- Ketika emas naik, indeks saham berkelanjutan Brasil turun pada bulan itu juga.
- Indeks keberlanjutan dunia Dow Jones bekerja ke arah sebaliknya dan menariknya naik.
- Dalam jangka panjang, ketidakpastian kebijakan ekonomi dan harga minyak menekan indeks berkelanjutan Brasil.
- Risiko geopolitik dan Bitcoin mengangkat indeks itu dalam jangka panjang.
- Sekitar 45,8 persen selisih dari keseimbangan jangka panjang terkoreksi dalam satu bulan.
Daftar Isi
- Dalam hitungan bulan, emas menarik uang keluar dari saham hijau
- Pada bulan yang sama, indeks keberlanjutan dunia menariknya naik
- Dalam hitungan tahun, kebijakan yang tak menentu dan minyak menjadi beban
- Dalam hitungan tahun pula, ketegangan dunia dan Bitcoin justru mengangkat
- Dengan indeks dunia di dalam hitungan, hampir separuh selisih pulih sebulan
- Tanpa indeks dunia, geopolitik dan Bitcoin tampak lebih besar dari semestinya
Harga emas di pasar dunia dan harga saham perusahaan Brasil yang lolos saringan keberlanjutan tampak seperti dua hal yang tidak bersinggungan. Sebuah penelitian menemukan keduanya bergerak berlawanan: ketika emas naik, indeks saham berkelanjutan Brasil turun pada bulan itu juga. Indeks keberlanjutan dunia Dow Jones bekerja ke arah sebaliknya dan menariknya naik. Dua dorongan itu sama cepatnya, dan sama-sama tidak menetap.
Temuan itu dicatat Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Sintia Handayani, Intan Mutiara, Tran Thai Ha Nguyen, Fennee Chong, dan Sobar M. Johari, peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Asia University di Taiwan, dan Charles Darwin University di Australia. Artikel mereka, Asymmetric and time-horizon effects of geopolitical risk, digital assets, economic policy uncertainty, and commodity prices on Brazil’s sustainability index, terbit di Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan volume 27 nomor 1 tahun 2026.
Yang mereka amati adalah ISE B3, indeks keberlanjutan perusahaan di bursa Brasil yang diperkenalkan pada 2005. Anggotanya dipilih dengan ukuran efisiensi ekonomi, keseimbangan lingkungan, keadilan sosial, dan tata kelola perusahaan. Brasil sendiri, tulis para peneliti, termasuk sepuluh besar produsen minyak dunia, pemasok utama komoditas pertanian, dan rumah bagi bursa saham terbesar di Amerika Latin. Pergerakan indeks itu mereka ikuti bulan demi bulan dari Januari 2019 sampai Desember 2024, bersama enam hal yang diduga memengaruhinya.
Dalam hitungan bulan, emas menarik uang keluar dari saham hijau
Emas adalah penekan yang paling kuat dan paling ajek dalam jangka pendek. Pada bulan yang sama dengan kenaikan harganya, ukuran pengaruhnya terhadap indeks Brasil tercatat minus 0,4347. Tekanan itu tidak berhenti di sana. Dua bulan kemudian angkanya minus 0,2935, dan tiga bulan kemudian minus 0,4945. Tandanya selalu negatif, dan para peneliti menyebut emas sebagai pendorong turun yang dominan di jangka pendek.
Para peneliti membacanya sebagai perilaku lama di pasar keuangan: saat ketidakpastian meninggi, pemodal berpindah dari saham yang berisiko ke emas sebagai penyimpan nilai. Jejak yang memanjang sampai tiga bulan, menurut mereka, menandakan perpindahan itu berlangsung bertahap. Pemodal melepas sahamnya sedikit demi sedikit, tidak sekaligus. Mereka merujuk penelitian lain yang mencatat portofolio bersaringan keberlanjutan memang lebih jarang diperdagangkan dan biaya transaksinya lebih tinggi.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Pada bulan yang sama, indeks keberlanjutan dunia menariknya naik
Di sisi lain berdiri indeks keberlanjutan Dow Jones, patokan dunia untuk saham sejenis. Pengaruhnya terhadap indeks Brasil selalu positif: 0,6552 pada bulan yang sama, 0,6459 sebulan kemudian, dan 0,3709 dua bulan kemudian. Para peneliti menyebutnya temuan jangka pendek terkuat dalam penelitian ini. Angkanya mengecil dari bulan ke bulan, yang mereka baca sebagai sentimen dunia yang merembes pelan-pelan ke pasar negara berkembang.
Penjelasan yang ditawarkan naskah itu bertumpu pada cara dana berkelanjutan dikelola. Kinerja indeks dunia berfungsi sebagai isyarat suasana hati pasar bagi dana-dana di negara berkembang yang berpatokan pada standar keberlanjutan internasional. Ketika indeks dunia naik, dana mengalir serentak ke saham bersaringan keberlanjutan di negara berkembang, termasuk Brasil. Jalurnya, menurut para peneliti, adalah penyeimbangan ulang indeks, tekanan untuk mengimbangi patokan, dan arus dana lintas bursa.
Kedua dorongan itu punya satu kesamaan: tidak ada yang bertahan. Dalam jangka panjang, baik emas maupun indeks dunia tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan indeks Brasil. Peran emas sebagai pelindung, tulis para peneliti, pada dasarnya sementara. Untuk indeks dunia, mereka menduga keadaan dalam negeri seperti mutu tata kelola, lingkungan aturan, dan pertumbuhan laba kembali menjadi penentu utama begitu waktu berjalan cukup lama.
Dalam hitungan tahun, kebijakan yang tak menentu dan minyak menjadi beban
Jangka panjang punya pemain yang berbeda. Ketidakpastian kebijakan ekonomi Brasil menekan indeks berkelanjutan dengan ukuran pengaruh minus 0,0012. Menurut para peneliti, ketidakpastian semacam itu menaikkan imbalan risiko yang diminta pemodal dan membuat investasi berjangka panjang surut. Mereka menduga perusahaan anggota indeks sebagian terlindung dari guncangan kebijakan sesaat, tetapi tetap rentan ketika kepercayaan pemodal terkikis pelan-pelan oleh aturan yang lama tidak jelas.
Naskah itu menyebut dua masa yang dialami Brasil: tekanan pasar akibat pandemi pada 2020 dan ketidakpastian politik di seputar peralihan presiden pada 2022. Pesannya diarahkan kepada pemerintah. “Bagi pembuat kebijakan, pengaruh negatif jangka panjang dari ketidakpastian kebijakan ekonomi menyoroti biaya sistemik dari kebijakan dalam negeri yang sulit diramal terhadap perkembangan pasar modal berkelanjutan,” tulis Susilo Nur Aji Cokro Darsono dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Minyak adalah beban kedua, dengan ukuran pengaruh jangka panjang minus 0,2800. Para peneliti mengakui hasil ini terasa berlawanan dengan akal sehat bagi negara produsen minyak. Jawabannya, menurut mereka, ada pada isi indeks. Indeks berkelanjutan itu lebih banyak memuat perusahaan industri yang boros energi, keuangan, dan barang konsumsi yang menanggung kenaikan biaya, bukan perusahaan hulu minyak yang menikmati kenaikan harga. Dua bulan setelah minyak naik memang muncul pengaruh positif 0,1275, tetapi sifatnya sementara.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Dalam hitungan tahun pula, ketegangan dunia dan Bitcoin justru mengangkat
Pada sisi yang berseberangan ada risiko geopolitik. Dalam jangka panjang, naiknya ketegangan dunia berjalan bersama naiknya indeks berkelanjutan Brasil, dengan ukuran pengaruh 0,0011. Para peneliti menyebut tiga jalur. Ketegangan seperti konflik Rusia dan Ukraina pada 2022 memicu lonjakan harga komoditas yang menguntungkan ekspor Brasil. Ketegangan itu juga mengundang kebijakan moneter yang longgar. Dan ia mengalihkan arus modal internasional ke pasar berkembang yang terlindung dari pusat konflik.
Para peneliti tidak menyebut ketegangan dunia sebagai kabar baik tanpa syarat. Mereka mengutip penelitian lain yang menemukan pasar saham berkelanjutan Amerika Latin berubah menjadi penerima guncangan dari negara maju ketika risiko geopolitik memuncak. Bagi mereka, itu sejalan dengan temuan sendiri: ketegangan dunia positif bagi dasar saham Brasil dalam jangka panjang, tetapi membawa gejolak jangka pendek yang harus dikelola para pengelola portofolio.
Bitcoin bergerak dengan dua wajah. Sebulan dan dua bulan setelah harganya naik, indeks Brasil justru tertekan, dengan ukuran pengaruh minus 0,0687 dan minus 0,1054. Dalam jangka panjang arahnya berbalik menjadi positif 0,1574, yang oleh para peneliti disebut bermakna secara marginal. Mereka menggambarkannya sebagai proses dua tahap. Mula-mula lonjakan Bitcoin menyedot modal spekulatif dari pasar saham. Kemudian sebagian keuntungan dari aset kripto itu tampak dialirkan kembali ke saham, termasuk indeks berkelanjutan.
Dari sana para peneliti menarik pesan bagi pemodal yang peduli keberlanjutan. Pasar kripto yang makin menyatu dengan sistem keuangan, tulis mereka, menimbulkan rembesan yang terukur ke indeks saham berkelanjutan. Memantau keadaan pasar Bitcoin karena itu mereka sebut sebagai masukan yang relevan untuk mengelola risiko gejolak jangka pendek pada indeks Brasil. Pesan itu mereka tujukan pula kepada para pengelola portofolio.
Dengan indeks dunia di dalam hitungan, hampir separuh selisih pulih sebulan
Enam hal itu dihitung bersamaan, dan hasilnya menunjukkan indeks Brasil terikat pada sebuah keseimbangan jangka panjang. Setiap kali indeks menyimpang dari keseimbangan itu, sekitar 45,8 persen selisihnya terkoreksi dalam satu bulan. Para peneliti menyebut kecepatan itu sedang, tetapi berarti secara ekonomi. Angka itu berasal dari koefisien koreksi galat sebesar minus 0,4580, yang bermakna secara statistik.
Indeks dunia punya andil tersendiri dalam hitungan tersebut. Para peneliti memperkirakan sekitar 12 persen naik turunnya indeks Brasil dari bulan ke bulan dapat dikaitkan khusus dengan sentimen pasar keberlanjutan dunia yang diwakili indeks Dow Jones. Porsi itu mereka nilai berarti secara ekonomi. Mereka juga membacanya sebagai tanda pasar modal berorientasi keberlanjutan di berbagai negara makin terhubung satu sama lain.
Tanpa indeks dunia, geopolitik dan Bitcoin tampak lebih besar dari semestinya
Hitungan yang sama lalu diulang dengan indeks dunia dikeluarkan. Arah semua temuan pokok bertahan: ketidakpastian kebijakan dan minyak tetap menekan, geopolitik dan Bitcoin tetap mengangkat. Yang berubah adalah besarannya. Ukuran pengaruh geopolitik naik dari 0,0011 menjadi 0,0018, membesar 64 persen menurut para peneliti. Bitcoin naik dari 0,1574 menjadi 0,2231, membesar 42 persen.
Beban di sisi sebaliknya ikut menebal. Ukuran pengaruh ketidakpastian kebijakan bergeser dari minus 0,0012 menjadi minus 0,0015, dan minyak dari minus 0,2800 menjadi minus 0,3245. Daya jelas hitungan itu turun sekitar 12 poin persentase, sementara kecepatan pulih melemah dari 0,458 menjadi 0,391. Para peneliti menyimpulkan bahwa mengabaikan indeks dunia dapat membuat peneliti melebih-lebihkan pengaruh langsung geopolitik dan pasar aset digital.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Para peneliti mencatat sendiri batas pekerjaan mereka. Bahan yang dipakai hanya 72 pengamatan bulanan, analisisnya tidak menguji secara resmi kemungkinan patahan struktural, dan nilai tukar tidak dimasukkan ke dalam hitungan. Untuk penelitian berikutnya mereka menyarankan tiga hal: memakai bentuk hitungan yang asimetris, memperluas kajian ke indeks keberlanjutan di negara-negara Amerika Latin lain, dan memeriksa apakah jalur-jalur pengaruh itu menguat setelah 2020.
Bagi pengelola portofolio, naskah itu menyebut empat hal yang patut dipantau saat memegang saham dalam indeks Brasil: dinamika geopolitik dunia, arah ketidakpastian kebijakan, siklus harga komoditas, dan gerak indeks keberlanjutan dunia. Soal emas, para peneliti menulis bahwa strategi lindung nilai yang memperhitungkan tekanan sesaatnya saat ketidakpastian melonjak akan lebih ampuh melindungi posisi jangka pendek daripada strategi yang bersandar pada sifat emas dalam jangka panjang.
Emas dan indeks dunia, dua hal yang membuka cerita ini, akhirnya berbagi nasib yang sama: kuat dalam hitungan bulan, lalu hilang dari hitungan tahun. Tempat mereka diisi kebijakan yang tak menentu dan minyak di satu sisi, ketegangan dunia dan Bitcoin di sisi lain. Para peneliti merangkum semuanya sebagai pola pengaruh yang asimetris dan bergantung pada rentang waktu.















