- Tidur pendek berarti delapan jam atau kurang dalam sehari.
- Gejala cemas pada tingkat yang sama terdapat pada 396 orang, atau 38,26 persen, dan gejala stres pada 330 orang, atau 31,88 persen.
- Bagi ibu bertidur pendek, peluang mengalami stres sedang hingga berat adalah 1,68 kali peluang ibu bertidur sedang.
- Pada ibu yang diantar suami, angka-angka itu mengecil mendekati satu dan tidak lagi bermakna secara statistik.
- Tiap ibu juga hanya ditemui satu kali, sehingga sebab dan akibat tidak bisa dipastikan.
Daftar Isi
Durasi tidur, istilah yang menjadi poros sebuah penelitian di pedesaan Tiongkok barat laut, sebenarnya hanya jawaban atas satu pertanyaan yang bisa dijawab siapa saja: selama seminggu terakhir, rata-rata berapa jam Anda tidur dalam sehari? Pertanyaan itu diajukan kepada 1.035 ibu hamil di rumah mereka. Dari jawaban mereka terlihat satu pola. Ibu yang tidurnya paling sebentar dan ibu yang tidurnya paling lama sama-sama lebih sering menanggung stres berat.
Penelitian itu ditulis Nan Wang, Jianmin Ai, Chengjie Hao, Yi Yuan, Yiman Gu, Jie Yang, dan Jingchun Nie. Artikel mereka, The association between sleep duration and mental health among pregnant women in rural northwest China, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1957, tahun 2026. Ketujuh penulis bekerja di Center for Experimental Economics in Education, Faculty of Education, Shaanxi Normal University, di Xi’an.
Para ibu itu tinggal di sepuluh county, wilayah setingkat kabupaten, di pedesaan Provinsi Shaanxi. Mereka diwawancarai tatap muka dalam tiga gelombang antara Maret 2021 dan Maret 2023. Shaanxi bukan provinsi yang makmur. Pendapatan warga desanya pada 2020 sebesar 13.317 yuan per orang setahun, di bawah angka nasional 17.131 yuan, dan menempati urutan ke-27 dari 31 provinsi.
Durasi tidur: lamanya tidur dalam sehari
Jawaban para ibu dikelompokkan menjadi tiga. Tidur pendek berarti delapan jam atau kurang dalam sehari. Tidur sedang berarti delapan sampai sepuluh jam, dan kelompok inilah yang dijadikan pembanding. Tidur panjang berarti sepuluh jam atau lebih. Maksudnya, yang disebut pendek di sini bukan begadang semalam suntuk; ibu yang tidur tujuh jam pun sudah masuk kelompok itu.
Batas tersebut memang lebih tinggi daripada anjuran yang lazim. Naskah mencatat bahwa tidur yang dianjurkan selama hamil adalah tujuh sampai sembilan jam semalam. Namun, sebagian penelitian mengusulkan rentang delapan sampai sepuluh jam, sebab perubahan hormon selama hamil, misalnya naiknya progesteron, menambah rasa lelah. Para penulis memilih rentang kedua itu sebagai ukuran tidur yang pas.
Hasilnya, lebih dari separuh ibu berada di tengah. Sebanyak 587 orang, atau 56,72 persen, tidur dengan lama sedang. Di dua ujungnya berdiri kelompok yang hampir sama besar: 218 ibu, atau 21,06 persen, bertidur pendek, dan 230 ibu, atau 22,22 persen, bertidur panjang. Artinya, kira-kira dua dari lima ibu hamil di desa-desa itu tidur di luar rentang yang dianggap pas.
Siapa yang tidur lama juga terbaca polanya. Di kelompok tidur panjang, 58,26 persen ibu berumur di bawah 29 tahun, dan 68,70 persen berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah. Di kelompok tidur pendek, yang lebih banyak justru ibu berumur 29 tahun ke atas, yakni 59,63 persen. Pekerjaan, pendapatan keluarga, dan jumlah anak tidak membedakan ketiga kelompok.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Depresi, cemas, stres: tiga jenis tekanan batin
Kesehatan jiwa para ibu diukur dengan DASS-21, singkatan dari Depression, Anxiety, and Stress Scale 21. Wujudnya daftar 21 pernyataan tentang perasaan selama seminggu terakhir, tujuh untuk depresi, tujuh untuk cemas, dan tujuh untuk stres. Tiap ibu menilai seberapa cocok pernyataan itu dengan dirinya. Yang dihitung para peneliti hanyalah ibu yang nilainya melewati batas gejala sedang hingga berat.
Angkanya tidak kecil. Dari 1.035 ibu, 356 orang atau 34,40 persen menunjukkan gejala depresi sedang hingga berat. Gejala cemas pada tingkat yang sama terdapat pada 396 orang, atau 38,26 persen, dan gejala stres pada 330 orang, atau 31,88 persen. Dengan ukuran sehari-hari, kira-kira satu dari tiga ibu hamil menanggung masing-masing jenis tekanan itu.
Ketika ketiga kelompok tidur dijajarkan, kelompok tengah selalu paling rendah. Gejala stres terdapat pada 28,11 persen ibu bertidur sedang, tetapi pada 37,16 persen ibu bertidur pendek dan 36,52 persen ibu bertidur panjang. Depresi dan cemas memperlihatkan bentuk serupa, hanya selisihnya lebih tipis. Menurut hitungan para peneliti, hanya selisih pada stres yang cukup besar untuk dianggap bukan kebetulan.
Rasio odds: berapa kali lipat peluangnya
Untuk menyatakan besarnya selisih itu, naskah memakai adjusted odds ratio, atau rasio odds tersesuaikan. Maksudnya begini: peluang satu kelompok mengalami sesuatu dibagi dengan peluang kelompok pembanding, sesudah perbedaan lain di antara keduanya diperhitungkan. Perbedaan lain itu antara lain umur, pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan ibu, keadaan suami, pendapatan keluarga, serta jumlah anak.
Bagi ibu bertidur pendek, peluang mengalami stres sedang hingga berat adalah 1,68 kali peluang ibu bertidur sedang. Bagi ibu bertidur panjang, angkanya 1,50 kali. Keduanya lolos uji kebermaknaan. Untuk depresi, angkanya 1,32 dan 1,24 kali, dan untuk cemas 1,37 dan 1,35 kali. Keempat angka terakhir itu condong ke arah yang sama, tetapi tidak cukup kuat untuk dipastikan.
Bedanya begini dengan cara baca yang keliru. Angka 1,68 tidak berarti tidur pendek membuat stres naik 68 persen. Angka itu hanya mengatakan bahwa, di antara ibu-ibu yang diwawancarai, tidur pendek dan stres berat lebih sering muncul bersama. Para penulis sendiri menduga arah sebaliknya juga mungkin: tidur panjang bisa merupakan cara tubuh mengimbangi rasa lelah atau depresi yang belum tampak jelas.
Di sinilah satu-satunya salah paham yang ingin diluruskan naskah ini. “Sebagian ibu hamil di pedesaan kerap menganggap tidur yang terlalu pendek atau terlalu panjang sebagai ‘reaksi kehamilan yang wajar’, sehingga mereka meremehkan potensi risiko kesehatan jiwa, dan akibatnya hanya sedikit yang aktif mencari pertolongan medis profesional,” tulis Nan Wang dan enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas
Dukungan keluarga: suami yang mengantar, mertua yang akur
Dukungan keluarga dalam penelitian ini tidak diukur dengan konsep yang muluk. Ukurannya dua pertanyaan. Pertama, siapa yang terutama mengantar ibu memeriksakan kehamilan: suami atau orang lain. Kedua, puaskah ibu dengan hubungannya dengan ibu mertua. Dari jawaban pertama, 645 ibu diantar suami dan 390 ibu diantar orang lain. Dari jawaban kedua, 731 ibu merasa puas dan 304 tidak.
Pada ibu yang tidak diantar suami, kaitan tidur dengan tekanan batin menajam. Peluang stres sedang hingga berat menjadi 2,37 kali bagi yang bertidur pendek dan 2,32 kali bagi yang bertidur panjang. Peluang cemas pun naik, masing-masing 2,22 dan 2,23 kali. Pada ibu yang diantar suami, angka-angka itu mengecil mendekati satu dan tidak lagi bermakna secara statistik.
Hubungan dengan mertua bekerja ke arah yang sama, meski lebih sempit. Di antara ibu yang tidak puas dengan hubungan itu, tidur pendek berkaitan dengan peluang stres 2,05 kali. Di antara ibu yang puas, kaitan itu hilang. Para penulis mencatat bahwa di Tiongkok perselisihan antara mertua dan menantu perempuan lazim terjadi, dan biasanya berpangkal pada beda keyakinan, nilai, serta kebiasaan mengurus rumah.
Tafsir yang mereka tawarkan sederhana. Suami yang hadir saat pemeriksaan bisa menenteramkan hati dan membantu urusan praktis. Rumah yang rukun memberi ibu hamil suasana yang tenang pada masa ketika perasaannya lebih peka. Keduanya, menurut para penulis, meredam beban batin yang menyertai tidur yang terlalu pendek atau terlalu panjang.
Dukungan sosial informal: sikap dan pengetahuan si ibu
Istilah kedua ini lebih mudah disalahpahami. Dukungan sosial informal di sini bukan tetangga yang menjenguk atau kader yang datang ke rumah. Para penulis memakainya untuk dua hal yang melekat pada diri ibu. Yang pertama adalah pandangannya terhadap orang yang mencari konseling psikologis. Yang kedua adalah pengetahuannya tentang gizi dan kesehatan selama hamil, yang dinilai lewat 25 soal.
Sebanyak 212 ibu menganggap mencari konseling psikologis sebagai hal yang tidak normal. Pada kelompok inilah angka paling tinggi dalam seluruh naskah muncul. Tidur panjang berkaitan dengan peluang stres 3,26 kali, cemas 2,61 kali, dan depresi 2,43 kali. Tidur pendek berkaitan dengan peluang stres 3,00 kali. Naskah mengutip penelitian terdahulu bahwa pertolongan psikologis kerap dipandang sebagai tanda kelemahan.
Pengetahuan memberi gambaran serupa. Sebanyak 835 ibu menjawab benar kurang dari 15 soal. Pada mereka, tidur pendek berkaitan dengan peluang stres 1,81 kali dan cemas 1,50 kali, sedangkan tidur panjang berkaitan dengan peluang stres 1,56 kali dan cemas 1,50 kali. Pada 200 ibu yang menjawab benar 15 soal atau lebih, tidak satu pun kaitan itu bermakna.
Dari situ para penulis menarik saran yang praktis. Lama tidur terbentuk di dalam rumah, sehingga anggota keluarga bisa langsung membantu memperbaikinya tanpa bergantung pada lembaga psikologi profesional. Usaha semacam itu mereka nilai murah dan mudah diperluas di pedesaan, tempat layanan kesehatan jiwa masih terbatas. Mereka juga menganjurkan pendidikan kesehatan agar konseling dipandang lebih wajar.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Kaitan, bukan sebab: batas semua istilah tadi
Batas penelitian ini ditulis para penyusunnya sendiri. Lama tidur hanya berasal dari pengakuan ibu, bukan dari alat ukur baku, sehingga bisa meleset dan sulit dibandingkan dengan penelitian lain. Semua peserta berasal dari pedesaan Tiongkok barat laut, jadi hasilnya belum tentu berlaku bagi kelompok lain. Tiap ibu juga hanya ditemui satu kali, sehingga sebab dan akibat tidak bisa dipastikan.
Ada beberapa hal di dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Batas ketiga kelompok tidur saling bersinggungan: tepat delapan jam masuk kelompok pendek sekaligus sedang, dan tepat sepuluh jam masuk kelompok sedang sekaligus panjang. Dalam tabel depresi, kelompok tidur sedang tercatat 190 dan 379 orang, yang berjumlah 569, padahal anggotanya 587. Rincian jumlah anak berjumlah 1.038, bukan 1.035.
Uraian dan tabel juga tidak selalu sejalan. Naskah menulis bahwa pada ibu yang memandang konseling sebagai hal normal tidak ada kaitan yang bermakna, padahal tabelnya menandai tidur pendek dan stres, 1,53 kali, sebagai bermakna. Bagian pembahasan menyebut kira-kira 20 persen ibu bertidur pendek atau panjang; angka itu berlaku untuk masing-masing kelompok, sedangkan gabungan keduanya 43,28 persen.
Maka durasi tidur dalam penelitian ini tetap sebatas arti awalnya: angka yang disebut seorang ibu ketika ditanya berapa jam ia tidur. Angka itu berjalan seiring dengan stres, paling erat pada ibu yang berangkat periksa tanpa suami atau yang memandang konseling sebagai hal yang tidak normal. Ia bukan diagnosis, dan belum menjadi bukti bahwa mengubah jam tidur akan mengubah isi hati.















