Pasar Pertanian Dibuka, Produktivitas Naik Hanya di Negara Kaya

A A

Ilustrasi tumpukan peti kemas warna-warni dengan derek dan kapal kargo di pelabuhan Indonesia [Foto: branphonegraphy/Pexels]

  • Sejak tahun itu, 35 negara penghasil pertanian utama dunia diikuti terus sampai 2024.
  • Di negara berpendapatan tinggi, pasar pertanian yang makin terbuka berjalan bersama produktivitas yang makin tinggi.
  • Di kelompok menengah-bawah, angka untuk alih teknologi dan riset sama-sama tidak bermakna.
  • Negara berpendapatan menengah diminta lebih dulu menguatkan riset pertanian, alih teknologi, dan layanan penyuluhan.
Daftar Isi
  1. 2005: titik nol untuk mengukur produktivitas
  2. 2007: tiga puluh lima negara masuk daftar
  3. 2008 sampai 2010-an: pintu yang sempat lebar menyempit
  4. Sampai 2024: hasil jangka panjang terbelah tiga
  5. Tahun-tahun awal: ongkos menyesuaikan diri
  6. 2026: naskah terbit dengan beberapa selip

Tahun 2007 menjadi garis mula catatan ini. Sejak tahun itu, 35 negara penghasil pertanian utama dunia diikuti terus sampai 2024. Dua hal dicatat dari tiap negara: seberapa lebar pasar pertaniannya dibuka, dan seberapa cepat produktivitas pertaniannya tumbuh. Indonesia ada di dalam daftar itu.

Catatan tersebut disusun Mela Yunita, Idfi Setyaningrum, dan Sugeng Hariadi dalam Revisiting Trade Liberalization for Agriculture Productivity: Dynamic Evidence from a Global Panel of Countries, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi volume 15 nomor 1, tahun 2026. Ketiganya bekerja di Faculty of Business and Economics, Universitas Surabaya. Naskah mereka ditulis dalam bahasa Inggris.

Hasil akhirnya tidak seragam. Di negara berpendapatan tinggi, pasar pertanian yang makin terbuka berjalan bersama produktivitas yang makin tinggi. Di negara berpendapatan menengah, kaitan itu lemah, tidak terbukti, atau malah berbalik arah. Para penulis menamai keadaan ini paradoks liberalisasi perdagangan.

2005: titik nol untuk mengukur produktivitas

Sebelum catatan dimulai, satu tahun ditetapkan sebagai patokan, yaitu 2005. Pertumbuhan produktivitas pertanian dan peternakan tiap negara dihitung dalam persen terhadap tahun itu. Yang diukur bukan banyaknya panen semata. Ukurannya adalah seberapa hemat sebuah negara mengubah lahan, tenaga kerja, modal, dan bahan masukan menjadi hasil pertanian.

Kenaikan pada ukuran itu, menurut naskah, tidak datang dari pemakaian masukan yang lebih banyak. Ia datang dari perbaikan teknologi, efisiensi, cara mengelola, mutu kelembagaan, dan pembagian sumber daya. Jadi negara yang menambah lahan tanpa memperbaiki cara kerjanya tidak otomatis tercatat lebih produktif.

Keterbukaan pasar diukur dengan cara yang sama sederhananya. Nilai ekspor dan impor pertanian sebuah negara dijumlahkan, lalu dibandingkan dengan produk domestik brutonya. Makin besar perbandingan itu, makin terbuka pasar pertanian negara tersebut. Datanya berasal dari FAOSTAT.

Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya

2007: tiga puluh lima negara masuk daftar

Pada 2007 daftar negara ditetapkan. Dua pertimbangan dipakai. Pertama, negara itu harus menyumbang besar pada produksi pertanian dunia. Kedua, daftar harus mewakili tingkat pendapatan yang berlainan. Dengan penggolongan Bank Dunia, ke-35 negara lalu dibagi ke dalam tiga kelompok.

Kelompok berpendapatan tinggi berisi tiga belas negara. Isinya Amerika Serikat, Prancis, Australia, Jepang, Italia, Spanyol, Korea Selatan, Kanada, Jerman, Inggris, Belanda, Polandia, dan Cile. Kelompok menengah-atas berisi sebelas negara, yakni China, Brasil, Rusia, Argentina, Turki, Meksiko, Iran, Thailand, Malaysia, Kolombia, dan Peru.

Kelompok menengah-bawah juga berisi sebelas negara. Indonesia ditempatkan di sini bersama India, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Filipina, Kenya, Mesir, Maroko, dan Ukraina. Naskah tidak menyajikan hasil khusus untuk Indonesia. Semua kesimpulan jangka panjangnya berlaku untuk kelompok, bukan untuk satu negara.

Dari tahun dasar sampai catatan terbitLinimasa 2005 sampai 2026: tahun dasar, awal catatan, krisis 2008, kemandekan 2010-an, akhir catatan, dan terbitnya naskah.Dari tahun dasar sampai catatan terbitPenanda waktu yang disebut dalam naskah2005Tahun dasar: pertumbuhan produktivitas pertaniandihitung dari titik ini2007Catatan 35 negara penghasil pertanian utama dimulai2008Krisis keuangan global; keterbukaan negaramenengah-bawah turun tajam sesudahnya2010+Perdagangan global mandek; negara kaya tetap relatifstabil2024Catatan berakhir; hasil jangka panjang terbelahmenurut pendapatan2026Hasilnya terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi
Sumber: Mela Yunita, Idfi Setyaningrum, dan Sugeng Hariadi, Revisiting Trade Liberalization for Agriculture Productivity: Dynamic Evidence from a Global Panel of Countries, Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 15(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Selain pasar dan produktivitas, tiga hal lain ikut dicatat tiap tahun. Ketiganya adalah alih teknologi lewat perdagangan, belanja riset dan pengembangan terhadap produk domestik bruto, serta nilai tukar riil. Alih teknologi dinilai dengan indeks berskala 1 sampai 7. Nilai tukar riil dihitung terhadap 172 negara mitra dagang.

2008 sampai 2010-an: pintu yang sempat lebar menyempit

Tahun berikutnya krisis keuangan global datang. Grafik dalam naskah memperlihatkan apa yang terjadi di kelompok menengah-bawah. Keterbukaan dagang pertanian mereka mula-mula melebar. Sesudah krisis 2008, angkanya turun tajam. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa pasar terbuka di kelompok ini sangat peka terhadap guncangan dari luar.

Guncangan yang mereka sebut ada tiga macam, yaitu harga pangan yang naik turun, gangguan terkait iklim, dan ketegangan geopolitik. Makin terpapar sebuah negara pada guncangan itu, makin sering pembuat kebijakannya menimbang ulang. Di satu sisi ada keuntungan efisiensi. Di sisi lain ada risiko terlalu bergantung pada pasar internasional, terutama untuk pangan.

Naskah menolak menyebut gejala ini sebagai langkah mundur ke proteksi. Penyesuaian yang selektif, tulis para penulis, adalah tanggapan untuk menjaga produksi pertanian dalam negeri. Itu bukan penolakan terhadap keterbukaan. Mereka memakai istilah kalibrasi ulang yang strategis di tengah ketidakpastian global.

Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

Memasuki 2010-an, perdagangan global mandek. Merujuk FAO, para penulis mencatat bahwa kemandekan itu lebih banyak didorong penyesuaian struktural dan upaya membangun kemampuan dalam negeri. Kenaikan tarif pelindung bukan pendorong utamanya. Dalam satu dasawarsa terakhir, liberalisasi dagang pertanian melambat, khususnya di kelompok menengah-atas dan menengah-bawah.

Negara berpendapatan tinggi berjalan di jalur lain. Keterbukaan dagang pertanian mereka cenderung stabil dari tahun ke tahun. Naskah mengaitkan kestabilan itu dengan tiga hal yang dicatat riset terdahulu: struktur produksi yang beragam, kerangka kelembagaan yang kuat, dan pengkhususan pada komoditas bernilai tambah tinggi.

Pada titik ini jarak antarkelompok sudah terlihat. Satu kelompok membuka pasar dan sanggup bertahan terbuka. Dua kelompok lain membuka pasar, lalu menahan diri ketika guncangan datang. Pertanyaan yang tersisa adalah apa yang terjadi pada produktivitas masing-masing sesudah bertahun-tahun.

Sampai 2024: hasil jangka panjang terbelah tiga

Catatan ditutup pada 2024, dan hitungan jangka panjang dibuat. Di negara berpendapatan tinggi, angka kaitan antara keterbukaan dagang pertanian dan pertumbuhan produktivitas adalah 0,229. Angka itu positif dan bermakna secara statistik. Para penulis menyebutnya relatif besar dan penting secara ekonomi, bukan sekadar lolos uji.

Di kelompok menengah-atas, angkanya minus 0,004. Arahnya berbalik, walau sangat kecil. Di kelompok menengah-bawah, tempat Indonesia berada, angkanya minus 0,021 dan tidak bermakna secara statistik. Artinya, pada kelompok ini naskah tidak menemukan kaitan yang bisa dipegang antara pasar yang terbuka dan produktivitas.

Pasar sama terbuka, hasil berbedaAngka kaitan jangka panjang: 0,229 di negara berpendapatan tinggi, -0,004 di menengah-atas, -0,021 di menengah-bawah.Pasar sama terbuka, hasil berbedaKaitan jangka panjang pasar terbuka dan produktivitas35negarapenghasilpertanian utama0,229kayapositif danbermakna-0,004tengah-atasnegatif, kecil-0,021tengah-bawahtidak bermaknaJalan risetnya35 negara, 2007-2024Tiga kelompokpendapatanHasil berbeda tiapkelompokIndonesia masuk kelompok pendapatan menengah-bawah.
Sumber: Mela Yunita, Idfi Setyaningrum, dan Sugeng Hariadi, Revisiting Trade Liberalization for Agriculture Productivity: Dynamic Evidence from a Global Panel of Countries, Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 15(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Penjelasan para penulis bertumpu pada dua saluran, yaitu alih teknologi dan belanja riset. Di negara kaya, keduanya berkaitan positif dan bermakna dengan produktivitas. Pasar yang terbuka menurunkan biaya mengimpor barang modal. Mesin maju, masukan bermutu, dan pengetahuan yang melekat padanya lebih mudah masuk, lalu diserap.

Di kelompok menengah-atas, kedua saluran itu masih positif tetapi lebih lemah. Naskah menafsirkannya sebagai penyerapan teknologi asing yang hanya sebagian. Sistem inovasi terpecah-pecah. Koordinasi lembaga riset dengan produsen terbatas. Dukungan kebijakan tidak ajek. Akibatnya, tambahan produktivitas makin tertahan dari waktu ke waktu.

Di kelompok menengah-bawah, angka untuk alih teknologi dan riset sama-sama tidak bermakna. Para penulis menduga sebabnya adalah investasi yang terus-menerus rendah. Teknologi kerap diimpor tanpa penyesuaian yang cukup dengan keadaan setempat. Kesempatan belajar dari pengalaman pun menyempit, dan inovasi lambat menyebar.

Dari tiga hasil itu kesimpulan ditarik. “Liberalisasi perdagangan pertanian tidak otomatis meningkatkan produktivitas; manfaatnya bergantung pada kesiapan struktural dan kapasitas inovasi dalam negeri,” tulis Mela Yunita, Idfi Setyaningrum, dan Sugeng Hariadi dalam naskahnya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir

Tahun-tahun awal: ongkos menyesuaikan diri

Hitungan jangka pendek memberi gambaran yang lebih berantakan. Di beberapa negara, pasar yang lebih terbuka langsung diikuti kenaikan produktivitas. Naskah mengaitkannya dengan perpindahan sumber daya yang cepat dan pasar yang lebih menyatu. Hal ini terutama muncul di negara dengan lembaga pasar dan struktur produksi yang luwes.

Di banyak negara lain, arahnya negatif. Persaingan dari barang impor datang lebih cepat daripada kemampuan produsen mengubah teknologi dan cara berorganisasinya. Para penulis membaca penurunan sementara ini sebagai biaya penyesuaian. Menurut mereka, itu bukan bukti bahwa pasar terbuka gagal mengangkat produktivitas.

Pola serupa tampak pada alih teknologi. Di sebagian negara, teknologi baru segera membuahkan hasil. Di negara lain, teknologi asing mula-mula menambah kerumitan produksi dan biaya koordinasi, baru kemudian memperbaiki efisiensi. Belanja riset pun demikian. Dalam jangka pendek, angkanya negatif di banyak negara karena riset lebih dulu menjadi biaya.

Usulan kebijakan para penulis mengikuti urutan waktu itu. Negara berpendapatan menengah diminta lebih dulu menguatkan riset pertanian, alih teknologi, dan layanan penyuluhan. Pembukaan pasar yang lebih jauh menyusul sesudahnya, secara bertahap. Stabilitas ekonomi makro disebut sebagai syarat ketiga agar pasar terbuka berbuah produktivitas.

2026: naskah terbit dengan beberapa selip

Naskah terbit pada 2026 dengan batas yang perlu dicatat. Cakupannya hanya 35 negara, dan tidak satu pun berasal dari kelompok berpendapatan rendah. Hasil untuk kelompok menengah-bawah tidak bermakna secara statistik, sehingga tidak dapat dibaca sebagai bukti bahwa pasar terbuka merugikan. Kaitan yang ditemukan pun berlaku untuk kelompok negara, bukan untuk petani perorangan.

Ada pula selip yang dapat diperiksa pembaca. Catatan di bawah tabel hasil jangka panjang menulis tanda bintang ganda dua kali untuk tingkat keyakinan yang berbeda. Satu sel pada tabel yang sama memuat angka dengan tanda kurung yang rusak. Ukuran produktivitas dirujuk ke Fuglie tahun 2019, sedangkan daftar pustaka hanya memuat Fuglie tahun 2018.

Sumber data juga tidak seragam antara tabel dan uraian. Tabel variabel menulis UNESCO sebagai sumber indeks alih teknologi, sementara uraiannya menyebut Global Competitiveness Index dari World Economic Forum. Paragraf akhir pembahasan menyebut kaitan jangka panjang yang positif, padahal tabelnya mencatat tanda positif itu hanya pada negara berpendapatan tinggi.

Titik terakhir yang diketahui adalah 2024. Sampai tahun itu, pasar pertanian yang terbuka berjalan bersama produktivitas yang naik hanya di tiga belas negara berpendapatan tinggi. Untuk dua puluh dua negara lain, termasuk Indonesia, catatan ini belum menunjukkan hasil yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Tidur Anak di Sekolah Miskin Portugal Mengikuti Dompet Keluarga
Remaja AS Ditahan atas Rencana Serangan ke Kuil Hindu di Illinois
Pengadilan Suriah Vonis Mati Dua Loyalis Assad atas Kekerasan
Usulan Khotbah Jumat Seragam di Kashmir Picu Kecaman Ulama
Trump Batalkan Siaran Langsung Eksekusi Penembak Fort Hood
Pemerintah Trump Selidiki Ilhan Omar untuk Cabut Kewarganegaraan