- Dari 902 orang yang ia tanyai, 411 tidak sanggup menjelaskannya sama sekali.
- Tebakan terbanyak, dari 406 orang, jatuh di rentang 50 sampai 90 persen.
- Hampir separuh, 445 orang, menganggap tirah baring setelah transfer embrio menambah peluang.
- Sebanyak 60,9 persen responden tahu bayi tabung menaikkan peluang kehamilan kembar.
- Orang yang tidak bisa membaca tidak terwakili, sedangkan mereka yang berlatar medis terlalu banyak.
Daftar Isi
- Albeitawi Bertanya, Hampir Separuh Tidak Bisa Menjawab
- Menebak Peluang Berhasil, Kebanyakan Terlalu Tinggi
- Usia Istri, Tirah Baring, dan Hal yang Dipercaya Menentukan
- Risiko yang Disangka Ada dan yang Tidak Disadari
- Siapa yang Lebih Tahu Menurut Catatan Al-Alami dan Rekan
- Batas Survei dan Angka yang Bisa Dicek Pembaca
Soha Albeitawi mengajukan pertanyaan yang kedengarannya mudah kepada ratusan orang dewasa di Yordania: apa itu bayi tabung? Peneliti dari Yarmouk University di Irbid itu tidak meminta jawaban setebal buku ajar, cukup penjelasan dengan kata-kata sendiri. Jawaban yang kembali kepadanya ternyata lebih banyak berupa kekosongan. Dari 902 orang yang ia tanyai, 411 tidak sanggup menjelaskannya sama sekali.
Albeitawi tidak bekerja sendirian. Ia menulis bersama Zina Al-Alami, Rahma Almari, Rama Al Sawaeer, Logain Khrais, Aseel Alrfou, Maram Shatnawi, Bashar Ghanma, dan Maha Al Natsheh dalam artikel berjudul Community awareness of assisted reproductive technologies in Jordan: educational gaps and knowledge levels, yang dimuat di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor artikel 929 tahun 2026. Sebagian besar dari mereka berasal dari Fakultas Kedokteran Yarmouk University, sedangkan Al Natsheh memimpin laboratorium bayi tabung di Istishari Hospital, Amman.
Orang-orang yang menjawab pertanyaan Albeitawi berusia 20 sampai 65 tahun dan tinggal di Yordania. Hampir delapan dari sepuluh adalah perempuan, lebih dari separuh berumur 20 sampai 30 tahun, dan 82,93 persen berpendidikan universitas. Sekitar sepertiganya, 36,25 persen, berlatar bidang medis. Hanya 127 orang, atau 14,1 persen, yang pernah berkonsultasi dengan dokter spesialis infertilitas.
Albeitawi Bertanya, Hampir Separuh Tidak Bisa Menjawab
Angka 411 orang yang dicatat Albeitawi itu setara dengan 45,56 persen, hampir separuh. Sebagian lain mencoba menjawab tetapi meleset. Seorang responden menulis bahwa bayi tabung adalah “pembuahan di dalam rahim”, sementara yang lain menyebutnya “penanaman sel telur yang sudah dibuahi ke dalam rahim”. Jawaban-jawaban itu dicatat tim sebagai contoh definisi yang keliru.
Pertanyaan berikutnya dari Albeitawi dan Al-Alami lebih halus: apakah bayi tabung biasa, yang dalam naskah disebut IVF, berbeda dari ICSI, teknik penyuntikan sperma ke dalam sel telur? Tepat separuh responden, 451 orang, menjawab keduanya berbeda. Sebanyak 145 orang yakin tidak ada bedanya, dan 306 orang lagi, kira-kira sepertiga, mengaku tidak tahu.
Makin rinci tekniknya, makin sunyi jawaban yang diterima tim Albeitawi. Sekitar tujuh dari sepuluh responden, 70,73 persen, tidak bisa menjelaskan inseminasi intrauterin atau IUI. Induksi ovulasi, yakni perangsangan indung telur, gagal dijelaskan oleh 575 orang atau 63,75 persen. Dua prosedur tambahan nyaris tidak dikenal: 89,14 persen tidak tahu lem embrio dan 88,47 persen tidak tahu assisted hatching.
Di antara segelintir jawaban benar soal induksi ovulasi, Albeitawi mengutip beberapa yang ditulis responden dengan bahasa sederhana, seperti “memberi hormon untuk merangsang ovulasi” dan “untuk menambah jumlah sel telur”. Sebanyak 340 orang tahu perangsangan itu bisa memakai pil maupun suntikan. Namun 320 orang tidak tahu caranya, 163 orang mengira hanya lewat suntikan, dan 79 orang mengira hanya lewat pil.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Menebak Peluang Berhasil, Kebanyakan Terlalu Tinggi
Setelah soal istilah, Albeitawi dan rekan-rekannya meminta responden menebak seberapa besar peluang bayi tabung berhasil. Tebakan terbanyak, dari 406 orang, jatuh di rentang 50 sampai 90 persen. Enam puluh orang bahkan memperkirakan lebih dari 90 persen, 152 orang menebak di bawah 50 persen, dan 284 orang mengaku tidak punya gambaran sama sekali.
Sebagai pembanding, Albeitawi merujuk penelitian Xu dan rekan yang mendapati angka kehamilan setelah siklus pertama transfer embrio segar sebesar 52 persen. Di Hungaria, survei Szalma dan Bitó yang juga dikutip tim ini menunjukkan gambaran yang berbeda: hanya 5,7 persen orang di sana yang menebak peluang di atas 50 persen, sedangkan di Yordania 51,66 persen responden berpikir demikian.
Tebakan untuk inseminasi lebih jauh lagi dari angka yang dipegang tim Albeitawi. Mereka mengutip perkiraan Zippl dan rekan bahwa angka kehamilan per siklus inseminasi sekitar 10,9 persen dan angka kumulatifnya 19,4 persen. Padahal 424 responden mengira peluangnya antara 50 dan 90 persen, dan 59 orang menebak di atas 90 persen. Hanya 152 orang yang menaruhnya di bawah separuh.
Usia Istri, Tirah Baring, dan Hal yang Dipercaya Menentukan
Lalu apa yang menurut responden menentukan berhasil tidaknya bayi tabung? Daftar yang disodorkan Albeitawi panjang, dan usia istri menempati urutan teratas: 713 orang atau 79,05 persen menganggapnya berpengaruh. Usia suami hanya dipilih 47,56 persen, dan 29,05 persen tegas menjawab tidak. Hampir tiga perempat responden, 676 orang, percaya keahlian dokter dan laboratorium sama-sama menentukan.
Tim Albeitawi juga mencatat keyakinan lain yang cukup meluas. Sebanyak 55,65 persen percaya pemeriksaan genetik embrio sebelum ditanam menaikkan peluang, 50,44 persen percaya pada suntikan penunjang fase luteal, dan 46,12 persen yakin menanam lebih banyak embrio membantu. Hampir separuh, 445 orang, menganggap tirah baring setelah transfer embrio menambah peluang. Hanya 93 orang yang menjawab tidak.
Untuk teknik yang lebih asing, kolom tidak tahu membengkak dalam tabel Albeitawi. Sebanyak 713 orang tidak tahu apakah menanam embrio berumur lima hari lebih baik, 685 orang tidak tahu soal lem embrio, dan 733 orang tidak tahu soal assisted hatching. Al-Alami dan rekan-rekannya buru-buru memberi pagar agar daftar itu tidak dibaca sebagai anjuran.
“Mengenal teknik-teknik semacam itu tidak berarti teknik tersebut direstui secara klinis,” tulis Albeitawi dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa beberapa prosedur yang ditanyakan dalam survei tidak rutin direkomendasikan. Artinya, ketidaktahuan responden atas lem embrio tidak otomatis berarti kerugian, tetapi menunjukkan betapa jauh jarak antara ruang praktik dan orang kebanyakan.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Pembekuan sel telur, sperma, dan embrio makin lazim di dunia, tulis Albeitawi. Karena itu ia bertanya apakah memakai bahan beku menurunkan peluang berhasil. Sekitar seperempat responden menjawab tidak menurunkan. Sisanya kebanyakan angkat tangan: 586 orang tidak tahu soal embrio beku, dan masing-masing 531 orang tidak tahu soal sel telur beku maupun sperma beku.
Albeitawi dan Al Natsheh, yang sehari-hari mengelola laboratorium bayi tabung, menawarkan dua dugaan atas kekosongan itu. Fasilitas pembekuan relatif jarang dipakai di Yordania, atau dokter yang merawat kurang menjelaskannya kepada pasien. Keduanya disampaikan sebagai kemungkinan, bukan hasil pengukuran. Survei ini memang tidak menanyakan dari mana responden memperoleh pengetahuannya.
Risiko yang Disangka Ada dan yang Tidak Disadari
Soal risiko, jawaban yang dikumpulkan Albeitawi terbelah ganjil. Sebanyak 60,9 persen responden tahu bayi tabung menaikkan peluang kehamilan kembar. Namun ketika ditanya apakah bayi tabung atau ICSI bisa disertai komplikasi, hanya 75 orang, atau 8,3 persen, yang menjawab bisa. Kehamilan kembar rupanya dikenal, tetapi tidak dipandang sebagai bagian dari risiko.
Efek samping perangsangan indung telur pun kabur bagi responden Albeitawi. Sebanyak 378 orang, 41,91 persen, tidak tahu efek sampingnya. Yang menjawab memilih gabungan keluhan yang sangat beragam, sampai 111 kombinasi. Gabungan terbanyak, dipilih 66 orang, berisi sakit kepala, mual, nyeri perut, perut kembung, berat badan naik, dan nyeri payudara.
Kekhawatiran soal kanker juga muncul dalam catatan Albeitawi. Sebanyak 214 orang percaya perangsangan indung telur menaikkan risiko kanker ovarium, 177 orang percaya hal serupa untuk kanker payudara, dan 232 orang yakin cadangan sel telur menyusut karenanya. Lebih dari separuh memilih tidak tahu. Penelitian terdahulu yang dirujuk tim ini tidak menemukan kaitan bermakna dengan kedua kanker itu maupun dengan penyusutan cadangan.
Baca juga Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal
Siapa yang Lebih Tahu Menurut Catatan Al-Alami dan Rekan
Al-Alami dan Albeitawi lalu memeriksa siapa yang jawabannya lebih tepat. Responden perempuan lebih sering menjawab bahwa usia ibu memengaruhi keberhasilan. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi lebih sering tahu bahwa tirah baring tidak diperlukan. Mereka yang pernah menemui spesialis infertilitas lebih tepat soal peluang berhasil, soal embrio hari kelima, dan soal tirah baring. Semua ini hubungan, bukan sebab-akibat.
Dari situ Albeitawi menarik kekhawatirannya. “Pemahaman yang buruk tentang teknologi reproduksi berbantu dapat menunda akses ke layanan infertilitas, memperkuat stigma, atau membuat pasien menaruh harapan yang tidak realistis,” tulisnya bersama rekan-rekannya. Ia mengaitkan kekhawatiran itu dengan biaya: hambatan keuangan menjadi lebih berat ketika informasi yang akurat sulit dijangkau.
Jalan keluarnya, menurut Albeitawi, tidak bisa dibebankan kepada ruang praktik saja. “Tenaga kesehatan dapat memainkan peran kunci dalam edukasi pasien. Akan tetapi, mengandalkan pertemuan klinis saja mungkin tidak cukup,” tulis mereka. Tim ini mengusulkan kampanye kesehatan masyarakat, materi di sekolah dan universitas, serta bahan belajar yang mudah diakses dan sesuai budaya setempat.
Batas Survei dan Angka yang Bisa Dicek Pembaca
Albeitawi sendiri mengakui batas temuannya. Kuesioner disebar lewat media sosial sehingga hanya menjangkau orang yang punya akses internet, dan itu terlihat dari responden yang kebanyakan berusia 20 sampai 30 tahun serta berpendidikan universitas. Orang yang tidak bisa membaca tidak terwakili, sedangkan mereka yang berlatar medis terlalu banyak. Karena itu angka-angka ini belum tentu menggambarkan seluruh warga Yordania.
Beberapa angka dalam naskah Albeitawi juga tidak saling cocok. Tabel menulis 284 orang yang tidak tahu peluang bayi tabung sebagai 34,0 persen, sedangkan pembahasan menyebut 31,48 persen, dan kolom inseminasi berjumlah 916, bukan 902. Bagian pembahasan menyatakan lebih dari separuh responden sadar bayi tabung tidak bebas komplikasi, padahal hasilnya 8,3 persen. Subbagian definisi inseminasi pun berisi uraian induksi ovulasi.
Pertanyaan yang diajukan Albeitawi di awal tetap sama sederhananya: apa itu bayi tabung? Sembilan ratus dua jawaban kemudian, ia mendapati istilah itu dikenal namanya tetapi samar isinya, peluangnya ditebak terlalu tinggi, dan risikonya nyaris tidak terbayang. Makin jauh pertanyaan bergerak dari nama menuju cara kerja, makin panjang pula kolom tidak tahu di tabel-tabelnya.















