- Lebih dari empat dari sepuluh mahasiswa Lebanon cemas saat perang.
- Di kelompok cemas, 41,1 persen terkena langsung pengeboman.
- Nafsu makan yang turun terkait dengan peluang cemas 3,63 kali.
- Pola makan sehari-hari tidak membedakan kedua kelompok.
Daftar Isi
Lebih dari empat dari sepuluh mahasiswa Lebanon cemas saat perang. Angka persisnya 43,6 persen, atau 175 dari 401 mahasiswa yang mengisi survei pada Oktober sampai Desember 2024. Kecemasan itu berjalan bersama bom, kuliah daring, dan pekerjaan, bukan bersama pola makan atau olahraga mereka.
Temuan itu ditulis Rawane Rawda El Balah, Nicole Fakhoury Sayegh, Aya El Hajj, Nour El Helou, dan Tatiana Papazian dalam artikel berjudul Anxiety and lifestyle behaviors among Lebanese university students during armed conflict: a cross-sectional study. Naskah itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Empat penulis bekerja di Department of Nutrition, Faculty of Pharmacy, Saint Joseph University of Beirut, sedangkan Aya El Hajj tercatat di University of Rouen Normandy, Prancis.
Lebanon sudah lama akrab dengan perang. Naskah menyebut perang saudara 16 tahun pada 1975–1990, invasi 1982, 2000, dan 2006, lalu eskalasi terbaru yang dimulai akhir 2023 dan menguat sepanjang 2024. Pengeboman paling berat menimpa pinggiran selatan Beirut, South Lebanon, dan Bekaa, sementara kampus ditutup dan seluruh perkuliahan pindah ke layar.
Siapa yang disurvei
Para mahasiswa itu berusia 18 sampai 26 tahun, dengan rata-rata 21 tahun. Tiga dari empat adalah perempuan, tepatnya 75,6 persen. Hampir separuhnya tinggal di Mount Lebanon, yakni 49,6 persen, disusul 35,9 persen di Beirut dan 9,6 persen di South Lebanon.
Sebagian besar belajar ilmu kesehatan, dengan porsi 59,9 persen. Dua dari tiga peserta hanya kuliah, yakni 66,1 persen. Sebanyak 17,5 persen kuliah sambil bekerja paruh waktu, dan 16,5 persen kuliah sambil bekerja penuh waktu.
Kecemasan diukur dengan kuesioner tujuh butir bernama GAD-7. Skor 10 ke atas dihitung sebagai cemas yang bermakna secara klinis. Sebanyak 175 mahasiswa melewati batas itu, sedangkan 226 lainnya tidak.
Kecemasan lebih sering ditemukan pada mahasiswi. Di kelompok cemas, 82,3 persen adalah perempuan. Di kelompok tidak cemas, porsinya 70,4 persen.
Para penulis menyandingkan angka mereka dengan Ukraina. Sebuah riset 2025 yang mereka rujuk mencatat 34,1 persen mahasiswa Ukraina mengalami cemas sedang hingga berat. Pengukuran itu dilakukan dua puluh bulan setelah perang dengan Rusia dimulai, dan mahasiswi di sana juga lebih rentan.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Bom dan rumah
Bom memisahkan dua kelompok itu dengan jelas. Di kelompok cemas, 41,1 persen terkena langsung pengeboman. Di kelompok tidak cemas, angkanya 19,9 persen, kira-kira satu dari lima.
Mengungsi menunjukkan pola serupa. Sebanyak 30,3 persen mahasiswa yang cemas terpaksa meninggalkan rumah karena pengeboman, sedangkan pada kelompok tidak cemas porsinya 16,8 persen. Dari seluruh peserta, 29,2 persen terkena langsung pengeboman dan 22,7 persen terpaksa meninggalkan rumah.
Hubungan dengan bom bertahan setelah faktor lain ikut diperhitungkan. Mahasiswa yang terkena langsung pengeboman punya peluang cemas sekitar 2,8 kali peluang mahasiswa yang tidak terkena. Angka persisnya 2,77.
Para penulis juga mencatat rasa cemas pada mahasiswa yang tidak terkena bom. Mereka menyebut rasa takut yang menetap, rasa tidak aman, dan ketidakpastian yang terus berlangsung. Semua itu bisa hadir tanpa paparan langsung.
Kuliah lewat layar
Kuliah daring ikut terkait. Di kelompok cemas, 58,3 persen merasa kuliah daring lebih menekan, sedangkan di kelompok tidak cemas angkanya 36,3 persen. Sebanyak 40,6 persen mahasiswa yang cemas juga merasa kuliah daring sangat mengganggu konsentrasi atau motivasi, berbanding 23,9 persen pada kelompok tidak cemas.
Gangguan berat itu terkait dengan peluang cemas 2,24 kali. Pembandingnya mahasiswa yang merasa tidak terganggu sama sekali. Para penulis menambahkan bahwa internet yang tidak stabil, listrik yang kurang, dan suasana rumah yang tidak mendukung bisa memperberat tekanan belajar.
Beban kerja penuh
Pekerjaan penuh waktu muncul sebagai penanda lain. Di kelompok cemas, 21,7 persen kuliah sambil bekerja penuh waktu. Di kelompok tidak cemas, hanya 12,4 persen.
Peluang cemas mahasiswa yang bekerja penuh waktu 2,62 kali peluang mahasiswa yang tidak bekerja. Kerja paruh waktu tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Pekerja paruh waktu justru lebih banyak di kelompok tidak cemas, 20,8 persen berbanding 13,1 persen.
Para penulis memberi konteks Lebanon. Kerja penuh waktu, tulis mereka, bisa mencerminkan tekanan keuangan dan tanggung jawab rumah tangga yang lebih berat. Keduanya diperparah oleh keadaan sosial dan politik yang tidak stabil.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Nafsu makan berubah
Hubungan paling kuat datang dari nafsu makan. Selama konflik, 41,4 persen mahasiswa merasa nafsu makannya naik dan 25,2 persen merasa turun. Hanya sepertiganya, 33,4 persen, yang tidak merasakan perubahan.
Di kelompok cemas, 52 persen melaporkan nafsu makan naik dan 33,1 persen melaporkan turun, sehingga yang tetap hanya 14,9 persen. Di kelompok tidak cemas, yang nafsu makannya tetap mencapai 47,8 persen.
Arah perubahannya tidak mengubah gambaran itu. Nafsu makan yang turun terkait dengan peluang cemas 3,63 kali. Nafsu makan yang naik terkait dengan peluang 3,37 kali, dan keduanya dibandingkan dengan mahasiswa yang nafsu makannya tidak berubah.
Para penulis menyebut perubahan nafsu makan sebagai respons yang sudah dikenal terhadap stres dan kecemasan. Menurut mereka, laporan mahasiswa tentang nafsu makannya bisa menjadi penanda yang lebih peka di tengah konflik. Ukuran mutu makanan yang biasa tidak menangkapnya.
Piring dan olahraga
Pola makan sehari-hari tidak membedakan kedua kelompok. Sebanyak 90,5 persen mahasiswa masuk golongan pola makan sedang. Hanya 6,5 persen yang pola makannya tergolong layak, dan 3 persen tergolong buruk.
Berat badan juga tidak. Sebanyak 62,6 persen mahasiswa punya indeks massa tubuh normal, dan sebarannya mirip di kedua kelompok. Dalam enam bulan terakhir, 42,6 persen mengaku berat badannya naik dan 31,4 persen mengaku turun.
Olahraga pun sama. Aktivitas fisik rendah tercatat pada 33,7 persen mahasiswa, sedang pada 41,9 persen, dan berat pada 24,4 persen. Pembagian itu tidak berbeda bermakna antara yang cemas dan yang tidak.
Ada satu catatan soal gerak badan. Sebanyak 61,1 persen mahasiswa merasa aktivitas fisiknya berkurang selama konflik. Porsinya 68,6 persen di kelompok cemas dan 55,3 persen di kelompok tidak cemas, tetapi hubungan itu hilang setelah bom, nafsu makan, dan gangguan kuliah ikut diperhitungkan.
Para penulis menawarkan penjelasan. Mahasiswa mungkin tidak berolahraga seperti biasa karena soal keamanan, pengungsian, takut pengeboman, dan lama tinggal di tempat penampungan. Aktivitas mereka secara umum berada di bawah anjuran WHO.
“Dalam keadaan seperti itu, perilaku gaya hidup seperti aktivitas fisik bisa menjadi nomor dua di bawah kekhawatiran yang lebih mendesak tentang keselamatan dan bertahan hidup,” tulis El Balah dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.
Rokok dan alkohol
Merokok lebih sering ditemukan pada mahasiswa yang cemas, 24,6 persen berbanding 15 persen pada kelompok tidak cemas. Alkohol menunjukkan gambaran lain. Separuh mahasiswa, 50,9 persen, tidak pernah minum alkohol, dan porsinya 57,1 persen di kelompok cemas serta 46 persen di kelompok tidak cemas.
Para penulis mengaitkan angka itu dengan norma setempat. Di Lebanon, tulis mereka, alkohol umumnya dipandang sebagai kebiasaan sosial atau perayaan, bukan konsumsi harian. Banyaknya peserta yang tidak minum mereka sebut mencerminkan norma agama dan budaya di komunitas Muslim.
Perubahan kebiasaan selama konflik juga terkait. Di kelompok cemas, 12 persen menambah konsumsi alkohol dan tembakau, sedangkan 5,1 persen menguranginya. Di kelompok tidak cemas, 91,2 persen tidak mengubah apa pun.
Para penulis membaca perubahan itu dengan hati-hati. Perubahan yang sedang sekalipun, tulis mereka, bisa mencerminkan upaya menghadapi tekanan batin. Hubungan rokok dan alkohol ini tidak bertahan dalam hitungan akhir yang memperhitungkan semua faktor.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Batas dan saran
Survei ini punya batas yang diakui para penulis. Peserta dijaring berantai lewat Facebook, Instagram, dan WhatsApp, sehingga yang terjangkau adalah mahasiswa yang terhubung secara digital. Hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke seluruh mahasiswa Lebanon.
Kebanyakan peserta perempuan, belajar ilmu kesehatan, dan tinggal di Beirut atau Mount Lebanon. Mahasiswa dari daerah yang paling parah terdampak kurang terwakili. Para penulis menyebut hal itu mungkin membuat angka kecemasan terhitung lebih rendah dari yang sebenarnya.
Semua data berasal dari laporan mahasiswa sendiri, dan alat ukur pola makan dipakai hanya sebagai penyaring singkat. Survei juga hanya memotret satu waktu. Karena itu para penulis menegaskan bahwa hubungan sebab-akibat tidak bisa ditarik.
Para penulis meminta riset lanjutan yang mengikuti mahasiswa dari waktu ke waktu. Mereka juga menyebut perlunya dukungan kesehatan jiwa yang peka konteks di lingkungan kampus. Dukungan itu mereka anggap penting pada masa pendidikan terganggu.
Untuk tingkat nasional ada dua saran. Pembuat kebijakan diminta memperkuat program ketahanan pangan, terutama pada masa konflik bersenjata. Ruang publik yang aman dan mudah dijangkau seperti taman juga perlu disediakan agar warga bisa bergerak.
Simpulan naskah itu pendek. Pada 401 mahasiswa Lebanon, tekanan perang, kuliah, dan pekerjaan menjadi faktor utama yang terkait dengan kecemasan, bukan perilaku gaya hidup.















