- Titik baliknya berada di skor GII sekitar 21,25.
- Skor GII mereka berkisar 11,6 sampai 64,2, dengan rata-rata 33,82.
- Sebagian besar negara berkembang dalam penelitian ini masih berada di bawah ambang tersebut.
- Di negara berpendapatan tinggi, tambahan inovasi tidak lagi terbaca pada capaian SDGs.
Daftar Isi
Skor inovasi sebuah negara dan nasib target pengurangan kelaparan tampak seperti dua urusan yang berjalan di jalur berbeda. Yang pertama bicara soal kemampuan mencipta, yang kedua soal piring makan dan iklim. Sebuah penelitian atas 88 negara mempertemukan keduanya, lalu mendapati bahwa tambahan inovasi tidak selalu diikuti tambahan capaian pembangunan berkelanjutan. Sampai skor tertentu keduanya naik bersama, setelah itu sumbangan inovasi makin tipis.
Temuan itu dimuat dalam The Innovation-Sustainability Paradox: Nonlinear Evidence from a Global Panel karya Dyah Ayu Setianingrum dan Istiqomah, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi volume 15 nomor 2 tahun 2026. Keduanya berasal dari Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics and Business, Universitas Jenderal Soedirman. Mereka membandingkan skor Global Innovation Index atau GII dengan indeks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs di 88 negara sepanjang 2018–2023.
Pertanyaannya berangkat dari keadaan yang tidak menggembirakan. Mengutip tinjauan SDGs global 2025 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, para penulis mencatat hanya sekitar 18 persen target yang berjalan sesuai jalur. Sebagian besar lainnya mandek atau mundur di bawah garis awal 2015. Pengurangan kelaparan, kesehatan, pendidikan, dan aksi iklim disebut terus tertinggal dari jadwal.
Inovasi sering dipanggil sebagai jawaban atas ketertinggalan itu. Menurut naskah, inovasi dapat menaikkan produktivitas, memungkinkan pembaruan teknologi, mendukung produksi yang lebih bersih, dan memperluas energi terbarukan. Namun, Setianingrum dan Istiqomah menulis bahwa hubungan inovasi dengan keberlanjutan jauh dari otomatis. Sumbangannya bergantung pada cara inovasi itu dibingkai, diatur, dan diarahkan.
Pendapatan: makin kaya, makin tinggi skor SDGs
Sisi pertama yang dibaca penelitian ini adalah kemampuan ekonomi. Pendapatan per kapita, yang diukur dengan PDB per kapita berdasarkan paritas daya beli, berkaitan positif dan kuat dengan skor SDGs di semua susunan hitungan yang diuji. Negara yang lebih kaya, tulis para penulis, punya ruang fiskal dan kapasitas kelembagaan lebih besar untuk membiayai investasi yang berorientasi keberlanjutan.
Hanya saja, kenaikan itu tidak berjalan lurus selamanya. Ketika hubungan pendapatan dan skor SDGs dibiarkan melengkung, terlihat bahwa sumbangan pendapatan menyusut di tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Para penulis menyebut pola ini sejalan dengan tafsir kurva Kuznets lingkungan. Pertumbuhan ekonomi, dalam rumusan mereka, tetap diperlukan tetapi tunduk pada hasil keberlanjutan yang makin kecil.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Inovasi: naik bersama, lalu melemah
Di sisi lain, inovasi menunjukkan watak yang lebih rumit. Bila hubungannya dipaksa lurus, skor GII justru berkaitan negatif dengan skor SDGs: makin tinggi intensitas inovasi, makin rendah capaian keberlanjutan. Setianingrum dan Istiqomah tidak membacanya sebagai bukti bahwa inovasi merusak. Mereka menulis bahwa hasil itu menandakan kerangka garis lurus tidak cukup untuk menangkap bentuk hubungan yang sebenarnya.
Bentuk itu baru tampak ketika garisnya dibiarkan melengkung. Skor GII mengikuti pola huruf U terbalik: inovasi menyumbang pada pembangunan berkelanjutan sampai sebuah ambang, lalu pengaruh tambahannya melemah. Titik baliknya berada di skor GII sekitar 21,25. Ketika yang dipakai adalah skor inovasi setahun sebelumnya, titik balik itu nyaris tidak bergeser, yakni sekitar 20,24.
Angka 21,25 itu rendah bila disandingkan dengan sebaran negara yang diamati. Skor GII mereka berkisar 11,6 sampai 64,2, dengan rata-rata 33,82. Karena titik balik jatuh dekat batas bawah rentang itu, para penulis menyimpulkan sebagian besar negara sudah berada di wilayah hasil yang menyusut. Di wilayah itu, tambahan intensitas inovasi memberi tambahan capaian keberlanjutan yang makin kecil.
“Inovasi itu produktif, tetapi tidak dengan sendirinya meningkatkan keberlanjutan,” tulis Dyah Ayu Setianingrum dan Istiqomah dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka menegaskan inovasi tetap bermanfaat, hanya imbal keberlanjutannya berkurang seiring intensitasnya naik. Sebagai mekanisme yang masuk akal, keduanya menunjuk efek pantulan: efisiensi dari inovasi kerap memicu produksi dan konsumsi tambahan yang menggerus sebagian manfaat lingkungannya.
Negara berkembang: ambang yang masih jauh
Gambaran itu berubah ketika 88 negara dipisah menurut kelompok pendapatan Bank Dunia. Pada 53 negara berpendapatan menengah dan rendah, pola U terbalik tetap terbukti, tetapi titik baliknya jauh lebih tinggi, yakni di skor GII sekitar 40,50. Sebagian besar negara berkembang dalam penelitian ini masih berada di bawah ambang tersebut.
Artinya, menurut para penulis, negara-negara itu masih berada di lereng yang menanjak. Tambahan kapasitas inovasi di sana tetap menghasilkan imbal keberlanjutan yang positif. Pendapatan pun mempertahankan pola yang sama, positif dengan hasil yang menyusut. Bagi kelompok ini, pertumbuhan pendapatan dan inovasi sama-sama masih menjadi penggerak struktural capaian SDGs.
“Bagi negara berkembang, jendela peluang untuk memperluas kapasitas inovasi selagi imbal keberlanjutannya masih positif itu nyata, tetapi bersyarat,” tulis Setianingrum dan Istiqomah dalam naskah berbahasa Inggris. Syarat yang mereka maksud adalah arah. Strategi membangun kemampuan, menurut keduanya, harus menanamkan arah keberlanjutan sejak awal dan menyatu dengan investasi pada sumber daya manusia serta kelembagaan yang efektif.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Negara maju: dataran yang tidak lagi menanjak
Pada kasus kedua, 35 negara berpendapatan tinggi memperlihatkan pola yang sangat berbeda. Tidak satu pun faktor yang diuji, baik pendapatan, inovasi, maupun pembangunan manusia, terbukti bermakna secara statistik di kelompok ini. Para penulis menjelaskan bahwa perubahan skor SDGs di dalam negara maju dari tahun ke tahun sangat kecil, sehingga pengaruh tambahan apa pun sulit terlihat.
Setianingrum dan Istiqomah menyebut keadaan itu sebagai dataran struktural. Di sana, volume inovasi secara keseluruhan tidak lagi menggerakkan capaian SDGs dengan cara yang bisa dideteksi secara statistik. Mereka mengaitkannya dengan riset lain yang menunjukkan negara berpendapatan tinggi mendekati langit-langit kejenuhan SDGs, sehingga ruang perbaikan dari intensitas inovasi saja tinggal sedikit.
Sebuah titik balik sebenarnya bisa dihitung juga untuk kelompok kaya, yaitu di skor GII sekitar 29,88. Namun, para penulis sendiri menyatakan angka itu tidak membawa makna karena perkiraan yang mendasarinya tidak bermakna secara statistik. Untuk negara maju, pesan naskah bukan tentang ambang yang sudah atau belum dilewati, melainkan tentang inovasi yang perlu dibelokkan arahnya.
Pembangunan manusia yang tertutup bayangan pendapatan
Selain pendapatan dan inovasi, penelitian ini memasukkan Indeks Pembangunan Manusia atau HDI. Hasilnya, HDI tidak muncul sebagai penjelas yang berdiri sendiri bagi skor SDGs di seluruh 88 negara. Para penulis menilai sebabnya paling mungkin terletak pada tumpang-tindih HDI dengan pendapatan. Hubungan keduanya nyaris sempurna, dengan angka korelasi 0,955.
Dugaan bahwa pembangunan manusia memperkuat pengaruh inovasi juga tidak terbukti. Gabungan skor inovasi dan HDI tidak bermakna secara statistik. Merujuk riset lain, Setianingrum dan Istiqomah menulis bahwa inovasi dan modal manusia masing-masing memberi sumbangan yang tidak saling menguatkan. Keduanya bekerja sendiri-sendiri, bukan saling menakar.
Meski begitu, naskah tidak menempatkan pembangunan manusia sebagai urusan pinggiran. Pembangunan manusia disebut mendasar, tetapi sumbangannya yang teramati secara statistik sebagian besar tidak langsung begitu kondisi struktural lain ikut diperhitungkan. Para penulis meminta pembangunan manusia diposisikan sebagai prasarana struktural bagi perubahan yang berorientasi keberlanjutan, bukan sebagai tujuan kebijakan sisa.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Arah inovasi yang lebih menentukan daripada jumlahnya
Dari seluruh hasil itu, Setianingrum dan Istiqomah menarik satu garis. Capaian SDGs, menurut mereka, bergantung pada bagaimana kemampuan ekonomi, sistem inovasi, dan kapabilitas manusia disusun terhadap tujuan keberlanjutan, bukan pada penumpukannya semata. Jalan menuju SDGs bukan urutan lurus dari pendapatan ke inovasi lalu ke keberlanjutan, melainkan proses yang bersyarat dan berbeda menurut tingkat pendapatan.
“Keharusan kebijakan yang utama bukanlah memaksimalkan volume inovasi, melainkan mengatur arahnya,” tulis kedua peneliti dalam naskah berbahasa Inggris. Untuk negara maju, mereka menyarankan sistem inovasi yang sudah matang dialihkan ke dekarbonisasi, produksi sirkular, dan perubahan teknologi yang inklusif secara sosial. Untuk negara berkembang, kapasitas inovasi diperluas dengan arah keberlanjutan yang ditanam sejak mula.
Yang menentukan, dalam bacaan para penulis, bukan seberapa banyak inovasi yang dihasilkan sebuah negara. Yang menentukan adalah apakah inovasi itu diarahkan ke tujuan sosial dan ekologis, dan tidak hanya ke produktivitas serta perluasan skala. Tanpa tata kelola yang memberi arah, tulis mereka, inovasi tidak otomatis mendorong pembangunan berkelanjutan.
Penelitian ini punya batas yang disebut sendiri oleh penulisnya. Pendapatan, skor inovasi, dan pembangunan manusia saling berkaitan sangat erat, sehingga ketepatan perkiraan untuk HDI dan untuk gabungan inovasi dengan HDI menjadi terbatas. Karena itu pula, semua hasil tentang HDI diminta dibaca dengan mengingat tumpang-tindih tersebut.
Indeks SDGs yang dipakai juga bukan indeks utuh. Tujuan 3 tentang kesehatan dan Tujuan 4 tentang pendidikan dikeluarkan agar tidak tumpang-tindih dengan HDI. Untuk penelitian berikutnya, Setianingrum dan Istiqomah menyarankan indikator pembangunan manusia yang dipilah, ukuran inovasi per sektor, serta teknik yang lebih mampu menangkap ambang, supaya jelas dalam kondisi apa paradoks ini muncul.
Skor inovasi dan target SDGs ternyata memang bertemu, tetapi tidak dengan cara yang sama di semua tempat. Di negara berpendapatan menengah dan rendah, keduanya masih menanjak bersama sampai ambang 40,50. Di negara berpendapatan tinggi, tambahan inovasi tidak lagi terbaca pada capaian SDGs. Setianingrum dan Istiqomah menutup naskahnya dengan rumusan bahwa capaian itu bergantung pada kemampuan yang disusun dan diarahkan, bukan sekadar dikumpulkan.















