Tidur Anak di Sekolah Miskin Portugal Mengikuti Dompet Keluarga

A A

Ilustrasi fasad gedung sekolah dasar berdinding krem di Caldas da Rainha, Portugal [Foto: Threeohsix/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Rata-rata skor anak di sepuluh sekolah itu 45,6.
  • Jumlah tersebut setara 36,4 persen, lebih dari satu di antara tiga anak.
  • Dari delapan sisi tidur, enam ikut bergeser bersama kedudukan keluarga: menolak tidur, lama tidur, terbangun malam, parasomnia, gangguan napas saat tidur, dan kantuk siang hari.
  • Tidur anak dilaporkan orang tua, bukan diukur dengan alat, sehingga bisa terpengaruh ingatan dan penilaian pribadi.
Daftar Isi
  1. Tiga Puluh Tiga Pertanyaan Menjelang dan Sesudah Lampu Padam
  2. Sekolah yang Sama, Rumah yang Tidak Sama
  3. Tiap Anak Tangga Keluarga, Skor Tidur Ikut Bergeser
  4. Kaitan yang Kecil dan Larangan Menyalahkan Keluarga
  5. Angka yang Menyusut dari 735 dan Inisial yang Tidak Cocok

Satu pekan yang biasa. Itu yang diminta diingat para orang tua di sepuluh sekolah dasar di Portugal utara ketika selembar daftar pertanyaan tentang tidur anak sampai ke tangan mereka. Ada 33 pertanyaan. Jawabannya cuma tiga: biasanya, kadang-kadang, jarang. Biasanya berarti lima sampai tujuh malam dalam sepekan. Jarang berarti tidak pernah atau sekali saja.

Lembar-lembar itu dikumpulkan Ana Duarte, Neiva Leite, Cláudia Augusto, Maria José Silva, Daniela Cardoso, dan Rafaela Rosário. Hasilnya mereka tulis dalam Socioeconomic inequalities in sleep disturbances among school-aged children: evidence from socioeconomically vulnerable schools, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor volume.

Sekolah-sekolah itu bukan sekolah sembarang. Kesepuluhnya masuk program yang di Portugal disebut Educational Territories of Priority Intervention, disingkat TEIP. Menurut Duarte dan kawan-kawan, sekolah TEIP berada di wilayah yang rentan secara sosial ekonomi, tempat kemiskinan dan keterkucilan sosial banyak dijumpai. Anak yang tidurnya ditanyakan berjumlah 735 orang, berusia enam sampai sepuluh tahun, duduk di kelas satu sampai empat.

Dari situ pertanyaannya tajam. Kalau semua anak ini belajar di sekolah yang sama-sama rentan dan menanggung banyak kesulitan lingkungan yang serupa, masihkah keadaan keluarga membedakan tidur mereka? Para peneliti menyebut hal itu belum jelas. Kaitan antara keluarga miskin dan tidur anak yang buruk sudah berkali-kali dicatat, tulis mereka, tetapi belum di dalam lingkungan yang seluruhnya sudah digolongkan rentan.

Tiga Puluh Tiga Pertanyaan Menjelang dan Sesudah Lampu Padam

Daftar pertanyaan itu membagi tidur anak menjadi delapan sisi. Ada anak yang menolak diajak tidur. Ada yang lama baru terlelap, yang tidurnya terlalu pendek, yang cemas saat hendak tidur, dan yang terbangun di tengah malam. Tiga sisi sisanya adalah parasomnia, gangguan napas saat tidur, dan kantuk pada siang hari. Makin tinggi angkanya, makin terganggu tidur si anak.

Angka seluruh sisi dijumlahkan menjadi satu skor. Untuk anak Portugal ada garis batasnya, yaitu 48. Anak dengan skor 48 atau lebih digolongkan mengalami gangguan tidur yang bermakna secara klinis. Rata-rata skor anak di sepuluh sekolah itu 45,6. Tidak jauh di bawah garis. Anak perempuan mencatat 45,9 dan anak laki-laki 45,2, selisih yang menurut para peneliti tidak bermakna.

Lalu datang angka yang paling terasa. Dari anak yang jawabannya lengkap, 154 orang melewati garis batas itu. Jumlah tersebut setara 36,4 persen, lebih dari satu di antara tiga anak. Sisanya, 269 anak, berada di bawah garis. Di kalangan anak perempuan angkanya 40,2 persen, di kalangan anak laki-laki 32,7 persen. Perbedaan itu pun tidak bermakna secara statistik.

Tidur anak di sepuluh sekolah rentanTidur anak di sepuluh sekolah rentanTidur anak di sepuluh sekolah rentanSekolah dasar TEIP di Portugal utara735anak usia 6-10kelas 1 sampai 445,6skor rata-rataambang gangguan4836,4%terganggu154 dari 423anak0,86rasio peluangtiap naik satuangkaJalan risetnya33 pertanyaan tidurIndeks keluarga 0-7Skor tidur turunSkor lebih tinggi berarti tidur lebih terganggu.
Sumber: Ana Duarte, Neiva Leite, Cláudia Augusto, Maria José Silva, Daniela Cardoso, dan Rafaela Rosário, Socioeconomic inequalities in sleep disturbances among school-aged children: evidence from socioeconomically vulnerable schools, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hanya pada dua sisi anak laki-laki dan perempuan benar-benar berbeda. Anak laki-laki lebih lama terlelap, dengan angka 2,0 berbanding 1,8. Anak perempuan lebih mengantuk pada siang hari, 13,3 berbanding 12,8. Keduanya perbedaan kecil, tulis Duarte dan kawan-kawan. Mereka menyebut hitungan menurut jenis kelamin itu bukan tujuan utama, dan mekanismenya masih perlu dicari riset lain.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Sekolah yang Sama, Rumah yang Tidak Sama

Pindah dari kamar tidur ke meja makan keluarga. Di lembar yang sama, orang tua menjawab tiga hal tentang diri mereka: pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pendapatan rumah tangga sebulan. Di sinilah gambaran sekolah rentan itu ternyata tidak seragam. Hampir separuh keluarga, 49,8 persen, memiliki setidaknya satu orang tua berpendidikan tinggi. Sebanyak 36,7 persen tamat sekolah menengah.

Yang tidak sampai tamat sekolah menengah 82 keluarga, atau 13,4 persen. Pekerjaan membentuk susunan yang mirip. Sebanyak 51,3 persen keluarga memiliki orang tua dengan pekerjaan kerah putih lapis atas, golongan yang oleh para peneliti disebut paling terampil. Sebanyak 33,4 persen berada di kerah putih lapis bawah. Pekerja kerah biru, yang paling rendah kualifikasinya, 15,3 persen.

Uang membelah lebih rata. Sebanyak 26,4 persen keluarga hidup dengan pendapatan paling banyak 1.000 euro sebulan. Sebanyak 27,5 persen berada di antara 1.001 dan 1.500 euro, lalu 24,5 persen di antara 1.501 dan 2.000 euro. Yang melampaui 2.000 euro sebulan 21,5 persen. Empat golongan itu nyaris sama besar, padahal anak-anaknya duduk di ruang kelas yang sama.

Empat golongan pendapatan keluargaSampai 1.000: Persen keluarga +26,4; 1.001-1.500: Persen keluarga +27,5; 1.501-2.000: Persen keluarga +24,5; Di atas 2.000: Persen keluarga +21,5.Empat golongan pendapatan keluargaPendapatan rumah tangga per bulan dalam euro, persen keluarga1020300Sampai 1.00026,41.001-1.50027,51.501-2.00024,5Di atas 2.00021,5Dari 534 keluarga yang mengisi pendapatan.
Sumber: Ana Duarte, Neiva Leite, Cláudia Augusto, Maria José Silva, Daniela Cardoso, dan Rafaela Rosário, Socioeconomic inequalities in sleep disturbances among school-aged children: evidence from socioeconomically vulnerable schools, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketiga jawaban itu digabung para peneliti menjadi satu angka keluarga, dari nol sampai tujuh. Makin tinggi angkanya, makin tinggi kedudukan sosial ekonomi keluarga itu. Rata-ratanya 4,2. Keluarga anak laki-laki dan keluarga anak perempuan tidak berbeda dalam hal ini. Dengan angka itulah tidur tiap anak kemudian disandingkan.

Tiap Anak Tangga Keluarga, Skor Tidur Ikut Bergeser

Hasilnya searah. Tiap kenaikan satu angka pada kedudukan keluarga berkaitan dengan skor gangguan tidur yang lebih rendah 0,633 poin, sesudah usia dan jenis kelamin anak diperhitungkan. Kaitan itu tidak berubah dibanding hitungan sebelum keduanya diperhitungkan. Dengan kata lain, anak dari keluarga yang lebih bawah mencatat gangguan tidur lebih banyak, di sekolah yang sama rentannya.

Garis batas 48 memperlihatkan hal serupa. Tiap kenaikan satu angka keluarga berkaitan dengan peluang gangguan tidur bermakna klinis yang menjadi 0,86 kali. Angka di bawah satu itu berarti peluangnya mengecil. Rentang kepercayaannya, dari 0,77 sampai 0,95, seluruhnya berada di bawah satu. Jadi makin ke atas kedudukan keluarga, makin jarang anaknya melewati garis itu.

Kaitan itu tidak berhenti di skor total. Dari delapan sisi tidur, enam ikut bergeser bersama kedudukan keluarga: menolak tidur, lama tidur, terbangun malam, parasomnia, gangguan napas saat tidur, dan kantuk siang hari. Pergeseran terbesar tercatat pada kantuk siang hari, 0,156 poin tiap satu angka keluarga, lalu menolak tidur 0,135 poin dan parasomnia 0,122 poin.

Dua sisi tidak ikut. Lamanya anak terlelap dan kecemasan saat tidur tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan kedudukan keluarga. Sebaliknya, lama tidur menonjol. “Lama tidur tampak menjadi salah satu sisi tidur yang paling kuat berkaitan dengan status sosial ekonomi,” tulis Duarte dan kawan-kawan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Kaitan yang Kecil dan Larangan Menyalahkan Keluarga

Seberapa besar semua itu? Kecil. Para peneliti sendiri menyebutnya sederhana. Kedudukan keluarga, bersama usia dan jenis kelamin, hanya menerangkan 4,4 persen dari muncul atau tidaknya gangguan tidur bermakna klinis. Pada tiap sisi tidur, bagian yang diterangkan berkisar dari 0,6 sampai 4,6 persen. Sebagian besar perbedaan tidur antaranak datang dari hal lain yang tidak tercatat di lembar itu.

Meski kecil, menurut mereka kaitan itu konsisten. Lalu datang kalimat yang menjadi titik balik naskah ini. “Yang penting, temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai cerminan kekurangan individu atau keluarga,” tulis Ana Duarte dari School of Nursing University of Minho bersama lima rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kedudukan keluarga, lanjut mereka, mewakili keadaan struktural dan lingkungan yang lebih luas.

Keadaan macam apa, mereka sebut satu per satu. Sumber daya materi dan sosial, kondisi rumah, lingkungan tempat tinggal, kondisi kerja orang tua, ketidakpastian keuangan. Semuanya, tulis mereka, dapat memengaruhi rutinitas rumah tangga, paparan stres, dan suasana tempat tidur anak. Namun mereka segera menambahkan bahwa jalur-jalur itu tidak diperiksa langsung. Itu kerangka yang masuk akal, bukan temuan.

Mengapa tidur anak layak dirisaukan, mereka kembalikan pada riset terdahulu. Gangguan tidur pada masa kanak-kanak, tulis mereka, diketahui mengganggu perkembangan emosi dan perilaku. Kecemasan, depresi, sulit memusatkan perhatian, dan kesulitan psikososial pernah dikaitkan dengannya. Karena itu gangguan tidur yang lebih banyak pada anak dari keluarga kurang beruntung, menurut mereka, bisa ikut menumpuk risiko.

Dari sana sarannya mengarah ke sekolah. “Upaya mendorong tidur yang sehat semestinya melampaui perubahan perilaku individu dan mencakup strategi yang mengurangi hambatan struktural serta mendukung keluarga yang mengalami kesulitan sosial ekonomi melalui tindakan sekolah, layanan kesehatan, dan komunitas yang terkoordinasi,” tulis mereka. Tidur anak, dalam rumusan mereka, adalah hasil kesehatan yang berpola sosial.

Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

Batas pekerjaan ini ditulis sendiri oleh keenam peneliti. Data diambil pada satu waktu, antara Oktober dan Desember 2022, sehingga hanya menunjukkan kaitan dan tidak bisa membuktikan sebab-akibat. Tidur anak dilaporkan orang tua, bukan diukur dengan alat, sehingga bisa terpengaruh ingatan dan penilaian pribadi. Alat perekam gerak tidur, tulis mereka, berada di luar cakupan riset.

Ada pula yang sama sekali tidak ditanyakan. Kondisi rumah, keamanan lingkungan, kesehatan mental orang tua, kebiasaan menjelang tidur, pola asuh, dan pemakaian layar sebelum tidur tidak diukur. Semua itu, menurut mereka, mungkin memengaruhi baik keadaan keluarga maupun tidur anak. Karena seluruh anak berasal dari sekolah rentan, hasilnya juga tidak dapat diberlakukan bagi anak di sekolah yang lebih mapan.

Angka yang Menyusut dari 735 dan Inisial yang Tidak Cocok

Pembaca yang membuka tabel naskah ini akan menemukan beberapa hal yang patut diperiksa. Anak yang terdaftar 735 orang, tetapi penggolongan di atas atau di bawah garis 48 hanya memuat 269 dan 154 anak. Baris pendapatan pun hanya berisi 534 keluarga. Naskah menyebut jumlah yang dihitung berubah menurut kelengkapan jawaban, tanpa merinci berapa yang hilang pada tiap hitungan.

Kesimpulannya juga melangkah sedikit lebih jauh daripada datanya. Di sana tertulis bahwa ketimpangan itu relevan terutama pada anak di sekolah rentan, padahal tidak ada sekolah lain yang dijadikan pembanding. Bagian kontribusi penulis memakai inisial N.V. dan C.D., sementara daftar penulis memuat Neiva Leite dan Daniela Cardoso. Naskah ini memang versi yang belum disunting akhir.

Sepekan yang biasa itu, pada akhirnya, tidak sama di tiap rumah. Tiga puluh tiga jawaban orang tua memperlihatkan bahwa di balik gerbang sekolah yang sama, anak pulang ke keluarga dengan kedudukan berbeda, dan malam mereka ikut berbeda. Selisihnya tipis, hanya sepersekian poin pada tiap anak tangga. Tetapi arahnya tidak pernah berbalik di lembar-lembar itu.

Bagikan

Baca Juga

Pelari Rekreasi Turki yang Merasa Didukung Lebih Puas Hidupnya
Kanker Asbes Masih Datang di Italia, 30 Tahun Setelah Dilarang
Ibu Hamil di Sokoto Memilih Lapar daripada Menantang Bandit
Keinginan Punya Anak Tak Selalu Lahir dari Pernikahan Bahagia
Perang Tigray Usai, Warga Paling Lemah Belum Bisa Mencari Nafkah
Sulit Makan, Pengungsi Suriah di Turki Memikul Cemas Lebih Berat