiksa, tulis para penulis, makin besar kemungkinan persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan.
Apa yang terjadi di ruang periksa itu? Naskah merujuk dua hal. Kunjungan membantu membangun pemahaman tentang risiko di sekitar persalinan dan mendukung perencanaan lebih awal. Selain itu, dalam pemeriksaan kehamilan banyak perempuan mengetahui program pemerintah yang menawarkan pembayaran atau voucer untuk melahirkan di fasilitas kesehatan. Informasi itu sering mengantar mereka memilih rumah sakit atau klinik.
Anak keberapa yang dilahirkan juga berbicara. Pada kelahiran pertama atau kedua, 70,1 persen berlangsung di fasilitas kesehatan. Pada kelahiran ketiga dan seterusnya, 48,0 persen. Dalam hitungan akhir, peluangnya 43 persen lebih rendah. Ibu yang baru pertama melahirkan, menurut pustaka yang dirujuk, biasanya lebih berhati-hati. Yang sudah berkali-kali melahirkan bisa bersandar pada pengalaman dan lebih condong melahirkan di rumah.
Perempuan bekerja mencatat 58,3 persen, yang tidak bekerja 65,0 persen. Namun dalam hitungan akhir, perbedaan itu tidak pasti secara statistik. Para penulis menduga pekerjaan semata mungkin bukan penghalang. Jenis pekerjaan dan ketiadaan kebijakan yang mendukung, tulis mereka, kemungkinan lebih berpengaruh.
Usia memberi pola yang tidak lurus. Perempuan 30 sampai 34 tahun berpeluang 1,43 kali dibanding yang berusia 15 sampai 19 tahun. Angka tertinggi muncul pada usia 40 sampai 44 tahun, tetapi ketidakpastiannya besar. Kelompok 45 sampai 49 tahun hanya berisi delapan orang. Pola ini, kata naskah, berbeda dari India, Nepal, dan Ethiopia, tempat perempuan lebih muda cenderung lebih sering melahirkan di fasilitas kesehatan.
Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas
Khulna di urutan teratas, Mymensingh di urutan terbawah, dan desa di belakang kota
Pindah ke peta. Di Divisi Khulna, 83,3 persen perempuan melahirkan di fasilitas kesehatan. Di Rajshahi 71,8 persen, Dhaka 69,2 persen, Rangpur 62,4 persen, Chattogram 60,3 persen. Lalu Barishal 57,3 persen, Sylhet 53,3 persen. Mymensingh paling bawah: 51,1 persen. Naskah menyebut ketimpangan antarwilayah itu nyata.
Dalam hitungan akhir, Barishal dijadikan pembanding. Peluang perempuan di Khulna 4,14 kali peluang perempuan di Barishal. Rajshahi 2,03 kali, Rangpur 1,62 kali. Sylhet, Chattogram, Dhaka, dan Mymensingh tidak dapat dibedakan secara statistik dari Barishal. Temuan itu, tulis para penulis, menegaskan perlunya strategi yang khas untuk tiap wilayah.
Kota dan desa terbelah juga. Di perkotaan, 74,9 persen persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan. Di perdesaan, 57,8 persen. Setelah faktor lain dihitung, peluang perempuan desa 27 persen lebih rendah. Naskah menyebut kekurangan fasilitas dan tenaga kesehatan yang terpusat di perdesaan. Para penulis menulis temuan mereka menguatkan hukum layanan terbalik: yang paling membutuhkan layanan kesehatan kerap paling sulit menjangkaunya.
Agama rumah tangga ikut tercatat. Dari 4.052 perempuan Muslim, 61,6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan. Dari 346 perempuan Hindu, 85,0 persen. Para penulis meminta angka itu dibaca hati-hati. Kaitan tersebut, tulis mereka, mungkin mencerminkan kondisi sosial ekonomi, norma gender, dan perbedaan akses layanan yang bertumpang tindih dengan afiliasi agama, bukan keyakinan agama semata. Praktik keagamaan tidak diukur langsung.
Ada pula perbedaan antarklaster, satuan wilayah cacah dalam survei, yang berjumlah 674. Perempuan di klaster yang kinerjanya lebih tinggi, tulis para penulis, berpeluang kira-kira dua kali perempuan di klaster yang kinerjanya lebih rendah. Hampir 60 persen keragaman antarklaster itu terjelaskan oleh gabungan faktor perorangan, rumah tangga, dan wilayah.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Televisi dan internet tampak penting, sampai harta dan sekolah ikut dihitung
Sebelum faktor lain dihitung, paparan media tampak berkaitan dengan tempat bersalin. Perempuan yang tidak menonton televisi: 51,8 persen melahirkan di fasilitas kesehatan. Yang tidak memakai internet: 56,6 persen. Penonton dan pengguna mencatat angka yang lebih tinggi. Pembaca koran bahkan 82,7 persen, dibanding 62,0 persen pada yang tidak membaca sama sekali.
Lalu semua faktor dihitung bersama, dan kaitan itu menghilang. Menonton televisi, memakai internet, melek huruf, listrik di rumah, jenis kelamin kepala rumah tangga: tidak satu pun menunjukkan bukti pengaruh yang kuat. Jarak ke fasilitas kesehatan pun demikian, meski semula 66,3 persen berbanding 60,0 persen antara yang tidak dan yang menganggap jarak sebagai masalah besar.
“Wawasan kunci dari studi kami adalah bahwa ketimpangan pendidikan dan ekonomi, bukan paparan media, lebih berpengaruh dalam menentukan pilihan tempat bersalin,” tulis Mahmudul Hasan dan Suman Biswas, peneliti Department of Statistics and Data Science, Islamic University, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Paparan media, menurut keduanya, terutama berfungsi sebagai penanda bagi hal lain.
Maksud mereka begini. Perempuan dengan latar pendidikan dan ekonomi yang kuat cenderung melahirkan di fasilitas kesehatan, terlepas dari paparan medianya. Sebaliknya, perempuan yang terpapar media tetapi kurang berpendidikan atau lebih miskin tetap mencatat angka yang lebih rendah.
Kedua peneliti mencatat batas temuannya. Datanya potret sesaat, sehingga hasilnya harus dibaca sebagai kaitan, bukan sebab-akibat yang pasti. Jawaban bersandar pada ingatan responden. Faktor yang tidak terukur, seperti perilaku mencari layanan kesehatan, bisa memengaruhi kunjungan periksa hamil sekaligus tempat melahirkan. Studi ini juga tidak menyentuh mutu layanan, ketepatan waktu, kepuasan pasien, atau hasil klinis.
Usulan mereka mengikuti garis-garis ketimpangan itu. Pembuat kebijakan diminta memudahkan setidaknya empat kali atau lebih kunjungan periksa hamil. Fasilitas kesehatan di Barishal, Sylhet, dan Mymensingh disebut mungkin perlu diperkuat. Menjaga anak perempuan tetap bersekolah, terutama yang terancam putus karena kesulitan keuangan, disebut berdampak panjang. Disebut pula kebijakan tempat kerja yang ramah kehamilan dan lebih banyak tenaga kesehatan perempuan terlatih.
Naskah ditutup pada para ibu yang berada di ujung bawah setiap tangga tadi. Mereka yang tinggal di komunitas berpendapatan rendah, berpendidikan rendah, dan terpencil, tulis Hasan dan Biswas, membutuhkan perhatian utama sepanjang kehamilan untuk mengurangi risiko yang dapat dicegah. Ketimpangan yang bertahan, kata keduanya, dapat menjadi tantangan jangka panjang bagi kesehatan negara itu.















