- Makanan ultra-olahan hanya menyumbang 8 persen dari berat seluruh makanan para penyintas kanker di Beirut.
- Sebanyak 99 persen peserta tidak memenuhi kebutuhan vitamin D dari makanan dan 95 persen tidak memenuhi kebutuhan kalium.
- Kue manis gaya Barat, keripik kentang, keju, dan es krim menjadi penyumbang utama makanan ultra-olahan.
- Kelompok dengan porsi makanan ultra-olahan terbesar menyantap 2.624 kilokalori sehari, kelompok terkecil 1.876 kilokalori.
- Hanya tingkat pendidikan yang berkaitan dengan pola makan yang secara keseluruhan tidak mencukupi.
Daftar Isi
Menjauhi makanan pabrik lazim dianggap sudah separuh jalan menuju piring yang sehat, seolah-olah kue kemasan, keripik, dan es krim adalah satu-satunya hal yang perlu disingkirkan dari meja makan. Para penyintas kanker di Beirut, Lebanon, memperlihatkan gambaran lain: makanan ultra-olahan memang hanya mengisi sebagian kecil dari apa yang mereka makan, tetapi hampir semua dari mereka tetap kekurangan vitamin D, kalium, dan vitamin A dari makanan sehari-hari.
Gambaran itu disusun oleh Remie El Helou, Bernard Srour, Ruba Hadla, Riwa Azar, Ziyad R. Mahfoud, Mathilde Touvier, Sally Temraz, dan Jana Jabbour dalam Ultra processed food consumption and nutrients adequacy among cancer survivors in Lebanon, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka mencatat pola makan 268 penyintas kanker dewasa yang sudah berada dalam remisi sedikitnya tiga bulan dan berobat di dua rumah sakit di Beirut, yakni American University of Beirut Medical Center dan Makassed General Hospital.
Yang disebut makanan ultra-olahan, dalam naskah itu, adalah makanan hasil pengolahan industri yang ekstensif, termasuk pemakaian bahan yang oleh para penulis disebut aditif kosmetik. Menurut para peneliti, inilah telaah pertama di Lebanon dan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang menakar sekaligus dua hal pada penyintas kanker: seberapa banyak makanan semacam itu mereka santap, dan seberapa tercukupi kebutuhan zat gizi mereka.
Porsi Kecil yang Tidak Menjamin Apa-Apa
Rata-rata, makanan ultra-olahan hanya menyumbang 8 persen dari berat seluruh makanan para penyintas itu, dan 17,5 persen dari asupan energi mereka. Angka itu jauh di bawah pembanding yang dikutip para penulis: penyintas kanker dalam kohort UK Biobank mencatat 25 sampai 29 persen dari berat makanan, sedangkan pada penduduk umum Lebanon makanan ultra-olahan menyumbang 25 sampai 47 persen dari asupan energi. Dua negara Eropa yang disebut dalam naskah, Prancis dan Inggris, mencatat 17 dan 30 persen dari berat makanan.
Para penulis menawarkan satu penjelasan yang mereka sampaikan dengan hati-hati, yaitu bahwa asupan yang lebih rendah itu mungkin mencerminkan pergeseran menuju perilaku yang lebih sehat sesudah diagnosis, sejalan dengan bukti bahwa penyintas kanker kerap mengambil kebiasaan makan yang lebih sadar kesehatan. Studi induk dari proyek yang sama, tulis mereka, juga menemukan kepatuhan tinggi para penyintas terhadap pedoman yang membatasi alkohol, daging merah, dan makanan padat energi.
Siapa orang-orang di balik angka itu juga dicatat dengan rinci. Usia rata-rata mereka 59 tahun, 83 persen perempuan, dan tujuh dari sepuluh adalah penyintas kanker payudara, sementara kira-kira separuhnya tinggal di kawasan kota dan separuhnya bergelar sarjana. Sebanyak 67 persen memiliki berat badan lebih atau obesitas, 65 persen tergolong rendah aktivitas fisiknya, dan 72 persen melaporkan rawan pangan. Hanya 23 persen yang, menurut tabel dalam naskah, pernah diberi panduan diet selama masa sesudah pengobatan.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Vitamin yang Hilang dari Meja Makan
Daftar zat gizi yang tidak tercukupi dari makanan ternyata panjang. Sebanyak 99 persen peserta tidak memenuhi kebutuhan vitamin D dari makanan, dengan asupan rata-rata hanya 0,8 mikrogram sehari, 95 persen tidak memenuhi kebutuhan kalium dengan rata-rata 2.527 miligram, dan 87 persen tidak memenuhi kebutuhan vitamin A. Asupan rata-rata vitamin A tercatat 350 RAE sehari.
Di bawah tiga zat gizi itu, kekurangan masih menjalar ke banyak arah, meski tidak lagi hampir merata. Kira-kira separuh peserta tidak mencukupi kalsium dan niasin, masing-masing 49 dan 47 persen, sepertiga tidak mencukupi tiamin, dan sekitar seperempat tidak mencukupi zinc serta folat. Hitungan itu, sebagaimana ditegaskan para penulis, diambil dari makanan saja dan tidak disesuaikan dengan suplemen, padahal 72 persen peserta mengaku mengonsumsinya, terutama vitamin D pada 58 persen dan kalsium pada 31 persen.
Bila seluruh zat gizi itu dirangkum dalam satu angka kecukupan rata-rata, hasilnya 0,82, di atas batas 0,75 yang dipakai para peneliti untuk menandai pola makan yang secara keseluruhan tidak mencukupi. Para penulis mengingatkan di bagian latar bahwa zat gizi mikro penting bagi kekebalan, perbaikan sel, dan peredaman peradangan pada penyintas kanker.
Kue, Keripik, dan Keju di Daftar Teratas
Lalu makanan ultra-olahan apa yang masih lolos ke piring mereka? Peringkat pertama ditempati kue manis gaya Barat, yaitu cupcake, muffin, cake, donat, dan cokelat, yang menyumbang 8,7 persen dari asupan makanan ultra-olahan, disusul keripik kentang 6,9 persen, keju 4,8 persen, serta es krim dan es loli 4,3 persen. Di bawahnya berderet biskuit, manisan Arab, puding, kaak dan croissant, permen, dan ghee nabati, masing-masing dengan sumbangan di bawah dua persen.
Bagi para penulis, susunan daftar itu menegaskan pengaruh pembaratan dan globalisasi atas pola makan Mediterania tradisional, yang menurut mereka lazimnya tidak memuat makanan ultra-olahan. Pergeseran itu, tulis mereka, melahirkan kegemaran pada makanan yang praktis dan enak tetapi miskin gizi di kalangan orang Lebanon, termasuk para penyintas kanker. Manisan Arab baru muncul di urutan keenam daftar itu, dengan sumbangan 1,5 persen.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Asupan Berbeda di Tiap Kelompok
Seluruh temuan itu dirangkum para penulis dalam satu kalimat simpulan. “Meskipun sumbangan makanan ultra-olahan terhadap pola makan relatif rendah, variasi yang bermakna dalam asupan zat gizi makro dan ketidakcukupan zat gizi mikro esensial teramati di seluruh kuartil makanan ultra-olahan,” tulis Remie El Helou dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Perbedaan itu terlihat ketika peserta dibagi empat menurut besarnya porsi makanan ultra-olahan. Kelompok dengan porsi terbesar rata-rata menyantap 2.624 kilokalori sehari, sedangkan kelompok dengan porsi terkecil 1.876 kilokalori. Karbohidrat bergerak dari 247 ke 318 gram, protein dari 74 ke 90 gram, dan lemak dari 89 ke 136 gram sehari, semuanya dengan perbedaan yang menurut para peneliti bermakna secara statistik. Serat, sebaliknya, tidak berbeda nyata di antara keempat kelompok, dengan rata-rata 25 gram sehari.
Lemak jenuh menjadi penanda yang paling teratur naiknya. Secara keseluruhan ia menyumbang 16 persen dari energi, tetapi di kelompok dengan porsi makanan ultra-olahan terkecil angkanya 13 persen dan di kelompok dengan porsi terbesar 19 persen. Lemak tak jenuh tunggal dan ganda, dengan rata-rata 13 dan 6 persen dari energi, tidak berbeda antarkelompok dan menurut naskah berada dalam rentang yang dianjurkan, sementara lemak trans juga tidak berbeda nyata. Para penulis menyebut pola ini sejalan dengan studi di Italia, Brasil, dan Kanada.
Kalsium yang Menumpang pada Es Krim
Namun. Zat gizi mikro tidak mengikuti pola yang sama. Ketidakcukupan kalsium justru paling banyak ditemukan pada kelompok yang paling sedikit menyantap makanan ultra-olahan, yakni 63 persen, lalu menurun sampai 36 persen pada kelompok yang paling banyak menyantapnya. Para penulis mengakui hal itu berlawanan dengan studi terdahulu yang mengaitkan makanan ultra-olahan dengan mutu zat gizi mikro yang lebih rendah.
Penjelasan yang mereka ajukan terletak pada isi daftar tadi. Keju dan es krim, dua produk berbahan susu yang termasuk penyumbang utama makanan ultra-olahan dalam kelompok ini, relatif kaya akan kalsium dan kalium, sehingga orang yang lebih banyak menyantapnya ikut memperoleh kedua zat gizi itu. Kue manis gaya Barat ikut mereka sebut sebagai contoh makanan yang relatif kaya kedua zat gizi itu.
Vitamin C bergerak ke arah yang berlawanan. Ketidakcukupannya hanya 6 persen pada kelompok kedua dari bawah, tetapi mencapai 25 persen dan 20 persen pada dua kelompok dengan porsi makanan ultra-olahan terbesar, sejalan dengan data Portugal yang dikutip para penulis. Tiamin pun demikian, dengan ketidakcukupan tertinggi, 47 persen, pada kelompok ketiga, dibandingkan 26 dan 27 persen pada dua kelompok terbawah. Kalium, yang hampir semua orang kekurangan, bahkan mencapai 100 persen pada kelompok ketiga.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Ijazah Lebih Menentukan daripada Isi Lemari
Ketika para peneliti mencari faktor yang berkaitan dengan pola makan yang secara keseluruhan tidak mencukupi, hanya satu yang bertahan, dan itu bukan makanan ultra-olahan. Dibandingkan mereka yang berpendidikan sekolah dasar atau lebih rendah, penyintas lulusan sekolah menengah atas memiliki peluang ketidakcukupan kira-kira seperempatnya, dan pada lulusan universitas peluang itu lebih rendah lagi. Para penulis menduga hal ini mencerminkan literasi kesehatan yang lebih baik, akses yang lebih mudah ke makanan sehat, dan kepatuhan yang lebih kuat pada anjuran diet.
Porsi makanan ultra-olahan sendiri tidak terbukti berkaitan dengan kecukupan gizi secara keseluruhan. Dua kelompok dengan porsi terbesar memang memperlihatkan peluang ketidakcukupan sekitar dua kali kelompok terbawah, tetapi kaitan itu tidak mencapai kemaknaan statistik, dan para penulis menyebut kemungkinan sebabnya: jumlah peserta yang kurang, sebab dibutuhkan sekitar 400 orang untuk menguji hal ini secara kokoh, suplemen yang tidak ikut dihitung, serta rendahnya asupan makanan ultra-olahan itu sendiri.
Keterbatasan lain diakui secara terbuka. Penelitian ini memotret satu waktu saja, pola makan dilaporkan sendiri oleh peserta sehingga rentan pada kekeliruan ingatan, dan tidak ada pembanding berupa penanda gizi objektif dalam tubuh. Penggolongan makanan pun, tulis para penulis, bisa ambigu untuk beberapa jenis seperti roti industri dan keju olahan, meski sudah ditinjau ahli. Temuan ini mereka sebut sebagai landasan berharga bagi studi jangka panjang dan studi intervensi.
Dari sana para penulis menarik sejumlah saran: memasukkan konseling gizi ke dalam perawatan kanker, memperkuat pedoman diet dan kemampuan membaca label gizi, serta kebijakan pemerintah yang mengurangi ketersediaan dan pemasaran makanan ultra-olahan sambil membuka akses pada makanan utuh dan segar. Yang belum terjawab, dan mereka titipkan pada studi jangka panjang, adalah pertanyaan ini: bagaimana sebenarnya hubungan antara makanan ultra-olahan, kecukupan gizi, dan kesehatan para penyintas itu di kemudian hari?















