Lansia India Berpenyakit Kronis Lebih Sering Terpukul Bencana

A A

Air banjir merendam pepohonan dan pagar di tepi jalan Distrik Fatehabad, Haryana, India, 2023 [Foto: Hemish (Securearth)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Ia mengolah jawaban 65.652 orang berusia 45 tahun ke atas.
  • Pada penyandang dua penyakit atau lebih, peluang itu 45 persen lebih tinggi.
  • Dengan kata lain, kaitan antara penyakit kronis dan dampak bencana lebih kuat di perdesaan.
  • Di wilayah Tengah, 5,6 persen responden melaporkan dampak kesehatan berat, angka tertinggi.
Daftar Isi
  1. Dari Katrina ke Fukushima, lalu ke pertanyaan Anil Kumar Pal
  2. Survei 2017–2018: sembilan penyakit dan satu pertanyaan
  3. Dari 3,1 ke 3,9 persen dalam hitungan Pal
  4. Desa dan kota dalam model Pal
  5. Lima tahun terakhir di India Tengah dan Timur
  6. Usia, jenis kelamin, dan sekolah dalam data 2017–2018
  7. Batas yang ditulis Pal dan saran penelitian berikutnya

Penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas diperkirakan berlipat dua pada 2050 hingga mendekati 2,1 miliar jiwa, dan India ikut menua dengan cepat. Pada masa yang sama, banjir, siklon, kekeringan, gelombang panas, dan gempa datang berulang ke negeri itu setiap tahun. Di antara dua arus itulah sebuah pertanyaan survei diajukan kepada puluhan ribu warga India: dalam lima tahun terakhir, apakah kesehatan Anda terganggu berat oleh bencana?

Jawaban atas pertanyaan itu diolah Anil Kumar Pal dalam artikel Association between chronic morbidity and self-reported disaster-related severe health impacts among older adults in India: evidence from the longitudinal ageing study in India (LASI), 2017–2018, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Ia menyandingkan jawaban tersebut dengan jumlah penyakit kronis yang disandang tiap orang. Hasilnya berjenjang: makin banyak penyakit menahun yang dibawa seseorang, makin sering ia melaporkan kesehatannya terpukul berat oleh bencana, dan jenjang itu paling curam di perdesaan.

Dari Katrina ke Fukushima, lalu ke pertanyaan Anil Kumar Pal

Selama ini, tulis Pal, bukti tentang penyakit kronis dan bencana banyak datang dari luar India. Sesudah Badai Katrina di Amerika Serikat, riset yang ia rujuk mencatat pengobatan diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan pada orang lanjut usia terputus. Banyak penyintas mengurangi atau menghentikan obat karena apotek sulit dijangkau, fasilitas klinik rusak, dan rekam medis hilang.

Jepang memberi catatan serupa. Setelah Gempa Besar Jepang Timur dan bencana nuklir Fukushima, penghuni panti wreda yang dievakuasi menghadapi risiko kematian yang jauh lebih tinggi. Para pengungsi lanjut usia yang tinggal di tengah masyarakat pun menunjukkan kendali diabetes dan kadar lemak darah yang memburuk pada tahun-tahun berikutnya, seiring perpindahan tempat tinggal dan rutinitas yang berantakan.

Di India sendiri, menurut Pal, kajian bencana lebih banyak menyorot kematian, pengungsian, kesehatan jiwa, dan tanggap darurat. Dua riset terdahulu memakai survei yang sama dengannya. Satu menelaah bencana dan gejala depresi pada orang lanjut usia, satu lagi menelaah banyaknya penyakit dan mutu hidup tanpa menyinggung bencana. Belum ada yang menimbang beban penyakit kronis terhadap dampak bencana, apalagi memisahkan desa dari kota.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Survei 2017–2018: sembilan penyakit dan satu pertanyaan

Bahan Pal adalah gelombang pertama Longitudinal Ageing Study in India, survei nasional yang digelar pada 2017–2018 di seluruh negara bagian. Ia mengolah jawaban 65.652 orang berusia 45 tahun ke atas. Hampir dua pertiga dari mereka, 64,9 persen, tinggal di perdesaan. Sebanyak 47,1 persen tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Penyakit kronis dihitung dari sembilan kondisi yang pernah dinyatakan tenaga kesehatan kepada responden: kolesterol tinggi, penyakit paru kronis, penyakit jantung kronis, stroke, hipertensi, diabetes, kanker atau tumor ganas, penyakit tulang atau sendi, serta gangguan saraf atau kejiwaan. Lebih dari separuh responden, 53,4 persen, tidak menyandang satu pun. Sebanyak 27,6 persen menyandang satu, dan 19,1 persen menyandang dua atau lebih, hampir satu dari lima orang.

Bencana yang ditanyakan mencakup dua rumpun. Yang pertama bencana alam seperti banjir, tanah longsor, cuaca dingin dan panas ekstrem, siklon, kekeringan, gempa, dan tsunami. Yang kedua kejadian buatan manusia seperti kerusuhan, terorisme, bangunan runtuh, kebakaran, dan kecelakaan lalu lintas. Pal menegaskan yang terekam adalah pengakuan bahwa kesehatan terganggu berat, bukan sekadar pernah berada di lokasi kejadian.

Dari 3,1 ke 3,9 persen dalam hitungan Pal

Secara keseluruhan, 3,3 persen responden menyatakan kesehatannya terganggu berat oleh bencana dalam lima tahun terakhir, sedangkan 96,7 persen tidak. Angka itu tidak rata. Di antara mereka yang tanpa penyakit kronis, 3,1 persen melapor demikian. Pada penyandang satu penyakit angkanya 3,3 persen, dan pada penyandang dua penyakit atau lebih mencapai 3,9 persen.

Makin banyak penyakit, makin sering terpukulTanpa penyakit kronis: Persen +3,1; Satu penyakit kronis: Persen +3,3; Dua penyakit kronis atau lebih: Persen +3,9.Makin banyak penyakit, makin sering terpukulPersen pelapor dampak kesehatan berat akibat bencana123450Tanpa penyakit kronis3,1Satu penyakit kronis3,3Dua penyakit kronis atau lebih3,9Warga India berusia 45 tahun ke atas, lima tahun terakhir.
Sumber: Anil Kumar Pal, Association between chronic morbidity and self-reported disaster-related severe health impacts among older adults in India: evidence from the longitudinal ageing study in India (LASI), 2017–2018, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Selisih itu bertahan, bahkan menajam, setelah Pal memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, wilayah, kebiasaan, dan keadaan kesehatan responden. Penyandang satu penyakit kronis memiliki peluang 13 persen lebih tinggi untuk melaporkan dampak berat dibanding mereka yang tanpa penyakit. Pada penyandang dua penyakit atau lebih, peluang itu 45 persen lebih tinggi.

Pal menautkan pola ini dengan riset terdahulu yang ia rujuk. Orang lanjut usia berpenyakit kronis bergantung pada perawatan, pemantauan, dan obat yang tidak boleh putus. Beberapa penyakit sekaligus, misalnya hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung atau pernapasan, membuat perawatan lebih rumit dan pengobatan lebih mudah terhenti. Ruang tubuh untuk menahan guncangan akibat mengungsi, kekurangan pangan atau air, dan kehilangan tempat berteduh pun menyempit.

Penilaian orang atas kesehatannya sendiri bergerak searah. Di antara yang menilai kesehatannya baik, 2,4 persen melaporkan dampak berat bencana. Pada yang menilai sedang angkanya 3,5 persen, dan pada yang menilai buruk 5,1 persen. Dalam hitungan akhir Pal, kelompok berkesehatan sedang berpeluang 41 persen lebih tinggi, sedangkan kelompok berkesehatan buruk lebih dari dua kali lipat dibanding kelompok berkesehatan baik.

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Desa dan kota dalam model Pal

Tempat tinggal memisahkan jawaban dengan tegas. Sebanyak 3,8 persen warga desa melaporkan kesehatannya terganggu berat oleh bencana, berbanding 2,3 persen warga kota. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang warga kota 33 persen lebih rendah daripada warga desa. Temuan itu sendiri belum menjawab pertanyaan Pal yang lebih khusus, yaitu apakah beban penyakit kronis bekerja sama beratnya di kedua tempat.

Jawabannya tidak sama. Dibanding warga desa, warga kota yang menyandang satu penyakit kronis berpeluang 25 persen lebih rendah melaporkan dampak berat, dan yang menyandang dua penyakit atau lebih 26 persen lebih rendah. Dengan kata lain, kaitan antara penyakit kronis dan dampak bencana lebih kuat di perdesaan. Peluang itu naik bersama jumlah penyakit di desa maupun di kota, tetapi kenaikannya lebih tajam di desa.

Pal membaca perbedaan itu lewat keadaan layanan kesehatan. Kepustakaan yang ia rujuk menunjuk terputusnya obat, pemeriksaan, dan kontrol rutin sebagai pendorong utama sakit sesudah bencana pada penyandang penyakit tidak menular, dan gangguan itu paling parah di daerah miskin sumber daya dan perdesaan. Warga lanjut usia di desa India juga lebih bergantung pada pertanian, dengan angkutan dan sarana tanggap darurat yang lebih lemah.

Kota tidak lantas ia sebut aman. “Temuan ini karena itu tidak semestinya dibaca seakan-akan penduduk lanjut usia di kota aman begitu saja,” tulis Anil Kumar Pal, penulis tunggal naskah itu, dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris. Ia merujuk riset tentang rumah tangga miskin kota di India, yang menunjukkan permukiman informal kerap menanggung risiko iklim yang menyamai atau melampaui perdesaan.

Lima tahun terakhir di India Tengah dan Timur

Peta India ikut membelah jawaban. Di wilayah Tengah, 5,6 persen responden melaporkan dampak kesehatan berat, angka tertinggi. Wilayah Timur menyusul dengan 4,5 persen dan wilayah Barat 4,0 persen. Timur Laut mencatat 2,3 persen, sementara Utara dan Selatan sama-sama 2,2 persen, terendah di antara enam wilayah.

India Tengah dan Timur paling tinggiUtara: Persen +2,2; Tengah: Persen +5,6; Timur: Persen +4,5; Timur Laut: Persen +2,3; Barat: Persen +4,0; Selatan: Persen +2,2.India Tengah dan Timur paling tinggiPersen yang melaporkan dampak kesehatan berat, menurut wilayah1234560Utara2,2Tengah5,6Timur4,5Timur Laut2,3Barat4,0Selatan2,2Warga India berusia 45 tahun ke atas, lima tahun terakhir.
Sumber: Anil Kumar Pal, Association between chronic morbidity and self-reported disaster-related severe health impacts among older adults in India: evidence from the longitudinal ageing study in India (LASI), 2017–2018, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah faktor lain diperhitungkan, warga wilayah Tengah berpeluang lebih dari dua kali lipat dibanding warga Utara. Peluang warga Timur, Barat, dan Timur Laut juga lebih tinggi secara bermakna, sedangkan Selatan tidak berbeda dari Utara. Menurut Pal, pola itu mengikuti sebaran bahaya yang sudah dikenal: banjir, siklon, dan longsor berulang di negara bagian timur dan timur laut, kekeringan dan panas ekstrem yang kian sering di barat dan tengah.

Kelompok sosial memperlihatkan selisih pula. Peluang melaporkan dampak berat lebih tinggi pada responden dari golongan Other Backward Classes dan pada responden Muslim dibanding kelompok pembandingnya. Pal menjelaskannya dengan ketimpangan yang bersifat struktural: kelompok yang terpinggirkan di India, tulisnya, lebih banyak bermukim di lingkungan yang rawan, padat, dan minim layanan, sehingga lebih mudah terkena dan lebih sulit pulih.

Usia, jenis kelamin, dan sekolah dalam data 2017–2018

Ada temuan yang sepintas berlawanan dengan anggapan umum. Makin tua responden, makin rendah peluangnya melaporkan dampak berat. Dibanding kelompok usia 45 sampai 49 tahun, peluang kelompok 60 sampai 69 tahun 14 persen lebih rendah, kelompok 70 sampai 79 tahun 28 persen lebih rendah, dan kelompok 80 tahun ke atas 39 persen lebih rendah.

Pal menawarkan penjelasan. Mereka yang lebih muda masih giat bekerja, lebih banyak bergerak, dan lebih sering menggeluti pekerjaan luar ruang atau pertanian, sehingga lebih mungkin berhadapan langsung dengan banjir atau gelombang panas. Yang tertua lebih banyak tinggal di rumah atau bergantung pada perawat. Hasil ini, tulisnya, adalah bukti tentang siapa yang lebih mungkin berjumpa bencana, bukan bukti bahwa yang tertua lebih aman bila bencana terjadi.

Kehati-hatian serupa ia terapkan pada jenis kelamin. Sebanyak 3,7 persen laki-laki melaporkan dampak berat, berbanding 3,0 persen perempuan, dan selisih itu bertahan dalam hitungan akhir. Pal menautkannya dengan pembagian kerja di perdesaan India, tempat laki-laki lebih sering bertani dan bekerja kasar di luar ruang. Laporan yang lebih rendah pada perempuan, tulisnya, tidak boleh dibaca sebagai kerentanan yang lebih rendah.

Sekolah tampil sebagai pelindung. Di antara responden tanpa pendidikan formal, 3,8 persen melaporkan dampak berat, sedangkan pada yang bersekolah sepuluh tahun atau lebih angkanya 2,7 persen. Setiap jenjang pendidikan berkaitan dengan peluang yang lebih rendah dibanding tanpa sekolah. Pernah minum alkohol berkaitan dengan peluang yang sedikit lebih tinggi, sementara tembakau, status janda atau duda, dan tinggal sendirian tidak menunjukkan kaitan yang berdiri sendiri.

Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah

Batas yang ditulis Pal dan saran penelitian berikutnya

Pal sendiri memagari bacaannya. Seluruh data dikumpulkan dalam satu kali wawancara, sehingga tidak dapat ditentukan mana yang lebih dulu: penyakit kronis atau dampak bencana. “Karena itu, semua hubungan yang dilaporkan di sini harus ditafsirkan sebagai korelasi, bukan sebab-akibat,” tulisnya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Sama mungkinnya, menurut dia, bencana yang memicu atau memperburuk penyakit kronis, atau keduanya berakar pada kemiskinan dan rumah yang buruk.

Batas lain ia sebut satu per satu. Penyakit dan dampak bencana sama-sama berasal dari penuturan responden yang mengingat lima tahun ke belakang, sehingga bisa meleset. Bencana alam dan kejadian buatan manusia digabung menjadi satu jawaban ya atau tidak, tanpa keterangan jenis, keparahan, lama, atau waktunya. Mutu rumah, bahaya setempat, dan akses layanan kesehatan saat bencana tidak tercatat dalam survei.

Dengan catatan itu, Pal mengajukan saran sebagai prioritas yang masih perlu diuji. Pengelolaan penyakit kronis, menurut dia, perlu dimasukkan ke dalam kesiapsiagaan bencana, dengan layanan kesehatan dasar di desa yang menjamin obat tidak terputus. Ia menyebut petugas kesehatan masyarakat, termasuk Accredited Social Health Activists dan Auxiliary Nurse Midwives, yang dapat mendata warga lanjut usia berisiko tinggi dan menjaga perawatan mereka saat darurat.

Pal menempatkan naskahnya di samping dua riset India terdahulu tentang depresi dan mutu hidup, dengan tambahan berupa gambaran nasional tentang penyakit kronis, tempat tinggal, dan dampak bencana pada kesehatan. Untuk langkah berikutnya ia menyebut penelitian yang mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu, guna memastikan jalur sebab-akibat serta menilai dampak jangka panjang bencana pada perjalanan penyakit kronis dan penuaan yang sehat.

Bagikan

Baca Juga

Delapan dari Sepuluh Dokter di Zagazig Hindari Pasien Berisiko
Cemas Mahasiswa Lebanon saat Perang Terkait Bom, Bukan Pola Makan
Hampir Separuh Atlet Muda Damaskus Pernah Cedera Gigi dan Wajah
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal
Survei: Sepertiga Pekerja Tiongkok di Afrika Kena Penyakit Tropis
Perawat Paling Sering Tertusuk Jarum di Sebuah Rumah Sakit India