- Separuh pasien meninggal dalam 11,8 bulan sesudah diagnosis.
- Setelah usia dan provinsi tempat tinggal ikut diperhitungkan, laki-laki terkena enam kali lebih sering daripada perempuan.
- Lima tahun sesudah diagnosis, yang bertahan tinggal 8,3 persen, kira-kira satu dari dua belas orang.
- Di Marche, tahun diagnosis tidak berkaitan dengan risiko kematian sepanjang dasawarsa itu.
Daftar Isi
- Dari Zhu sampai Luan: dunia menurun pelan, Italia tetap tinggi
- Marche 2013–2022: 322 kasus dan garis yang mendatar
- Generasi sebelum 1992: lelaki berusia 75 sampai 79 tahun
- Ancona, galangan kapal, dan temuan Binazzi 2017
- Dari Montanaro 2009 ke Iommi 2026: umur pasien yang tidak bertambah
- Musk, Alpert, dan Opitz: selisih perempuan yang tidak muncul di Marche
- Yang belum terjawab oleh Iommi dan rekan
Italia melarang asbes lewat undang-undang nasional pada 1992, sesudah bahan itu dipakai luas di berbagai industrinya. Larangan itu menutup pintu bagi paparan baru, tetapi tidak bagi penyakit yang sudah telanjur tertanam di tubuh orang-orang yang pernah menghirup seratnya. Tiga puluh tahun kemudian, di wilayah Marche di Italia tengah, kanker yang lahir dari asbes itu masih datang dengan laju yang nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun.
Catatan itu disusun Marica Iommi, Martina Bonifazi, Donatella Sarti, Federico Mei, Matteo Franchi, Marta Rossi, Marco Pompili, Emilia Prospero, Flavia Carle, Rosaria Gesuita, dan Edlira Skrami dalam artikel Persistence burden and poor survival of pleural mesothelioma in central Italy, 2013–2022: a population-based study thirty years after asbestos ban. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bekerja di Università Politecnica delle Marche di Ancona, bersama rekan dari registri tumor wilayah itu serta kampus di Roma dan Milan.
Penyakit yang mereka hitung bernama mesotelioma pleura, kanker langka tetapi sangat ganas yang menyerang pleura, yakni selaput tipis yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Penyebab utamanya, tulis para penulis, adalah paparan asbes. Yang membuatnya sulit dikejar ialah jeda waktunya: penyakit ini lazim baru muncul beberapa dasawarsa sesudah paparan pertama, dan jeda itu bisa melampaui 40 tahun.
Dari Zhu sampai Luan: dunia menurun pelan, Italia tetap tinggi
Sebelum tim Iommi masuk ke Marche, gambaran besarnya sudah dipetakan peneliti lain yang mereka rujuk. Zhu dan rekan pada 2023 mencatat bahwa laju kasus baru dunia, sesudah disesuaikan menurut usia, turun dari 0,49 menjadi 0,43 per 100.000 penduduk antara 1990 dan 2019. Laju kematiannya turun dari 0,46 menjadi 0,40. Luan dan rekan pada 2025 sampai pada arah yang sama, yaitu penurunan tipis yang berlangsung pelan.
Italia berdiri agak di luar arus itu. Karena pemakaian asbesnya yang luas pada masa lalu, negara tersebut disebut memiliki salah satu laju mesotelioma pleura tertinggi di dunia. Pada 2020 diperkirakan ada sekitar 2.000 diagnosis baru, tiga perempatnya pada laki-laki. Registri Mesotelioma Nasional Italia, yang dikenal dengan singkatan ReNaM, mencatat 4,40 kasus per 100.000 laki-laki per tahun dan 1,41 pada perempuan untuk 2019.
Angka nasional semacam itu, menurut para penulis, bisa menutupi perbedaan antardaerah. Marinaccio dan rekan pada 2018 sudah menunjukkan bahwa gugus kasus di Italia berkaitan dengan galangan kapal, pabrik semen-asbes, dan sumber paparan setempat lainnya. Namun hanya sedikit kajian yang menyajikan angka sampai tingkat provinsi. Celah itulah yang hendak diisi dari Marche, wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Marche 2013–2022: 322 kasus dan garis yang mendatar
Sepanjang sepuluh tahun itu, registri kanker Marche mencatat 322 kasus baru mesotelioma pleura pada penduduk dewasa. Lajunya 2,1 kasus per 100.000 orang per tahun. Angka tahunan naik turun sedikit, dari yang terendah 1,5 pada 2014 sampai yang tertinggi 2,6 pada 2018. Setelah dirata-ratakan, titik-titik tahunan itu bergerak di sekitar garis yang mendatar, dan para penulis tidak menemukan satu pun titik patah dalam arahnya.
Temuan itu menyambung catatan lama. Laporan registri yang sama untuk 2013 sampai 2015 mendapati rata-rata 31 kasus baru setahun. ReNaM menghitung 721 kasus pada penduduk Marche antara 1993 dan 2021, kira-kira 27 kasus setahun, dengan jumlah yang menanjak sejak pertengahan 1990-an, memuncak pada awal 2010-an, lalu relatif tetap. Dasawarsa yang dihitung tim Iommi memperpanjang masa tetap itu, bukan mengakhirinya.
Puncak kecil pada 2018 tidak dibiarkan lewat begitu saja. Model yang disusun Marinaccio dan rekan pada 2005 serta Oddone dan rekan pada 2020, dengan memperhitungkan riwayat konsumsi asbes Italia, memang meramalkan penurunan bertahap sesudah puncak paparan terlampaui. Tim Iommi menilai angka sesudah 2018 sejalan dengan ramalan itu, tetapi mereka menahan diri: perlu tahun-tahun pengamatan tambahan untuk memastikan apakah itu benar-benar awal penurunan.
Ada penjelasan tandingan yang mereka timbang. Smesseim dan rekan melaporkan bahwa diagnosis mesotelioma di Belanda berkurang selama pandemi COVID-19, sehingga angka yang lebih rendah bisa saja lahir dari diagnosis yang terlewat atau pelaporan yang terlambat. Di sisi lain, data Italia yang dihimpun Mangone dan rekan pada 2022 menunjukkan dampak pandemi terhadap diagnosis baru terbatas, walau perbedaan antarwilayah tidak bisa dikesampingkan.
Generasi sebelum 1992: lelaki berusia 75 sampai 79 tahun
Siapa yang jatuh sakit menjelaskan mengapa garis itu belum turun. Dari 322 pasien, 264 orang adalah laki-laki dan 58 perempuan, atau lebih dari empat di antara lima kasus. Laju pada laki-laki 3,6 per 100.000 orang per tahun, sedangkan pada perempuan 0,7. Setelah usia dan provinsi tempat tinggal ikut diperhitungkan, laki-laki terkena enam kali lebih sering daripada perempuan.
Usia memperlihatkan pola yang lebih tajam lagi. Separuh pasien didiagnosis pada usia 77 tahun atau lebih. Pada penduduk di bawah 65 tahun lajunya hanya 0,33, lalu melonjak menjadi 3,52 pada kelompok 65 sampai 69 tahun dan 6,23 pada kelompok 70 sampai 74 tahun. Puncaknya ada pada usia 75 sampai 79 tahun, yakni 13,08 kasus, sekitar 43 kali laju kelompok termuda, sebelum menurun pada usia yang lebih lanjut.
Bagi para penulis, kelompok usia puncak itu adalah orang-orang yang kemungkinan besar terpapar sebelum larangan 1992 berlaku. Dominasi laki-laki pun dibaca dengan kacamata yang sama, sebab laki-lakilah yang dahulu mengisi sebagian besar pekerjaan berisiko tinggi di galangan kapal, konstruksi, dan pabrik semen-asbes. Polanya, tulis mereka, sejalan dengan puncak risiko kematian yang ditemukan Sartore dan rekan dalam kajian Italia pada 2025.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Ancona, galangan kapal, dan temuan Binazzi 2017
Peta kasus di dalam Marche juga tidak rata. Lebih dari separuh pasien, tepatnya 167 orang, tinggal di Provinsi Ancona. Sisanya terbagi di Pesaro e Urbino dengan 58 kasus, Macerata 44 kasus, Fermo 30 kasus, dan Ascoli Piceno 23 kasus. Laju di Ancona mencapai 3,54 per 100.000 orang per tahun, sementara empat provinsi lain berada di antara 1,10 dan 1,73, kurang lebih sepertiga sampai separuh laju Ancona.
Ancona punya riwayat yang menjelaskan angka itu. Provinsi tersebut sejak lama menjadi tempat industri galangan kapal, dan di sana terdapat satu lokasi tercemar berprioritas nasional yang terkait kilang petrokimia. Binazzi dan rekan pada 2017 sudah melaporkan kelebihan kasus mesotelioma pleura di lokasi semacam itu. Laju empat provinsi lainnya yang saling berdekatan ditafsirkan sebagai tanda paparan yang relatif seragam di luar kawasan industri Ancona.
Kesimpulan para penulis merangkum ketiga pola tadi dalam satu kalimat. “Beban yang tetap tinggi pada laki-laki, orang lanjut usia, dan penduduk kawasan pesisir yang terindustrialisasi mencerminkan dampak yang bertahan lama dari paparan asbes pada masa lalu,” tulis Marica Iommi dan sepuluh rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka sendiri mengingatkan bahwa tempat tinggal saat diagnosis belum tentu tempat seseorang dulu terpapar.
Dari Montanaro 2009 ke Iommi 2026: umur pasien yang tidak bertambah
Sisi paling suram dari catatan Marche adalah lamanya pasien bertahan. Dari 322 orang itu, 295 meninggal selama masa pengamatan yang berakhir pada penghujung 2023. Separuh pasien meninggal dalam 11,8 bulan sesudah diagnosis. Yang masih hidup setahun kemudian 48,8 persen, kurang dari separuh. Lima tahun sesudah diagnosis, yang bertahan tinggal 8,3 persen, kira-kira satu dari dua belas orang.
Angka itu hampir tidak bergeser dari yang dilaporkan generasi peneliti sebelumnya. Montanaro dan rekan pada 2009, memakai data registri nasional, mendapati separuh pasien Italia meninggal dalam sembilan sampai sepuluh bulan. Kajian dari negara-negara Nordik, Prancis, serta Inggris dan Wales yang dirujuk tim Iommi memperlihatkan gambaran serupa. Di Marche, tahun diagnosis tidak berkaitan dengan risiko kematian sepanjang dasawarsa itu.
Para penulis menyatakannya tanpa pelunak. “Meskipun ada kemajuan dalam strategi pengobatan, termasuk pendekatan multimodal dan imunoterapi, tidak teramati perbaikan harapan hidup selama dasawarsa penelitian,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Dari sana mereka menarik dua kebutuhan sekaligus, yaitu pengobatan yang lebih baik serta jalur pemeriksaan dan perawatan yang baku bagi setiap pasien.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Musk, Alpert, dan Opitz: selisih perempuan yang tidak muncul di Marche
Pada satu hal temuan Marche berpisah jalan dengan riset terdahulu. Musk dan rekan pada 2011, Alpert dan rekan pada 2020, serta Opitz dan rekan pada 2023 melaporkan perempuan memiliki risiko kematian 15 sampai 30 persen lebih rendah daripada laki-laki. Di Marche, perempuan memang tampak bertahan lebih lama dalam hitungan kasar. Namun sesudah usia, provinsi, dan jenis jaringan tumor diperhitungkan, jenis kelamin tidak lagi berdiri sebagai penentu.
Tim Iommi tidak membantah para pendahulunya. Mereka menduga, dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris, bahwa “perbedaan peran jenis kelamin sebagai peramal itu mungkin sebagian disebabkan oleh terbatasnya jumlah kasus perempuan yang teramati di wilayah Marche”. Montanaro pun dahulu hanya menemukan selisih tipis yang hilang begitu faktor pengobatan dimasukkan ke dalam hitungan.
Yang jelas menentukan adalah usia dan jenis jaringan tumor. Risiko kematian pasien berusia 80 sampai 84 tahun lebih dari dua kali risiko pasien di bawah 65 tahun, dan pada usia 85 tahun ke atas hampir lima kali. Jenis epitelioid, yang ditemukan pada 53,1 persen pasien, memberi peluang terbaik: 61,4 persen masih hidup setahun kemudian. Pada jenis fibrosa angkanya 18,9 persen dan pada jenis bifasik 32,3 persen.
Satu temuan disebut para penulis tidak terduga. Pasien yang tinggal di Provinsi Macerata memiliki risiko kematian lebih rendah daripada pasien Ancona, dan 17,3 persen di antaranya masih hidup lima tahun sesudah diagnosis. Padahal rumah sakit rujukan utama justru berada di Ancona. Mereka menduga ada perbedaan genetik, lingkungan, atau sosial ekonomi berskala kecil yang tidak terukur oleh data registri, dan menyerahkan pertanyaan itu kepada kajian klinis berikutnya.
Yang belum terjawab oleh Iommi dan rekan
Batas kajian ini diakui terang-terangan. Registri tidak menyimpan riwayat paparan kerja dan lingkungan, gaya hidup, ataupun kondisi klinis pasien, sehingga pola kasus tidak bisa dihubungkan langsung dengan riwayat paparan setiap orang. Jumlah kasus yang kecil mengurangi kemampuan menangkap perubahan halus. Kesulitan menjangkau jalur diagnosis di sebagian provinsi, tambah para penulis, bisa membuat jumlah kasus terhitung lebih rendah daripada kenyataan.
Pembaca yang menelusuri naskahnya akan menemukan dua hal yang patut diperiksa. Pada tabel faktor risiko kematian, kolom berjudul kematian memuat angka 10 untuk perempuan dan 17 untuk laki-laki, padahal teks mencatat 295 kematian; jumlah 27 itu sama dengan selisih 322 dan 295, sehingga kolom tersebut tampaknya berisi pasien yang belum meninggal. Selain itu, pembahasan menyebut penurunan sesudah 2018, sedangkan bagian hasil menyatakan tidak ada perubahan arah.
Dalam rantai riset yang dirujuknya, kajian Marche menempati satu mata rantai yang sempit tetapi jelas. Ia tidak mengubah apa yang sudah diketahui sejak Montanaro tentang singkatnya umur pasien, dan belum dapat membenarkan ramalan Marinaccio dan Oddone tentang penurunan. Yang ditambahkannya adalah angka provinsi demi provinsi dari satu wilayah, tiga dasawarsa sesudah 1992, ketika generasi yang dahulu bekerja dengan asbes masih terus didiagnosis.















