Anak Gemuk di Mesir Lebih Sering Diejek di Rumah daripada Sekolah

A A

Ilustrasi sepasang kaki anak berdiri di timbangan badan di lantai keramik putih [Foto: Ketut Subiyanto/Pexels]

  • Sebanyak 18 dari 44 anak obesitas, atau 40,9 persen, mengaku dirundung oleh anggota keluarganya sendiri.
  • Sebanyak 16 anak obesitas, atau 36,4 persen, dirundung di sekolah, dibandingkan lima anak pembanding.
  • Sebanyak 25 dari 44 anak obesitas, atau 56,8 persen, mengaku sedih.
  • Sepuluh dari sebelas anak yang menolak pergi ke sekolah dirundung di sekolah.
Daftar Isi
  1. Yang dicatat Mahfouz di ruang periksa
  2. Ejekan yang didengar Elabd dari rumah
  3. Kesedihan yang dihitung Abd El-Shaheed
  4. Sebelas anak yang menolak sekolah di catatan Mahfouz
  5. Usulan Elabd untuk sekolah dan keluarga
  6. Yang perlu diperiksa pembaca naskah Mahfouz

Mona A. Elabd dan dua rekannya menanyai 86 anak yang datang ke sebuah klinik gizi di Dokki, Giza, Mesir. Pertanyaannya sederhana: apakah kamu diejek di sekolah, apakah kamu diejek di rumah, apakah kamu sedih, apakah kamu mau difoto. Dari jawaban anak-anak berusia lima sampai sepuluh tahun itu, mereka mendapati ejekan paling sering datang dari tempat yang semestinya paling aman.

Hasilnya ditulis Nermine N. Mahfouz, Mona A. Elabd, dan Azza Abd El-Shaheed dalam artikel Body image among bullied obese children: an Egyptian case-control study. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 727 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Department of Child Health, National Research Centre, Kairo, dan Elabd tercatat sebagai penulis korespondensi.

Anak-anak yang ditemui Mahfouz dan rekan terbagi dua. Sebanyak 44 anak mengalami obesitas, sedangkan 42 anak lain berberat badan normal dan menjadi pembanding. Ada 40 anak laki-laki dan 46 anak perempuan. Mereka datang ke klinik rawat jalan gizi dan imunitas di Medical Research Centre of Excellence antara Maret 2023 dan Februari 2024.

Abd El-Shaheed, yang menurut naskah menyusun gagasan awal kajian ini, berangkat dari satu kekosongan. Obesitas anak di Mesir disebut terus naik, tetapi riset tentang akibatnya pada perasaan anak di negeri itu masih langka. Tim ini ingin tahu bagaimana anak gemuk yang dirundung memandang tubuhnya sendiri, dan apa kaitannya dengan kesedihan.

Yang dicatat Mahfouz di ruang periksa

Sebelum bertanya soal perasaan, Mahfouz dan tim mengukur tubuh. Indeks massa tubuh anak obesitas rata-rata 26,33, sedangkan anak pembanding 16,65. Lingkar pinggang juga bercerita. Sebanyak 55 dari 86 anak, atau 64,0 persen, punya rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan 0,5 atau lebih, tanda risiko penumpukan lemak di perut.

Elabd dan rekan juga memeriksa kulit. Pada 27 dari 78 anak yang datanya tersedia, atau 34,6 persen, mereka menemukan acanthosis nigricans. Naskah menyebut kelainan kulit itu sebagai penanda resistansi insulin yang lazim pada anak obesitas. Tekanan darah relatif tenang: 66 dari 71 anak yang terukur, atau 93,0 persen, berada pada kisaran normal.

Mahfouz sendiri meminta angka-angka klinis itu dibaca dengan hati-hati. Tekanan darah 15 anak dan data kulit delapan anak tidak tercatat saat pemeriksaan. Bagian yang lebih utuh justru datang dari jawaban anak-anak tentang sekolah, rumah, dan suasana hati mereka. Di situlah perbedaan dua kelompok paling terlihat.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Ejekan yang didengar Elabd dari rumah

Temuan paling tajam yang dicatat Elabd menyangkut keluarga. Sebanyak 18 dari 44 anak obesitas, atau 40,9 persen, mengaku dirundung oleh anggota keluarganya sendiri. Di kelompok pembanding hanya tiga dari 42 anak, atau 7,1 persen. Peluang anak obesitas mengalaminya, menurut hitungan tim, sekitar sembilan kali peluang anak berberat normal.

Sekolah menyusul di belakang rumah. Mahfouz dan rekan mencatat 16 anak obesitas, atau 36,4 persen, dirundung di sekolah, dibandingkan lima anak pembanding, atau 11,9 persen. Peluangnya sekitar 4,2 kali. Dengan kata lain, di antara anak gemuk yang mereka temui, lebih banyak yang diejek di rumah daripada di sekolah.

Usia ikut berperan di sekolah, tulis Abd El-Shaheed dan tim. Setiap bertambah satu tahun, peluang seorang anak dirundung di sekolah naik menjadi 1,47 kali. Jenis kelamin tidak membedakan apa pun. Perundungan oleh teman sebaya, yang ditanyakan tersendiri, dilaporkan 9,1 persen anak obesitas dan 4,8 persen anak pembanding, selisih yang tidak bermakna.

Anak gemuk lebih sering dirundung dan sedihDirundung keluarga: Anak obesitas (44) +40,9%, Anak berat normal (42) +7,1%; Dirundung di sekolah: Anak obesitas (44) +36,4%, Anak berat normal (42) +11,9%; Merasa sedih: Anak obesitas (44) +56,8%, Anak berat normal (42) +11,9%; Menolak sekolah: Anak obesitas (44) +20,5%, Anak berat normal (42) +4,8%.Anak gemuk lebih sering dirundung dan sedihPersen anak usia 5-10 tahun di sebuah klinik di Giza, MesirAnak obesitas (44)Anak berat normal (42)20%40%60%0Dirundung keluarga40,9%7,1%Dirundung di sekolah36,4%11,9%Merasa sedih56,8%11,9%Menolak sekolah20,5%4,8%Jawaban "ya" pada tiap pertanyaan. Selisih pada menolak sekolah tidakbermakna secara statistik.
Sumber: Nermine N. Mahfouz, Mona A. Elabd, dan Azza Abd El-Shaheed, Body image among bullied obese children: an Egyptian case-control study, BMC Public Health, 26(727), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang tidak berbeda juga dicatat Mahfouz. Keluhan soal sekolah, kesulitan membaca, dan kesulitan berhitung kurang lebih sama di kedua kelompok. Rasa akur dengan orang tua dan teman pun nyaris kembar, 81,8 persen pada anak obesitas dan 83,3 persen pada anak pembanding. Anak gemuk di klinik itu tidak tampak lebih sulit belajar atau lebih sering berselisih.

Elabd dan rekan menaruh perhatian besar pada peran rumah itu. “Interaksi dengan orang tua dan keluarga membentuk harga diri dan ketahanan emosi anak,” tulis Mahfouz, Elabd, dan Abd El-Shaheed dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu mereka letakkan tepat sebelum membahas anak-anak yang menolak keluarganya.

Kesedihan yang dihitung Abd El-Shaheed

Pertanyaan tentang rasa sedih memberi Abd El-Shaheed dan tim selisih paling lebar. Sebanyak 25 dari 44 anak obesitas, atau 56,8 persen, mengaku sedih. Itu lebih dari separuh. Di kelompok pembanding hanya lima dari 42 anak, atau 11,9 persen, kira-kira satu dari delapan. Peluangnya 9,7 kali lebih besar pada anak obesitas.

Mahfouz kemudian memeriksa apakah usia atau jenis kelamin menjelaskan selisih itu. Jawabannya tidak. Setelah keduanya diperhitungkan, peluang anak obesitas merasa sedih tetap sekitar sepuluh kali peluang anak berberat normal. Usia dan jenis kelamin sendiri tidak meramalkan kesedihan. Hal serupa berlaku untuk perundungan dalam keluarga, yang peluangnya bertahan di angka sembilan kali.

Dari situ Elabd dan rekan menarik simpulan yang mereka tulis terang. “Pola ini menegaskan bahwa status obesitas berkaitan kuat dengan kesedihan dan perundungan, terutama di dalam keluarga dan sekolah, bahkan setelah ciri demografi dasar diperhitungkan,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Kata yang mereka pilih adalah berkaitan, bukan menyebabkan.

Soal foto, Abd El-Shaheed dan tim mendapat hasil yang lebih samar. Sembilan anak obesitas, atau 20,5 persen, memberi jawaban ya pada pertanyaan tentang foto, yang dalam abstrak dijelaskan sebagai keengganan difoto karena harga diri rendah. Di kelompok pembanding ada tiga anak, atau 7,1 persen. Selisih itu tidak bermakna secara statistik.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Sebelas anak yang menolak sekolah di catatan Mahfouz

Ada sebelas anak dalam catatan Mahfouz yang menolak pergi ke sekolah. Sembilan di antaranya anak obesitas, atau 20,5 persen dari kelompok itu, dan dua anak pembanding, atau 4,8 persen. Selisih antarkelompok ini tidak cukup kuat secara statistik setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan. Yang kuat justru kaitannya dengan perundungan.

Sepuluh dari sebelas anak itu, tulis Elabd dan rekan, dirundung di sekolah. Itu 90,9 persen. Di antara 75 anak yang tetap berangkat, hanya sebelas yang mengalaminya, atau 14,7 persen. Perundungan oleh teman sebaya dilaporkan tiga dari sebelas anak penolak sekolah, atau 27,3 persen, dibandingkan 4,0 persen pada anak lain.

Anak yang menolak sekolah dan yang tetap berangkatSepuluh dari sebelas anak yang menolak sekolah dirundung di sekolah; di antara 75 anak lain angkanya 14,7 persen.Anak yang menolak sekolah dan yang tetapberangkatDari 86 anak yang diperiksa, obesitas maupun berat normalMenolak (11)Berangkat (75)90,9%14,7%Dirundung disekolah72,7%29,3%Merasa sedih45,5%9,3%Enggan difoto27,3%4,0%Dirundung temansebaya
Sumber: Nermine N. Mahfouz, Mona A. Elabd, dan Azza Abd El-Shaheed, Body image among bullied obese children: an Egyptian case-control study, BMC Public Health, 26(727), 2026. Grafik: Cekricek.id

Perasaan anak-anak itu ikut tercatat oleh Abd El-Shaheed dan tim. Delapan dari sebelas anak yang menolak sekolah mengaku sedih, atau 72,7 persen, sedangkan pada anak yang berangkat 29,3 persen. Lima dari sebelas enggan difoto, atau 45,5 persen, dibandingkan 9,3 persen. Tim menduga anak yang menolak sekolah mengembangkan cara untuk melindungi citra dirinya.

Mahfouz dan rekan juga menemukan delapan anak yang menolak keluarganya. Lima di antaranya, atau 62,5 persen, dirundung di rumah, dan enam, atau 75 persen, dirundung di sekolah. Enam anak mengaku sedih dan empat enggan difoto. Pada 74 anak yang tidak menolak keluarga, angka sedihnya 29,7 persen. Hanya tiga anak yang menolak bermain, sehingga tim meminta bagian itu ditafsirkan hati-hati.

Usulan Elabd untuk sekolah dan keluarga

Dari angka-angka itu Elabd dan rekan menyusun tiga usulan. Ejekan soal berat badan perlu masuk ke dalam kebijakan antiperundungan sekolah, dengan perhatian pada anak yang lebih tua. Anak obesitas perlu ditapis singkat untuk kesedihan. Keluarga perlu konseling agar ejekan soal berat badan di rumah berkurang.

Abd El-Shaheed dan tim bahkan mencoba mencari angka indeks massa tubuh yang bisa menjadi penanda awal. Titik yang paling membedakan anak sedih dari yang tidak adalah 25,05 untuk seluruh anak, 25,1 untuk anak laki-laki, dan 20,85 untuk anak perempuan. Mereka menilai daya pembedanya sedang saja. Angka itu, tulis mereka, harus diuji dulu sebelum dipakai di klinik.

Batas kajian ini diakui Mahfouz dan rekan sendiri. Semua jawaban berasal dari laporan anak dan keluarganya, tanpa pemeriksaan psikiatri. Anak-anak direkrut dari satu klinik rujukan, dan orang cenderung menjawab soal perundungan dan perasaan sesuai harapan sosial. Rancangan kajian juga tidak memungkinkan mereka menetapkan mana sebab dan mana akibat.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Yang perlu diperiksa pembaca naskah Mahfouz

Naskah Mahfouz, Elabd, dan Abd El-Shaheed menyimpan beberapa hal yang tidak rapi. Abstrak menyebut 34,6 persen anak punya kelainan kulit tadi seolah dihitung dari seluruh peserta, padahal angka itu berasal dari 78 anak. Perundungan di sekolah mula-mula disebut tidak bermakna, lalu beberapa paragraf kemudian disebut bermakna.

Pembaca juga akan melihat Elabd dan rekan menulis empat dari sebelas anak penolak sekolah dirundung keluarga, sementara tabel mereka mencantumkan lima. Pertanyaan tentang foto diberi arti yang berganti-ganti di sepanjang naskah. Abstrak menyebut anak perempuan lebih rentan sedih, padahal hitungan mereka sendiri menunjukkan jenis kelamin tidak meramalkan kesedihan.

Elabd menutup naskahnya dengan kalimat pendek. “Temuan ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut oleh kajian-kajian tambahan,” tulis ia dan dua rekannya. Yang tertinggal dari klinik di Dokki itu adalah jawaban 44 anak gemuk atas pertanyaan-pertanyaan sederhana: lebih dari separuh mengaku sedih, dan ejekan lebih sering mereka dengar di rumah daripada di sekolah.

Bagikan

Baca Juga

Tikus dan Curut Beda, Curut Tak Bawa Penyakit seperti Tikus
Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan
Cium Bau Gas LPG Bocor? Ini Langkah Pertama Menurut Dosen ITS
Belanja Sayur Daring di Shanghai Lebih Ramai di Kawasan Mapan
Hampir Tiga dari Empat Orang Kuwait Makan Garam Terlalu Banyak
Migrain Lebih Jarang Datang pada Orang yang Tidurnya Tujuh Jam