Remaja AS Ditahan atas Rencana Serangan ke Kuil Hindu di Illinois

A A

Dok. Petugas polisi bersenjata berjaga di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 26 Mei 2025. [Foto: Patrick Gorski-Imagn Images/Reuters]

  • Polisi menangkap Alexandros Paporakis, 19 tahun, yang diduga merencanakan serangan ke kuil Hindu di Illinois.
  • Jaksa menyebut ia mengirim manifesto delapan halaman berisi rencana membunuh orang India, Yahudi, dan kulit hitam.
  • Penggeledahan menemukan senapan gaya AR tanpa nomor seri dan barang bersimbol Nazi.
  • Survei Carnegie menemukan satu dari empat warga AS keturunan India mengalami pelecehan verbal sejak awal 2025.

Cekricek.id — Polisi Illinois, Amerika Serikat, menangkap Alexandros Paporakis, 19 tahun, yang diduga merencanakan serangan ke sebuah kuil Hindu di Illinois dan menyuarakan pandangan supremasi kulit putih.

Polisi menyatakan telah menggagalkan potensi penembakan massal, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (15/10/2026). Paporakis adalah kasir Taco Bell dari Palatine, kawasan pinggiran Chicago. Jaksa menyebut ia pernah mengatakan kepada rekan kerjanya bahwa ia “tidak sabar” membunuh orang India.

Penyidik meyakini ia berencana menyerang kuil Hindu terbesar di Aurora, sekitar 65 kilometer barat daya Palatine. “Namun, lokasi sasaran yang spesifik belum dikonfirmasi dan masih diselidiki,” kata polisi.

Paporakis diduga mengatakan kepada rekan kerjanya bahwa hari Minggu akan menjadi “hari istimewa”. Menurut jaksa, seorang rekan kerja mengaku ditelepon Paporakis pada Minggu sore dan diberi tahu bahwa senapannya macet. Ia diduga mengirim video senapan yang gagal menembak dan mengatakan ingin mencoba lagi setelah senjata itu diperbaiki.

Dua rekan kerjanya kemudian menghubungi polisi. Petugas dari Palatine dan Mount Prospect menangkapnya saat ia keluar dari rumah.

“Keseriusan dugaan ancaman ini tidak dapat dilebih-lebihkan,” kata Kepala Polisi Palatine William Nord.

Paporakis menghadapi dakwaan pidana berat berupa membuat ancaman teroris dan kepemilikan senjata secara tidak sah. Pada Rabu, hakim memerintahkan ia ditahan sebelum persidangan. Ia dijadwalkan kembali menghadap pengadilan pada 30 Oktober.

Manifesto dan Senapan Tanpa Nomor Seri

Jaksa menyebut Paporakis terang-terangan mengaku sebagai supremasis kulit putih di tempat kerja. Ia diduga mengirim dokumen delapan halaman berjudul Why I fought: A.K.A. (Aurora Shooter’s Manifesto) kepada seorang rekan kerja. Dokumen itu menyebut orang India, Yahudi, dan kulit hitam sebagai “subhuman” dan memuat rencana membunuh sebanyak mungkin dari mereka.

Menurut jaksa, ia menulis telah merencanakan serangan itu selama dua tahun dan meneliti sasarannya lewat YouTube dan Google Street View. Penggeledahan di rumahnya menemukan senapan gaya AR tanpa nomor seri, magasin berisi peluru, tabung gas berlabel hinaan terhadap orang Asia Selatan, dan barang-barang bersimbol Nazi.

Kebencian terhadap Warga AS Keturunan India

Biro Investigasi Federal (FBI) tidak menghitung kejahatan terhadap warga AS keturunan India sebagai kategori tersendiri. Polisi melaporkan 234 kejahatan anti-Sikh kepada FBI dalam 12 bulan hingga Oktober, naik sekitar 28 persen dari 183 kasus pada periode sebelumnya. Kejahatan anti-Hindu tercatat 63 kasus dalam dua tahun terakhir.

Survei Carnegie Endowment for International Peace terhadap 1.000 warga AS keturunan India yang dilakukan YouGov pada November 2025 hingga Januari 2026 menemukan satu dari empat responden mengalami pelecehan verbal sejak awal 2025. Sebanyak 9 persen pernah diancam secara fisik dan 4 persen diserang secara fisik.

“Ekstremisme supremasi kulit putih jelas meningkat. Permusuhan terhadap orang India khususnya meningkat di kalangan kanan MAGA pada masa jabatan kedua Presiden Trump,” kata Devesh Kapur, profesor kajian Asia Selatan di School of Advanced International Studies, Universitas Johns Hopkins, yang ikut menyusun survei Carnegie, kepada Al Jazeera.

Peneliti menyebut permusuhan itu banyak dipicu perdebatan soal imigrasi. Warga India menerima lebih dari 70 persen visa H-1B untuk pekerja asing terampil. Pada Juli 2025, Trump mengkritik perusahaan teknologi AS yang mengalihkan pekerjaan ke India, lalu pada September tahun itu mengenakan biaya 100.000 dolar AS untuk sebagian permohonan H-1B baru.

Kapur juga menyebut Wakil Presiden JD Vance pernah menjuluki pemegang visa H-1B sebagai “budak kontrak”. “Karena itu, tidak mengherankan bila ucapan yang menghasut semacam itu dapat berujung pada kekerasan,” kata Kapur. Peneliti juga menunjuk makin menonjolnya warga keturunan Asia Selatan dalam politik AS, dari Kamala Harris hingga Wali Kota New York Zohran Mamdani.

Bagikan

Baca Juga

Pengadilan Suriah Vonis Mati Dua Loyalis Assad atas Kekerasan
Usulan Khotbah Jumat Seragam di Kashmir Picu Kecaman Ulama
Trump Batalkan Siaran Langsung Eksekusi Penembak Fort Hood
Pemerintah Trump Selidiki Ilhan Omar untuk Cabut Kewarganegaraan
Ibu Hamil di Sokoto Memilih Lapar daripada Menantang Bandit
Denmark: Kesepakatan Greenland Tak Istimewakan Investor AS