Anak Desa di Jepang Makin Besar Makin Larut Tidur, Lama di Layar

A A

Ilustrasi gerbang besi dan halaman SD Negeri Sakawa di Prefektur Kochi, Jepang, berlatar perbukitan [Foto: Bakkai/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Batita rata-rata tidur pukul 21.02, sedangkan siswa SMP bertahan sampai pukul 22.42.
  • Siswa SMP hanya tidur 7,83 jam sehari dan menatap layar 5,70 jam pada hari sekolah.
  • Murid kelas 4 sampai 6 menatap layar 4,82 jam sehari, naik 1,92 jam dari adik kelasnya.
  • Batita bermain di luar rumah hanya 0,28 jam, sedangkan siswa SMP 0,85 jam atau sekitar 51 menit.
Daftar Isi
  1. Shu mencatat jam tidur yang terus mundur
  2. Hirose dan Shu menghitung jam di depan layar
  3. Maehashi dan Shu mengukur waktu bermain di luar
  4. Desa dalam penjelasan Shu, Jiang, Hirose, dan Maehashi
  5. Batas yang diakui Shu dan rekan-rekannya
  6. Yang masih mengganjal di naskah Shu

Haolu Shu mengumpulkan jawaban tentang hari-hari biasa 1.192 anak di Sakawa Town, sebuah kawasan perdesaan di Kochi Prefecture, Jepang selatan. Pertanyaannya sederhana: pukul berapa anak tidur, pukul berapa bangun, berapa lama bermain di luar, dan berapa lama menatap layar. Yang termuda baru berusia satu tahun. Yang tertua sudah duduk di bangku SMP.

Shu, peneliti Faculty of Sport Sciences, Waseda University, menuliskan hasilnya bersama Linjing Jiang dari Nagoya University serta Norikazu Hirose dan Akira Maehashi dari Waseda University. Artikel mereka, Lifestyle behaviors from early childhood to junior high school in rural Japan: a cross-sectional study, diterbitkan jurnal BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah siap terbit yang belum bernomor volume. Anak-anak itu berasal dari empat prasekolah, empat sekolah dasar, dan dua SMP.

Shu dan rekan-rekannya ingin tahu kapan kebiasaan yang kurang sehat mulai tampak, lalu bagaimana ia berubah seiring anak naik jenjang. Semua anak tinggal di lingkungan yang sama, dan itulah yang membuat catatan mereka menarik. Dari batita sampai remaja, garisnya bergerak ke satu arah: tidur menyusut, layar memanjang.

Shu mencatat jam tidur yang terus mundur

Catatan pertama Shu dan Jiang adalah jam tidur malam. Batita berusia satu sampai dua tahun rata-rata tidur pukul 21.02. Anak prasekolah dan murid kelas 1 sampai 3 sekolah dasar sama-sama tidur pukul 21.24. Murid kelas 4 sampai 6 baru terlelap pukul 21.51, sedangkan siswa SMP bertahan sampai pukul 22.42.

Jam bangun hampir tidak ikut bergeser. Dalam tabel Shu dan Hirose, anak di semua jenjang bangun antara pukul 06.28 dan 06.43. Batita bangun pukul 06.38, siswa SMP pukul 06.35. Artinya, selisih satu jam empat puluh menit pada jam tidur malam itu nyaris seluruhnya dipotong dari lama tidur anak.

Hasilnya terlihat pada lama tidur yang dihitung Shu dan Maehashi. Batita tidur 9,60 jam sehari dan anak prasekolah 9,31 jam. Murid kelas 1 sampai 3 tidur 9,05 jam, murid kelas 4 sampai 6 tinggal 8,60 jam. Siswa SMP hanya 7,83 jam, kira-kira tujuh jam lima puluh menit.

Tidur menyusut, layar memanjangBatita (1-2 tahun): Tidur +9,60, Layar +1,46; Prasekolah (3-5 tahun): Tidur +9,31, Layar +1,75; SD kelas 1-3: Tidur +9,05, Layar +2,89; SD kelas 4-6: Tidur +8,60, Layar +4,82; SMP kelas 7-9: Tidur +7,83, Layar +5,70.Tidur menyusut, layar memanjangRata-rata jam per hari pada hari sekolah, Sakawa TownTidurLayar2468100Batita (1-2 tahun)9,601,46Prasekolah (3-5 tahun)9,311,75SD kelas 1-39,052,89SD kelas 4-68,604,82SMP kelas 7-97,835,70Berdasarkan jawaban 1.192 anak dan orang tua.
Sumber: Haolu Shu, Linjing Jiang, Norikazu Hirose, dan Akira Maehashi, Lifestyle behaviors from early childhood to junior high school in rural Japan: a cross-sectional study, BMC Public Health, naskah siap terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka-angka itu Shu dan rekan-rekannya sandingkan dengan anjuran American Academy of Sleep Medicine. Anak usia satu sampai dua tahun dianjurkan tidur 11 sampai 14 jam, usia tiga sampai lima tahun 10 sampai 14 jam. Anak enam sampai dua belas tahun setidaknya sembilan jam, dan remaja tiga belas sampai delapan belas tahun setidaknya delapan jam.

Tak satu jenjang pun mencapai anjuran itu. “Di semua jenjang sekolah, rata-rata durasi tidur berada di bawah rekomendasi untuk tiap usia,” tulis Shu, Jiang, Hirose, dan Maehashi pada bagian hasil dalam ringkasan naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut keempatnya, berkurangnya tidur didorong oleh jam tidur yang makin larut, bukan oleh perubahan jam bangun.

Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah

Hirose dan Shu menghitung jam di depan layar

Layar bergerak ke arah sebaliknya. Yang dihitung Shu dan Hirose adalah waktu menonton televisi atau video ditambah waktu memakai ponsel pintar, tablet, dan komputer. Batita sudah menghabiskan 1,46 jam sehari, anak prasekolah 1,75 jam. Murid kelas 1 sampai 3 mencapai 2,89 jam, hampir tiga jam pada hari sekolah.

Lonjakan paling tajam ditemukan Shu dan Jiang di tengah sekolah dasar. Murid kelas 4 sampai 6 menatap layar 4,82 jam sehari, naik 1,92 jam dari adik kelasnya. Siswa SMP mencapai 5,70 jam, atau lima jam empat puluh dua menit. Anak laki-laki dan anak perempuan tidak berbeda dalam hal ini.

Shu dan rekan-rekannya merangkum rentang itu dalam satu kalimat. “Batita rata-rata 1,46 jam per hari, sedangkan siswa SMP rata-rata hampir empat kali jumlah itu, yakni 5,70 jam per hari,” tulis mereka ketika memaparkan hasil. Bagi Shu dan Hirose, pola itu menandakan kebiasaan berlayar yang makin mengeras seiring usia.

Angka murid kelas awal ikut menarik perhatian Shu dan Maehashi. Riset terdahulu yang mereka kutip mendapati waktu layar anak enam sampai tujuh tahun pada hari sekolah umumnya masih dalam batas anjuran, lalu naik pada akhir pekan. Di Sakawa Town, 2,89 jam itu sudah melampaui ambang anjuran dan mendekati angka akhir pekan anak kota.

Untuk anak prasekolah, Shu dan Jiang justru menemukan kemiripan dengan kota. Rata-rata 1,74 jam yang mereka sebut dalam pembahasan setara dengan anak perkotaan di Spanyol, yang berkisar 1,58 sampai 1,78 jam. Bagi Shu dan Jiang, itu berarti paparan layar berlebih mungkin sudah lazim sejak usia dini, di desa maupun di kota.

Dari batita ke bangku SMPDari batita ke bangku SMPDari batita ke bangku SMPRata-rata hari sekolah anak di Sakawa Town, KochiBatita 1-2 tahunSMP kelas 7-921:0222:42Jam tidur malam06:3806:35Jam bangun9,60 jam7,83 jamLama tidur0,28 jam0,85 jamMain di luar1,46 jam5,70 jamWaktu layarBatita 90 anak, siswa SMP 283 anak.
Sumber: Haolu Shu, Linjing Jiang, Norikazu Hirose, dan Akira Maehashi, Lifestyle behaviors from early childhood to junior high school in rural Japan: a cross-sectional study, BMC Public Health, naskah siap terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Maehashi dan Shu mengukur waktu bermain di luar

Kebiasaan ketiga yang dicatat Shu dan Maehashi adalah bermain di luar rumah pada hari sekolah. Waktunya pendek sekali. Batita hanya 0,28 jam, kira-kira 17 menit. Anak prasekolah 0,38 jam, murid sekolah dasar kelas bawah maupun kelas atas 0,55 jam. Siswa SMP mencatat yang terlama, 0,85 jam atau sekitar 51 menit.

Sebagai pembanding, Shu dan Hirose memakai pedoman WHO tahun 2010. Pedoman itu menganjurkan anak usia lima sampai tujuh belas tahun bergerak dengan intensitas sedang sampai berat sedikitnya 60 menit sehari. Menurut Shu dan Hirose, waktu di luar anak perempuan dan anak laki-laki kelas 1 sampai 3 berada di bawah anjuran tersebut.

Perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan muncul di kelas 4 sampai 6. Shu dan Maehashi mencatat anak perempuan pada jenjang itu bermain di luar jauh lebih singkat daripada anak laki-laki. Data survei nasional Jepang yang mereka kutip menunjukkan hal serupa: anak laki-laki cenderung bermain di luar, anak perempuan lebih sering beraktivitas di dalam rumah.

Shu dan Jiang membaca temuan itu sebagai tanda bahwa kurang gerak tidak datang tiba-tiba pada masa remaja. Ia sudah ada sejak awal. Mereka juga mengingatkan apa yang dipertaruhkan menurut riset lain: waktu di luar yang lebih panjang melindungi anak dari rabun jauh, sedangkan kurang gerak bertalian dengan kebugaran yang lebih rendah.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Desa dalam penjelasan Shu, Jiang, Hirose, dan Maehashi

Mengapa polanya demikian? Shu dan rekan-rekannya menoleh ke lingkungan tempat anak-anak itu tinggal. Kochi Prefecture, tulis mereka, berpenduduk makin sedikit dan makin tua, dengan pendapatan rata-rata di bawah angka nasional serta ketergantungan besar pada pertanian dan perikanan. Bagi Shu, prefektur itu mewakili wajah perdesaan Jepang.

Di lingkungan seperti itu, menurut Shu dan Hirose, taman dan sarana olahraga sering baru terjangkau dengan kendaraan bermotor dan bantuan orang tua. Anak desa juga lebih mungkin diantar ke sekolah dengan mobil. Sarana rekreasi yang terbatas dapat membuat anak lebih lama di rumah, lebih bergantung pada layar, lalu tidur lebih larut.

Shu dan Maehashi menambahkan faktor yang berlaku di mana saja. Tuntutan belajar bertambah, jadwal sekolah tetap, dan anak makin bebas mengatur sendiri pemakaian medianya. Mereka mengutip survei yang mencatat 40,1 persen murid sekolah dasar sudah mulai memakai ponsel pintar pada 2018. Pemakaian internet murid sekolah dasar melampaui 81 persen pada 2023.

Dari situ Shu dan Jiang menunjuk satu masa yang mereka anggap berharga. Waktu layar anak prasekolah dan murid kelas awal masih relatif pendek. Keduanya menyebut masa itu sebagai jendela pelindung, saat kebiasaan berlayar yang sehat masih bisa ditanamkan sebelum lonjakan di kelas 4 datang.

Siapa yang bisa memanfaatkan jendela itu? “Orang tua atau wali memegang peran sentral dalam membentuk perilaku gaya hidup anak,” tulis Shu, Jiang, Hirose, dan Maehashi pada bagian pembahasan. Mereka juga menyebut sekolah, yang dapat menyediakan waktu bergerak yang teratur, serta pemerintah setempat, yang dapat membuat ruang luar lebih aman dan lebih mudah dijangkau.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Batas yang diakui Shu dan rekan-rekannya

Shu dan rekan-rekannya menyebut sendiri batas temuan mereka. Anak-anak itu dipotret pada satu waktu, bukan diikuti dari tahun ke tahun, sehingga hubungan sebab-akibat antara usia dan kebiasaan tidak dapat ditarik. Semua angka juga berasal dari jawaban orang tua atau anak sendiri, yang bisa keliru mengingat.

Menurut Shu dan Jiang, jawaban seperti itu cenderung condong ke arah yang enak didengar. Waktu bermain di luar dan lama tidur mungkin dilaporkan lebih tinggi, waktu layar lebih rendah. Selain itu, mereka hanya menanyakan hari sekolah. Akhir pekan tidak tercatat, padahal anak sering tidur lebih larut dan lebih lama pada hari libur.

Hirose dan Maehashi, bersama dua penulis lain, juga mengakui bahwa semua anak berasal dari satu prefektur perdesaan. Hasilnya belum tentu berlaku untuk kota atau wilayah lain. Waktu bermain di luar pun hanya dipakai sebagai pengganti ukuran aktivitas fisik, dan daftar pertanyaan mereka belum diuji keandalannya secara resmi.

Yang masih mengganjal di naskah Shu

Beberapa hal dalam naskah Shu dan rekan-rekannya bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Pembahasan menyebut anak prasekolah tidur 9,0 jam dan murid sekolah dasar 8,6 jam. Tabel mereka mencatat 9,31 jam untuk anak prasekolah, lalu 9,05 dan 8,60 jam untuk dua kelompok murid sekolah dasar.

Bagian hasil yang ditulis Shu juga menyebut adanya penurunan waktu bermain di luar pada tahap akhir. Padahal angkanya naik terus sampai 0,85 jam di SMP. Dugaan awal mereka merujuk rekomendasi PBB, sedangkan pembahasan memakai anjuran American Academy of Sleep Medicine dan WHO. Naskah ini sendiri masih versi yang belum disunting akhir.

Pertanyaan sederhana yang dihimpun Shu akhirnya menghasilkan gambaran satu hari anak desa yang berubah pelan-pelan. Jam bangun tetap di sekitar setengah tujuh pagi, dari batita sampai siswa SMP. Yang bergeser adalah ujung malamnya: lampu padam pukul 21.02 bagi yang termuda, pukul 22.42 bagi yang tertua, dengan layar yang menyala kian lama di antaranya.

Bagikan

Baca Juga

Ibu Hamil Desa yang Tidur Kurang atau Berlebih Lebih Sering Stres
Lama Duduk di Kantor, Pekerja Swedia Lebih Jarang Mengeluh Lupa
Perokok Muda Yordania Yakin Bisa Berhenti, Sebagian Terjebak
Tulang Gigi Lebih Sering Keropos Saat Urine Berjejak Uap Kimia
Bayi Tabung Sichuan Lebih Sering Jadi Usai Satu Gelombang Panas
Bayi Tabung Masih Asing bagi Hampir Separuh Responden di Yordania