- Sebanyak 73,8 persen orang dewasa Kuwait, hampir tiga dari empat, makan garam melebihi batas 5 gram.
- Pria mencatat angka yang lebih tinggi daripada wanita, 8,2 gram berbanding 6,8 gram sehari.
- Peserta dengan obesitas makan garam rata-rata 2,2 gram lebih banyak daripada peserta dengan indeks massa tubuh di bawah 25.
- Orang yang tahu bahaya garam dan ingin menguranginya justru makan garam lebih banyak.
- Tiap orang hanya menampung urine satu kali, padahal garam yang keluar berubah dari hari ke hari.
Daftar Isi
- Sebelum 2019: kampanye berjalan, angka dasarnya belum ada
- Catatan 2019–2023: rata-rata 7,5 gram garam sehari
- Temuan AlTarrah dan rekan: makin berat badan, makin banyak garam
- Paradoks dalam jawaban peserta: tahu bahayanya, garamnya lebih banyak
- Sejak Oktober 2019: roti, daging olahan, dan label peringatan
- Dari Finlandia 1979 ke Oman dan Tunisia: letak angka Kuwait
- Yang belum terjawab sesudah 2023
Garam sudah lama masuk daftar hal yang harus diawasi setiap negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaruh pengukuran asupan garam penduduk di dalam daftar seratus indikator kesehatan inti, dan dalam pedoman terbarunya menganjurkan kurang dari 2 gram natrium sehari, setara dengan kurang dari 5 gram garam dapur. Di Kuwait, tempat penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab kematian utama orang dewasa, anjuran itu dikampanyekan tanpa satu pun penelitian berskala penduduk yang mengukur garam warganya dengan cara paling tepercaya.
Kekosongan itu diisi Dana AlTarrah, Joseph Craig Longenecker, Wajd AlOthman, Ebaa Al Ozairi, Jaakko Tuomilehto, Rihab AlWotayan, dan Nawal AlHamad, peneliti dari Abdullah AlSalem University, Dasman Diabetes Institute, Drexel University, Kuwait Public Authority for Food and Nutrition, University of Helsinki, dan Kementerian Kesehatan Kuwait. Artikel mereka, Salt intake among adults in Kuwait: a nationally representative study using 24-hour urinary sodium excretion, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1829 tahun 2026. Para peneliti menyebutnya penilaian menyeluruh pertama atas asupan garam di negeri itu.
Cara tepercaya yang dimaksud adalah menampung seluruh air kencing selama 24 jam, sebab natrium yang keluar bersama urine mencerminkan garam yang dimakan. Dari 531 warga Kuwait berusia 21 sampai 72 tahun yang ikut serta antara September 2019 dan September 2023, sebanyak 308 orang menyerahkan tampungan yang lengkap, dan angkanya dibobot agar mewakili penduduk dewasa. Hasilnya satu bilangan yang selama ini tidak dimiliki Kuwait: rata-rata 7,5 gram garam sehari, satu setengah kali batas WHO.
Sebelum 2019: kampanye berjalan, angka dasarnya belum ada
Jauh sebelum angka itu tersedia, otoritas kesehatan Kuwait sudah bergerak. Public Authority for Food and Nutrition (PAFN) dan Kementerian Kesehatan menjalankan sejumlah prakarsa untuk menekan beban penyakit tidak menular: mendorong aktivitas fisik, menjaga berat badan sehat, memperbanyak buah dan sayur, berhenti merokok, dan mengurangi garam. Meski begitu, tulis para peneliti, angka kejadian penyakit tidak menular terus naik.
Dasar ilmiah kampanye itu sendiri tidak dipersoalkan. Sejak penelitian INTERSALT yang dilaporkan Stamler dan rekan pada 1991, lalu kajian Vuori dan rekan pada 2020, garam berlebih dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta stroke. Yang belum ada di Kuwait adalah titik awal. Tanpa angka dasar, menurut para peneliti, kebijakan sulit diarahkan dan hasil setiap upaya pengurangan garam tidak dapat dinilai.
Catatan 2019–2023: rata-rata 7,5 gram garam sehari
Angka rata-rata itu baru sebagian cerita. Nilai tengahnya 6,4 gram, dan separuh peserta berada di antara 4,8 dan 9,1 gram sehari. Sebanyak 73,8 persen orang dewasa Kuwait, hampir tiga dari empat, makan garam melebihi batas 5 gram. Lebih dari separuh, 54,0 persen, berada di antara 5 dan 9,9 gram, sedangkan 19,9 persen, kira-kira satu dari lima orang, menelan 10 gram atau lebih, sedikitnya dua kali lipat anjuran.
Pria mencatat angka yang lebih tinggi daripada wanita, 8,2 gram berbanding 6,8 gram sehari. Selisih itu bertahan sesudah usia dan berat badan diperhitungkan, yakni 1,4 gram, dan peluang pria masuk golongan 10 gram ke atas tercatat 2,6 kali peluang wanita. Di golongan itu terdapat 27,8 persen pria dan 13,1 persen wanita. Namun, pelampauan batas bukan urusan pria saja: 76 persen pria dan 72 persen wanita sama-sama makan garam lebih dari 5 gram.
Para peneliti menduga pria Kuwait memiliki kebiasaan dan selera makan yang berbeda, sejalan dengan temuan pada penduduk lain: pria cenderung lebih banyak menyantap makanan olahan dan makanan restoran, mengambil porsi lebih besar, dan makan lebih banyak secara keseluruhan. Usia memperlihatkan pola yang lebih samar. Kelompok 20 sampai 39 tahun mencatat 7,7 gram, kelompok 40 sampai 54 tahun 7,3 gram, dan kelompok 55 sampai 72 tahun 6,9 gram, tetapi perbedaan itu belum dapat dipastikan.
Baru sesudah jenis kelamin dan berat badan diperhitungkan, kelompok tertua tercatat makan garam 1,2 gram lebih sedikit daripada kelompok termuda. Menurut para peneliti, tingginya angka pada orang muda mungkin mencerminkan ketergantungan yang lebih besar pada makanan olahan dan makanan cepat saji. Dengan merujuk kajian Craigie dan rekan tahun 2011 bahwa kebiasaan makan yang terbentuk pada usia dini cenderung menetap sampai dewasa, mereka menilai upaya pengurangan garam pada kelompok muda sangat penting.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Temuan AlTarrah dan rekan: makin berat badan, makin banyak garam
Kaitan paling kuat justru datang dari timbangan. Peserta dengan obesitas, yaitu indeks massa tubuh 30 atau lebih, makan garam rata-rata 2,2 gram lebih banyak daripada peserta dengan indeks di bawah 25, dan peluang mereka melampaui batas 5 gram tercatat 3,5 kali lebih besar. Pada kelompok di tengah, dengan indeks 25 sampai 29, selisihnya 1,7 gram dan peluangnya 2,4 kali. Hampir separuh dari 531 peserta, 47,4 persen, tergolong obesitas.
Arah hubungan itu dibaca dengan dua cara oleh penelitian terdahulu yang dirujuk naskah ini. Grimes dan rekan pada 2013 serta Afsar dan rekan pada 2025 berpendapat orang bertubuh lebih besar makan lebih banyak secara keseluruhan, termasuk makanan olahan bernatrium tinggi. Ma, He, dan MacGregor pada 2015 mengajukan arah sebaliknya: garam yang tinggi mungkin ikut mendorong obesitas, terutama pada orang muda. Tim Kuwait tidak memilih salah satu dan hanya mencatat bahwa pengurangan garam di dalam program pengelolaan berat badan dapat memberi manfaat tambahan.
Dua penyakit yang paling sering dikaitkan dengan garam ternyata tidak muncul di data ini. Asupan garam tidak berkaitan secara bermakna dengan tekanan darah tinggi maupun diabetes. Peserta yang sudah didiagnosis hipertensi malah cenderung makan garam sedikit lebih rendah, yang menurut para peneliti mungkin mencerminkan usaha mereka mengikuti nasihat dokter. Mereka mengingatkan bahwa penelitian yang mengikuti orang dari waktu ke waktu, seperti karya Hu dan rekan di Finlandia pada 2005, menunjukkan natrium tinggi berkaitan dengan bertambahnya kasus kedua penyakit itu.
Paradoks dalam jawaban peserta: tahu bahayanya, garamnya lebih banyak
Bagian yang paling mengejutkan para peneliti menyangkut isi kepala peserta. Mereka yang menganggap mengurangi garam tidak penting ternyata makan garam 0,9 gram lebih sedikit daripada mereka yang menganggapnya penting, dan peluangnya melampaui batas hanya separuh. Mereka yang yakin garam berlebih tidak menimbulkan masalah kesehatan mencatat 1,1 gram lebih sedikit. Dibalik, orang yang tahu bahaya garam dan ingin menguranginya justru makan garam lebih banyak.
Tindakan yang dilaporkan peserta pun tidak tampak di dalam urine mereka. Menghindari makanan olahan, memeriksa label natrium, memakai rempah atau perasan lemon saat memasak, dan menghindari makan di luar rumah tidak berkaitan dengan jumlah garam yang terukur. Kebiasaan menambahkan garam di meja makan atau saat memasak juga tidak. Peserta yang mengaku membeli makanan pengganti berkadar garam rendah tercatat di tabel makan garam 1,6 gram lebih banyak, tetapi rentang ketidakpastiannya melewati nol dan para peneliti menyatakan pembelian itu tidak berkaitan dengan asupan garam.
Para peneliti membaca hasil itu sebagai peringatan bagi siapa pun yang mengandalkan penyuluhan. “Temuan paradoksal ini menyoroti tantangan utama dalam promosi kesehatan, termasuk gizi kesehatan masyarakat: kesadaran saja tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku,” tulis Dana AlTarrah, peneliti College of Medicine and Health Sciences Abdullah AlSalem University, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Banyak orang, lanjut mereka, mungkin merasa sudah memilih makanan yang lebih sehat tetapi tetap menelan garam berlebih karena natrium tersembunyi di makanan olahan dan makanan restoran.
Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Sejak Oktober 2019: roti, daging olahan, dan label peringatan
Jawaban kebijakan atas persoalan itu sudah dimulai pada bulan yang hampir bersamaan dengan penelitian ini. Pada Oktober 2019 PAFN meluncurkan prakarsa nasional pengurangan garam yang selaras dengan anjuran WHO. Salah satu pusat perhatiannya adalah bekerja sama dengan produsen untuk menurunkan kadar natrium makanan olahan, yang disebut sebagai sumber utama garam berlebih dalam makanan orang Kuwait. Sasarannya produk yang banyak dimakan: roti, daging olahan, makanan kaleng, dan camilan.
Prakarsa itu juga mendorong pencantuman kadar natrium yang jelas dan mudah terlihat, termasuk label peringatan pada makanan bernatrium tinggi dan sertifikasi sukarela untuk produk rendah garam. Kampanye penyuluhan menekankan langkah sederhana, seperti memilih bahan segar dan mengurangi garam saat memasak, sementara target natrium untuk tiap golongan makanan sedang disusun. Para peneliti menyatakan penelitian ini tidak dapat menilai berhasil tidaknya semua upaya tersebut; yang disediakannya adalah titik awal untuk survei berkala sesudahnya.
Dari Finlandia 1979 ke Oman dan Tunisia: letak angka Kuwait
Di antara negara sekawasan yang disebut naskah ini, angka Kuwait bukan yang tertinggi. Al-Mawali dan rekan pada 2020 melaporkan 9,0 gram sehari di Oman, sedangkan Doggui dan rekan pada 2021 mencatat 8,1 gram di Tunisia. Kuwait berada sedikit di bawah keduanya, tetapi tetap jauh di atas anjuran WHO. Para peneliti memakai perbandingan itu untuk menegaskan perlunya langkah terpadu: perubahan resep makanan olahan, pendidikan konsumen, dan pedoman makan yang ditopang kebijakan.
Hanya sedikit negara yang memantau garam penduduknya lewat tampungan urine 24 jam, walaupun WHO menganjurkannya dengan kuat. Contoh terbaik yang disebut para peneliti adalah Finlandia, yang sudah menjalankan pemantauan semacam itu sejak 1979, sebagaimana dicatat Tuomilehto dan rekan pada 1980 serta Laatikainen dan rekan pada 2006. Cara ini memang merepotkan untuk survei besar. Pengalaman terdahulu dan penelitian di Kuwait ini, kata mereka, menunjukkan bahwa hal itu dapat dikerjakan.
Jalan pintas yang lebih mudah, yaitu menaksir garam sehari dari satu sampel urine sewaktu, ikut diuji dan hasilnya mengecewakan. Rata-rata taksirannya memang berdekatan, 7,44 gram berbanding 7,1 gram, tetapi pada tingkat perorangan sebarannya sangat lebar.
Dengan ambang 5 gram, cara itu mengenali 92 persen orang yang garamnya berlebih, tetapi hanya 17 persen orang yang garamnya tidak berlebih. Sejalan dengan kajian Ji dan rekan tahun 2012 serta Charlton dan rekan tahun 2020, para peneliti menyimpulkan urine sewaktu tidak layak dipakai untuk menghitung berapa banyak orang yang kelebihan garam.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Yang belum terjawab sesudah 2023
Batas penelitian ini diakui para penulisnya. Jumlah peserta tergolong kecil, sehingga pemilahan lebih rinci tidak mungkin dilakukan. Tiap orang hanya menampung urine satu kali, padahal garam yang keluar berubah dari hari ke hari; akibatnya, bagian penduduk yang melampaui 5 gram kemungkinan sedikit terlalu tinggi. Karena semua data diambil pada satu waktu, kaitan dengan berat badan atau pengetahuan tidak dapat dibaca sebagai sebab dan akibat.
Persoalan lain ada pada siapa yang bersedia ikut. Dari 2.594 orang yang dihubungi lewat telepon, hanya 531 atau 20,5 persen yang datang, dan banyak yang menolak ketika diminta menampung urine seharian. Para peneliti menyebut keengganan budaya untuk menangani kotoran tubuh dan pandemi COVID-19 sebagai penghalang utama. Mereka menilai penyimpangan besar tidak mungkin terjadi karena kebiasaan makan garam bukan hal yang memalukan, tetapi mengakui rendahnya tanggapan itu dapat memengaruhi hasil.
Beberapa angka di dalam naskah dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Pada tabel faktor yang berkaitan, selisih 1,7 gram untuk kelompok indeks 25 sampai 29 disertai rentang ketidakpastian yang melewati nol, padahal nilai ujinya menandakan kaitan yang kuat. Rata-rata asupan ditulis 7,5 gram di bagian hasil tetapi 7,1 gram di bagian urine sewaktu. Bagian 5 sampai 9,9 gram dan bagian 10 gram ke atas, bila dijumlahkan, menghasilkan 73,9 persen, bukan 73,8 persen.
Dengan segala batas itu, penelitian ini menempati satu mata rantai yang jelas dalam riset garam: sesudah INTERSALT menetapkan kaitannya dengan tekanan darah dan Finlandia menunjukkan cara memantaunya selama puluhan tahun, Kuwait kini memiliki angka dasarnya sendiri. Angka itu, 7,5 gram sehari dengan hampir tiga dari empat orang dewasa di atas batas, akan menjadi pembanding bagi survei sesudahnya. Dari survei berikutnya itulah baru akan terlihat apakah roti, daging olahan, dan label peringatan mengubah isi piring orang Kuwait.














