- Peserta survei terbagi dua: 208 orang pernah menerima pelajaran semacam itu, 376 orang tidak.
- Yang paling banyak, 174 orang atau 46,28 persen, mengatakan layanan itu tidak tersedia.
- Di Eropa, 69,05 persen peserta pernah dilatih, dan di Amerika 62,50 persen.
- Di Pasifik Barat hanya 18,60 persen, dan di Asia Tenggara 11,93 persen, kira-kira satu dari delapan orang.
- Semua jawaban adalah penilaian peserta atas hidupnya sendiri, dan besar kaitan yang ditemukan tergolong kecil sampai sedang.
Daftar Isi
- Yang dilatih: belajar dari guru, sekolah, dan pusat rehabilitasi
- Yang tidak dilatih: layanan itu tidak ada di dekat mereka
- Buta total dan penglihatan terbatas, manfaat tak sama besar
- Sejak kecil dan sesudah dewasa, sekolah menjadi pembeda
- Eropa dan Amerika di satu sisi, Asia di sisi lain
- Yang kokoh dan yang goyah dalam naskah ini
Latihan memakai tongkat putih dan jenjang sekolah seseorang tampak tidak punya urusan satu sama lain. Sebuah survei terhadap 584 orang dewasa tunanetra dan berpenglihatan terbatas di 38 negara mempertemukan keduanya. Mereka yang pernah dilatih bepergian sendiri juga lebih sering melaporkan pendidikan yang lebih tinggi dan hidup yang terasa lebih baik. Hanya saja, yang pernah dilatih cuma 208 orang, kira-kira satu dari tiga.
Survei itu dikerjakan Maxime Bleau, Kopila Kafle, Min Wang, Soutongnoma Safiata Kaboré, Jorge Luis Cueva-Vargas, Yingzi Xiong, dan Joseph Paul Nemargut. Artikel mereka, Impact of specialized mobility services on independent travel, economic outcomes, and well-being for people with low vision and blindness: an international survey, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang belum bernomor volume. Sebagian besar penulisnya bekerja di School of Optometry, University of Montreal. Cueva-Vargas berasal dari Universidad Cesar Vallejo di Peru, dan Xiong dari Wilmer Eye Institute, Johns Hopkins University.
Yang mereka sebut layanan mobilitas khusus adalah pelajaran orientasi dan mobilitas. Di dalamnya orang belajar memakai tongkat putih atau anjing pemandu, membaca peta timbul untuk membangun peta di kepala tanpa penglihatan, dan mengasah pendengaran untuk mengenali arah. Peserta survei terbagi dua: 208 orang pernah menerima pelajaran semacam itu, 376 orang tidak. Seluruh temuan lahir dari perbandingan kedua kelompok ini.
Yang dilatih: belajar dari guru, sekolah, dan pusat rehabilitasi
Di kelompok pertama, separuh peserta, tepatnya 105 orang, belajar dari instruktur orientasi dan mobilitas. Sebanyak 60 orang diajari guru, dan 25 orang oleh instruktur lokomosi. Tempat belajarnya paling sering sekolah, yang disebut 83 orang. Sesudah itu lembaga swadaya masyarakat dengan 36 orang dan pusat rehabilitasi dengan 34 orang. Rata-rata mereka menerima pelajaran pertama pada umur 18,28 tahun.
Bagi kebanyakan dari mereka, pelajaran itu sudah lama berlalu. Sebanyak 123 orang, hampir enam dari sepuluh, mendapat pelajaran terakhir lebih dari lima tahun sebelum mengisi survei. Meski begitu, jejaknya masih terbaca. Kelompok ini lebih mampu membayangkan tata letak tempat baru, lebih sering bepergian di lingkungan yang sudah dikenal, punya lebih banyak alasan untuk keluar rumah, dan lebih jarang membutuhkan bantuan di perjalanan.
Para peneliti lalu memperhitungkan umur, gender, pendidikan, keadaan ekonomi, sisa penglihatan, umur saat didiagnosis, dan tempat tinggal. Sesudah semua itu diperhitungkan, layanan mobilitas tetap berkaitan dengan lebih seringnya bepergian sendiri, baik di tempat yang dikenal maupun yang asing. Kaitannya dengan rasa sejahtera dan jenjang pendidikan juga bertahan. Satu hal tidak bertahan, yaitu status ekonomi.
Yang tidak dilatih: layanan itu tidak ada di dekat mereka
Di sisi lain berdiri 376 orang, hampir dua dari tiga peserta, yang tidak pernah mendapat pelajaran itu. Alasan mereka tidak seragam. Yang paling banyak, 174 orang atau 46,28 persen, mengatakan layanan itu tidak tersedia. Sebanyak 99 orang tidak berminat, 56 orang merasa tidak membutuhkannya, dan 30 orang merasa belum siap. Jadi hampir separuh kelompok ini tidak menolak apa pun; tidak ada yang bisa mereka datangi.
Para penulis menaruh temuan itu di bagian kesimpulan. “Sayangnya, banyak orang masih belum menerima layanan ini karena tidak tersedia di daerah mereka,” tulis Maxime Bleau dan enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu merangkum sisi kedua survei: manfaat yang tercatat pada kelompok pertama tidak sampai ke kebanyakan peserta.
Siapa yang tertinggal juga terbaca polanya. Peserta yang tinggal di pedesaan lebih kecil peluangnya menerima layanan dibanding yang tinggal di kota atau pinggiran kota. Begitu pula mereka yang gangguan penglihatannya baru didiagnosis sesudah dewasa. Orang yang kehilangan penglihatan hanya di bagian tengah atau hanya di bagian tepi juga lebih jarang dilatih daripada mereka yang kehilangan keduanya.
Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Buta total dan penglihatan terbatas, manfaat tak sama besar
Perbandingan kedua memisahkan peserta menurut sisa penglihatannya. Sebanyak 282 orang digolongkan buta secara fungsional, artinya penglihatan mereka tidak berguna untuk mencari jalan. Pada kelompok ini, mereka yang pernah dilatih jelas lebih sering bepergian sendiri. Arah yang sama, meski lebih lemah, tampak pada rasa percaya diri di tempat asing dan pada banyaknya alasan mereka keluar rumah.
Rasa sejahtera kelompok ini juga paling kuat berkaitan dengan latihan. Para peneliti mengukurnya lewat lima lingkup hidup: keterlibatan dalam kegiatan, hubungan dengan orang lain, luas ruang hidup, kemampuan mengenali arah, dan kebebasan menentukan pilihan sendiri. Kelima-limanya lebih tinggi pada peserta yang pernah dilatih. Menurut para penulis, hasil itu menunjukkan orang merasa lebih baik tentang dirinya dan tempatnya di tengah masyarakat sesudah menerima pelajaran tersebut.
Pada kasus kedua, 228 peserta masih punya penglihatan yang bisa dipakai, entah sebagai andalan utama atau sekadar pelengkap. Bagi mereka, pernah atau tidak pernah dilatih tidak mengubah seberapa sering mereka bepergian sendiri. Selisih yang nyata pada peserta buta tidak muncul di sini. Rasa percaya diri di tempat asing dan jumlah alasan bepergian pun tidak berbeda secara berarti.
Rasa sejahtera tetap lebih tinggi pada peserta berpenglihatan terbatas yang pernah dilatih, hanya jaraknya lebih kecil daripada pada peserta buta. Ada pula dua hal yang sama di kedua kelompok. Kaitan latihan dengan jenjang pendidikan dan dengan status ekonomi tidak berbeda antara peserta buta dan peserta berpenglihatan terbatas. Naskah ini tidak menyebut salah satu kelompok lebih layak dilatih; para penulis menganjurkan layanan untuk keduanya, pada semua umur.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Sejak kecil dan sesudah dewasa, sekolah menjadi pembeda
Pasangan berikutnya dibedakan oleh waktu. Peserta yang didiagnosis pada umur 14 tahun atau lebih muda lebih sering dilatih: 126 dari 288 orang, atau 43,75 persen. Pada peserta yang didiagnosis sejak umur 15 tahun, hanya 50 dari 176 orang, atau 28,41 persen. Bagi kelompok pertama, latihan paling kuat berkaitan dengan keterlibatan dalam kegiatan, sehingga para penulis menekankan pentingnya layanan dini ketika anak sedang menjajaki minatnya.
Pada kelompok kedua, yang menonjol justru pendidikan. Peserta yang buta sejak kecil secara umum berpendidikan lebih tinggi daripada yang buta kemudian, dan bagi mereka latihan mobilitas tidak mengubah gambaran itu. Bagi yang buta kemudian, pernah dilatih berjalan seiring dengan jenjang sekolah yang lebih tinggi. Di antara peserta yang pernah dilatih, ketimpangan pendidikan antara kedua kelompok itu tidak lagi terlihat.
Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan, sambil mengakui hal itu tidak diuji langsung. Anak yang buta sejak kecil bisa meraih pendidikan tinggi lewat layanan lain, misalnya guru braille. Selama sekolah dasar, anak juga belum bepergian sendiri, sehingga keberhasilan di sekolah agak terlepas dari kecakapan mobilitas. Bagi yang kehilangan penglihatan belakangan, latihan itu mungkin membuat mereka tetap bisa berangkat bekerja dan berbelanja.
Eropa dan Amerika di satu sisi, Asia di sisi lain
Perbandingan terakhir membentang antarwilayah. Di Eropa, 69,05 persen peserta pernah dilatih, dan di Amerika 62,50 persen. Afrika berada dekat angka keseluruhan dengan 37,22 persen. Di Pasifik Barat hanya 18,60 persen, dan di Asia Tenggara 11,93 persen, kira-kira satu dari delapan orang. Alasan tidak dilatih pun berlainan: peserta Pasifik Barat terutama menyebut layanan tidak tersedia, sedangkan di Asia Tenggara lebih banyak yang merasa tidak membutuhkannya.
Para penulis membaca selisih alasan itu sebagai tanda perbedaan norma sosial atau budaya. Mereka mencatat bahwa memakai tongkat putih atau anjing pemandu membuat disabilitas lebih terlihat oleh orang banyak, dan di sebagian tempat hal itu bisa mengundang stigma. Karena itu, menurut mereka, pilihan pribadi perlu dipertimbangkan ketika menentukan jenis latihan, tempat latihan, dan alat bantu yang disarankan.
Asia Tenggara juga menjadi pengecualian dalam hal manfaat. Di wilayah itu, peserta yang pernah dilatih justru menilai lingkungannya kurang mudah dilalui dan merasa kurang percaya diri di dalam ruangan. Para penulis menduga latihan membuat hambatan di sekitar lebih disadari, tetapi belum cukup untuk mengatasinya. Sebaliknya, di Pasifik Barat hampir semua kaitan berarah baik: pendidikan, ekonomi, rasa sejahtera, dan rasa percaya diri di dalam ruangan.
Desa dan kota memperlihatkan pasangan serupa. Peserta pedesaan paling jarang dilatih, padahal kaitan latihan dengan rasa sejahtera lebih kuat di pedesaan dan pinggiran kota daripada di kota. Rasa percaya diri di luar ruangan bergerak ke tiga arah: lebih tinggi pada peserta terlatih di pinggiran kota, tidak berbeda di desa, dan lebih rendah di kota. Naskah ini tidak menjelaskan mengapa arah di kota berbalik.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Yang kokoh dan yang goyah dalam naskah ini
Batas penelitian ini ditulis para penyusunnya sendiri. Survei dilakukan daring dalam empat bahasa, sehingga mungkin tidak mewakili orang yang kurang akrab dengan teknologi atau tidak menguasai bahasa itu. Semua jawaban adalah penilaian peserta atas hidupnya sendiri, dan besar kaitan yang ditemukan tergolong kecil sampai sedang. Survei ini juga tidak menilai teknik latihan mana yang berhasil.
Arah hubungannya pun tidak bisa dipastikan. “Sayangnya, rancangan penelitian ini tidak dapat membedakan apakah pola-pola itu muncul karena pendidikan atau status sosial ekonomi yang membuka akses mereka ke layanan mobilitas, atau sebaliknya,” tulis para penulis. Mereka mengingatkan, layanan ini sering tidak ditanggung penuh, sehingga orang yang lebih mampu bisa jadi lebih sanggup membayarnya. Tongkat dan ijazah berjalan bersama, tetapi mana yang lebih dulu belum terjawab.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah. Judul dan kesimpulan menyebut manfaat ekonomi, padahal setelah faktor lain diperhitungkan, status ekonomi tidak lagi berkaitan dengan layanan, berbeda dari pendidikan dan rasa sejahtera. Naskah juga mencatat 282 peserta buta, tetapi rinciannya, 86 buta sejak kecil dan 169 buta kemudian, hanya berjumlah 255. Empat alasan tidak dilatih yang disebut berjumlah 359 dari 376 orang.
Maka dua benda di awal tulisan ini tetap berdiri berdampingan, tidak saling menjelaskan sepenuhnya. Di satu sisi, 208 orang yang pernah diajari memegang tongkat putih bepergian lebih sering dan merasa hidupnya lebih luas. Di sisi lain, 376 orang tidak pernah diajari, hampir separuhnya karena tidak ada yang mengajar. Survei ini mencatat jarak di antara keduanya, tanpa memastikan apa yang membuat jarak itu ada.















