- Kesepakatan pembiayaan syariah di ISEF 2026 tercatat sekitar Rp27,43 triliun.
- Pembiayaan proyek strategis menyerap bagian terbesar senilai Rp19,40 triliun.
- Pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,61 persen menjadi Rp748,7 triliun hingga Agustus 2026.
- Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekosistem ekonomi syariah.
- ISEF 2026 berlangsung pada 14 sampai 18 Oktober 2026 di Jakarta.
Cekricek.id — Kesepakatan pembiayaan syariah senilai sekitar Rp27,43 triliun ditandatangani dalam Seremoni Kesepakatan Bisnis rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival ke-13 di Jakarta International Convention Center, Jumat (16/10/2026).
Rincian kesepakatan itu dipaparkan menurut keterangan tertulis Bank Indonesia, Jumat (16/10/2026). Seremoni tersebut dibuka Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M. Juhro dan dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae.
Di sisi perdagangan, nota kesepahaman awal atau letter of intent antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan pembeli tercatat sekitar Rp9,78 miliar. Transaksi pasar uang dan valuta asing syariah mencapai sekitar Rp5,32 triliun.
Transaksi itu mencakup Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah valuta asing dan rupiah, transaksi lindung nilai syariah, serta Sharia Restricted Investment Account.
Baca juga BI Dorong Pembiayaan Syariah Jadi Pilihan Strategis Ekspansi Korporasi
Pembiayaan proyek strategis menyerap bagian terbesar, yaitu Rp19,40 triliun. Pos itu meliputi kerja sama pemerintah dengan badan usaha berprinsip syariah, pembiayaan perumahan rakyat melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, dan kerja sama pembiayaan mikro perumahan syariah.
Pembiayaan syariah kepada UMKM dan usaha rintisan halal disepakati senilai Rp499,75 miliar, sedangkan kepada korporasi halal lebih dari Rp2,2 triliun. Melalui skema blended finance, disepakati pula Cash Waqf Linked Sukuk senilai Rp4,45 miliar.
Pembiayaan Perbankan Syariah Tumbuh 11,61 Persen
Dian Ediana Rae menyebutkan, hingga Agustus 2026 pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,61 persen secara tahunan menjadi Rp748,7 triliun. Kualitas pembiayaannya terjaga pada rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing kotor sebesar 2,3 persen.
Menurut dia, kinerja itu membuka peluang memperluas pembiayaan bagi industri halal, khususnya sektor makanan, fesyen, pariwisata, dan industri kreatif, agar pelaku usaha terutama UMKM dapat meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, dan jangkauan pasar.
“Sinergi antara otoritas, industri keuangan, dan pelaku usaha perlu terus diperkuat agar pembiayaan syariah semakin mudah diakses dan memberikan dukungan nyata bagi pengembangan industri halal serta pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Dian.
Baca juga Indonesia Bersinar di Panggung Modest Fashion Dunia
Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekosistem ekonomi syariah. Indonesia berada di posisi pertama pada sektor modest fashion, ketiga pada sektor makanan halal serta media dan rekreasi, dan keempat pada sektor farmasi dan kosmetik halal.
Tiga Prioritas Pengembangan yang Disebut Bank Indonesia
Solikin M. Juhro menyatakan akses modal menjadi kunci peningkatan daya saing industri halal. Penguatan pembiayaan syariah yang terhubung dengan kebutuhan sektor riil dinilainya penting agar potensi ekonomi syariah memberi kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia menekankan tiga prioritas pengembangan pembiayaan syariah, yaitu perluasan akses pembiayaan bagi sektor unggulan industri halal, inklusi keuangan syariah terutama bagi usaha mikro dan kecil, serta sinergi antara otoritas, industri keuangan, dan pelaku usaha.
“Business deals yang kita saksikan hari ini merupakan wujud nyata kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam menghubungkan berbagai kebutuhan, kapasitas, dan sumber daya untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah secara lebih terintegrasi. Setiap kesepakatan perlu ditindaklanjuti secara konsisten agar menghasilkan dampak ekonomi yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Solikin.
Baca juga Kemendag dan HIPPINDO Fasilitasi 4.100 Barcode Gratis untuk UMKM
Seremoni itu merupakan bagian dari pelaksanaan SAPA SYARIAH atau Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah, inisiatif Bank Indonesia yang menghubungkan akses pasar dengan akses pembiayaan. Salah satu wujudnya adalah Bulan Pembiayaan Syariah yang bersinergi dengan program Percepatan Intermediasi Indonesia pada 2026.
Pelaksanaannya mencakup tiga tahapan, yaitu edukasi pembiayaan syariah, penguatan jejaring usaha untuk memperkuat kapasitas dan memfasilitasi akses pembiayaan, serta temu usaha untuk mengonsolidasikan komitmen dan merealisasikan kerja sama. ISEF 2026 berlangsung pada 14 sampai 18 Oktober 2026 di Jakarta.















